Saguer Untuk Energi Seluler

cap tikus

“Apa tidak apa-apa minum alkohol ditempat yang terbuka seperti ini, jika ada pengurus desa kan bisa dimahari..?” saya bertanya pada sekelompok orang yang sedang minum tuak disamping rumah. Sebanyak 6 pemuda sedang bergilir minum dari gelas yang tak pernah kosong isinya. Minum tuak atau saguer yang identik dengan minuman beralkohol sudah menjadi budaya dibeberapa tempat di Sulawesi. “Aneh jika orang Sulawesi zonder minum saguer” kata salah satu mereka.

Berbicara tentang kebiasaan minum-minuman keras sangat menarik untuk dilihat. Kebiasaan yang sudah mendarah daging dan menjadi budaya memang sangat sulit sekali dihentikan, tetapi bisa diarahkan. Memang harus diakui, mengonsumsi alkohol acapkali menjadi sumber konflik beberapa orang bahkan kelompok yang berakhir menjadi pertikaian. Tidak salah jika ajaran agama melarang minum-minuman keras tersebut. Namun sebelum agama itu ada dan datang, minuman keras sudah membudidaya.

Secara biokimia, dalam jumlah yang tepat alkohol dalam minuman keras bermanfaat bagi tubuh, tetapi jika berlebih akan meracuni tubuh itu sendiri. Dalam dunia farmasi alkohol menjadi pelarut obat-obatan yang efektif akan mudah diserap dalam tubuh manusia. Dalam dunia kuliner alkohol dijadikan bahan bumbu untuk masakan dan minuman yang prestisius.

Di dalam tubuh, alkohol/etanol bisa dijadikan sumber energi yang besar layaknya orang makan nasi. Alkohol adalah hasil konversi dari karbohidrat/glukosa melalui proses fermentasi anaerob oleh ragi. Jika alkohol dikonsumsi akan diserap oleh tubuh dan diubah menjadi asam asetat yang kemudian siap menjadi sumber energi oleh tubuh. Jika berlebih maka alkohol akan mengganggu fungsi tubuh yakni susuna saraf dan sistem sekresi.

Di beberapa wilayah di Indonesia banyak yang mengonsumsi alkohol saat hendak atau sedang bekerja. Mereka beranggapan akan mendapatkan tenaga ekstra saat bekerja. Anggapan tersebut benar adanya, karena ada cadangan energi yang dimasukan dan siap untuk dirubah menjadi energi seluler/ATP. Maka mengonsumsi alkohol menjadi hal yang biasa dan lumrah dengan alasan menambah tenaga. Biasanya orang yang sudah kerasukan dengan alkohol akan memiliki tenaga ekstra, karena ada ledakan energi yang besar dari perubahan etanol menjadi energi seluler, namun kadang tidak bisa dikendalikan karena kesadaran terganggu karena ada saraf yang terpengaruh.

Minuman fermentasi tradisional di Poso biasanya terbuat dari hasil nira kelapa. Nira kelapa memiliki kandungan gula yang sangat tinggi. Gula yang tinggi adalah sumber energi yang potensial. Acapkali para pembuat minuman keras di sana tidak berhenti pada fermentasi saja, tetapi menuju tahap pemurnian. Pemurnian dari saguer akan menghasilkan alkohol murni dengan cara destilasi atau penyulingan. Hasil penyulingan biasanya disebut cap tikus (merk lokal) dengan kadar alkohol bervariasi. Ada yang cap tikus kualitas 1 yakni dengan kandungan alkohol yang paling tinggi. Mereka cukup dengan membakarnya akan langsung tahu kira-kira seberapa kualitas minuman tersebut. Jika di sulut dengan api akan menghasilkan api besar dan sedikit air maka itulah kulaitas pertama, jika masih ada air maka turun kualitasnya.

Dalam pesta, Cap tikus hampir selalu ada. Tidak peduli tua muda, laki-laki atau perempuan semua pasti akan mencoba dan mencicipnya. Biasanya orang akan meminum dengan sloki, tetapi saat di sini dengan menggunakan gelas. Botol sisa minuman berkarbonasi menjadi kemasan cap tikus, walau tidak elegan saya yakin bisa membakar tenggorakan dan kepala bisa tumbang. Sebuah budaya yang sudah mengakar dalam sekali dan tidak mungkin di cabut daripada membunuhnya. Cara bijak adalah dengan mengendalikan perakaran tersebut agar selalu di jalur yang benar. Agama, aparah desa, keamanan acapkali mewanti-wanti, walau kadang ikut pula di dalamnya.

Namun rasa dan efek alkohol yang adiktif acapkali di salahgunakan sehingga yang mengonsusmi kadang over dosis. Efek buruknya terganggunya kesadaran seseorang dan bisa melakukan apa saja diluar kendali. Namun bagi warga yang saya temui di Betalemba-Poso, mereka minum alkohol karena hendak pergi keladang walau sambil membawa parang. Akhir pembicaraan sebelum bubas sesosok orang berpakaian safari berkata “siapa aparat desa yang berani memarahi kami, saya camatnya“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s