Murid Durhaka pada Guru

Masih ingat cerita Malin Kundang..?. Kisah seorang anak yang durhaka terhadap ibu kandungnya yang akhirnya dikutuk menjadi batu. Pelajaran berhara buat anak-anak bagaiamana seharusnya menghormati orang tua dan memperlakukannya. Tidak sedikit kisah-kisah mirip Malin Kundang, namun kutukan menjadi batu hanyalah kiasan belaka, namun otak dan hati nurani yang membatu. Bagaimana jika seorang murid durhaka terhadap gurunya..?

Teringat kisah Malin Kundang, jadi teringat pula kisah seorang Teman yang berprofesi menjadi guru disebuah sekolah di Kota. Teman datang sambil berkeluh kesah mengenai murid-muridnya bertindak layaknya Malin Kundang. Lantas dalam benak ini bertanya “murid yang dikutuk menjadi batu oleh gurunya, kejam amat gurunya…?”.

“murid-murid sekarang sudah berani dengan gurunya. Dikasih tugas masih berani tawar-menawar dan minta kerikanan. Dapat PR tidak juga dikerjakan, di kelas sepertinya tak menghiraukan guru memberi penjelasan”. Masih banyak lagi cerita yang isinya hanyalah kegundahan guru menghadapi muridnya.

Memang sangat susah mencari akar permasalahan ini. Sangat kompleks jika harus merunut darimana sumber permasalahan. Apakah guru yang tak becus mengurus muridnya.?. Apakah tabiat murid yang memang sudah keluar jalur, Atau orang tua murid yang salah asuh.?. Jangan-jangan faktor lingkungan demikian juga.?.

Tiba-tiba saya terbawa ke tahun 80-90an saat masih berseragam SD dan SMP. Saya dan teman-teman 1 kelompok saban 1 kali dalam seminggu selalu mendapat jatah yang namanya piket. Jam 6 pagi sudah harus tiba di sekolahan, lalu bersih-bersih ruangan kelas dan merapikan bangku dan meja. Menata meja guru dan menaruh bunga segar dan merapikan buku-bukunya. Usai itu, teman-teman menyiram bungan dihalaman kelas ada yang berlari ke kantor guru untuk minta kapur tulis.

Usai jam sekolah masih belum boleh pulang, karena harus menyapu dan mengepel lantai kelas dan mengangkat bangku-bangku diatas meja. Hampir 12 tahun pekerjaan yang bernama piket itu mampir saban 1 hari dalam seminggu. Naik kelas SMA tak jauh beda, tetep saja piket itu ada namun tak seberat saat di bangku SD dan SMP.

Kisah ini lantas saya ceritakan kepada teman, apakah piket itu ada dijaman sekarang atau sudah digantinkan jasa kebersihan (cleaning service). Dugaan saya benar, jaman memang berubah, demikian juga kebijakan masing-masing sekolahan. Kini murid di tuntut untuk belajar yang bener, urusan kebersihan serahkan jasa kebersihan.

Pertanyaan sekarang, apa ada anak sekolah yang mau megang sapu, menenteng kain/lap pel, berlari ke kantor TU ambil kapur, dan semua kebutuhan rumah tangga kelas. Film Laskar Pelangi yang fenomenal, dalam salah satu adegannya yakni saat Ikal dan kawannya harus naik sepeda berkilo-kilo untuk berhutang kapur di toko Sinar Harapan. Pekerjaan yang melelahkan, namun tetap dijalankan sesuai dengan amanat gurunya. Apa ya sekarang ada Ikal-ikal masa kini yang mau seperti itu.

“Jangankan ambil kapur, kerjakan PR saja susah minta ampun” kata teman saya. Perubahan jaman yang kadang tak disikapi dengan strategi baru, sebab saat ini bukan saatnya ambil kapur dan ngepel lantai lagi. Sudah tidak musimnya piket-piket seperti jaman dulu yang memakasa datang lebih awal dan pulang paling akhir. Jaman sudah berubah, makanya strategi juga harus berubah.

Pendekatan model pak Mustar M. Djaid’din, B.A yang dilukiskan Andrea Hirata dalam novel Sang Pemimpi kini mungkin akan ditentang oleh banyak orang. Dikisahkan Pak Mustar adalah seorang guru dan kepala sekolah yang antagonis di mata beberapa murid-muridnya. Keras, tegas, disiplin dan kadang sabetan tongkat bambu menghujam keras di meja kelas adalah ciri khas beliau. Cara-cara mengajar konvensional jaman dulu memang demikian dibuat untuk menghajar murid-muridnya. Memang saat itu metode disesuikan dengan situasi yang ada, walau tokoh seperti pak Balia bak protagonis dan menjadi idola murid adalah bumbu penyedapnya.

Coba sekarang mengajar dengan cara yang konvensional dijamin tak lama masuk bui gara-gara dituntut orang tua murid. Jaman sudah berubah, maka pendekatanya harus disesuikan dengan jaman bagaimana mendekati anak-anak durhaka tersebut. Anak-anak jaman dulu tak beda jauh dengan jaman sekarang, namun berbeda situasi dan kondisinya sebab waktu yang merubah mereka.

Trauma masa lalu bagaimana digampar guru, dilempar penghapus, disuruh berdiri ditiang bendera setangah hari adalah menu-menu hukuman masa lalu, yang kini sudah tidak relevan lagi bahkan dilarang. Anak-anak sekarang berbeda dan berpikir lebih cerdas, maka imbangi dengan cara yang bijak dan cerdas. Jika murid durhaka, tak ada jaminan mereka takut jadi batu maka dirubah saja orang tuanya yang disulap jadi batu. Mengapa demikian?, karena anak yang sekolah orang tua pusing tujuh keliling. Lihat saja saat Ujian Nasional dan penerimaan siswa baru, yang pusing siapa, apakah orang tua atau siswa.?

Tak ada yang salah, sebab jaman memang menuntut demikian. Tantangan seorang guru bukanlah berkeluh kesah, sebab guru dibayar tidak hanya mencerdaskan anak bangsa tetapi mengubah hati dan otak yang membatu itu menjadi lunak dan dibentuk sesuai aturan dan norma-norma yang berlaku. Tak di kota atau desa, memang seperti itu karakter anak-anak. Jika anak itu tidak nakal, ibarat tak ada proses bagi dia untuk matang dalam pemikiran dan tindakan. Bentuk mereka memang kasar dan tak utuh, nah itu tugas kita untuk mengukir menjadi anak yang cerdas, berbudi pekerti lihur. “Caranya”, tanya teman saya, “ya pikir sendiri kan kamu gurunya…?”…hahahahhaha…. “ingat kita juga pernah durhaka terhadap orang tua, guru, dosen, aparat pemerintah, bahkan Tuhan…”.

2 thoughts on “Murid Durhaka pada Guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s