Teh Pagilaran dan Gunung Kemulan yang Penuh Kenangan

Gunung Kemulan sepertinya sudah keluar dari selimut halimun untuk menyambut pagi di Pagilaran (dok.pri)

Gunung Kemulan sepertinya sudah keluar dari selimut halimun untuk menyambut pagi di Pagilaran (dok.pri)

Kokok ayam jago yang bersahut-sahutan membangunkan saya dari tempat tidur di wisma Gladiola. Tadi malam saya baru saja sampai di Kebun Teh Pagilaran, di Kabupaten Batang-Jawa Tengah. Kebun teh di ketinggian 800-1100mdpl ini menyambut kedatangan saya dengan hujan lebat dan kabut tebal, alhasil hanya bisa bersembunyai dari balik tirai penginapan saja. Pagi ini saya mencoba menebus apa yang semalam saya tidak dapatkan.

Dusun Pagilaran yang di huni sekitar 400KK, terletak di lereng Gunung Kemulan 1931mdpl masih sepi saat fajar tiba. Sepertinya mareka masih terlelap dalam rumah-rumah bercat hijau milik PT. Pagilaran. Mereka adalah karyawan pabrik teh yang menetap di tempat ini secara turun-temurun. Suasana dusun yang sepi, hanya kumandang dari suar masjid yang menyambut pagi selain ayam jago yang bersahutan dengan tunak.

13696482041818595545
Dari atas bukit Kupel saya menikmati sang fajar menyingsing dari ufuk timur (dok.pri).

Kaki saya mengarah pada sebuah bukit yang tak jauh dari dusun Pagilaran. Berada di sisi barat, bukit ini sepertinya tepat untuk menghadang sang surya terbit. Langkah kaki harus menerobos embun pagi yang terasa beku. Saya tidak boleh terlambat untuk momen ini yang memaksa harus berlari mendaki bukit. Dengan nafas tersengal-sengal akhirnya semua tertebus dengan semburat warna kuning emas di ufuk timur.

Pelan-pelan sang surya menampakan dirinya. Cahaya semburat semakin kuat dan suasana dingin menjadi hangat. Bukit-bukit yang membentengi sinar akhirnya tertembus oleh cahaya mentari pagi yang berpendar dengan kabut. Inilah pertunjukan pagi ini saat, ray of light menari-nari dari balik pohon yang diselimuti kabut.

Memang benar dan sesuai namanya. Gunung Kemulan kali ini sudah nyaris hilang, karena kembali tertutup kabut. Kemulan atai berselimut, memang tepat untuk gunung ini yang selalu berselimut halimun. Indahnya pagi ini mengawali saya untuk berkelining di kebun teh yang penuh dengan sejarah.

136964829861653336
Rumah dengan bentuk dan warna seragam adalah rumah para karyawan PT Pagilaran yang dihuni secara turun-temurun (dok.pri).

Tahun 1899 seorang berkebangsaan Belanda memiliki perkebunan teh. Seiring berjalannya waktu, maka pada tahun 1922 kebun ini dibeli oleh Pemerintah Inggris. Pada 23 mei 1964 kepemilikan kebun diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan mengubahnya menjadi PN Pagilaran dan pengelolaannya diserahkan pada Fakultas Pertanian UGM. 1 januari 1974 PN Pagilaran berubah sepenuhnya menjadi PT Pagilaran.

Di PT Pagilaran ini, semua yang berhubungan dengan teh dilakukan. Kebun seluas 1.113hektar dengan karyawan 2.000 orang mampu menghasilkan teh kering 35-40 ton. Kebun teh Pagilaran awalnya sebagai kebun untuk kepentingan pendidikan, namun untuk menjaga kelangsungannya maka merambah ke jaringan bisnis dengan mengekspor teh ke mancanegara. Untuk kebutuhan penelitian, dikebun ini disediakan lahan 2,5 hektar. Dalm proses produski teh, di Pagilaran terdapat kebun, pabrik pengolahan sekaligus tempat hunian untuk karyawanannya. Dari mulai pembibitan, pembibitan, pemetikan, penggilingan, pengeringan hingga pengepakan semua dilakukan di sini.\

136964846712258498
Seorang pemetik teh sedang memperagakan pemetikan dengan menggunakan ukur sebagai acuannya (dok.pri)

Mentari semangkin menghangatkan dan saya kembali ke bukit Kupel, begitu orang pagilaran atau karyawanan pabrik teh menyebutnya. Kupel dari akronim kuku dan sekepel/sekepal. Artinya karyawan dapatnya sekuku sedangkan jajaran petingginya dapatnya sekepel. Saya bertemu dengan ibu-ibu pemetik teh yang sudah berkumpul disebuah titik. Ada yang menarik, dimana masing-masing pemetik membawa sebuah kayu salib kecil yang diberi nama ukur. Ukur ini adalah alat patokan untuk memetik daun teh yang di anjurkan. Tinggi ukur dengan lengan salib sebesar 25cm, artinya dari pangkal batang teh yang dipotong hingga daun setinggi lengan salib yang boleh dipotong.

Perhari buruh pemetik ini mendapatkan hasil petikan yang tidak menentu. Faktor fisiologis daun adalah faktor penentunya. Daun yang subur dan rimbun bisa menghasilkan lebih dari 50kg daun teh, sedangkan jika kurang baik bisa hanya mendapatkan 14Kg , aku pemetik teh. Perkilonya, dauh teh yang dipetik dihargai Rp.450,00.

136964852160417403
Mengunjungi pabrik disaat belum mulai beroprasi hanya melihat hilir mudik karyawan yang bedatangan dan mesin-mesin yang berputar (dok.pri).

Tak lengkap berkunjung di Pabrik Teh tanpa melihat proses produksinya. Sayangnya saya terlalu pagi, sehingga aktivitas produksi belum dimulai. Namun dari balik kaca saya bisa melihat mesin-mesin yang terus berputar dan membayangkan apa yang mereka lakukan. Ruang demi ruang saya lihat, namun tak berani untuk menyalakan kamera. Mata ini terus merekam dari balik kaca yang kusam, namun tetap memberikan imaji yang jelas.

13696485901269495058
Pelataran disekitar kantor PT Pagilaran. Alat-alat produksi yang sudah tidak terpakai dipajang disini (dok.pri)

Usai mengelilingi pabrik, saya mencoba melihat pelataran kantor, rumah pegawai dan lingkungan disekitarnya. Ternyata PT Pagilaran memberikan fasilitas yang cukup memadai, baik sarana pemukiman, pendidikan, olah raga, arena bermain dan kawasan wisata. Kebetulan saat saya berkunjung sedang ada perayaan ulang tahun PT Pagilaran yang ke-49. Untuk memeriahkan acara tersebut diadakan pasar malam dan wayangan. Sekitar 2000 penduduk disekitar Pagilaran tumpah ruah untuk menikmati suguhan dari pabrik teh.

Menjelang senja, saya termangu di pinggir lapangan sepak bola yang sangat terawat. Rumput hijau begitu rapi dan empuk, sepertinya sangat memanjakan bagi penikmat kulit bundar. Mata saya tertuju pada sebuah bukit disamping gunung Kemulan. Halimun tipis membelai pepohonan peneduh disela-sela petak kebun teh. SUhu dingin pegunungan begitu memanjakan terlebih sambil menikmati seduhan teh hijau buatan pabrik teh disini. Wangi aroma, rasa sepat dan air hangat bercampur jadi satu dan semakin manis dengan campuran gula.

13696486471302773218
Menjelang senja saya disuguhu teh hijau aski Pagilaran sambil menikmati sang surya menuju peraduannya (dok.pri)

Tak terasa sudah 3 hari menikmati aroma teh di Pagilaran. Sebuah kebun teh yang berjarak 22km dari Banyu Putih (Pantura), kabupaten Batang bisa menjadi destinasi wisata. Banyak pelajaran yang bisa dipetik disini, sejarah, budaya, ilmu pengetahuan hingga kehidupan disini. Harumnya teh pagilaran dibalik gunung kemulan sungguh memberikan kenangan.

15 thoughts on “Teh Pagilaran dan Gunung Kemulan yang Penuh Kenangan

  1. Salam kenal kang..
    mantep tulisannya kang.. komplit bangett..tak buat referensi saya yaa.. saya dulu KL dsitu (kakao kelapa segayung), penelitian dsitu juga (binorong pagilaran)..deket rumah saya kang, mudah2an bisa bekerja disitu..deket rumah..

    teh sigmanya.. wasgitell..

  2. thx liputan di pagilaran, kang, saya baca artikel teh pagilaran dari Kompas, Minggu, 8 des lalu…, dapatkah diinfokan tentang fasillitas penginapan? ditunggu,

    • Semarang… jalan menuju batang tepatnya di pasar kayu lalu belok kiri dan ikuti petunjuk. Untuk pesan penginapan bisa lihat web mungkin/googling atau datang langsung di lokasi.
      begitu dan terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s