Salah Siapa, Pelajar Meregang Nyawa di Jalanan..?

Dalam sehari disekitar tempat tinggal saya terjadi 2 kecelakaan. Ada dua pelajar SMP yang berboncengan yang tewas gara-gara gagal mendahului truk dan bertabrakan frontal dengan bus. Yang satunya gadis remaja dengan motor matic menabrak mobil disaat tidak bisa mengendalikan motor dengan kecepatan tinggi diturunan. Generasi muda yang meninggal dijalanan, potret yang memilukan bagaimana pendidikan berlalu lintas yang tidak pernah diajarkan.

Dibangku sekolah, tidak ada pendidikan berlalu lintas, mungkin hanya pengenalan rambu-rambu secara umum saja. Menjadi permasalahan adalah, saat ini banyak sekali pengendara motor dari kaum pelajar. Entah dengan modal nekat, SIM tembakan, dengan darah mudanya melaju kencang dijalanan tanpa piranti pelindung yang standar. Lantas jika ada kejadian seperti diatas siapa yang disalahkan?. Secara defacto dan deyure, siapa yang terlibat ditempat kejadian perkara yang diciduk dan dijadikan pesakitan, karena sudah ditetapkan dalam undang-undang. Namun dari kacamata yang lain, kaum pendidik, orang tua, bahkan pihak yang berwajib juga harus ikut bertanggung jawab.

Sebagai pendidik sudah selayaknya memberikan pendidikan bagaimana berlalulintas yang baik dengan benar. Mengapa pergi kesekolah harus naik motor, apakah jaman sekarang sudah tidak ada angkutan umum. Alasan lebih cepat, lebih praktis, lebih hemat hanyalah alibi yang tidak bisa diterima begitu saja. Pelajar SMU dengan usia rerata dibawah 17 tahun sudah memiliki SIM, entah bagaimana caranya untuk memuluskan aksinya. Bahkan tidak sedikit korps celana biru ”siswa SMP” yang sudah lenggang kangkung dijalanan dengan motor. Ironis sekali, tempat pendidikan yang seharusnya mendidik siswa bagaimana mengikuti aturan main malah menyediakan lapangan parkir. Mereka belum saatnya menjalankan roda dua bermesin dijalan umum, namun apa boleh buat dan apa mau dikata.

Tetangga saya pusing 7 keliling gara-gara mikirin anaknya yang masuk SMA tidak mau sekolah jika tidak dibelikan motor. Kalau jaman dulu saya begitu, orang tua saya malah senang ”alhamdulilah, kalau tidak mau sekolah, bisa bantu bapak diladang”, lebih baik sekolah jalan kaki atau naik bus kan, daripada naik kerbau sambil manggul cangkul. Akhirnya tetangga saya membelikan anaknya dengan uang muka 500ribu, sisanya ngangsur. Memberikan fasilitas kepada anak dan terkesan memanjakan, ibarat menabur benih-benih tragedi, berharap saja tidak tumbuh dan berbuah. Saya yakin, 2 kecelakaan tadi diatas orang tua pasti sangat menyesal atas kejadian tersebut. Memberikan fasilitas yang belum waktunya diberikan dan seolah tidak memberikan nilai tambah. Kenapa tidak kasih uang saku untuk naik angkutan umum atau suruh jalan kaki, biar sedikit prihatin dan lelaku. Alasan gengsi, sayang anak, bukan begitu caranya, tetapi beri perhatian lebih dengan skala prioritas. Naik angkutan umum atau jalan kaki tidak bikin orang telat masuk sekolah, dan naik motor juga tidak menjamin datang lebih awal. Orang tua yang cerdas, tahu apa kebutuhan anak dan bijak dalam memberikan, sekolah bukan urusan gengsi, cepat sampai sekolah, namun bagaimana menciptakan generasi yang cerdas dan tahu aturan main.

Polisi mungkin geram, jengkel sekaligus sayang jika melihat anak-anak yang masih belia dijalanan. Mungkin saja polisi juga punya anak seumuran anak-anak tersebut. Bahkan jauh lebih dari anak-anak biasanya, karena bapaknya polisi bisa sedikit kebal hukum. Saya pernah melihat polantas yang geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku pelajar dijalanan. Seolah menjadi dilema, mau berangkat sekolah kok ditilang gara-gara tidak punya SIM atau helm. Masak tega juga ngemplang uang damai dengan anak-anak sekolah. Atau menggiring mereka yang belum waktunya naik motor. Beragam persoalan dilematis tak ubahnya dengan deru lalulintas yang lalulalang. Namun apabila aturan tegas dilakukan, pasti ada efek jera bagi mereka yang belum waktunya. Polisi selain turun ke jalan, wajib juga turun ke sekolahan, berikan pengertian kepada siswa, kalo perlu razia dan jalankan aturan bias semua jera ”dalam konteks pendidikan”. Kerjasama dengan pihak sekolah untuk menegakan aturan dan demi kebaikan semua.

Sangat disayangkan generasi muda yang harus meregang nyawa dijalanan gara-gara tidak tahu aturan main. Ibarat mereka masuk dalam permainan dan tidak tahu bagaimana aturan mainnya, sehingga yang penting gas pol, rem blong, tikung kanan, banting kiri dan bruk… akhirnya. Bijak menjadi orang tua bagaimana mendidik dan memberikan yang terbaik, buka memberikan benih-benih tragedi, sebab mereka belum waktunya. Kaum pendidik seharusnya bisa mengarahkan, baiamana menciptakan generasi yang sadar dan taat hukum. Pihak yang berwajib, tegakan aturan dan ciptakan efek jera demi kebaikan dan keselamatan bersama, namun tetap dengan hati karena itu generasi muda yang belum bisa memainkan logika.

19 thoughts on “Salah Siapa, Pelajar Meregang Nyawa di Jalanan..?

  1. ya polisi kudu teges siytilang ya tilang ajakl emang terlambat sekolah ya resiko pelajarnyagw sendiri gregetan liat anak2 kecil bawa motor en ga pake helm, belum lagi yang megang rokok, pengen tak omelin rasanya.tata tertib di jalanan ya kudu ditegakkan lagi

  2. anak jaman sekarang… cckckckck… entah kenapa rasanya ada hal yang udah jauuuuuuhhh banget antara angkatan nin (yang udah kuliah) dengan adek2 yg masih berseragam… sering kali kalo diskusi ama temen soal itu, baru deh berasanya kami udah tua… hal2 yg dulu kami dapat saat udah rada berumur, anak jaman sekarang gampang banget dapetnya, terutama gadget… ckckckck *geleng2*

  3. 2tahun lalu, ditengah perjalanan ke pantai, mobil ditabrak sepeda motor yang tiba2 muncul dari depan, dijalur kita. Walau kita cuma 40an km/jam karena santai, si motor kencang. Jadi, tabrakannya heboh. Bunyinya keras sampai orang kampung kira ada bom, bayi menangis, ibu2 menjerit.Kita dimobil bengong semi panic karena mobil berguncang, tiba2 seperti mati mesin plus tontonan gratis akrobatik dadakan: pengendara motor melayang diatas mobil, satunya lagi gelundungan dijalan.Mobil rusak parah, bemper lepas dan menggores aspal, ban pecah. Motor? Hancur. Ban depan aja membentuk angka 8. Pelakunya anak SMP, 22nya cewe, ga punya SIM, curi2 kesempatan dari orang tua. Ga meninggal (untungnya) tapi ya gitulah.Yang salah? Waktu itu sih kita. Kata ibu2 disana yang teriak2 emosi: “cino iku sing salah”. Aku tanya, kok bisa gitu? Dijawab “pokoke lek cino iku salah”, sigh. SIGH!

  4. rirhikyu said: ya polisi kudu teges siytilang ya tilang ajakl emang terlambat sekolah ya resiko pelajarnyagw sendiri gregetan liat anak2 kecil bawa motor en ga pake helm, belum lagi yang megang rokok, pengen tak omelin rasanya.tata tertib di jalanan ya kudu ditegakkan lagi

    nah gregetan sendiri kan….?saya juga gemes

  5. mahasiswidudul said: anak jaman sekarang… cckckckck… entah kenapa rasanya ada hal yang udah jauuuuuuhhh banget antara angkatan nin (yang udah kuliah) dengan adek2 yg masih berseragam… sering kali kalo diskusi ama temen soal itu, baru deh berasanya kami udah tua… hal2 yg dulu kami dapat saat udah rada berumur, anak jaman sekarang gampang banget dapetnya, terutama gadget… ckckckck *geleng2*

    jaman berubah begitu cepat SIst

  6. laurentiadewi said: 2tahun lalu, ditengah perjalanan ke pantai, mobil ditabrak sepeda motor yang tiba2 muncul dari depan, dijalur kita. Walau kita cuma 40an km/jam karena santai, si motor kencang. Jadi, tabrakannya heboh. Bunyinya keras sampai orang kampung kira ada bom, bayi menangis, ibu2 menjerit.Kita dimobil bengong semi panic karena mobil berguncang, tiba2 seperti mati mesin plus tontonan gratis akrobatik dadakan: pengendara motor melayang diatas mobil, satunya lagi gelundungan dijalan.Mobil rusak parah, bemper lepas dan menggores aspal, ban pecah. Motor? Hancur. Ban depan aja membentuk angka 8. Pelakunya anak SMP, 22nya cewe, ga punya SIM, curi2 kesempatan dari orang tua. Ga meninggal (untungnya) tapi ya gitulah.Yang salah? Waktu itu sih kita. Kata ibu2 disana yang teriak2 emosi: “cino iku sing salah”. Aku tanya, kok bisa gitu? Dijawab “pokoke lek cino iku salah”, sigh. SIGH!

    Hahaa…. itulah justifikasi awam….padahal yang salah yang celaka…sangat diskriminatif… ya dimaklumi… namanya emosi…

  7. laurentiadewi said: 2tahun lalu, ditengah perjalanan ke pantai, mobil ditabrak sepeda motor yang tiba2 muncul dari depan, dijalur kita. Walau kita cuma 40an km/jam karena santai, si motor kencang. Jadi, tabrakannya heboh. Bunyinya keras sampai orang kampung kira ada bom, bayi menangis, ibu2 menjerit.Kita dimobil bengong semi panic karena mobil berguncang, tiba2 seperti mati mesin plus tontonan gratis akrobatik dadakan: pengendara motor melayang diatas mobil, satunya lagi gelundungan dijalan.Mobil rusak parah, bemper lepas dan menggores aspal, ban pecah. Motor? Hancur. Ban depan aja membentuk angka 8. Pelakunya anak SMP, 22nya cewe, ga punya SIM, curi2 kesempatan dari orang tua. Ga meninggal (untungnya) tapi ya gitulah.Yang salah? Waktu itu sih kita. Kata ibu2 disana yang teriak2 emosi: “cino iku sing salah”. Aku tanya, kok bisa gitu? Dijawab “pokoke lek cino iku salah”, sigh. SIGH!

    Yeah! Dan kalo dijalan tuh roda 4 vs roda 2, ada kejadian apapun, roda 4 selalu disalahkan, dimintain uang, dsb. Ga peduli otak pengendara motornya yang di tumit ato dengkul, yang dikeroyok yang roda 4.Kalo saksi matanya jujur, HOOOOOOOKI deh.Kalo saksi matanya kasian ama pengendara motor, ya sial 2x. Kalo sopirnya kulit kuning, waaah, sialnya 7x. Maha bersalah, deh. Jadi, yang ugal2an dijalan kalo sampe mampus, yang salah tergantung lawannya berkulit apa. Itu menurutku.

  8. laurentiadewi said: Yeah! Dan kalo dijalan tuh roda 4 vs roda 2, ada kejadian apapun, roda 4 selalu disalahkan, dimintain uang, dsb. Ga peduli otak pengendara motornya yang di tumit ato dengkul, yang dikeroyok yang roda 4.Kalo saksi matanya jujur, HOOOOOOOKI deh.Kalo saksi matanya kasian ama pengendara motor, ya sial 2x. Kalo sopirnya kulit kuning, waaah, sialnya 7x. Maha bersalah, deh. Jadi, yang ugal2an dijalan kalo sampe mampus, yang salah tergantung lawannya berkulit apa. Itu menurutku.

    hukum masa mBa…getu dah… justifikasinya….

  9. laurentiadewi said: Yeah! Dan kalo dijalan tuh roda 4 vs roda 2, ada kejadian apapun, roda 4 selalu disalahkan, dimintain uang, dsb. Ga peduli otak pengendara motornya yang di tumit ato dengkul, yang dikeroyok yang roda 4.Kalo saksi matanya jujur, HOOOOOOOKI deh.Kalo saksi matanya kasian ama pengendara motor, ya sial 2x. Kalo sopirnya kulit kuning, waaah, sialnya 7x. Maha bersalah, deh. Jadi, yang ugal2an dijalan kalo sampe mampus, yang salah tergantung lawannya berkulit apa. Itu menurutku.

    Dilematis, hanya penegakkan aturan tanpa tedeng aling2 sja yang bisa menyelamatkan nyawa para generasi muda dari mati sia-sia di jlnan..

  10. laurentiadewi said: Yeah! Dan kalo dijalan tuh roda 4 vs roda 2, ada kejadian apapun, roda 4 selalu disalahkan, dimintain uang, dsb. Ga peduli otak pengendara motornya yang di tumit ato dengkul, yang dikeroyok yang roda 4.Kalo saksi matanya jujur, HOOOOOOOKI deh.Kalo saksi matanya kasian ama pengendara motor, ya sial 2x. Kalo sopirnya kulit kuning, waaah, sialnya 7x. Maha bersalah, deh. Jadi, yang ugal2an dijalan kalo sampe mampus, yang salah tergantung lawannya berkulit apa. Itu menurutku.

    Padahal menurutku dijalan itu harusnya pake hukum rimba, karena mayoritas yang melintas kan: kijang, panther, (honda) bebek, zebra, (taxi) blue bird, hehe 😀

  11. laurentiadewi said: Yeah! Dan kalo dijalan tuh roda 4 vs roda 2, ada kejadian apapun, roda 4 selalu disalahkan, dimintain uang, dsb. Ga peduli otak pengendara motornya yang di tumit ato dengkul, yang dikeroyok yang roda 4.Kalo saksi matanya jujur, HOOOOOOOKI deh.Kalo saksi matanya kasian ama pengendara motor, ya sial 2x. Kalo sopirnya kulit kuning, waaah, sialnya 7x. Maha bersalah, deh. Jadi, yang ugal2an dijalan kalo sampe mampus, yang salah tergantung lawannya berkulit apa. Itu menurutku.

    Ha.ha..ha….iya jugah…..

  12. laurentiadewi said: Padahal menurutku dijalan itu harusnya pake hukum rimba, karena mayoritas yang melintas kan: kijang, panther, (honda) bebek, zebra, (taxi) blue bird, hehe 😀

    ahahaha… kaya kebon binatang donk ntar…naik bebek ah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s