Gambar Sketch antara Realita dan Sebuah Cerita

Saya teringat ketika mengerjakan praktikum morfologi tumbuhan di bangku kuliah. Dosen saya mengatkan “buat sket saja, tidak perlu di batik”. Awal tahun 2000an, untuk mendokumentasikan dengan kamera masih terlalu mahal, sebab yang ada masih kamera analog-film. Tidak ada pilihan selain menggambar manual untuk mendokumentasikan, yakni dengan sket.

Sket adalah gambar dasar dari suatu obyek yang digambar dengan cara yang sederhana tanpa ada penambahan detail. Gambar sket digunakan sebagai pembentuk pola yang nantinya bisa di detailkan menjadi sketsa atau menjadi ilustrasi, bahkan gambar jadi yang realis. Dengan demikian sket menjadi goresan awal, sebelum diolah lebih lanjut. Tetapi, ada pelukis yang hanya berhenti pada sket dan menjadi gambar jadi.

14 Januari 2023 saya bertemu dengan komunitas Semarang Sketchwalk yang sedang menggambar di depan Klenteng Ho Tek Bio di Kota Salatiga. Puluhan anggota SSW, demikian akronim untuk komunitas ini melakukan kegiatan menggambar bangunan dengan dominasi warna merah. Anggota SSW duduk di berbagai sudut bangunan, bahkan hingga ke seberang jalan untuk mencari sudut pandang yang terbaik buat mereka. Dengan selembar kertas atau pun kanvas, begitu juga dengan pensil, cat warna, krayon, pulpen, bahkan subuah lidi dengan tinta mereka mulai membuat sket dengan gayanya masing-masing.

Dari masing-masing pelukis saya mengamati gaya dan teknik mereka melukis. Wajah mendongak, kemudian menunduk, begitu bergantian dan tangannya dengan lincah menggores pewarna di atas media gambar. Ada yang mereka yang benar-benar menggunakan ukuran, komposisi, persepektif untuk memindahkan obyeknya, ada juga yang menabrak itu sesuai dengan kemauannya. Inilah menariknya gambar sket, bebas dan tidak ada aturan. Mereka berdikari, sepenuhnya mengendalikan tangan oleh pikiran dan imajinasi didasarkan apa yang mereka lihat.

dengan seutas lidi yang dicelupkan di botol tinta lalu digoreskan menjadi sebuah pola, dan bagi orang awam seperti saya bisa langsung menebak obyek apa yang dilukisnya. Ada juga yang menotolkan cat warna lalu kuasnya menyebarkan warna dengan dan jadilah sebuah bentuk. Ada lagu yang membuat lukisan yang nyaris tidak saya pahami, sebab yang dilukis obyek yang tidak terlihat oleh mata orang lain atau obyek yang tak kasat mata. Inilah kebebasan dalam seni lukis sket.

Lantas bagaimana menilai lukisan sket itu? Sangat subyektif pada masing-masing persepsi individu. Ada yang menilai sangat tinggi, ada juga menganggap biasa saja. Ada juga yang membeli dengan harga mahal, ada juga yang tak sudi dikasih. Kembali pada sebuah selera masing-masing individu, dan inilah nilai subeyktif itu.

Sisi menarik lukisan sket adalah cerita di balik lukisan tersebut. Acapkali dengan hanya melihat lukisan, para penikmatnya bisa berimajinasi dan mendapatkan cerita secara mandiri sesuai dengan persepsinya. Ada juga gambar sket, dimana hanya pelukisnya yang tahu isi ceritanya, dan inilah yang kadang yeng menjadi nilai dari lukisan ini, sebab bersifat sangat personal dari pelukisnya. Tetiba saya membuka lukisan sket saya jaman kuliah dulu, bernilai bisa mengantarkan saya sampai titik ini.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s