Pedati Sulawesi Yang Tak Mau Menepi

pedati1

Berada di wilayah yang serba terbatas saat dunia sudah mengklaim tidak ada batasan. Baru kali ini saya melihat sebuah daratan yang luas, jalan yang cukup lebar namun tidak ada kendaraan yang berlalu lalang. Lain kisah jika ketiadaan itu dipulau-pulau terpencil yang tidak memungkinkan membawa kendaraan. Kenyataan itu ada didaratan yang luas dan sebenarnya bisa dijangkau, tetapi alam menjadi pembatasnya. Keterbatasan tersebut tidak membatasi penduduknya untuk bergerak kesana-kemari, dan justru disinilah menariknya.

Sekelompok anggota keamanan baik TNI dan Polri diturunkan di tepi sungai Puna. Untuk menuju lokasi pos jaga mereka harus berjalan kaki menyebrangi sungai lewat jembatan besi. Sebenarnya jembatan ini bisa saja dilewati kendaraan bermotor, tetapi banyak yang memilih jalan kaki untuk keluar masuk dusun yang terisolir ini. Terisolir bukan berarti terbatas segala-galanya, tetapi menciptakan moda transportasi yang serbaguna, murah meriah dan jelas tepat guna.

Ditempat lain, sapi mungkin mendapat tempat yang istimewa yakni kandang. Sapi cukup berdiri, duduk, tidur makan hingga sampai waktunya untuk disembelih. Namun, sapi-sapi di sini tak hanya bisa berleha-leha seperti sodaranya yang di kandang. Sapi di sini harus rela dipasangi kuk pada lehernya lalu dengan sekuat tenaga harus menarik pedati. Cambukan kecil acapkali dihadiahkan pada sang kusir pedati sapi ini dipunggung atau pantat penariknya.

“Klonong.. klonong..” suara lonceng dileher sapi yang menandakan ada pedati yang lewat. Sebuah pedati yang sarat muatan berisikan kelapa yang siap oleh manjadi kopra sedang diangkut dari kebun menuju rumah. Tak hanya kelapa, tetapi kayu bakar, padi, singkong, cokelat dan hasil pertanian lainnya sudah menunggu siap untuk di angkut.

Di saat tempat lain gusar dengan harga bahan bakar fosil yang fluktuatif dan ketersediaan yang terbatas, tetapi kusir nampak tenang-tenang saja. Dia tak memerlukan pertamax atau solar, cukup rerumputan ditepi jalan sudah menjadi bahan bakar yang gratis dan tersedia selalu. Bekerja sambil memelihara sapi, itu bisa menjadi prinsip mengapa pedati-pedati itu masih bertahan hingga saat ini.

Sebenarnya kendaraan roda dua sudah banyak yang memiliki, begitu juga dengan pikap. Namun, kendaraan ini tetaplah memiliki keterbatasan yakni aksesnya yang terbatas pada jalan yang baik. Terlebih bahan bakar yang lebih mahal karena harus membeli eceran. Daya angkut sepeda motor juga terbatas. Pedati, selama bak masih bisa menampung maka tinggal tarik saja.

Suatu saat paska kerusuhan di Poso banyak orang mengungsi. Di sela-sela warga yang masih bertahan ada sebuah cerita yang menarik. Ada kakek-kakek dari Napu turun ke Poso dengan menunggang kuda. Napu adalah daerah pegunung di taman nasional Lore Lindu – Sulawesi Tengah. Tidak ada jalan tak menghalangi kakek ini mengendarai kuda turun gunung, yang berjarak 90Km yang ditempuh selama setengah hari. Sejak itu kuda menjadi andalan untuk daerah-daerah pedalaman. Ketiadaan jalan, maka kudalah yang menjadi raja jalanan.

Saat ini di Poso, pedati sapi masih menjadi andalan untuk daerah-daerah pedesaan. Walaupun sudah ada aspal yang mulus, tetapi kendaraan bermesin 8 kaki sapi ini tetapi di jadikan andalan. Belum ada yang bisa menggantikan pedati untu keluar masuk kebun dan ladang, tanpa bahan bakar, daya angkut yang cukup lumayan, ramah lingkungan dan yang pasti gratis. Tidak semua jenis sapi bisa dipakai untuk menarik pedati. Melihat teksturnya, dengan perawakan gagah, tanduk menjulang mirip dengan ras brahma dari India. Sapi-sapi jenis ini di beberapa tempat diperas tenaganya untuk menarik pedati, membajak sawah atau memutar pengirikan biji.

Modernisasi moda transportasi sepertinya belum mempu menggeser keberadaan pedati. Bisa saja anggota TNI atau Polri yang sedang berpatroli bisa menumpang pedati sapi. Yang pasti para petani diuntungkan oleh kereta sapi ini. Banyak nilai lebihnya dibanding nilai kurangnya yakni langkahnya yang lebih lambat dibanding kendaraan bermesin. Sapi-sapi itu terus berjalan tanpa menghiraukan beratnya kuk yang harus dipikul dan beratnya beban yang ditarik. Mereka mendapat tempat istimewa karena tenaga mereka yang terbatas mampu menembus keterbatasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s