Sejengkal Fragmen Natal yang Hilang

Natal, sebuah makna tentang penyambutan lahirnya Bayi Yesus di kandang domba yang diapresiasi sesuai dengan tradisi setempat. Beragam budaya dalam perayaan natal, dan biasanya berporos dari negara-negara Eropa, seperti Sinterklas, pohon terang, salju, kereta rusa, kado natal dan lain sebagainya. Ada satu tradisi, yang kurang greget jika dilewatkan begitu saja, dan jika kurang yang satu ini serasa belum natalan, yaitu pohon terang atau pohon natal.

Pohon terang, yakni pohon cemara yang dihias dengan berbagai pernak-pernik, lampu-lampu, salju, lilin dan lain sebagainya. Dari pohon terang inilah terkandung bermacam makna dari natal tersebut, yakni gotong royong, dan kebersamaan. Dibalik itu semua, yang menjadikan natal itu indah, bukanlah disaat ibadah atau perayaan natal, namun menjelang hari natal itu sendiri. Saya merasa demikian karena, momment pra natal adalah perjuangan yang luar biasa, nah natal adalah klimaksnya.

Tahun kemarin, menjelang hari natal semua warga gereja nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Yang paling menyenangkan adalah saat mempersiapkan hiasan natal. Karena Gereja kami di Desa, maka kami beramai-ramai menuju hutan untuk menebang pohon cemara. Semua tenaga dikerahkan untuk memotong pohon cemara secara utuh lalu menggotongnya beramai-ramai menuju Gereja. Sesampai di Gereja seolah semua sudah tahu tugasnya masing-masing mau diapakan pohon cemara tersebut.

Di sebelah pohon cemara, nampak ada yang sibuk mempersiapkan kain yang lebar, menggunting kertas warna-warni, dan membuat huruf-huruf dari kertas ukuran besar. Tema natal dengan latar belakang kain dipersiapkan beserta hiasannya. Kebersamaan dengan saling membagi tugas, dan terlihatlah kebersamaan, gotong royong yah seperti apa yang diajarkan gereja buat mereka. Kini, seolah hampa, pada kemana mereka yang tahun kemarin penuh semangat menggotong pohon cemara utuh, yang guyup buat tulisan, hingga yang membentangkan kertas warna-warni dari ujung hingga ujung ruangan gereja.

Natal tahun ini sepi, sudah 4 kali dalam pagi ini saya ke gereja berharap menemukan teman-teman yang hendak persiapan pra natal, namun tak satupun sosok manusia. Akhirnya, terpaksa menemui pimpinan Gereja untuk menanyakan perihal kerja bakti tersebut. Sebuah jawaban mencengangkan berdengung ditelinga seolah tak percaya namun sudah menjadi realita. Mas, pohon natal sudah beli di toko dan tinggal merangkai saja beserta hiasannya, tema natal sudah pesan dari MMT nanti siang diantar oleh percetakannya dan untuk makanan sudah pesan dari katering.

Tidak ada yang salah, karena semua sudah direncanakan dan dipersiapkan. Warga jemaat tidak usah bersusah payah ke hutan nebang cemara, tak perlu lagi guntingi huruf demi huruf lalu susun dibentangan kain, dan ibu-ibu tak perlu lagi masak makanan, bahkan pengiring musik mendatangkan dari luar. Warga jemaat sekarang sudah bisa lenggang kangkung menanti-nanti datangnya natal. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, natal tiba dan satu persatu jemaat datang ke gereja. Terlihat wajah beku diantara wajah-wajah yang seharusnya bergembira. Tak ada rasa memiliki, tak ada rasa bangga dengan natal, seolah tak ada yang istimewa padahal sajiannya terasa istimewa.

Bayangkan bagaimana rasanya, jika apa yang ada didalam perayaan natal adalah hasil jerih payah adalah hasil warga jemaat. Siapa yang tak bangga, jerih payah dan sengsaranya menggotong cemara yang besar dan utuh lalu dijadikan pohon terang adalah hasil karyanya sendiri. Kini yang terpampang hanyalah cemara plastik hasil dekorasi orang lain. Siapa tak senang, huruf demi huruf dari kertas yang diguntingi lalu disusun menjadi tema natal terpampang dibalik mimbar, itu hasil karyaku. Kini peran gunting sudah digantikan ”printer raksasa” dan kain sudah berubah menjadi lembaran plastik. Biasanya makanan adalah hasil kolaborasi menu dari ibu-ibu gereja, kini menu tersaji dari katering. Makanan istimewa seoalah tak ada makna, berbeda jika itu masakan sendiri. Jerih payah warga jemaat sudah tidak ada, karena sudah tergantikan.

Sejengkal makna natal yang hilang, ada sebuah moment yang tersingkir oleh teknologi, dan kemudahan serta kepraktisan. Ada sebuah proses kebersamaan yang luntur, kini tak ubahnya dengan orang beli makan di restoran, yang penting bayar dan tinggal makan. Pikiran buruk ini bodoh terasa, tak sadar bahwa jaman sudah berubah. Bukan waktunya nebang cemara, karena waktu sangat berharga bagi siapa saja. Bukan jamannya bikin tulisan dari kertas, biarkan percetakan yang atasi. Ibu-ibu kini tak lagi urus dapur, tapi persiapkan penampilan yang menarik dengan seragam barunya, dan urusan konsumsi serahkan pada katering. Ini natal semua harus istimewa dengan mendatangkan apa saja, namun seolah sudah kehilangan satu fragmen makna, atau saya yang pesimis dan tidak siap menghadapi realita. Ah… lupakan 2012 masih ada natal, atau sehari sebelum mother day akan terjadi, end of world.. ”Anakpun tidak tahu, hanya Bapa yang tahu”.

salam

DhaVe

10 thoughts on “Sejengkal Fragmen Natal yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s