Mengapa Saya Benci Liburan…?

Hari ini tanggal 3 Januarin2010, begitu membuka mata dari balik selimut lalu mengucap syukur untuk pagi yang indah. Ritual pagi seperti biasa melihat dunia luar dari layar 5×2 inchi. Status jaringan FB kucoba buka pertama dan terlihat berjubel update status. Beragam pembaharuan status, namun sebagian besar rata-rata diakhiri titik dua dan kurung buka. Simbol emosi😦 sedih menghiasi rerata pembaharuan status. Dari yang bekerja, sekolah hingga kuliah semua dengan emosi kesedihan.

Awal langkah ditahun 2011, dengan kibaran emosi😦 untuk setiap jenis aktivitasnya, walaupun ada yang bilang ”semangat”. Berbicara soal libur, kebetulan saya masih 1 minggu lagi liburnya ingin segera kembali keaktivitas dikampus. Biasanya orang akan senang, dengan libur, tanggal merah atau sejenisnya dan intinya libur dari segala beban. Nah kebalikan dengan saya, liburan adalah beban berat bagi saya. Hari-hari biasa saya habiskan dengan kerja (motret, nulis) dan kuliah, namun menjelang hari libur adalah malapetaka tak terelakan.

Rumah yang saya tempati, kebetulan rumah warisan dari Eyang dan setiap liburan menjadi tujuan keluarga besar. Menjadi tuan rumah dan harus menjami keluarga yang datang bukanlah perkara yang mudah. Mereka datang kerumah Eyangnya bertujuan untuk berlibur, bersantai, melepas lelah, malas-malasan dan senang-senang, lha sedangkan tuan rumahnya juga libur maka jadilah pelayan, pembatu dan jongos dadakan. Dari mulai bersih-bersih rumah, mbatu masak, hingga akhirnya cuci piring menjadi menu keseharian. Tidak mungkin mereka suruh seperti itu, apa ntar kata untuk tuan rumah. Okelah untuk satu, dua hari, lha kalo seminggu ya cilaka bin tekor.

Mungkin hari paling burung adalah saat lebaran, libur sekolah dan natal, sebab semua keluarga besar mudik dirumah. Rumah berjejal dengan manusia sekitar 30 orang, yang semua ingin makan, kenyang, senang dan penuh kehangatan. Lha yang jadi panitia liburan itu yang pegel linu dan gempor. Disaat liburan berakhir layaknya Ir Soekarno yang diculik ke Rengas Dengklok untuk mempersiapkan kemerdekaan. Nah disaat mereka satu persatu kembali, seperti mengibarkan bendera dan proklamasi kemerdekaan. Bebas dan bisa bermalas-malasan sejenak melepas lelah, sebab esok juga harus kembali ke pekerjaan dan kuliah.

Liburan sesungguhnya adalah saat bekerja, seumpama dapat job motret kesuatu tempat, maka bisa bekerja, santai, liburan gratis dan dapat bayaran. Disaat kuliah juga bisa liburan, karena dikampus bebas dari cuci piring dan ngepel rumah. Disaat ada studi banding, atau kunjungan penelitian, maka akan tambah jalan-jalan dan liburan. Belum lagi disaat mengikuti kegiatan mahasiswa, sungguh menjadi liburan yang menyenangkan. Terlebih lagi saat terjun didaerah bencana, ada liburan, ada misi kemanusiaan, ada sisi pendidikan dan religi.

Bisa ditarik sebuah kesimpulan, liburan saya adalah disaat bekerja dan kuliah, karena saya benar-benar menikmati pekerjaan dan kuliah saya. Pusingnya kerjaan dan frustasinya kuliah begitu nyaman dan menyenangkan. Saya mencintai pekerjaan dan kuliah saya, sebab saya benci liburan. Liburan bagi saya tak ubahnya dengan merekan yang kembali ke rutinitas keseharian yang sangat membosankan dan menyebalkan. Cintai pekerjaan dan studi, karena jika sudah merasa senang dan nyaman, akan liburan setiap saat. Liburan bukan dengan bermalas-malasan, tetapi liburan dengan menghasilkan sebuah karya untuk melayani sesama. Mari berlibur dengan mencintai apa yang kita kerjakan, selamat berlibur dan berkarya.

Salam

DhaVe
Kamar Ademku, 3 Januari 2011

14 thoughts on “Mengapa Saya Benci Liburan…?

  1. heheh Dhave, lain kalo yg dateng disuruh bawa pembantu sendiri2, jadi itu pembantu diharap ngurusin majikannya sendiri2, paling2 kau tinggal jadi tukang anter2 kemana2 , ama tukang poto :)) hehehee

  2. pennygata said: heheh Dhave, lain kalo yg dateng disuruh bawa pembantu sendiri2, jadi itu pembantu diharap ngurusin majikannya sendiri2, paling2 kau tinggal jadi tukang anter2 kemana2 , ama tukang poto :)) hehehee

    mauku getu…pembantunya juga liburan dewe-dewe hahaha

  3. smallnote said: Permisi, ada yang kerja?peluk guling*

    Iyo, Mas..Sering ku katakan ke teman-teman, “aku dolan kok, gak kerjo, dolan sing dibayar”, setiap kali mereka heran kok kerjanya terus-terusan gitu sich..Aku menikmati kerjaanku, aku mencintainya, bahkan dulu, sebelum dikaruiniai kekasih, sering kuanggap kerjaan ini adalah kekasihku.Saat libur, dulu, aku selalu balik ke tempat kerja, karena kalo tidak, hanya di rmh saja, malah sakit semua…

  4. otto13 said: Iyo, Mas..Sering ku katakan ke teman-teman, “aku dolan kok, gak kerjo, dolan sing dibayar”, setiap kali mereka heran kok kerjanya terus-terusan gitu sich..Aku menikmati kerjaanku, aku mencintainya, bahkan dulu, sebelum dikaruiniai kekasih, sering kuanggap kerjaan ini adalah kekasihku.Saat libur, dulu, aku selalu balik ke tempat kerja, karena kalo tidak, hanya di rmh saja, malah sakit semua…

    Wow….. bagus sekali Om kisahnya….’mantab..mantab…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s