Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng Bukit Bulan

ketaping lorong gua 2
Chamber Gua Sungai Ketaping.

Antara takut dan geli, maka saya memutuskan untuk mencabut gigitan lintah yang sudah gendut dari pangkal kaki saya. Darah segar mengucur usai si lintah dipaksa menuntaskan hisapannya. Tidak hanya satu atau dua gigitan, sore ini setidaknya ada empat luka gigitan pacet. Inilah salah satu risiko menyusuri aliran sungai yang berhulu di gua. Hari ini kami menyurui Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng di Bukit Bulan Jambi.

Gua Sungai Ketaping

Gua Sungai Ketaping, demikian nama gua yang memiliki resurgrance atau sungai yang keluar dari gua. Nama sungai ketaping, kemungkinan secara topinimi berasal dari sungai dan pohon ketaping/ketapang (Terminalia catappa) yang banyak di sepanjang sungai. Hari ini saya bersama tim yang dipandu penduduk lokal hendak menyusuri gua yang memuntahkan air jernih yang bertemu di aliran Sungai Ketari Kecil.

Bukan hal yang susah sebenarnya untuk menemukan gua ini. Cukup menyusuri sungai Ketari Kecil sampai hulu. Namun, yang menjadi kengerian adalah sepanjang sungai tersebut adalah habitat lintah penghisap darah. Dengan mengenakan sepatu boot dan pakaian lengan panjang, berharap tidak ada celah bagi si lintah untuk menggapai kulit tubuh kami.

Perjalan menuju Gua Sungai Ketaping dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalan dari Desa Napal Melintang. Benar saja sepanjang perjalanan akan melewati sungai dan lintah tidak hanya ada di darat, namun juga di daun dan ranting-ranting pohon. Ahasil seekor lintah sudah kenyang mengisap darah saya tepat di dagu samping tali pengikat helm.

Mulut Gua Sungai Ketaping cukup sempit. Untuk masuk harus memiringkan badan dan kepala mepet di dinding gua. Di dalam gua terdapat aliran sungai kecil dengan batu-batu kerikil yang telah membulat. Sebuah lorong di sisi kiri gua dengan zona gelap total menarik untuk dijelajahi.

ketaping lorong gua
Lorong gua Sungai Ketaping.

Di dalam lorong gua tersebut, saya merasakan hawa yang sejuk, sepertinya ada aliran udah khas mikroklimat di dalam gua. Di beberapa dinding nampah burung seriti membangun sarang, ada beberapa yang mengerami, dan ada beberapa yang sedang meninggalkan sarang dan telurnya. Beberapa kelelawar juga hilir mudik melintasi tubuh kami tanpa pernah menyenggol ataupun menabrak. Chirikhas penghuni gua dalam bernavigasi.

Di dalam gua ini juga terdapat chamber atau ruangan berukuran besar dengan stalagtit dan stalagmit yang yang menghiasinnya, selebihnya sudah menjadi pilar. Di dalam gua kami hanya sesaat saja, setelah makan siang kami segera beranjak menuju Gua Batu Nyedeng.

Gua Batu Nyedeng

Gua Batu Nyedeng, demikian penduduk lokal memberi nama gua ini yang artinya gua batu miring/NyeDeng. Benar saja, sangat miring. Jangankan batunya, jalan menuju kesana juga benar-benar miring. Dari depan Gua Sungai Ketaping, harus mendaki dengan jalan terjal dengan kemiring 45 derajat, kadang ada yang lebih. Parah lagi, kadang harus memanjat batuan gamping. Benar-benar Nyedeng.

ketaping lorong gua batu nyedeng
Mulut Gua Batu Nyedeng.

Sekitar 1,5 jam kami mendaki dengan perbedaan elevasi sekitar 300 m. Kami berada di salah satu titik tertinggi di Bukit Raja. Habis tenaga kami dan kini dihadapkan pada gua vertikal. Kata Pak Irawan, gua ini dalamnya 6 meter lalu ada teras, lalu turun lagi 10 meter. Bayangan saya sudah yang tidak-tidak, dan tidak ada opsi lain kecuali harus turun.

Saya mengikuti jejak-jejak Pak Irawan yang sudah hafal betul tiap pijakan dan pegangan. “Ngeri-ngeri sedap” kata mas Andi rekan saya yang turun tepat di depan saya. Akhirnya diputuskan “naik saja mas, tanggung guanya buntu dan cuma sekitar 13 meter“. Akhirnya kami naik dengan jalan yang sama dan rasa yang berbeda.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Langkah kaki kami mulai gontai untuk kembali ke base camp di Napal Melintang. Lelah, letih, dan kaki kadang gemetar, namun harus tetap berjalan. Akhirnya kami sampai di pertemuan sungai Ketari Kecil.

ketaping lorong gua vertical
Lorong vertical Gua Batu Nyedeng.

Kami melepas lelah sembari melihat siapa tahu ada lintah yang masih nempel di tubuh kami. Benar saja, beberapa titik sudah terlihat darah yang mengering dan lintah sudah kenyang dan melepaskan diri. Ada satu yang masih tersisa, dia sudah gendut namun masih terus menghisap.

Dusun Manggis yang Terkikis dan Menangis

Jalan panjang menujud Dusun Manggis.

Siti Maryam berkisah, jika dia di Dusun Manggis sudah 10 generasi. Berasal dari leluhurnya yang diusir oleh keluarga besarnya di Pamenang. Mereka yang terusir akhirnya menyusuri sungai Batang Asai dan Meloko. Akhirnya mereka menepat di sebuah tempat yang banyak dijumpai pohon manggis hutan dan menjadi nama kampungnya-Dusun Manggis. Sebuah dusun mungil-terisolir yang terletak di tengah-tengah hutan lindung. Dulu mencari asa dan kini tinggal nestapa.

Siti Maryam mengisahkan leluhurnya mengapa datang ke Manggis.

Perjalanan Panjang

Pukul 08.30 kami sudah siap menempuh perjalanan jauh hari ini. Orang kampung Napal Melintang mengatakan, menuju Dusun Manggis bisa satu hari penuh perjalanan. Bisa dibayangkan?

Pagi ini kami berempat dihantar oleh Pak Muhamad Tola, mantan Sekdes Napal Melintang. Dahulu saat masih menjabat sekdes, pak Tola dalam sebulan bisa 1 -2 kali berjalan ke Dusun Manggis. Kami juga ditemani Roby, sekdes baru yang akan mengikuti jejak seniornya. Pak Rusli sebagai seorang pemburu dan pencari kayu hutan ikut bersama kami sebagai penunjuk jalan.

Dusun Manggis adalah salah satu dusun di Desa Napal Melintang, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun – Jambi. Dusun ini letaknya ditengah-tengah hutan lindung. Jarak terdekat menuju dusun ini adalah dari Napal Melintang sejauh 14 km, atau Sungai Beduri sejauh 22 km, dan atau melalui Batang Asai dengan perahu selama 6 – 12 jam.

Kami memutuskan untuk menempuh melalui rute Napal Melintang. Sebuah ransel sudah saya kenakan dan saatnya berjalan. Langkah awal yang cukup berat karena kami harus berjalan di sepanjang aliran sungai. Bukan perkara susahnya, tetapi lintah yang menjadi momok bagi kami. Beberapa kali kami mencabuti lintah yang sudah menghisap darah kami. Darah mengucur dan kami biarkan dibilas oleh air sungai ketari.

Sudah 1,5 jam kami berjalan tanpa berhenti akhirnya sampai juga di batas sungai dan hutan. Sebuah gubug kecil menjadi persinggahan kami. Hutan lebat siap menyambut kami. Kembali kami memastikan, tidak ada lintah yang menghisap kulit kami.

Perjalanan kami sedikit kontras. Saya dan teman-teman bergaya ala mapala dengan pakian rimba. Namun pak Tola hanya dengan celana setinggi lutut, kaus singlet, sandal jepit, topi rimba, dan tas mungil, serta golok. Dia nampak berjalan santai seolah tidak ada beban, berbeda dengan kami yang tergopoh-gopoh dan keringat bercucuran.

Di depan pak Tola dan Rusli berjalan dan kadang hanya terdengar mereka berbincang dan tertawa. Kami tertinggal jauh di belakang, sedangkan Roby dipastikan menjadi orang terakhir dari kami.

Hutan hujan tropis sepanjang perlananan menuju Dusun Manggis.

Langkah kaki kami yang secara usia jauh lebih mudah tak semudah orang tua yang ada didepan dalam memijakan kaki menembus bukit di jalan setapak. Akhirnya mereka paham juga jika nafas kami hampir putus dan mereka melonggarkan kabel gasnya untuk berjalan pelan.

Mereka berdua sepertinya tidak memiliki raut muka lelah. Bagaimana tidak, kami berjalan dengan satu dua nafas, mereka berjalan sembari tertawa dan asap rokok mengepul dari mulutnya. Kebiasaan kami mendaki gunung dan lari pagi, sepertinya belum bisa mengimbangi mereka berjalan kaki di tengah rimba raya.

Sebuah tanjakan yang cukup terjal berhasil kami lalui. “Ini peradun Murau namanya mas” kata pak Tola. “Peradun itu artinya tempat istirahat dan murai itu nama kayu, karena ditemukan di sini” pak Rusli menimpali. Akhirnya kami satu persatu sampai juga di tempat datar ini dan tepat pukul 10.45.

Ayo guyur.. guyur..” kata Pak Tola, yang artinya ayo jalan. Belum darah ini mengering, karena saat istirahat kami mencabuti lintah yang sedang asyik menghisap darah kami harus segera berjalan. Langkah kaki semakin pendek, manakala pak Rusli mengatakan masih ada 4 bukit lagi.

Mas setinggi-tingginya bukit, kalau kita daki pasti akan tetapi dibawak kaki kito” kata pak Tola memberi semangat pada kami. Rekan kami mas Sigit yang nampak sudah gentayangan “Iya pak kalau di daki, kalai dilihat dari ini ya tetap di atas kepala kita pak“. “hahaha ayo guyur” kata pak Rusli dan kami segera mengikutinya, sebab berhenti artinya memberi makan lintah.

Makan siang di Peradun Gedang

Pukul 12.00 akhirnya kami sampai di Peradun Gedang atau tempat istirahat yang luas. Segera kami membuka bekal dan di tengah matahari yang terik ini kami makan siang. Makan yang sangat nikmat, karena hawa yang sejuk dari kanopi hutan hujan tropis yang melindungi kami. Suhu udara sekitar 25C dan kelembapan sekitar 80% membuat lingkungan yang nyaman. Jika tidak banyak lintah pasti kami sudah tertidur nyenyak di sini.

Kembali kami berjalan, dan akhirnya satu jam kemudian kami sampai di Peradun Taye, taye adalah nama mangga hutan/pakel (Mangiera foetida). Di tempat ini kami beristirahat agak lama, karena habis tempat ini akan melewati jalan eskavator yang panjang.

Jalan Eskavator

Selepas Peradun Taye, benar saja kami menemukan jalan bekas jalan eskavator. Alat berat ini didatangkan oleh penambang emas liar. Bagaimana tidak, dusun Manggis adalah area yang kaya akan kandungan emas. Mungkin cerita nenek Siti Maryam menunjukan mengapa mereka pergi ke hulu, karena emas. Menurut cerita pak Tola, dalam sebulan Manggis bisa menghasilkan sampai 1 – 2 kg emas. Kekayaan alam yang nantinya menjadi kutukan.

Bekas jejak eskavator penambang liar di Dusun Manggis.

Tidak diketahui dengan pasti siapa yang berani menerobos kawasan hutan lindung ini dengan eskavator. Yang pasti, jejak jalan eskavator ini masih ada dan terbuka. Cerita yang berkembang, di bagian hulu sungai banyak penambang yang mencari emas. Sungai yang keruh dan berwarna kuning menjadi indikator adanya aktifitas penambangan, karena ada lumpur yang ikut terlarut saat pencucian batuan.

Hutan Kutukan

2 jam kami mengikuti jalan eskavator yang naik turun. Matahari sudah semakin condong ke barat dan harus dihadapkan pada sebuah bukit yang benar-benar curam. Dengan tenaga tersisa kami sampai juga di puncak bukit. Mas Andi rekan saya duduk terdiam di hamparan pohon-pohon yang telah tumbang. Matanya terlihat nanar melihat kerusakan hutan akibat pembukaan lahan. Sangat kontras sekali dengan hutan disekitarnya yang masih nampak hijau lebat.

Perusakan hutan untuk ladang.

Wadoooh orang manggis ini” kata Pak Tola saat melihat hamparan hutan yang telah gundul. Lantas saya bertanya, memangnya kenapa pak dengan Orang Manggis. “Mereka terpaksa membuka lahan di hutan, karena sawah mereka sudah tidak ada lagi karena didonfeng (dikeruk untuk tambang emas). Mereka kini menanam padi lahan kering, dan begini jadinya” sambil menunjuk hutan yang sudah kering kerontang.

Kami berjalan pelan menyusuri hutan yang gundul akibat pembukaan lahan pertanian. Yang terbenak dalam pikiran saya, sebentar lagi akan ada pembakaran hutan. Akhirnya kami sampai di tepi sungai Kemlako kecil yang airnya jernih. Mungkin ini satu-satunya sungai yang saya temui yang airnya masih jernih. Muka saya yang kepanasan segera saya guyur dan kaki yang kelelahan ini saya rendam.

Sungai yang keruh akibat penambangan emas.

Ayo guyur, manggis 1 jam lagi sampai” kaya pak Rusli dan pak Tola sudah jauh di depan. Bergegas kami berjalan menyusuri sungai. Memasuki dusun manggis, benar saja terlihat bebatuan hasil galian di sana-sini. Terlihat petak-petak bekas sawah yang kini seperti planet mars, penuh dengan batuan dan kering. Inilah salah satu kutukan kekayaan alam ini yang bisa menghancurkan sumber kehidupan.

1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Dusun Manggis. 8,5 jam kami berjalan dan tepat pukul 5 sore kami memasuki kampung yang ada di tengah taman nasional. Wajah asing kami menjadi pusat perhatian warga. Yang membuat kami tenang adalah mereka semua mengenali wajah dan hormat pada pak Tola. Mereka juga kenal dengan pak Rusli dan Roby, sehingga amanlah kita.

Padang rumput di bekas sawah yang tak lagi produktif.

Pak Tola yang suka bercanda mengajak kita berkenalan dengan orang-orang di kampung. Saya sepertinya tidak mau melewatkan momen menarik ini. Ada beberapa mereka yang menolak saya bidik dengan kamera. Ada juga mereka yang curiga terhadap kami, namun pak Tola meyakinkan mereka dengan berkata “tidak apa-apa, mereka utusannya Jokowi“.

Diyasinkan Karena Menangkap Ikan di Lubuk Larangan

Sungai Limun di Napal Melintang.

Pak Teguh rekan seperjalanan saya nampak tersenyum kecut sembari melihat sebuah tas berisi 3 buah joran pancing dan lengkap dengan pernak-perniknya. Dia berencana akan memancing di Sungai Limun yang menjadi tujuan perjalanan kami. Niat yang sudah membara tetiba padam karena dia takut di yasinkan oleh warga.

Sungai Limun

Sungai Limun, demikian nama sungai kecil yang membelah dusun Napal Melintang di Kars Bukit Bulan-Jambi. Sungai ini menjadi satu-satunya sumber air warga, sehingga sangat tergantung pada aliran sungai ini. Lantas apa istimewanya sungai ini? Tidak ada yang berani berani mengusiknya.

Tempuyung, makanan khas dari Napal Melintang yang harus dicari di Sungai lain.

Sebagai satu-satunya urat nadi kehidupan di Napal Melintang, sungai Limun benar-benar di Jaga oleh warga sekitar. Air yang tidak pernah kering ini menjadi nyawa mereka, bahkan dulu menjadi satu-satunya akses transportasi menuju Kabupaten Sarolangun.

Lubuk Larangan

Untuk menjaga sungai ini, tokoh-tokoh ada setempat menjadikan sungai Limun sebagai lubuk larangan. Warga dilarang masuk kawasan sekitar sungai tanpa ada alasan yang jelas. Warga juga dilarang merusak dan menangkap ikan di sungai. Aturan yang disepakati bersama oleh tua-tua adat dan warga.

Menangkap Ikan.

Seberapa taat warga dengan aturan yang ada? Semua warga taat. Warga tunduk pada aturan karena melihat sangsinya yang tidak main-main. Ada aturan jika barang siapa merusak atau menangkap ikan di Sungai Limun akan dikenakan denda adat.

Denda Adat

Denda adat yang diterapkan tidak main-main bagi pelanggarnya. Jika ada yang melanggar, siap-siap harus merogoh kantong untuk menyiapkan uang 2 juta, kambing 2 ekor, beras 2 karung. Mungkin secara materi, denda tersebut bisa dibayar. Namun denda terakhir ini yang membuat mereka benar-benar takut.

Warga di Napal Melintang adalah warga yang taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai umat Muslim. 100 warga disana menganut agama Islam dan memahami tentang hukum-hukumnya. Apabila ada yang melanggar hukum adat di atas maka pelakunya akan di yasinkan. Dalam ajaran Islam, di yasinkan berarti dibacakan doa-doa tertentu. Doa Yasin biasanya diperuntukan untuk orang yan sedang menghadapi sakratul maut, malam Jumat, malam Nisfu Sya’ban, tahlil, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat warga ketakutan untuk melanggar aturan.

Hukum adat untuk menjaga alam juga banyak diterapkan di banyak tempat di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan/konservasi. Konservasi secara adat ini jauh lebih efektif dibandingkan hukum buatan pemerintah yang berujung pada pidana.

Menangkap ikan

Hukuman ada jauh lebih berat dibanding dengan pidana dari pemerintah. Hukum adat mengharuskan pelaku membayar denda secara materi, secara sosial akan dikucilkan atau dipergunjingkan, secara agama akan diperlakukan seperti orang yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa.

Inilah konservasi berbasis kearifan dan pengetahuan lokal. Ada saatnya hukum adat ini dikompromikan yakni saat Lubuk Larangan dibuka, maka warga bisa bebas mencari ikan dan menangkapnya. “Kapan itu?” tanya pak Teguh.

Para Pencari Tahu di Gua Mesiu

Chamber Gua Mesiu.

200 juta tahun yang lalu tempat ini adalah dasar lautan. Pada waktu itu, hewan-hewan karang berkumpul menjadi terumbu. Pada suatu waktu hantaman hebat antar lempeng bumi mengangkat ekosistem ini menjadi daratan. Tenaga tektonik yang luar biasa dan menjadikan tempat ini menjadi perbukitan, maka berdirilah tumpukan batuan gamping yang diberi nama Bukit Raja.

Kars Bukit Bulan

Masih di Bukit Bulan, Jambi. Pagi ini saat kantuk masih begitu terasa dan hawa dingin belum juga berlalu, kami harus bangun pagi. Kaki saya melangkah malas menuju tepian Sungai Limun yang menyeruakan hawa dingin. Tangan ini mencoba menggapai permukaan air, menampungnya lalu mengusap pada wajah. Segera mata ini melihat dunia. Hari ini cukup diawali dengan cuci muka.

Celana lapangan, kaos lengan panjang, kaus kaki tebal dan sepatu boot menjadi seragam lapangan kami. Hari ini, kami segerombolan peneliti hendak menuju Bukit Raja. Bukit raja adalah salah satu bukit di kawasan kars Bukit Bulan. Bukit Raja di pilih karena bukit paling tinggi dan luas untuk dijadikan obyek penelitian.

Usai sarapan pagi, penduduk Dusun Napal Melintang sudah menunggu di tepi jalan. Mereka adalah orang-orang lokal yang akan membantu penelitian kami. Mereka akan menjadi pemandu selama perjalanan kami dan menjadi orang yang menguasai daerah penelitian kami. Tanpa mereka, apalah kami yang tidak mengerti apa-apa.

Goa Mesiu

Kami berjalan beriringan melewati jalan setapak. Kebun, sahah, ladang, dan hutan adalah jalan yang harus kami tempuh. Tujuan kami pertama adalah mulut Gua Mesiu. Gua ini adalah satu dari puluhan gua di kars bukit bulan. Gua mesiu dipilih, karena menjadi salah satu sampel penilitian kami yang masih terjaga kondisinya.

Perjalanan menuju Gua Mesiu, nampak bukit gampin yang diberinama Bukit Raja.

Jarak dari Dusun Napal Melintang menuju Gua Mesiu berjarak sekitar 2,3 km dengan waktu tempuh 45 menit perjalanan. Jalan setapak yang kami lalui tidaklah mudah, karena konturnya yang naik turun. Bagi warga disini sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Bagi pendatang baru seperti kami, cukup menguras nafas dan tenaga.

Akhirnya setelah 3 tanjakan dan 4 turunan sampailah kami di tepi sungai Katari. Sungai kecil dengan air yang jernih, dan ikan-ikan yang berenang bersliweran nampak kaget dengan kedatangan kami. Sepatu boot kami segera menghujam permukaan sungai dan kami berjalan sepanjang aliran sungai.

Mulut Gua Mesiu.

Mulut Gua Mesiu masih sekitar 50-an meter di atas kami. Kami harus masuk semak belukar dan membuat jalan setapak. Kami harus ekstra hati-hati, salah memegang tumbuhan kami bisa kena batunya. Yang cukup ditakuti ditempat ini adalah tanaman jelatang dan jelatang bulan. Jika terkena bulu dari daun ini akan menimbulkan rasa gatal dan terbakar. Suatu saat dari perjalanan ini saya merasakan betapa sakitnya daun ini.

Para Peneliti

Setelah berjuang mendaki, akhirnya kami sampai. Keringat yang mengucur segera berubah menjadi air yang dingin. Di luar sana, suhu mencapai 32 derajat celcius. Begitu masuk Gua, suhu turun drasti hingga mencapai 21 derajat celcius. Tidak terbayangkan bukan, betapa nyamannya goa ini dengan pendingin alami. Entah bagaimana lorong-lorong goa ini menciptakan mikroklimatnya sendiri.

Suasana di dalam Goa Mesiu.

Setelah sesaat mengembalikan energi, saya mencoba mengikuti Mas Andi. Dia adalah pakar geologi dan menekuni dunia speologi/ilmu goa. Dengan senter kepala yang ditempelkan di ujung helm kami masuk lorong-lorong goa. Sebuah bangunan besar dengan atap tunggi/chamber ada di depan kami. Ratusan kelelawar nampak kaget dengan kedatangan kami yang membawa cahaya. Serempak mamalia bersayap ini menghamburkan diri dari dinding hinggapnya.

Saya tidak berlama-lama di dalam gua. Saya segera menunaikan tugas saya untuk memelajari vegetasi yang ada di depan mulut gua. Seluruh tanaman akan saya catat dan identifikasi. Saya dibantu oleh beberapa penduduk lokal yang memahami kayu dan tumbuhan di sini. Nama-nama lokal tumbuhan disini saya catat, begitu juga dengan ciri dan manfaatnya dan kemudian untuk dipelajari.

Jelatang bulan, momok menakutkan sepanjang perjalanan.

Di sisi lain, saya melirik teman-teman lain bekerja dengan ilmunya masing-masing. Orang geologi nampak riang dengan palu yang menghantam permukaan batuan, orang antropologi bercengkrama dengan penduduk lokal, para arkeolog memainkan kuas dan kaca pembesar untuk mencari benda dari antah berantah.

Di sini semua cabang ilmu berkolaborasi untuk menciptakan data besar. Untuk menjawab pertanyaan tentang masa lalu, yang dipelajari masa kini untuk masa depan. Di sini kami bekerja dalam keheningan, hanya deru nafas yang terdengar dan kucuran teringat yang terasa, yang pasti hati, tubuh, dan jiwa kami hadir di sini untuk ilmu pengetahuan.

Napal Melintang: Dusun Paling Ujung di Bukit Bulan

Pagi di Desan Napal Melintang.

Lampu berkedip-kedip layaknya lampu disko di diskotek, namun ini bukan ulah DJ tetapi turbin generator. Malam ini saya berada di Desa Napal Melintang, di Bukit Bulan-Jambi. Sebuah desa paling ujung di Selatan Provinsi Jambi, dengan jarak tempuh 73 km dari Kabupaten Sarolangun. Desa paling pinggir yang nyaris teriosolir.

Napal Melintang

Bagi yang ingin ketenangan dari kancah sosial media dan dunia luar, anda bisa datang ke Bukit Balan. Tiada listrik, jaringan telepon selular, sinyal radio, dan nyaris minin sarana prasarana. Benar-benar sebuah wilayah yang jauh dari mana-mana, bagaimana tidak wilayah ini di tengah-tengah Bukit Barisan yang membentang dari Lampung hingga Aceh.

Pagi ini selepas malam, saya segera berjalan menyusuri jalanan kampung. Geliat warga mulai terlihat manakala waktu usai subuh. Pagi ini sepertinya tiada matahari terbit, kerena semalam hujan dengan lebat dan kabut pagi masih tebal.

Saya berjalan menyusuri jalanan tanah menuju ujung desa. Jalanan yang masih sepi dan hanya terdengar gemericik Sungai Limun yang mengalir samping jalan. Nampak beberapa warga sudah beraktifitas di sungai seperti mencuci, mandi, dan menunaikan hajatnya. Saya hanya berani melirik dari kejauhan, sebab fenomena ini jarang saya lihat.

ANak-anak Napal Melintang berangkat menuju Sekolah.

Saya tertarik dengan segerombolan anak-anak SD yang hendak berangkat sekolah. Mereka dengan mengenakan seragam, berjalan kaki menuju sekolah. Jarak sekolah, yang menurut saya cukup jauh sekitar 2 KM dari rumah mereka. Andaikata jalannya bagus, rata, bukan terlalu menjadi masalah. Jalan di sini masih berupa tanah, genangan air, dan yang membuat enggan berjalan adalah ada 2 gundukan tanah yang tinggi alias bukit.

Semangat anak-anak di sini untuk menuntut ilmu layak diacungi jempol. Sepagi ini mereka sudah meretas asa untuk menimba ilmu di satu-satunya SD di desa itu. Keceriaan meraka meruntuhkan rasa iba saya dan berubah menjadi rasa bangga. Teruslah menuntunt ilmu generasi penerus bangsa.

Kawanan kerbau sedang merumput di pematang sawah.

Kaki saya melangkah semakin ke ujung Desa. Terlihat kawawan kerbau sedang merumput di pematang sawah yang penuh dengan rerumputan. Sementara itu halimun masih menyelimuti Bukit Bulan, Bukit Raja, dan Celau Tengah. Bukit-bukit di sini bak gedung pencakar langit yang ditutupi oleh hutan rimba.

Energi Mandiri

Lampu di terus rumah masih nampak berkedip-kedip, dan itu terjadi di seluruh rumah. Kebetulan pagi ini saya bertemu dengan Pak Rusli. Dia mengajak saya menuju sumber bekedip-kedipnya lampu tersebut di bendungan sungai Limun.

Kami berjalan di semak-semak mengikuti jalan setapak. “hati-hati, banyak pacet di sini” kata Pak Rusli. Sepintas saya melihat kaki saya belum ada benda bulat hitam yang menempel-saya kira masih aman. 5 menit kami berjajalan, sampailah kami di sebuah dam atau bendungan.

Batu napal yang menjadi toponimi Napal Melintang.

Itu batu napal” pak Rusli menunjukan batu yang terbenam di air dan melintang. Inilah yang menjadi toponomi desa ini yakni napal melintang. Napal dalam bahasa mereka adalah batu, lebih menjurus pada batu gamping atau kapur. Dalam KBBI, napal adalah tanah liat merah yang dapat dimakan (ampo), ada juga yang mendefinisikan sebagai batuan yang terdiri atas lempung dan kalium karbonat/kapur.

Turbin penggerak generator listrik di Napal Melintang,.

Di bendungan kami menyeberang untuk menuju sebuha gardu yang merupakan rumah listrik. Di dalam gardu nampak sebuah turbin yang digerakan air kemudian akan menggerakan generator lalu ada pengatur arus listrik. Dari generator ini mampu memberikan aliran listrik 1 dusun yang terdiri dari 109 rumah.

Desa ini belumlah mendapat aliran listrik dari PLN, meskipun tiang listrik dan kabel sudah terpasang. Sejak tahun 2007 mereka mengandalkan aliran listrik dari mikrohidro. Mereka berharap listrik PLN segera menyala, agar tidak berdisko setiap malam.

Akhir perjalanan, benar saja kaki saya ada lintah yang menempel dan sudah tambun. Sembari berjalan saya bertanya pada Pak Rusli, “setiap bulan warga mendapat retribusi berapa pak untuk membayar listri..?“. “Gratis” jawabnya.

Videonya