Romansa Yonda mPamona ( Jembatan Pamona )

pamona2

Ku Powani siko yondo m’pamona
Pamona todo tenjani n’tentena
Siko na pangkeni tau rata
Lese na mpo palindo ndaya

Ku kagum engkau jembatan pamona
Jembatan Tentena yang tetap ada di Tentena
Engkau akan menjadi warisan di masa depan
Indah di lubuk sanubari

Tidak sengaja saya mendengarkan tembang tersebut saat malam hari bersantai di pantai penghibur Poso. Merdu terdengar lagu yang mengisahkan jembatan Legendaris di Tentena. Jembatan yang konon paling romantis karena menjadi penghubung antara Tentena utara dan selatan. Jembatan yang penuh sejarah dan kini masih kokoh berdiri. Banyak jembatan yang melintasi sungai poso, tetapi Pamona tetaplah punya arti lebih bagi masyarakat Tentena.

Pisang goreng yang menemani saya malam itu tak sanggup lagi untuk dikunyah dan telan. Namun, lantunan lagu tentang Pamoma tertelan dalam pikiran saya dan berpikir bagaimana untuk menikmati jengkal demi jengkal jembatan legendaris tersebut. Malam berlalu dan impian menuju jembatan Pamona masuk dalam urutan teratas.

Jembatan Pamona merupakan jembatan yang terbuat dari kayu besi dan hitam. Memiliki panjang 203m membelah Sungai Poso yang menjadi muara Danau Poso. Dengan lebar 3,5m dilengkapi dengan kanopi di atasnya yang melindungi kala hujan dan panas terik tiba. Jembatan hasil swadaya masyarakat ini menjadi jembatan satu-satunya yang menghubungkan warga Tentena dari seberang sungai.

Pagi buta saat matahari belum terbit bersiap untuk menempuh 57km menuju Tentena. Cuaca mendung dan sedikit gerimis menemani perjalanan melibas jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Poso dengan Tentena. Jalan yang dalam dalam tahap pelebaran ini mengharuskan pelintas melewati batas perbaikan sebelum pukul 08.00 atau usai pukul 17:00 karena pada waktu tersebut jalan ditutup. Untuk menghindari terjebak di pintu gerbang, maka sebelum portal diturunkan harus masuk terlebih dahulu.

Jalan berliku dan berkabut membuat kendaraan harus ekstra hati-hati. Untuk jarak 57Km membutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam perjalanan mengingat kontur jalannya yang tidak bisa membuat kendaraan berjalan cepat. Sisi kanan jalan adalah lembah yang indah dengan halimun tipis yang masih menyelimuti, sedangkan punggungan bukit sudah di belah menjadi tumpahan aspal jalan penghubung menuju Sulawesi Selatan.

Sampai juga di Tentena sebuah kecamatan yang terletak diketinggian 600an m dpl. Tentena nama yang tak asing bagi masyarakat Sulawesi Tengah, karena di tempat inilah terdapat danau Poso yang indah, perbukitan yang cantik, serta pesona lansekap yang memukau di samping hawa dinginnya yang menyejukan. Sebuah kota kecamatan yang cukup ramai di daerah yang serba terisolir. Gereja dengan kubah-kubahnya yang tinggi begitu mencolok dibanding bangunan-bangunan rumah yang nampak sederhana.

Sebuah gerbang mungil di antara jajaran kios-kios di tepian sungai Poso nampak begitu menggoda, dan inilah gerbang jembatan Pamona yang legendaris itu. Gerimis hujan tidak saya pedulikan, sebab kapan lagi menyambangi ikon dari Tentena. Dari jembatan beton saya berdiri tepat di tengah-tengah sungai dan memandang bentangan jembatan Pamona. Senyum merekah di bibir manakala mengingat syair lagu saat saya dengarkan di pantai penghibur malam itu.

Sesaat saya terdiam sambil menikmati rintik hujan dan samar-samar jembatan kayu itu terlihat. Anggun, cantik, dan memesona begitu saya menggambarkan jembatan ini. Entah mengapa begitu emosi melihat jembatan ini dan benar-benar memikat hati untuk berlama-lama di sini. Apa daya tubuh ini mulai basah oleh rinai hujan di pagi hari.

Langkah kaki ini membawa saya menuju gerbang yondo m’pamona. Gerbang yang mungil ini siapa mengira bisa membawa kaki ke seberang sana. Akhirnya perlahan kaki ini melangkah menuju bilah-bilah papan yang terbentang dari ratusan tiang panjang yang ditancapkan di dasar sungai poso. Tangan saya memegang tiang-tiang penyangga kanopi dan melihat sudut perspektif menuju lorong di seberang sungai. Berjalan pelan bak melintasi lorong lengkap dengan pergolanya.

Saya begitu senang dan kerasan saat melihat jembatan masih terjaga dari tangan-tangan jahil yang berulah dengan vandalismenya. Saya tersadar berdiri seorang diri di tempat ini. Pamona saat ini menjadi milik saya sendiri. Mata saya terpaku di hilir muara nampak pagar-pagar pembatas di tengah-tengah danau. Ingatan saya terbawa saat mengunjungi pulau Jefman di Raja Ampat begitu melihat pagar-pagar tersebut.

Di Jefman di kenal dengan Sero yang merupakan salah satu metode menangkap ikan dengan cara memagari perairan. Di sini prinsipnya sama yakni dengan menggunakan pagar bambu untuk berbentuk huruf V untuk menggiring ikan menuju pusat pagar. Jika saya bisa menyebutnya mirip dengan bubu raksasa. Ikan yang menjadi incaran adalah Sogili, atau yang dikenal dengan ikan Sidat yakni sejenis belut besar dengan insang yang lebar. Dahulu ikan Sogili menjadi primadona, namun sekarang tinggal satu dua.

Akhirnya waktu juga yang mengakhiri kekaguman ini. Namun dalam hati saya benar-benar terkagum yondo m,pamona seperti syair dalam bahasa Poso; yondo pamona yondo ku powani/jembatan pamona jembatan yang ku kagumi. Ku Powani siko yondo m’pamona lese na mpo palindo ndaya, ku kagumi engkau jembatan pamona indah di lubuk sanubari.

2 thoughts on “Romansa Yonda mPamona ( Jembatan Pamona )

  1. Kalau enggak ada jembatan ini, kira kira warga sekitar kalau ingin menyeberang berarti harus naik perahu ya? :O tapi sayang cuma dari kayu, daya tahannya nggak sebagus jembatan dari besi dan beton deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s