Pemulung Dilarang Masuk

Disebuah pintu masuk gang perumahan ada sebuah tulisan yang cukup diskriminatif ”Pemulung Dilarang Masuk”, atau yang lebih parah lagi ”Kawasan Bebas Pemulung”. Ada sebuah kaum yang disudutkan karena profesinya memungut sampah dan barang bekas. Mengapa sampai ada tulisan yang dipajang disudut-sudut jalan, sebagai peringatan kepada salah satu jenis pekerjaan. Sebenarnya siapa mereka yang dilarang masuk dan sepertinya dibenci bagi sebagian orang.

Dekil, kotor dan pakaian kerja yang kumuh, dengan karung besar dipunggung, kait besi dan gerobak, kira-kira seperti itu jika digambarkan untuk sesosok pemulung. Mereka adalah yang menggantungkan penghasilannya untuk mencari sampah dan barang bekas yang nantinya bisa laku dijual untuk dipakai kembali atau didaur ulang. Dibalik penampilannya yang terkesan kurang sedap dipandang mata, ternyata memiliki penghasilan yang cukup lumayan bahkan kalau sedang beruntung bisa mendapat rejeki nomplok.

Ada sebuah perilaku menyimpang dari mereka yang menjadikan stigma negatif untuk laskar barang bekas ini. Acapkali mereka sengaja mengambil barang-barang yang sebenarnya belum dianggap sampah atau barang bekas oleh pemiliknya. Memang saat mereka mengambil sampah dan barang rongsokan tidak pernah ijin, apakah dikatogerikan mencuri jika mengambil barang yang dibuang?. Saya kira tidak perlu ijin khusus untuk mengorek-orek tempat sampah, jalanan, selokan hanya sekedar untuk memungut apa yang bisa jadi duit. Bagaimana jika yang diambil itu masih berharga dan dipakai pemilik syahnya, tentu saja akan menimbulkan keresahan tersendiri. Memang tidak semua pemulung mengambil barang-barang yang sudaj tidak terpakai, acapkali juga anarkis dengan merusak dulu biar seolah rusak dan tidak terpakai. Cara-cara yang menyimpang tersebut yang menimbulkan kecaman dimana-mana sehingga kehadiran mereka ditolak.

Andaikata keberadaan pemulung hanya terpusat di TPA ”Tempat Pembuangan Akhir” saya kira akan baik adanya. Berkeliarannya pemulung-pemulung disudut-sudut kota, gang perumahan seolah mencuri start dari rekan-rekan mereka yang setia menunggu truk sampah di TPA. Istilah jemput bola setidaknya mereka lakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Tidak adanya aturan main yang tegas membuat keberadaan mereka legal, namun dari masyarakat sendiri yang membuat aturan mainnya.

Saya termasuk yang sedikit sebel dengan keberadaan mereka, tetapi ya tetap bisa memaklumi profesi mereka. Dari latar belakang pendidikan dengan pengetahuan apa adanya acapkali melakukan prilaku menyimpang. Pernah suatu kali saya memergoki sepasang pemulung sedang mengorek-orek tumpukan sampah dipekarangan rumah. Sampah yang sudah tersusun rapi diobrak-abrik seenak usus mereka layaknya di TPA dengan gancu tajamnya. Beberapa gelas plastik, botol, kertas kardus mereka punguti dan sisanya dibiarkan begitu saja. Mungkin saya tidak rugi mereka mengambil sesuatu dari sana, namun yang membuat tidak terima adalah sampah yang yang diobrak-abrik dibiarkan begitu saja. Rumahku istnakau, halamanku koloniku, maka dengan berat hati saya meminta mereka mengembalikan posisi sampah atau apa yang mereka ambil saya ambil.

Rasa antipati itu sepertinya muncul dan tumbuh disaat mendengar pemberitaan ”jembatan Suramadu banyak mur baut yang dicuri”. Jangankan mur baut, tiang bendera dari pipa besi didepan rumah saja lenyap. Barusan kehilangan tiang bendera, plang petunjuk dari logam ya hilang. Jengkel rasanya jika itu menimpa kita, namun apa mau dikata?. Sisi-sisi negatif yang disematkan pada pemulung, ternyata masih ada sisi positif yang bisa diambil dari mereka.

Rasa jijik seolah sudah mereka buang jauh-jauh seperti saat tangan ini melemparkan sampah ke sungai. Demi mencari harta karun yang bisa dijual dan daur ulang, tangan ini seolah tidak peduli apa yang mereka korek. Memilih, memilah dan memisahkan berbagai jenis macam sampah, setidaknya sudah bisa mengurangi limbah anorganik yang dirilis ke alam. Mereka telah membantu mencari bahan-bahan pencemar untuk didaur ulang. Akumulasi plastik, kaca, logam bisa sedikit bisa dikendalikan potensinya sebagai bahan pencemar. Andai kita mau berkontribusi untuk alam ini dengan mulai memilah beragam sampah berdsara kategorinya, tentu akan bisa membatu sodara-sodara kita pemulung dan alam ini untuk mengatasi sampah. Pemulung Dilarang Masuk, dan Mari Kita Jadi Pemulungnya Kalau Begitu.

Salam

DhaVe
KK, 310311, 19.15

36 thoughts on “Pemulung Dilarang Masuk

  1. Lebih parah di areal pertambangan yang sebelumnya masyarakat selalu lalu lang untuk berkebun sekarang sudah tdk boleh masuk lagi ke tempat itu, padahal itu tanah dari penduduk sekitar yang dirampas oleh penguasa.

  2. rakyat kecil kang merasa didiksriminasi tapi sayange ga punya kekuatan buat membela diri dari diskriminasi (setidaknya sistem yang ada membuat mereka tetap lemah)btw nice posting ki

  3. Dulu dikampungku di Tropodo sana, teman2ku menjuluki para pemulung itu dgn nama ‘sinterklas Jowo’Kalo sinterklas di negara barat sana digambarkan suka memberi, maka sinterklas Jowo adalah kebalikannya…

  4. rudal2008 said: Lebih parah di areal pertambangan yang sebelumnya masyarakat selalu lalu lang untuk berkebun sekarang sudah tdk boleh masuk lagi ke tempat itu, padahal itu tanah dari penduduk sekitar yang dirampas oleh penguasa.

    Wuih,,mengerikan sekali keadaannya….

  5. anotherorion said: rakyat kecil kang merasa didiksriminasi tapi sayange ga punya kekuatan buat membela diri dari diskriminasi (setidaknya sistem yang ada membuat mereka tetap lemah)btw nice posting ki

    Makasih Om…Ketimpangan sosial memang seperti itu realitanya, nah sepertinya ada jembatan yang putus dan lebar. Siapa yang harus menyambung, penguasa sepertinya yang ber plat merah harus bertanggung jawab. Ini rakyat mereka

  6. dieend18 said: Dulu dikampungku di Tropodo sana, teman2ku menjuluki para pemulung itu dgn nama ‘sinterklas Jowo’Kalo sinterklas di negara barat sana digambarkan suka memberi, maka sinterklas Jowo adalah kebalikannya…

    Kenapa harus jawa..? apakah orang jawa identik dengan karung di punggung “just kidding”.Yah apalah namanya, tetap saja memberikan stigma yang bermancam-macam, tergantung bagaimana peranan sinterklas ntuh haha”ndak masuk lewat cerbong dan naik kereta rusa kan?”

  7. dieend18 said: Dulu dikampungku di Tropodo sana, teman2ku menjuluki para pemulung itu dgn nama ‘sinterklas Jowo’Kalo sinterklas di negara barat sana digambarkan suka memberi, maka sinterklas Jowo adalah kebalikannya…

    bukan…ini ada segelintir oknum yang berpura pura jadi pemulung mas dhave yang ujungnya mencuri…biasanya muka mereka ga mau terlihat…tp klo pemulung beneran mah mukanya mau terlihat dan bisa diajak ngobrol *pengalaman

  8. siasetia said: bukan…ini ada segelintir oknum yang berpura pura jadi pemulung mas dhave yang ujungnya mencuri…biasanya muka mereka ga mau terlihat…tp klo pemulung beneran mah mukanya mau terlihat dan bisa diajak ngobrol *pengalaman

    ow.ow…. getu yah…pemulung dilarang memakai penutup muka dan kaca mata hitam “kaya mau masuk kompleks militer aja, pemulung gak boleh pasti…

  9. siasetia said: bukan…ini ada segelintir oknum yang berpura pura jadi pemulung mas dhave yang ujungnya mencuri…biasanya muka mereka ga mau terlihat…tp klo pemulung beneran mah mukanya mau terlihat dan bisa diajak ngobrol *pengalaman

    beneran mas….ini saya amati di rumah, pemulung asli mah cuek ada ga ada orang…dan bisa diajak ngobrol, klo yang oknum mah ada orang malah ga jadi…atau ditanya malah lari tuh

  10. siasetia said: beneran mas….ini saya amati di rumah, pemulung asli mah cuek ada ga ada orang…dan bisa diajak ngobrol, klo yang oknum mah ada orang malah ga jadi…atau ditanya malah lari tuh

    ow getu yah.. bagsulah kalo ada komunikasi…

  11. siasetia said: beneran mas….ini saya amati di rumah, pemulung asli mah cuek ada ga ada orang…dan bisa diajak ngobrol, klo yang oknum mah ada orang malah ga jadi…atau ditanya malah lari tuh

    antisisapi juga mas…jadi rumah kami aman…karena ada pemulung yang kami kenal, klo ada aapa2 beliau bisa warning

  12. siasetia said: beneran mas….ini saya amati di rumah, pemulung asli mah cuek ada ga ada orang…dan bisa diajak ngobrol, klo yang oknum mah ada orang malah ga jadi…atau ditanya malah lari tuh

    Kenapa kami dulu memberi nama sinterklas Jowo? Krn wkt itu kami adalah sekelompok bocah yg tinggal di Jawa. Kami kira hal itu cm ada di Jawa. Ternyata wkt kami sdh merantau kmana2, pemandangan itu tetap sama..πŸ™‚

  13. dieend18 said: Kenapa kami dulu memberi nama sinterklas Jowo? Krn wkt itu kami adalah sekelompok bocah yg tinggal di Jawa. Kami kira hal itu cm ada di Jawa. Ternyata wkt kami sdh merantau kmana2, pemandangan itu tetap sama..πŸ™‚

    memang jawa tiada duanya….dimana..mana dan sama saja ternyata ya… hehehe

  14. dieend18 said: Kenapa kami dulu memberi nama sinterklas Jowo? Krn wkt itu kami adalah sekelompok bocah yg tinggal di Jawa. Kami kira hal itu cm ada di Jawa. Ternyata wkt kami sdh merantau kmana2, pemandangan itu tetap sama..πŸ™‚

    sebenarnya mereka juga banyak membantu…..masalahnya kalau ada diantara mereka yang karena”kepepet” harus mengambil barang…di kampungku kayaknya belum pernah ada kejadian sih…..

  15. dieend18 said: Kenapa kami dulu memberi nama sinterklas Jowo? Krn wkt itu kami adalah sekelompok bocah yg tinggal di Jawa. Kami kira hal itu cm ada di Jawa. Ternyata wkt kami sdh merantau kmana2, pemandangan itu tetap sama..πŸ™‚

    ya gara2 banyak kejadian mereka ngambil barang2 yang masih dipakai pemiliknya itu yang akhirnya menimbulkan stigma negatif. DI rumah juga pernah kejadian, ibu saya punya kenceng/pengaron (sejenis dandang tapi bentuknya lebar) yang terbuat dari tembaga. Perangkat masak ini hanya dipakai saat ada hajatan. Di saat ga dipakai kenceng ini digantung di dinding dapur sebelah luar karena lemari perabot udah penuh. Ternyata ini yg diincar sama pemulung nakal karena harga tembaga yang mahal. mungkin karena kejadian2 inilah papan larangan pemulung dilarang masuk banyak ditemukan di kampung2. Siapa yang salah kalau begini?

  16. giehart said: sebenarnya mereka juga banyak membantu…..masalahnya kalau ada diantara mereka yang karena”kepepet” harus mengambil barang…di kampungku kayaknya belum pernah ada kejadian sih…..

    Peringatan dini Om…sebelum kecele heheheπŸ˜€

  17. sulisyk said: ya gara2 banyak kejadian mereka ngambil barang2 yang masih dipakai pemiliknya itu yang akhirnya menimbulkan stigma negatif. DI rumah juga pernah kejadian, ibu saya punya kenceng/pengaron (sejenis dandang tapi bentuknya lebar) yang terbuat dari tembaga. Perangkat masak ini hanya dipakai saat ada hajatan. Di saat ga dipakai kenceng ini digantung di dinding dapur sebelah luar karena lemari perabot udah penuh. Ternyata ini yg diincar sama pemulung nakal karena harga tembaga yang mahal. mungkin karena kejadian2 inilah papan larangan pemulung dilarang masuk banyak ditemukan di kampung2. Siapa yang salah kalau begini?

    ada asap ada api… siapa yang menyulut siapa juga yang harus menyiram air,,,,,

  18. rembulanku said: tidak cukup untuk disidangkan, manah barang buktinya????hohohoho

    lho lho lho sing ngguwang sampah sopo to kok kowe sing rumong so kwak kwak kwak kwak….**saksi banyak, bisa dipakai dalam peradilan lho :P**

  19. sulisyk said: lho lho lho sing ngguwang sampah sopo to kok kowe sing rumong so kwak kwak kwak kwak….**saksi banyak, bisa dipakai dalam peradilan lho :P**

    tetep ae keterangane saksi bisa diragukankarena kagak ada barang bukti otentikbtw, lha sing mbuang sampah sopo? aku kan mung mbelani kancaku thokhehehehehe

  20. sulisyk said: lho lho lho sing ngguwang sampah sopo to kok kowe sing rumong so kwak kwak kwak kwak….**saksi banyak, bisa dipakai dalam peradilan lho :P**

    secara tidak langsung sudah mengaku hahaha

  21. rembulanku said: tetep ae keterangane saksi bisa diragukankarena kagak ada barang bukti otentikbtw, lha sing mbuang sampah sopo? aku kan mung mbelani kancaku thokhehehehehe

    Sik aku ana beberapa gambar kok,,, setidakanya bisa jadi bukti saksi dan pelaku…nanti di konfrontir saja….”alibi..oh tidak bisaaaaaaa”

  22. dhave29 said: Buanglah cintamu….. mBa aku siap jadi pemulung hahaha

    >mba Agnes;ya ndak dimakan lah..kan udah dibuang… dipungut aja.. kalo mau ya di mut…tapi jangan ditelen..ntar bikin sakit perut dan atiii hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s