Romantisme Puncak Suralaya

 

IMG_5775

Berdiri pada sebuah tapal batas yang memisahkan tanah kekuasaan. Seluas mata memandang hanya hamparan perbukitan yang saling menyambung tiada terputus. Beberapa legenda diam di sini untuk menguak romantika masa lalu. Sambil ditemani segelas teh hitam untuk saya dan 2 cangkir kopi buat rekan saya, kami menikmati aroma romantis puncak suralaya.

Dalam serat Cabolek dikisahkan ada calon penguasa tanah jawa yang bernama Raden Mas Rangsang. Dari kota Gede dia harus berjalan menuju puncak tertinggi di bukit menoreh, begitu tulis seorang pujangga yang bernama Ngabehi Yasadipura I pada abad ke-18. Untuk menjadi seorang penguasa dia harus bertapa di puncak yang bernama Suralaya (Suroloyo). Akhirnya diapun menjadi penguasa tanah jawa dan bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo .

1401253935426088226

Perjalanan dimulai dari kota Magelang menuju arah Muntilan dan berbelok kanan usai jembatan Krasak. Akses paling mudah adalah bertanya pada penduduk jalan menuju pertapan Sendang Sono. Jalan yang di lalui cukup lebar karena jalan yang menghubungkan magelang dan Kulon Progo. Akhirnya setelah melewati sungai progo dan melompat ke sisi selatannya (kulon progo/selatan sungai progo) akan sampai pada pertigaan yang terdapat papan nama. Selanjutnya akan melewati jalan perkampungan yang tidak begitu lebar dan berkelak-kelok. Hampir 20Km untuk sampai di Suralaya.

1401254014650233110

Dari kejauhan puncak suralaya sudah terlihat. Suralaya memiliki kesamaan dengan gunung tidar yang diyakini sebagai pusatnya tanah jawa/pakuning tanah jawi. Jika ditarik garis khayal dari 4 sisi pulau jawa maka puncak suralaya menjadi titik temunya. Inilah yang menjadi alasan puncak tertinggi 1019mdpl di perbukitan menoreh menjadi titik temu dari empat gunung yang mengelilinginya, yakni; sindoro, sumbing, merbabi dan merapi. Tidak salah lagi wangsit untuk Raden Mas Rangsang jatuh ditempat ini sebelum menjadi raja di tanah jawa.

14012541101098698843

aroma tehnya wang, agak sangit dan agak sepat” kata rekan saya saat menyeruput teh asli dari Suralaya. Di atas ketinggian 1000mdpl, tanah di sini menjadi area tumbuhnya kopi, teh dan bermacam bebuahan. Teh suralaya yang masyarakat setempat menyebutnya dengan teh trasan adalah sajian yang layak untuk dicoba dan dibawa pulang. Teh yang habis dipetik lalu dilayukan dan disangrai dengan kuali tanah hingga kering lalu siap untuk dikonsumsi. Rasa pahit, sepat, dan sangit adalah ciri khasnya selain warna airnya yang kuning kemerahan.

Kopi arabika yang diolah secara tradisional juga menjadi sajian yang nikmat. Udara yang sejuk dan berkabut menjadikan kopi sebagai kawan yang tak boleh dilupakan. Kopi kental dengan aroma khasnya menjadikan teman saya langsung jatuh hati untuk membeli beberapa bungkus. Pada musim durian, daerah ini memikili andalan yakni durian menoreh. Daging buah yang tebal, manis dan berwarna kuning menjadi penarik para pecinta durian. Mengatur waktu kunjungan bersamaan dengan musim durian adalah pilihan yang bijak.

Sesaat memasuki pelataran parkir kendaraan maka langsung disambut oleh hadirnya punakawan. Patung Semar Badranaya menjadi simbolis bahwa tempat ini dianggap sebagai istana para dewa dan kyai semar lah yang hadir karena telah mengejawantah. Konon pada waktu-waktu tertentu terutama pada malam hari terdengar gending-gending jawa yang tidak diketahui asal usulnya. Saat 1 suro, Suralaya menjadi tempat ritual dan penjamasan pusaka. Penduduk sekitar berdatangan untuk ngalap berkah di puncak suralaya.

14012541781461743618

Ratusan anak tangga menghadang kedua kaki untuk melangkah menuju puncak suralaya. Anak tangga ada yang pendek dan yang tinggi, sehingga kaki benar-benar diuji untuk mencapai pertapaan Raden Mas Rangsang yang disebut dengan Pertapaan Suralaya. Jika alam sedang berbaik hati, maka candi borobudur akan terlihat mungil di sisi matahari terbit. Sebuah pendopo berbentuk joglo menjadi tempat untuk melepas lelah. Patung bethara guru dengan keempat tangganya berdiri sambil berpijak pada punggung sapi yang bersujud di sudut joglo.

Setelah sejenak menikmati titik tertinggi saatnya menuju pendopo kedua yang bernama Sarilaya. Berjarak sekitar 200m dengan menuruni anak tangga lalu naik lagi dengan tanjakan yang tidak terlalu curam. Dari sini mata bisa memandang luas kesuluruh penjuru mata angin. Mengarah ke utara maka gunung sumbing dan sindoro terlihat dengan jelas. Lahan-lahan pertania di bibir bukit yang curam terlihat mengerikan, namun dengan pola terasiring terlihat menarik.

14012542351118966331

Saatnya perpindah pada pendopo yang ketinga yang bernama Pertapaan Kaedran. Dari bukit ini terlihat batas kaki langit di sisi selatan, maka itulah pantai glagah di Kulonprogo. Sang surya semakin condong ke sisi barat, saatnya perlahan kaki ini beranjak turun sebelum disusul halimun. Hari ini mata sudah dimanjakan dengan keindahan, dan suguhan teh trasan dan kopi yang bikin kerasan. Dari kecamatan Sami Galuh, kabupaten Kulonpogo-Yogyakarta ada romantisme di puncak suralaya.

 

6 thoughts on “Romantisme Puncak Suralaya

  1. Hmmm, fotonya mas Dhave yg paling atas sangat menggugah selera saya buat dateng ke Suroloyo lagi, hahaha. Saya dulu kemari selalu tertutup kabut. Kalau nggak gardu pandangnya ya hamparan pemandangannya. Padahal ya nggak tinggi2 banget ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s