Yang Muda yang Bertani, Kenapa Gengsi..?

Di depan tungku perapian, tempat untuk menghangatkan badan.

Di depan tungku perapian, dulu kakek saya berpesan “kamu sekolah yang pinter, biar nanti hidupmu tidak susah, kalau bisa jadi pegawai, jangan tani seperti kakekmu“. Namun anehnya, meski Kakek saya tidak mengingkan cucunya jadi petani, tetapi saja beliau mengajarkan bertani. Selepas subuh ke ladang menyiram sayur, dan nanti sorenya menggendong tangki untuk menyemprot hama.

Potret masa lalu, dimana tani bukanlah sebuah cita-cita. Tani identik dengan pekerjaan yang tidak ada gengsinya sama sekali. Padahal jika melihat realita, tidak sedikit petani yang kaya raya, dan hidupnya jauh lebih mapan daripada pegawai kantoran. Cuma petani tidak memiliki kelas sosial, meskipun memiliki beberapa kendaraan, lahan, dan rumah yang megah.

Yesa sedang menyemprot hama untuk tanaman kubisnya.-

Benarkah anak-anak muda, tak lagi mau bertani? Pagi ini di lereng Gunung Merbabu saya diajak menemui petani muda yang ingin mengembalikan budaya keluarga dalam bertani. Mereka adalah kakak beradik yang bernama Yesa den Eben, yang telah hijrah dari pekerjaan formal di kota dan kini kembali ke dusunnya untuk menggarap ladanganya.

Saya beruntung mengenal mereka yang pagi itu sudah menggendong tangki semprot. Jadwal mereka pagi ini adalah menyemprot pestisida untuk tanamana kubis dan kentang. Di sebuah gubug kami bercengkrama, mengapa mereka kembali bertani, padahal sudah enak bekerja di kota.

Petak lahan garapan petani muda.

Bapak punya sembilan petak lahan. Ada investor mua menyewa, setahun 40 juta. Lahannya mau dijadikan restoran dan taman. Benar mas kami langsung dapat 40 juta. Tapi. nanti saat sudah berjalan, saat kami mau nengok lahan kami, suruh bayar tiket masuk, bayar parkir, dan suruh beli kopi, padahal kami ini yang punya lahan. Dari itulah kami semua sepakat, menggarap lahan itu daripada disewakan” cerita Yesa dan Eben.

Berengkat dari pengalaman dan kekecewaan para pemilik lahan yang nantinya jadi tamu di dusun sendiri, mereka kembali ke kampungnya untuk membangun lahar pertanian. Bertani bagi mereka bukan hal yang baru, namun hebatnya mereka bisa mendaptakan ilmu pertanian dari internet.

Rumah sederhana mereka, terpasang jaringan internet dan wifi. Mereka bisa dengan mudah mengakses dunia pertanian, begitu pula dengan pasarnya. Kini hanya dengan modal itu, mereka bisa mengubah pertanian tradisional menjadi pertanian yang ada sentuhan teknologi memanfaatkan internet.

Dengan adanya informasi dari internet, mereka tidak perlu lagi bersusah payah mencari di pasar atau toko untuk keperluan bertaninya, cukup pesan secara daring. Lebih mudah dan lebih murah.

Hari ini sebarnya adalah waktu panen, namun tiba-tida mengurungkan panennya. “panen ditunda, 5 hari lagi. Harga pasaran tidak bersahabat, selain itu hasilnya biar maksimal. Ini hitung-hitungan, waktu panen optimalnya hari ini tapi bisa dimaksimalkan 5 hari ke depan dan sembari cari pasarnya”. Pertimbangan yang didasarkan pada perhitungan pasar, dan masa tanam. Dia mendapatkan informasi tips dari Youtube katanya. Sangat rasional, sebab para tengkulak sudah antri begitu melihat harga di pasar ambrol dan siap membeli untuk ditimbun.

Berteduh di kafe.

Rintik hujan datang membasahi ladang. Kami berpindah untuk mencari tempat berteduh. Kebetulan di dekat ladang ada kafe kecil. Biasanya yang datang ke kafe tersebut adalah muda-mudi, tetapi ini 2 petani muda sembari menggendong tangki. “Kopi hitam 3, teh panas 1” pesan dia. Di siini kami melanjutkan obrolan bersama mereka “petani newbie“, kata Eben.

2 thoughts on “Yang Muda yang Bertani, Kenapa Gengsi..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s