Apa dan Bagaimana Virus Itu

virus 6
Virus yang ditangkap oleh ujung reseptor sel.

Virus yang berasal dari bahasa Yunani yang berati Venom atau racun adalah salah satu mahluk lemah yang menakutkan sekaligus menajubkan. Mengapa virus bisa dikatakan lemah? Karena virus memiliki struktur tubuh yang ringkih berbeda dengan mikroba lain seperti bakteri dan jamur.

virus 7
Morfologi virus.

Virus memiliki struktur tubuh yang sederhana. Lapisan luar virus terdiri dari protein dan membrannya dari lemak, bahkan ada virus yang tanpa membran. Inilah titik lemah dari virus, karena lapisannya hanyar protein dan lemak jika ada. Untuk menghancurkan protein sangatlah mudah. Secara kimia, protein virus bisa dirusak dengan bahan kimia seperti alkohol, formalin, sabun, fenol dan lain sebagainya. Secara fisik lebih mudah lagi, cukup dipapar panas, kering, pasti lapisan protein juga akan rusak. Secara biologi, tidak jauh berbeda dengan senyawa bioaktif dan enzim-enzim pendegradasi protein, makan virus akan dengan mudah dirusak. Di dalam virus terdapat selubung matrik yang melindungi bagian dalam verius, sedangkan kapsid untuk membungkus materi genetik virus berupa DNA atau RNA.

Secara morfologi ada 4 bentuk virus, yakni 1. bulat, 2. bentuk T, 3. batang, dan 4. polihidris. Ukuran virus sangat kecil yakni 28 – 200 nano meter (sepersejuta meter). Jika bakteri saja ukurannya 20 – 800 mikro meter,  maka virus seribu lebih kecil. Berikut adalah bentuk bentuk virus.

virus 1
Virus bulat.
virus 4
Virus berbtuk T.
virus 2
Virus bentuk batang.
virus 3
Virus bentuk polihidris.

Nah bagaimana cara virus itu hidup. Virus itu antara ada dan tiada. Dia bukan apa-apa kalau di luar  mahluk hidup, dan adalah benda mati. Namun jangan sampai dia masuk ke mahluk hidup. Dia hidup jika dia menemukan host, inang, atau tempah hidupnya. Siapa inangnya, bisa bakteri, bisa hewan dan manusia, dan bisa juga tumbuhan.

Virus untuk bisa menemukan hostnya akan secara acak, namun tidak semua host dapat dia singgahi. Syarat agar dia bisa hidup di hostnya adalah ujung protein pembungkusnya harus bisa nempel dengan reseptor yang ada diujung sela. Ibaratnya dia mirip dengan colokan dan steker listrik. Virus akan dapat masuk asal model colokanya sama dengan inangnya. Jika tidak sama, jangan harap virus itu bisa menginfeksi. Contohnya kita tidak adak tertular virus tumbuhan karena ujung proteinnya berbeda dengan ujung reseptor pada sel kita, sehingga kita aman.

virus 6
Ujung reseptor sel host warna hijau dan ujung protein virus warna biru. Harus pas, jika tidak maka tidak akan menempel dan masuk.
virus 8
Virus akan menempel di sel jika memiliki kesamaan antara ujung reseptor sel host dan ujung protein virus.
virus 9
Jika kedua ujung reseptor dan protein tidak sama, makan tidak akan menempel.

Apakah kita boleh berlega hati jika tidak ada kesamaan reseptor. Jangan salah, virus juga mahluk yang tidak ingin mati konyal. Virus akan terus berupaya agar bagaimana caranya mendapatkan host. Virus akan terus berevolusi dan bermutasi untuk memerbaiki ujung proteinnya agar pas dengan reseptor punya host.

virus 91
Virus yang berevolusi atau bermutasi agar bisa menempel pada ujung reseptor.

Lantas bagaimana kelanjutannya jika virus berhasil menempel di ujung reseptor host. Begini, ceritanya. Sel itu butuh makan. Ujung reseptor itu mirip tangannya sel, nah kali ini dia ketipu dan sedang apes. Dia kira memegang protein, dan memang protein lalu dia tarik lalu dimakan namanya endositosis (sel makan). Sel baru sadar ternyata di proteinnya nyangkut barang lain, yakni badan virus.

Virus yang sudah dimakan sel, kemudian akan mengeluarkan RNA-nya tanpa sepengetuhan sel. Nah di dalam sel terdapat organ yang namanya ribosom yang bertugas untuk mencetak protein sesuai dengan pesenannya lewat MRNA (messenger RNA). Nah kali ini yang diproduksi bukan RNA sel tapi RNA-nya virus. RNA virus akan ditranskripsi atau dibaca dan diterjemahan oleh MRA lalu dicetak atau ditranslasi. Hasil cetakan RNA ini bisa banyak, konon 100 – 300 cetakan. Yang terjadi dari cetakan tersebut akan jadi virus-virus baru, dan setelah jadi makan pecahlah sel dan mengeluarkan ratusan virus.

Virus 92
Proses replikasi atau perbanyakan virus di dalam sel.

Lantas apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan covid-19 atau korona virus dan bagaimana orang bisa sakit.. Corona virus menyerang saluran pernafasa yang mulai tenggorokan sampai paru-paru dan jalan masuknya bisa telinga, hidung, mata, dan mulut. Kenapa saluran pernafasan, inilah spesifiknya virus karena ujung protein dapat menempel pada ujung reseptor di saluran pernafasan.

Lantas apa yang terjadi jika sampai terinfeksi. Yang pertama terjadi adalah tubuh akan meresepon benda asing tersebut. Ditandai dengan peradangan lalu berlanjut pada demam. Radang adalah respon rusaknya sel, dan demam adalah upaya tubuh untuk memroduksi anti bodi.  Lantas kadang ada yang bilang, kenapa yang terinfeksi bisa gagal nafas. Karena saluran nafasnya mengalami radang, kemudian tubuh mengeluarkan selaput lendir yang fungsi sebenarnya buat nangkap itu virus dan membuangnya. Nah jika semua itu terjadi di paru-paru, maka fatalah. Paru-paru alveoli yang bertugas menjadi sirkuulasi udara menjadi meradang, tertutupi lendir, dan tidak elastis lagi maka disebutlah dengan pneumonia. Saatnya penderitan dibantu dengan ventilator.

Apakah virus bisa dijinakan dan ditangkal, bisa yakni dengan vaksin atau tubuh membentuk antibodinya sendiri. Secara alami tubuh bisa membuat penangkal virus yakni dengan membuat antibodi yakni ditandi deman. Namun apakah secara buatan bisa, tentu saja bisa. Virus akan ditangkap, dijinakan dan dilihat ujung proteinnya. Nah ujung protein ini yang akan dipelajari, Virus yang sudah lemah dan tidak berdaya akan disuntukan lalu tubuh akan membuat antibodinya. Nah antibodi itu prinsipnya ngakali agar supaya virus tidak menempel, ada mekanisme demikian ada juga yang menghasilkan senyawa yang dapat merusak virus tersebut. senjata antibodi itu akan tersimpan dalam memori sel buat nendang agar jika virus yang sama bisa ditolak agar tidak ketarik masuk dalam sel atau langsung dibinasakan.

virus 95 copy
Cara kerja vaksin.

Sebagai penutup, pembuatan antibodi itu butuh energi dan bahan-bahan pendukung, Tubuh harus diberi asupan makanan yang bergizi, bervitamin, dan istirahat total karena tubuh sedang bekerja dari dalam. Makanya kala demam, istirahat total; minum vitamin, makan yang bergizi dab berpikir positif buatlah hati gembira.

 

Membuat Hand Sanitizer Sendiri

WhatsApp Image 2020-03-18 at 13.27.48
Hansanitizer buatan sendiri.

Infeksi corona naik, masyarakat panik. Salah satu kepanaikan masyarakat adalah kelangkaan bahan penunjang personal higiene yakni hand sanitizer. Sebenarnya jika mau melihat sekeliling, masih ada bahan-bahan yang bisa dibuathandsanitizersendiri tanpa bingung kesana-kemari.

Tumbuhan Punya Antiseptik

Nenek moyang kita, turun-temurun sudah mengajarkan membuat sanitizer atau sebut saja antiseptik atau antimikroba. Lihat saja film-film tentang pendekar. Saat ada yang luka, mereka mencari daun-daunan lalu dikunyah atau ditumbuk sebentar dan dioleskan di luka. Apak maknanya? Di dalam tumbuhan terdapat senyawa bioaktif yang dapat mencegah infeksi kuman penyakit.

Tumbuhan sebagai organisme yang tidak bisa bergerak, sangat susah menghindarkan diri dari mangsanya (virus, jamur, bakteri, dan herbivor-pemakan tumbuhan). Karena merasa terancam, maka tumbuhan membuat sistem pertahanan diri agar tidak diserang oleh pemangsanya. Sistem pertahanan diri dibuat dengan memroduksi zat-zat yang sifatnya toksit atau racun dan atau yang tidak disukai mangsanya.

Zat pertahanan diri tersebut dikenal ilmuwan dengan senyawa antinutrisi. Mengapa antinutrisi, karena tidak memiliki nilai gizi. Hampir semua tumbuhan memiliki senyawa antinutrisi. Senyawa antinutrisi antara lain; lektin, oligosakarida, enzim penghambat, fenol, saponin, HCN, polifenol, tanin. flavanoid dan masih banyak lagi yang lainnya.

Senyawa antinutrisi tersebulah yang sebenarnya bisa kita manfaatkan sebagai antiseptik. Alam, melalui tumbuhan sudah menyediakan, tinggal kita manfaatkan. Lantas tumbuhan apa saja yang familiar disekitar kita?

Antiseptik Dari Tanaman

Mari kita amati dan cari tumbuhan apa saja yang bisa kita karyakan sebagai antiseptik. Ciri-ciri yang mudah kita temukan adalah tumbuhan memiliki aroma atau bau yang spesifik. Contoh daun jeruk, serai wangi, lavender, sirih, sedap malam, kamboja, pegagan, dan masih banyak yang lainnya.

Jenis-jenis tumbuhan tersebut bisa kita gunakan sebagai antiseptik. Namun harus diingat, jangan sampai salah ambil tumbuhan. Hindari tumbuhan yang mengandung getah (euphorbiaceae) karena kemungkinan beracun ada HCN-nya (asam sianida). Tumbuhan bergetah seperti; singkong, karet, bunga euphorbia. Maka kita gunaka yang wajar-wajar saja.

WhatsApp Image 2020-03-19 at 09.23.55
Koleksi tumbuhan yang bisa dibuat antiseptik.

Tidak kalah penting adalah cari aroma yang baik atau enak, jangan sampai aromnya malah membuat kita tidak nyaman contohnya bunga Lantana camara/tembelekan, daun kentut (Paederia foetida), atau Bandotan (Ageratum conyzoides), kecuali anda tahan. Yang pasti cari aroma yang enak, karena sekaligus sebagai aroma terapi.

Membuat Antiseptik Sendiri

Saya ambil contoh sederhana. Daun sirih atau serai wangi yang ada disekitar kita. Langkah sederhana yang untuk membuat adalah pastikan dicuci bersih jangan sampai ada kotoran yang menempel. Lalu dilakukan perajangan sekecil mungkin, selembut mungkin. Tujuan perajangan adalah untuk memerluas permukaan. Permukan yang luas akan memermudah untuk mengeluarkan senyawa bioaktif-anti nutrisi itu keluar.

WhatsApp Image 2020-03-18 at 16.02.34
Proses pembuatan Antiseptik

Untuk melarutkan senyawa bioaktif dapat dilarutkan dengan air, karena sebagian besar bersifat polar (larur air). Untuk memermudah kita gunakan air panas, yakni dengan cara menaruh di dalam wadah berisi air panas lalu kita kukus. Mengapa tidak direbus saja? Jika direbus nantinya akan banyak senyawa yang hilang akibat paparan panas yang tinggi. Konsentarsi untuk proses ini adalah satu bagian dari daun dan 4 bagian dari air dan lama pengukusan sekitar 15 menit saja.

Hasil pengukusan lalu disaring untuk mendapatkan ekstrak murni. Pastikan disaring dengan baik dan bisa digunakan kain saring. Tujuannya adalah gara saat disemprot tidak menutupi lubang semprot.

Ekstrak daun sirih atau serai tidak bisa bekerja sendiri melawan mikroba, namun harus diberi bantuan. Paling gampang adalah tambahkan alkohol (70%) sekitar 30%, jika ada trikolasan bisa ditambkan 1,5-2%, dan ekstrak lidah buaya 10%/.

WhatsApp Image 2020-03-19 at 09.23.55 (1)
Bukti kinerja antiseptik dalam membunuh dan menghambat mikroba,

Mengapa perlu ditambahkan alkohol atau triklosan? Alkohol dan triklosan berguna untuk langsung menghamtam mikroba agar dinding selnya rusak. Namun ada beberapa yang masih bandel, baru akan dihajar oleh ekstrak daun melalui senyawa antimikrobnya dengan cara menghambat pertumbuhannya. Lidah buaya berguna untuk mengentalkan cairan, sehingga memudahkan kita untuk mengusap, meratakan, selain itu mengikat zat-zat tersebut lebih lama agar memapar mikroba lebih lama.

Prinsip pembuatan hand sanitizer sudah kita pahami, sekarang saatnya berburu tumbuhan yang bisa kita pakai. Yang pasti cari tumbuhan yang familiar dan kita pahami dan tidak asal memakai. Jika dirasa kurang, bisa tambahkan rempah-rempah yang juga memiliku senyawa antimikroba. Selamat mencoba, dan tetap jaga kesehatan.

Cara Kerja Hand Sanitizer dalam Membunuh Kuman

hand-sanitizer11
Hans sanitiser (Sumber Gambar)

Gegara COvid-19, merubah PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) melalui personal higeine. Kini beberapa orang tidak mau lepas dari yang namanya hand sanitizer. Mau berbagi, rasanya akan berpikir ulang.

Hand Sanitizer

Hand sanitizer, tercipta akan tuntutan masyarakat modern yang menghendaki kemudahan dan kepraktisan dalam menjadi kebersihan pribadi. Jika awalnya seseorang harus cuci tangan dengan sabun dan air bersih lengkap dengan 8 tahapannya. Kini cuci tangan dapat diwakili dengan hand sanitizer, asal tangan sudah bebas dari kotoran.

Cuci tangan yang harus menghadirkan sabun, air bersih, dan lap dirasa kurang praktis maka hand sanitizer menjadi pilihan praktisnya. Lantas ada ada apa di dalam hand sanitizer dan bagaimana cara bekerjanya sebagai antiseptik atau antimikroba.

Secara umum, hand sanitizer yang ada dipasaran mengandung alkohol 70% dan triklosan 1,5-2,5% dan tergantung produsenya. Ada juga beberpa tambahan lain seperti ekstrak lidah buaya, gliserin dan essensial oil atau minyak asiri.

Bagaimana Kuman Dibunuh

Sebelum melihat bagaimana bekerjanya, mari kita lihat siapa targetnya. Target penggunaan handsanitizer adalah mikroba seperti; jamur, bakteri, dan virus. Mikroba tersebutlah yang akan dihajar oleh zat-zat dalam hand sanitizer.

Gram negative cell wall
Dindiing sel bakteri (sumber gambar).

Secara umum, bakteri dan virus memiliki struktur yang tidak jauh berbeda, namun bakteri memiliki ukuran seribu bahkan sejuta kali lebih besar daripada virus. Salah satu komponen dinding sel bakteri dan virus terdiri dari protein dan inilah target empuknya. Protein mudah sekali rusak dan rentan.

human-immunodeficiency-virus-4-638
Morfologi virus (sumber gambar)

Mudah rusaknya protein inilah yang menjadi titik lemahnya. Alkohol akan mendenaturasi dan menggumpalkan protein atau merusaknya. Bayangkan jika diding itu rusak atau jebol, maka isi di dalamnya akan keluar dan matilah organisme tesebut. Bagimana jika dia lolos tidak terkena siraman alkohol, masih ada zat lain yakni triklosan yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Jika dia terhambat dan tidak beranak pinak, maka matilah dia.

Masih ada senjata pamungkan dari beberapa hand sanitizer yang ditambahkan essensial olil atau minyak asiri. Selain untuk menciptakan aroma yang enak, harum dan menutupi aroma alkohol, minyak asiri mengandung senyawa flavanoid dan tanin. Flavanoid bekerja mirip dengan alkohol yakni mendenaturasi protein. Tanin bersifat antibakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri.

Cara kerjanya sangat sederhana, yakni merusak proteinnya dan jika tidak mempan maka akan dihambat. Bagaimana mengetahui cara bekerjanya apakah hand sanitizer itu ampuh atau tidak. Cara paling mudah adalah dengan melihat zona hambat pertumbuhan mikroba dan ini biasa dilakukan di laboratorium mikrobiologi.

Uji Kekuatan Hand Sanitizer

Cawan petri yang sudah berisi agar untuk tempat tinggal mikroba akan ditempeli kertas yang sudah direndam dalam hand sanitizer. Dalam kurun waktu sekitar 48 jam cawan petri yang ada bakterinya akan menunjukan zona terang disekitar kertas tersebut. Artinya kertas yang mengandung hand sanitizer itu udah menghambat pertumbuhan bakteri dan telah membunuh yang ada disekitarnya. Uji ini mirip yang dilakukan untuk uji antibiotik. Cara yang kedua dengan membuay sumur di agar yang ditumbuhi mikroba. Sumur tersebut lalu diisi dengan hand sanitizer lalu di lihat zona terangnya.

Masing-masin ukuran zona terang memiliki artinya masing-masing. Jika zona hambat >20 mm (sangat kuat), 10-20 mm (kuat), 5-10 mm (sedang), dan 0-5 mm (lemah). Angka zona hambat tersebutlah yang digunakan untuk melihat kekuatan hand sanitizer sekaligus membuat formulasinya.

zona hambat
Zona hambat pertumbuhan mikroba (sumber gambar).

Lantas, mana yang terbaik antara cuci tangan atau hand sanitizer?. Jika melihat mana yang efektif maka cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang dilakukan dengan baik dan benar jauh lebih baik dibanding dengan penggunaan hand sanitizer. Bagaimana kalau keduanya, itu jauh lebih baik, yakni cuci tangan lalu pakai hand sanitizer, tetapi tetap harus bijak, dan kembali pada PHBS. Hand sanitizer hanyalah alat bantu, yang penting adalah perilaku hidup bersih dan sehat kita.

Garam Rembang yang Tak Lagi Asin

garam rembang
Proses pemanen garam di Rembang.

Dahulu, ada 3 emas yang ada di Lasem yakni; candu, batik, dan garam. tiga barang dagangan tersebutlah yang menjadikan kota ini hidup. Kini, candu telah lenyap, batik juga senyap, dan garam juga suram. Hari ini saya berada di jalan Pantura Rembang untuk mencicip rasa garam tersebut.

Pembuatan Garam

Putaran kincir angin nampak begitu malas, di bawah teriknya matahari. Suara gesekan as roda nampak juga tak bersemangat dan terkesan telah letih. Air laut yang dialirkan melalui kanal-kanal kecil menuju area tambak yang mirip dengan persawahan juga begitu tak bergairah.

Dengan bantuan angin, maka akan menggerakan kincir lalu memutar roda as yang dihubungkan dengan engkol yang berujung mirip dengan gayung. Perlahan-lahan air laut dipindahkan ke lahan tambak. Dikit demi sedikit permukaan tambak akan penuh dengan air laut.

garam ladang tambak garam
Kristal-kristal garam dari hasil penguapan air laut di ladang tambak garam.

Matahari akan menguapkan permukaan tambak dan pelan-pelan akan terlihat kristal-kristal mineral garam. Pak Trimo siang itu, dengan alam mirip dengan garu mendorong lapisan-lapisan garam hingga membentuk bukit-bukit kecil.

Dengan sekop dia memindahkan ke dalam bak kereta dorong. Kedua tangannga memegang stang kereta tersebut lalu dengan keseimbangan tinggi dia lewat di pematang tambak menuju rumah garam. Di dalam rumah tersebut, ditimbunlah garam dengan berbagai kualitas, yakni 1,2, dan 3.

Lantas saya bertanya, apa yang membedakan kualitas garam tersebut? “Garam kualitas 1 adalah panenan pertama pada tambak, jadi dia masih murni dan warnanya putih, sedankan kualitas kedua adalah panenan berikutnya, demikian kualitas 3“. Saya mengangguk pelan mendengan suara paraunya.

Nasib Garam

Di bawah rumah garam berdinding anyaman bambu saya menemani Pak Trimo yang sejenak melepas lelah. Dia berkisah, jika dia hanyalan buruh tambak garam. Tambak garam ini adalah milik bosnya orang Lasem yang tinggal di Solo. Dia hanya bertugas memanen dan mengumpulkan garam.

Banyak yang dia ceritakan, tentang tambak garam di sini. Dulu boleh dia jumawa saat harga garam tinggi, tembus di atas seribu rupiah bahkan lebih perkilonya. Saat ini dia mulai putus harapan. “Kemarin kita agak senang, perkilonya 600 rupiah, sekarang anjlok sampe 300 rupiah, bahkan ada yang melepas dengan 150 rupiah“.

garam rumah garam
Rumah penampungan garam.

Cerita pak Trimo, membuah saya penasaran mengapa demikian. “Mas, garam itu ladang bisnis, siapa tidak butuh garam. Ada cerita katanya garam impor lebih bagus dan murah. Belum lagi monopoli garam. Itulah yang membuat kami sebagai buruh tambak garam makin sengsara”.

Saya diam, nanar sembari melihat hamparan ladang garam yang luas dengan kristal-kristal putih di atasnya. Saya melangkah ke ujung rumah garam “pak mana kualitas garam nomer 1 ?” tanya saya. “Yang pojok dan paling putih mas“. Saya mendekati lalu menyentuh garam tersebut dengan ujung jari, saya jilat “tak asin lagi“.

Meneroka Jejak Nirleka di Bukit Bulan

Petak berjalan
Berjalan menyusuri padang rumput di Kaki Bukit Bulan,.

Ini mah hotel bintang 5” kata Mas Sigit sembari membentangkan kedua tangannya di dalam ceruk gua. Dia adalah peneliti dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan, mengerti benar bagaimana wujud hunian masa lalu. Hari ini saya diajak napak tilas pada masa nirleka di Bukit Bulan Jambi.

Tengara Nirleka

Yang saya kurang sukai dari teroka ini adalah saat harus menyebrangi sungai dengan masuk ke badang sungai. Benar saja, baru beberapa langlah masuk Sungai Limun, ada mahluk yang lari terbirit-birit. Tidak bukan adalah seekor ular yang terusik dengan derap langkah kaki kami, yang tetiba kami juga terbirit-birit.

Kami tergabung dalam tim penelitian tentang ekplorasi hunian manusia prasejarah, yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak mudah menemukan keberadaan mereka, terlebih peninggalan mereka. Inilah tantangan yang kami hadapi saat ini di Bukit Bulan-Jambi.

petak bukit
Bukit Celau Petak.

Langkah kaki kami tak seperti manusia purba. Sebagai manusia modern otot dan tenaga kami sudah banyak tereduksi oleh modernisasi, sedangkan alam ini tidak banyak berubah. Medan yang kami hadapi tidak jauh berbeda, namun kami yang berbeda.

Setelah menyebrang sungai, lalu kami masuk dalam hutan dan menuju perbukitan. Bukit ini masuk dalam kawasan Celau Petak, dan kebetulan di sana ada gua Celau Petak, salah satu gua terpanjang di Bukit Bulan.

Tujuan kami adalah mencari ceruk-ceruk gua yang disinyalir menjadi tempat hunian manusia purba. Setiap ceruk kami periksa, kami korek-korek, kami amati dinding-dindingnya. Kami berharap menemukan satu lukisan dinding, atau goresan, tulang belulang, dan kalau beruntung dapat peninggalannya.

Tidak mudah mendapatkan keberuntungan menemukan hunian manusia purba. Kami hanya mengantongi informasi berdasarkan logika, orang jaman dahulu tinggalnya dimana. Orang pasti ingin tinggal ditempat yang aman, terlindungi, kering, dekat sumber air, mudah dijangkau. Penciri itulah yang kami pegang, guna mencari tempat seperti itu.

Hotel Bintang Lima

Kami berjalan dari gua ke gua. Kami menyambangi tiap ceruk, meskipun kadang harus memanjat di ketinggian dengan resiko terjatuh. Mungkin dahulu, mereka dengan mudahnya memanjat tanpa ketakutan, karena sudah terbiasa. Bagi kami, kami harus memikir berkali-kali bagaimana naik dan turunnya dengan segala risikonya.

Sudah setengah hari kami mencari. Di tepi sungai kami melepas lelah, dan lapar sembari membuka bekal. Mungkin ini makanan paling nikmat bagi kami saat itu, karena memang tidak ada pilihan lain. Belum rasanya nasi ini turun, kami harus segera bergegas.

petak gua
Mendaki dinding terjal, demi mencari hotel bintang lima.

Langkah kaki kami semakin berat. Tetiba kami dihadapkan pada sebuah dinding batu gamping yang terjal. Sekilas melihat ada celah kecil untuk dipanjat. Kami merayap di dinding batu kapur tersebut. Benar saja, kami menemukan sebuah ceruk raksasa.

Sebuah ceruk yang kering, dengan diamter sekitar 15 meter dan tinggi 20 meter. Di dalam ceruk tersebut terdapat ruang-ruang kecil. Ceruk ini rasanya seperti lobi hotel bintang lima, lengkap dengan kamar-kamar presiden suitnya.

Tanah yang kami injak kering, di dekat situ ada air. “Plakk” suara tepukan tangan dari Mas Sigit sembari bilang “klop“. Dengan sekop kecil dia mengorek-orek tanah, tak berselang lama dia seperti Issac Newton menemukan gravitasi “eureka“.

Batu Obsidian

Dia menemukan serpihan-serpihan batu kaca. Obsidan katanya sedikit kencang. Benar, batu obsidian menjadi indikator peninggalan masa lalu. Batu tersebut dibelah setipis mungkin dan digunakan sebagai pisau. Tajamnya seberapa? Jangan tanya. Tangan saya pernah robek kena pecahan batu tersebut. Konon tajamnya melebihi pisau bedah.

petak obsidian
Batu obsidian masa lalu.

Tidak hanya satu atau dua obsidian yang kami temukan, namun lebih dari sepuluh. “Stop jangan banyak-banyak, sisanya buat bahan penelitian. Di tempat ini bisa melahirkan sarjana arkeologi, master, doktor, bisa juga profesor” kata mas Sigit dan kami menghentikan korek-korek tanah tersebut.

Hari ini, setidaknya kami sudah menemukan satu puzzle nirleka di tempat layaknya hotel bintang lima. Menunggu waktu, para ahli akan memerdalam untuk mencari bukti-bukti pendukungnya. Kita tunggu saja, cerita dari mereka.

Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng Bukit Bulan

ketaping lorong gua 2
Chamber Gua Sungai Ketaping.

Antara takut dan geli, maka saya memutuskan untuk mencabut gigitan lintah yang sudah gendut dari pangkal kaki saya. Darah segar mengucur usai si lintah dipaksa menuntaskan hisapannya. Tidak hanya satu atau dua gigitan, sore ini setidaknya ada empat luka gigitan pacet. Inilah salah satu risiko menyusuri aliran sungai yang berhulu di gua. Hari ini kami menyurui Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng di Bukit Bulan Jambi.

Gua Sungai Ketaping

Gua Sungai Ketaping, demikian nama gua yang memiliki resurgrance atau sungai yang keluar dari gua. Nama sungai ketaping, kemungkinan secara topinimi berasal dari sungai dan pohon ketaping/ketapang (Terminalia catappa) yang banyak di sepanjang sungai. Hari ini saya bersama tim yang dipandu penduduk lokal hendak menyusuri gua yang memuntahkan air jernih yang bertemu di aliran Sungai Ketari Kecil.

Bukan hal yang susah sebenarnya untuk menemukan gua ini. Cukup menyusuri sungai Ketari Kecil sampai hulu. Namun, yang menjadi kengerian adalah sepanjang sungai tersebut adalah habitat lintah penghisap darah. Dengan mengenakan sepatu boot dan pakaian lengan panjang, berharap tidak ada celah bagi si lintah untuk menggapai kulit tubuh kami.

Perjalan menuju Gua Sungai Ketaping dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalan dari Desa Napal Melintang. Benar saja sepanjang perjalanan akan melewati sungai dan lintah tidak hanya ada di darat, namun juga di daun dan ranting-ranting pohon. Ahasil seekor lintah sudah kenyang mengisap darah saya tepat di dagu samping tali pengikat helm.

Mulut Gua Sungai Ketaping cukup sempit. Untuk masuk harus memiringkan badan dan kepala mepet di dinding gua. Di dalam gua terdapat aliran sungai kecil dengan batu-batu kerikil yang telah membulat. Sebuah lorong di sisi kiri gua dengan zona gelap total menarik untuk dijelajahi.

ketaping lorong gua
Lorong gua Sungai Ketaping.

Di dalam lorong gua tersebut, saya merasakan hawa yang sejuk, sepertinya ada aliran udah khas mikroklimat di dalam gua. Di beberapa dinding nampah burung seriti membangun sarang, ada beberapa yang mengerami, dan ada beberapa yang sedang meninggalkan sarang dan telurnya. Beberapa kelelawar juga hilir mudik melintasi tubuh kami tanpa pernah menyenggol ataupun menabrak. Chirikhas penghuni gua dalam bernavigasi.

Di dalam gua ini juga terdapat chamber atau ruangan berukuran besar dengan stalagtit dan stalagmit yang yang menghiasinnya, selebihnya sudah menjadi pilar. Di dalam gua kami hanya sesaat saja, setelah makan siang kami segera beranjak menuju Gua Batu Nyedeng.

Gua Batu Nyedeng

Gua Batu Nyedeng, demikian penduduk lokal memberi nama gua ini yang artinya gua batu miring/NyeDeng. Benar saja, sangat miring. Jangankan batunya, jalan menuju kesana juga benar-benar miring. Dari depan Gua Sungai Ketaping, harus mendaki dengan jalan terjal dengan kemiring 45 derajat, kadang ada yang lebih. Parah lagi, kadang harus memanjat batuan gamping. Benar-benar Nyedeng.

ketaping lorong gua batu nyedeng
Mulut Gua Batu Nyedeng.

Sekitar 1,5 jam kami mendaki dengan perbedaan elevasi sekitar 300 m. Kami berada di salah satu titik tertinggi di Bukit Raja. Habis tenaga kami dan kini dihadapkan pada gua vertikal. Kata Pak Irawan, gua ini dalamnya 6 meter lalu ada teras, lalu turun lagi 10 meter. Bayangan saya sudah yang tidak-tidak, dan tidak ada opsi lain kecuali harus turun.

Saya mengikuti jejak-jejak Pak Irawan yang sudah hafal betul tiap pijakan dan pegangan. “Ngeri-ngeri sedap” kata mas Andi rekan saya yang turun tepat di depan saya. Akhirnya diputuskan “naik saja mas, tanggung guanya buntu dan cuma sekitar 13 meter“. Akhirnya kami naik dengan jalan yang sama dan rasa yang berbeda.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Langkah kaki kami mulai gontai untuk kembali ke base camp di Napal Melintang. Lelah, letih, dan kaki kadang gemetar, namun harus tetap berjalan. Akhirnya kami sampai di pertemuan sungai Ketari Kecil.

ketaping lorong gua vertical
Lorong vertical Gua Batu Nyedeng.

Kami melepas lelah sembari melihat siapa tahu ada lintah yang masih nempel di tubuh kami. Benar saja, beberapa titik sudah terlihat darah yang mengering dan lintah sudah kenyang dan melepaskan diri. Ada satu yang masih tersisa, dia sudah gendut namun masih terus menghisap.

Gua Gedang, Potret Kejayaan dan Masa Kelam Bukit Bulan

Kabut pagi di Bukit Bulan.

Rinai hujan di pagi ini masih meninggalkan jejak di dedaunan yang basah kuyup. Kabut pagi di kaki Bukit Bulan masih menyelimuti hutan yang berdiri kokoh di atas bekas batu karang purba. Dari balik jendela saya memandang, “ah pagi ini harus ke Gua gedang“.

Awal Perjalanan

Sepenggal perjalanan di Bukit Bulan, Jambi. Hari ini saya berkisah tentang sebuah penelusuran gua alam yang ada di Kawasan Karst Bukit Bulan, tepatnya di Bukit Raja. Gua Gedang, menjadi tujuan kami. Bukan tanpa alasan memilih gua ini, tetapi ada kejayaan masa lalu yang membuat orang jauh-jauh datang ke situ.

Pak Irawan, yang kini sudah berkepala 6 pagi ini nampak bersemangat mendatangi base camp kami. Beliau adalah warga lokal di Napal Melintang yang dahulunya adalah pencari sarang walet di Kars Bukit Bulan. Puluhan gua, mungkin lebih dari 100 gua beliau hafal di luar kepala. Jangankan jalan menuju mulut gua, setiap jengkal pijakan dan pegangan sudah melekat kuat di ingatannya.

Sehari sebelum perjalanan di sampaikan, “mas jalan ke sana berat, harus pakai tali” katanya. Malamnya saya mengemas peralatan caving/penelusuran gua lengkap. Pagi ini kami berempat sudah bergegas menuju Gua Gedang.

Embun pagi yang belum beranjak tersapu oleh langkah sepatu boot kami. Sayang sepertinya, embun-embun cantik ini terinjak begitu saja dan meninggalkan bekas. Saya yang jalan paling belakang, beberapa saat berhenti dan menarik napas melihat jejak-jejak kaki itu.

Langkah kaki kami berhenti di Sungai Ketari Kecil, lalu segera kami merangsek di hamparan ilalang dan semak setinggi pemain basket Yao Ming. Semua bedan kami terlindungi, kecuali wajah dan leher kami. Garis-garis merah yang dibuat tepi daun Imperata cylindrica menimbulkan rasa perih terlebuh jika kena daun yang basah. Namun, inilah nikmatnya perjalanan.

Saya mengira penderitaan bakalan berakhir, namun luka-luka tersebut hanya sebagai pemanasan saja. Kali ini keluarga Hirudo alias lintah yang siap menyambut kami. Mereka seperti tentara berdiri tegak menghadang kami guna mencari pegangan untuk menempel lalu mencari celah di tubuh kami. Alhasil, kulit kami berhasil dia cumbu dan semula dia nampak kurus ceking seukuran lidi, kini sudah seukuran cabai yang gendut.

Bagitu gemasnya, kami mencabut begitu saja lintah yang sedang asyik menyedot darah. Ahasil, darah segar mengucur lalu segera ditambal dengan plester. Bagi yang sabar akan meneteskan cairan tembakau, sehingga lintah lepas dengan sendirinya. Bagi yang ekstrim akan menyundut pantat lintah dengan korek atau nyala rokok.

Lintah-lintah lapar akhirnya lelah kami hiruakan dan kaki ini ingin segera menerobos hutan. Pak Irawang mulai tengak-tengok, indikasi bahaya buat kami. Mengapa bahaha “Beliau sedang lacak-lacak, atau mengingat jalan dan jika diterjemahkan, dia lupa“. Jika belaiu sampai lupa, alamat cilaka.

Rekatakan-retakan batu gamping yang runcing menjadi jalan kami. Sisi sebelah kanan adalah dinding tebing, sisi kiri adalah jurang sedalam 50 meter. Melipir di tebing, jangan sampai salah fokus dan konsentrasi, atau nanti bisa di evakuasi.

Kejayaan dan Kekelaman

Setalah hampir 4 jam perjalanan, sampai juga kami di mulut Gua Gedang. Saya sebagai orang Jawa, nampak plonga-plongo (melihat kesana kemari dengan tatapan kosong). “Pak mana pohon gedang (pisang) tidak ada cuma paku-pakuan?” tanya saya pada pak Irawan. Toponimi Gua Gedang saya terjemahkan sebagai pisang, mungkin banyak pohon bisang. “Mas Gedang itu artinya luas” kata beliau. “Ah mirip jalan ke Manggis yang tidak ada manggisnya, ada peradun gedang artinya tempat istirahat yang luas” sergah saya dan dia hanya menggerakan hidungnya yang artinya iya.

Pak Irawan sosok pemburu sarang walet.

Sembari istirahat dan mencari sisa-sisa lintah siapa tahu masih asyik menyedot darah kami mendengarkan Pak Irawan bercerita tentang gua ini. “Dulu saya tinggal di Gua ini 3-4 tahun secara bergantian, untuk menjaga sarang walet. Di sini terkenal banyak sarangnya, bahkan dulu kalau panen bisa sampai 4 pikul atau 2 kwintal. Kami banyak uang dulu dari mencari walet, tapi kami juga bingung uang itu untuk apa, kaerna kami tinggal di sini. Akhirnya uang itu lama-lama habis untuk keperluan kami selama menjaga tempat ini”.

Pintu masuk Gua Gedang.

Tatapannya nanar melihat dinding-dinding gua dan seolah membawa dia kembali ke masa lalu, dimana waktunya dihabiskan menjadi manusia gua. Jejak-jejak masa lalu masih terlihat di sini, ada arang bekas tungku, bambu bekas gubug kecil, batu baterey untuk senter, coretan di dinding. Mulut Gua gedang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan kekelaman nasib penjaga gua.

Istana Bawah Tanah

Sarung tangan, helm, headlamp sudah terpakai dan saatnya kita masuk dalam gua. Sebuah ceruk kecil di sisi kiri adalah mulut guanya. Bagi mereka yang berbadan lebar mungkin harus menahan napas dan memipihkan perutnya, mulutnya sangat sempit. Beruntunglah saya, dan langsun bisa bisa masuk. Di dalam ada Mas Andi yang sudah sedia dengan buku primbon gua dan laser distonya. Dia ahlinya tukang gambar gua. Di belakang saya ada Mas Sigit dengan cetok kecil punya tukang bangunan tergenggam erat di tangganya. Dia adalah seorang arkeolog yang ahli tentang sejarah peninggalan masa lalu, tetapi bukan batu baterey dan bambu yang tadi.

Chamber Gua Gedang.

Di dalam gua, saya melihat sebuah chamber atau ruangan yang luas, bulat, dan tinggi. Lebarnya sekitar 14 – 20 meter dan tingginya 16 meter. Seperti kubah di dalam tanah. Kelewawar gua yang merasa terusik dengan kedatangan kami terbang tak beraturan namun tidak saling bertabrakan.

Di pinggir gua terdengan tetesan air, dan saya mencari dimana letaknya sebab pasti ada stalagtit dan stalagmit. Benar saja, nampak dua buah kreasi alam berusia ribuan tahun itu. Ingin rasanya membelai, tetapi itu pantangan buat kami. Kami tidak ingin merusak kreasi alam ini yang masih berproses.

Pulang Lebih Sengsara

Pemetaan gua dan pencarian benda purbakala usai. Saatnya kami berkemas pulang. Saat hendap perjalanan pulang acapkali kami dihadapkan pada pilihan, mau mencari jalan lain atau jalan semula. Tujuan kami adalah eksplorasi, dan biasanya pilihan pertama. Benar saja Pak Irawan paham akan kemauan kami. Berjalanlah beliau di depan. Kakinya nampak lincah berjalan di sela-sela tonjolan batu, sedangkan kami harus meraba.

Stop mas, kita harus hati-hati, di depan ada jurang. Bagimana mau lanjut atau balik kanan. Kalau lanjut ada jalan, tapi berbahaya?“. Kami terjebak di tengah tebing. Mau kembali tanggung, mau lanjut harus berhitung. Akhirnya kami memutuskan “oke pak lanjut, tapi istirahat dulu”.

VIDEO PERJALANAN KE GUA GEDANG

 

Kami istirahat di lereng tebing. Di samping kami menyembul kanopi pohon alias pucuk pohon. artinya di bawah ada batang pohon yang menjulang, bisa dihitung berapa tingginya. Kami membuka bekal makan siang kami. Bersandar di sebuah batang pohon dan segan melihat ke bawah daripada mutah.

Baru separo kami makan “mas saya sudah sampai bawah” teriak pak Irawan. Entah beliau lewat mana, pegangan apa, dan pijakan dimana kami tidak bisa membayangkan. Yang pasti jam terbang dan pengalaman tidak berkata bohong. Kami hanya berani mengumpat dalam hati dan terlihat dari ekspresi cara mengunyah kami.

Oke kita turun pake tali. “Kita repling mas” kata mas Andi. Pengalaman pertama bagi Mas Sigit. Jangkar pengaman kami buat, dan mas Andi turun pertama sembari membuat jalur. Saya orang terakhir yang nanti akan membersihkan peralatan untuk dibawa turun.

Harus rapeling saat harus mencari jalan turun.

Awalnya cukup merinding juga. Bagaimana tidak, ternyata tempat istirahat kami adalah hanging atau menggantung. Bayangkan kalau runtuh. Maka kami sembari makan sembil mengenakan perlengkapan safety. Akhirnya saya menjadi orang terakhir yang turun. Dan sampai bawah terlihat Cu Pe Tong demikian kami memanggil guide kami sedang makan siang dengan lahap.

Sudahlah kita istirahat dulu di sini, nanti kita pulang nyusur sungai, paling sekitar 4 jam perjalanan” katanya sembari mengunyah. Kami saling bertatapan dan sepakat berkata “cu pe tong“.