Perut oh Perut, Apa Salahku dan Apa Dosaku

Masalah perut memang luar biasa dasyatnya dan berimbas apa saja. Awal kejatuhan dosa manusia bisa dikatakan dari perut juga. Memang perut membawa pengaruh besar terhadap prilaku manusia dan yang ketiban apes pasti jadi dosa. Parah lagi, perut mengalahkan segala-galanya, bahkan nafsu yang sudah diujung tanduk akan luluh lunglai oleh kondisi perut. Gara-gara perut, wajah ganteng Brad Pitt atau secantik Mizabi akan jadi jelek, kalau tidak percaya coba saat dua tokoh tersebut sakit perut lalu duduk di toilet dan saat-saat tertentu pasti wajah terjeleknya didunia akan muncul.

Omong-omong soal perut ada beberapa pengalaman pahit namun bikin geli saja jika diingat. Yang namanya perut, tanggapan orang berbeda-beda, ada yang bisa meredam atau bahkan tidak bisa sama sekali untuk sebentar menahan. Pernah suatu saat dengan teman-teman manjat tebing. Panjat tebing mungkin adalah aktivitas yang menguras tenaga, pikiran dan emosi. Jangankan yang manjat dan belayernya, yang nonton dari bawah saja keringat dingin campur aduk. Energi terkuras otomatis perut cepat sekali kosong. Kucuran keringat ikut membantu paduan musik dari drumb band hingga keroncong didalam lambung.

Kebetulan lokasi panjat tebingnya adalah tempat wisata, sehingga banyak pengunjung ditempat itu. Disekitar lokasi pemanjatan nampak jelas sepasang muda-mudi mojok disemak-semak. Kami yang kebetulan manjat, jadi bisa melepas pandangan seluas mata melotot sambil menyaksikan adegan mesra layaknya di film-film dewasa. Anggap saja bonus untuk cuci mata, walau kadang dada ini bergetar melihat sepasang anak manusia dibawah sana.

Singkat kata singkat cerita setelah berjam-jam manjat akhirnya sampai juga dipuncak tebing. Rasa lelah dan lapar begitu menyiksa cacing-cacing, sehingga meronta-ronat dilambung ini. Setelah membereskan alat panjat, saya turun duluan sambil gendong tali. Alasan turun duluan agar segera menemukan warung guna isi setrum perut ini. Saat berjalan dijalan setapak, saya melihat ada dua buah kotak makan dari stereofoam, sepertinya bekas dua sejoli yang mesra-mesraan. Dasar perut kosong, otak ini reflek membuka kotak nasi tersebut. Satu kotak kosong melompong, sepertinya itu bekas si cowok yang kelelahan dan terlalu bernafsu. Kotak satunya masih ada sisa, dan pasti dari mBaknya yang ngga terlalu bernafsu makan.

Apa mau dikata, tangan ini hendak mengais sisa-sisa makanan, sudah kepergok teman. Akhirnya ndak jadi makan, malah ntuh kotak jadi rebutan mereka. Dalam hati hanya melongo dan berkesimpulan, dalam kondisi apapun saat perut lapar apa saja disikat. Tidak tahu mengapa ada seorang teman yang nyeletuk ”nasinya gurih&lauknya asin, asem, kecut, nikmat deh pokoke, makasih ya sudah berbagi”. Perkiraan teman-teman adalah saya yang bawa bekal nasi bungkus, jadi main sikat main embat saja.

Waktu berlalu, sambil cari dalih kira-kira alasan yang tepat bahwa apa yang mereka makan ntuh sisa orang abis getuan ”dasar otak kotor”. Akhirnya nemu warung juga, dan disana kaya orang kalap saat menyantap hidangan. Selesai makan, coba deh share apa yang tadi mereka makan. Iseng tanya,”gimana tadi nasi kotaknya..?”, ”wuah enak, agak basi sih kayaknya, sepertinya ditutup terlalu lama deh” ada juga yang bilang ”enak, tapi ada yang lumer lengket-lengket gimana getu”. Sampai ketahuan urusan bisa panjang ini, tapi sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti berbau juga.

Ibu penjual makanan tiba-tiba berkata, ”mas nanti kalau ada acara bisa pesan makanan disini aja ama ibu, 5 hari yang lalu satu rombongan juga pesan makanan disini. Karena penasaran ” Bu ntar bungkus makanannya pakai apa”, ”walah mas kan bisa kertas, bisa pakai kotak gabus, ya terserah mas mau pakai apa”. Masih juga penasaran ”lima hari yang lalu pakai kotak gabus dan menunya nasi gurih ama rendang ya bu”, ”loh mas kok tahu…?”. Saatnya permisi dan menjauh dari teman-teman yang mukanya sudah merah menyala.

Salam

DhaVe
KK, 010411, 17.18

20 thoughts on “Perut oh Perut, Apa Salahku dan Apa Dosaku

  1. dhave29 said: Akhirnya ndak jadi makan, malah ntuh kotak jadi rebutan mereka. Dalam hati hanya melongo dan berkesimpulan, dalam kondisi apapun saat perut lapar apa saja disikat. Tidak tahu mengapa ada seorang teman yang nyeletuk ”nasinya gurih&lauknya asin, asem, kecut, nikmat deh pokoke, makasih ya sudah berbagi”. Perkiraan teman-teman adalah saya yang bawa bekal nasi bungkus, jadi main sikat main embat saja.

    hahahhahahaha…mas dhave ceritanya asiik neh…besok2 kudu curiga klo mas dhave bawa bungkusan..*jadi ingar cerita daging/tulang :p

  2. siasetia said: hahahhahahaha…mas dhave ceritanya asiik neh…besok2 kudu curiga klo mas dhave bawa bungkusan..*jadi ingar cerita daging/tulang :p

    Hahaha,,,, kiar-kira bekas apa..getu yah hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s