Meneroka Jejak Nirleka di Bukit Bulan

Petak berjalan
Berjalan menyusuri padang rumput di Kaki Bukit Bulan,.

Ini mah hotel bintang 5” kata Mas Sigit sembari membentangkan kedua tangannya di dalam ceruk gua. Dia adalah peneliti dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan, mengerti benar bagaimana wujud hunian masa lalu. Hari ini saya diajak napak tilas pada masa nirleka di Bukit Bulan Jambi.

Tengara Nirleka

Yang saya kurang sukai dari teroka ini adalah saat harus menyebrangi sungai dengan masuk ke badang sungai. Benar saja, baru beberapa langlah masuk Sungai Limun, ada mahluk yang lari terbirit-birit. Tidak bukan adalah seekor ular yang terusik dengan derap langkah kaki kami, yang tetiba kami juga terbirit-birit.

Kami tergabung dalam tim penelitian tentang ekplorasi hunian manusia prasejarah, yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak mudah menemukan keberadaan mereka, terlebih peninggalan mereka. Inilah tantangan yang kami hadapi saat ini di Bukit Bulan-Jambi.

petak bukit
Bukit Celau Petak.

Langkah kaki kami tak seperti manusia purba. Sebagai manusia modern otot dan tenaga kami sudah banyak tereduksi oleh modernisasi, sedangkan alam ini tidak banyak berubah. Medan yang kami hadapi tidak jauh berbeda, namun kami yang berbeda.

Setelah menyebrang sungai, lalu kami masuk dalam hutan dan menuju perbukitan. Bukit ini masuk dalam kawasan Celau Petak, dan kebetulan di sana ada gua Celau Petak, salah satu gua terpanjang di Bukit Bulan.

Tujuan kami adalah mencari ceruk-ceruk gua yang disinyalir menjadi tempat hunian manusia purba. Setiap ceruk kami periksa, kami korek-korek, kami amati dinding-dindingnya. Kami berharap menemukan satu lukisan dinding, atau goresan, tulang belulang, dan kalau beruntung dapat peninggalannya.

Tidak mudah mendapatkan keberuntungan menemukan hunian manusia purba. Kami hanya mengantongi informasi berdasarkan logika, orang jaman dahulu tinggalnya dimana. Orang pasti ingin tinggal ditempat yang aman, terlindungi, kering, dekat sumber air, mudah dijangkau. Penciri itulah yang kami pegang, guna mencari tempat seperti itu.

Hotel Bintang Lima

Kami berjalan dari gua ke gua. Kami menyambangi tiap ceruk, meskipun kadang harus memanjat di ketinggian dengan resiko terjatuh. Mungkin dahulu, mereka dengan mudahnya memanjat tanpa ketakutan, karena sudah terbiasa. Bagi kami, kami harus memikir berkali-kali bagaimana naik dan turunnya dengan segala risikonya.

Sudah setengah hari kami mencari. Di tepi sungai kami melepas lelah, dan lapar sembari membuka bekal. Mungkin ini makanan paling nikmat bagi kami saat itu, karena memang tidak ada pilihan lain. Belum rasanya nasi ini turun, kami harus segera bergegas.

petak gua
Mendaki dinding terjal, demi mencari hotel bintang lima.

Langkah kaki kami semakin berat. Tetiba kami dihadapkan pada sebuah dinding batu gamping yang terjal. Sekilas melihat ada celah kecil untuk dipanjat. Kami merayap di dinding batu kapur tersebut. Benar saja, kami menemukan sebuah ceruk raksasa.

Sebuah ceruk yang kering, dengan diamter sekitar 15 meter dan tinggi 20 meter. Di dalam ceruk tersebut terdapat ruang-ruang kecil. Ceruk ini rasanya seperti lobi hotel bintang lima, lengkap dengan kamar-kamar presiden suitnya.

Tanah yang kami injak kering, di dekat situ ada air. “Plakk” suara tepukan tangan dari Mas Sigit sembari bilang “klop“. Dengan sekop kecil dia mengorek-orek tanah, tak berselang lama dia seperti Issac Newton menemukan gravitasi “eureka“.

Batu Obsidian

Dia menemukan serpihan-serpihan batu kaca. Obsidan katanya sedikit kencang. Benar, batu obsidian menjadi indikator peninggalan masa lalu. Batu tersebut dibelah setipis mungkin dan digunakan sebagai pisau. Tajamnya seberapa? Jangan tanya. Tangan saya pernah robek kena pecahan batu tersebut. Konon tajamnya melebihi pisau bedah.

petak obsidian
Batu obsidian masa lalu.

Tidak hanya satu atau dua obsidian yang kami temukan, namun lebih dari sepuluh. “Stop jangan banyak-banyak, sisanya buat bahan penelitian. Di tempat ini bisa melahirkan sarjana arkeologi, master, doktor, bisa juga profesor” kata mas Sigit dan kami menghentikan korek-korek tanah tersebut.

Hari ini, setidaknya kami sudah menemukan satu puzzle nirleka di tempat layaknya hotel bintang lima. Menunggu waktu, para ahli akan memerdalam untuk mencari bukti-bukti pendukungnya. Kita tunggu saja, cerita dari mereka.

Mengintip Tukang Gali Tulang

Gua sebagai hunian masa lalu.

Hujan yang turun dengan lebatnya, membuat saat malah bisa berfantasi liar. Di mulut gua, saya membayangkan waktu ini mundur 50 ribu tahun silam. Saya berdiri di mulut gua, dan rekan-rekan saya sedang meramu makanan. Nyalam api yang tak boleh pada menjadi satu-satunya penerang, penghangat badan, dan media untuk memasak makanan. Imajinasi saya menjadi manusia awal yang tinggal di Nusantara.

Gua Rumah Masa Lalu

Lamunan saya buyar manakala hujan reda dan langit kembali terang benderang. Saya baru tersadar, mengapa manusia purba memilih gua sebagai tempat tinggal. Benar, mereka tidak perlu membangun rumah dan cukup tinggal di lorong goa yang remang.

Sebelum saya sampai mulut gua, sumpah serapah keluar gegara masuk ke mulut gua yang terjal. “Ini manusia kenapa tinggal di tempat yang sulit seperti ini, enakan tinggal di bawah dekat dengan sungai”. Baru saja saya turun dari gua dan saat menuju sungai “barusan terjadi banjir, manusia masa lalu ternyata lebih pintar dan arif daripada saya”.

Arkeolog

Namun yang ingin saya ceritakan adalah, bagaimana saya bisa bercerita ini. Berkat para penggali tulanglah saya paham tentang apa yang terjadi pada masalalu, ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Saya sangat beruntung diajak menjadi barisan penggali tulang, dan merekalah para arkeologh.

Lukisan dinding gua.

Dinding gua yang sepi, menjadi saksi bisu tentang masa lalu. Lukisan dinding gua bisa saja bercerita banyak tentang waktu itu lewat goresan oker di dinding gua. Namun, dibalik kebisuan itu ternyata ada kotak hitam yang menyimpan rekaman ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu.

Lapisan tanah pelan-pelan disingkap dengan menggunakan kuas. Jika ada benda keras barulah mereka memakin pengorek dari logam, lalu di kuas lagi. Mereka menyingkap lapisan tanah demi lapisan. Setiap temuan sekecil apapun, baik tulang, batuan, atau fosil harus tercatat dan terpetakan dengan baik.

Benda Temuan

Fosil menjadi salah satu masterpiece jika ditemukan, artinya barang tersebut berusia ribuan bahkan ratusan juta tahun yang lalu. Tulang, bisa menjadi indikator waktu puluhan, ratusan, dan ribuan tahun yang lalu. Batu, bisa menjadi keduanya tergantung bentuk, ukuran, dan kegunaanya.

Tulang temuan yang bisa menyingkap masa lalu.

Saya memerhatikan para penggali tulang, baru dapat satu lapisan tanah saya sudah nyerah. Mereka masih asyik bahkan semkain antusias, sebab setiap temuan adalah jawaban dari pertanyaan mereka. Semakin banyak temua maka jawaban semakin akurat. Temuan aka mereka masukan dalam plastik lalu diberi label.

Sudah sinting ini orang, kemana-mana bawa tulang dan batu. Arkeologi sebagai salah satu ranah ilmu yang jauh dari gemerlap dan pesta pora para ilmuwan. Mereka bekerja jauh dari keramaian, nyaris kesepaian. Namun di balik kesepian, mereka sebenarnya sedang berdialektika dengan memutar waktu ribuan tahun ke belakang.

Baru saja sampai di kemah dasar. Saat orang seperti saya merebahkan badana, para pencari tulang itu sibuk mencari air. Mereka sedang tidak mandi, sebab sebelum temuan dimandikan/dicuci mereka belum mandi. Sepertinya mereka lebih sayang temuannya bau badan dari pada badannya sendiri. Namun, yang dimaksud adalah, setiap temuan harus segera diamankan dan secepatnya dianalisis guna menentukan esok bertanya tentang apa?

Para arkeolog bekerja siang malam dalam keheningan,

Malam semakin laru. Saat arloji menunjukkan pergantian hari, saya melirik ke kemah belakang. Nyala lampu kepala masih terang benderang menerangi jemari meraka yang sedang melihat dan memutar-mutar temuan. Setiap temuan haru didokumentasikan, dicatat, dan segera dipilah-pilah.

Tidak mudah mengidentifikasi setiap temuan. Bayangkan, sepotong tulang yang orang awam tidak paham itu tulang apa. Mereka bisa menebak ini tulang hewan ini dan tulang bagian ini berikut nama ilmiahnya. Gila, saya mereka ini luar biasa. Baru tulang, sedangkan batuan beraneka macam mereka juga bisa mengidentifikasi, berikut juga batu tersebut sudah berubah komposisinya.

Satu lagi yang membuat saya tak habis pikir. Sebilah batu, bisa menceritakan batu ini dibuat untuk apa, ditemukan dimana, bagaimana membuatnya. Contoh saja, serpihan obsidian. batu ini dipakai sebagai pisau yang sangat-sangat tajam pada masa lalu. Bahkan, konon ada yang mengatakan, serpih obsidian lebih tajam dari pisau bedah untuk operasi. Gila, saya kembali berguman. Dengan sebilah batu, para penggali tulang bisa bercerita sampai pagi.

TIm yang solid untuk pekerjaan yang berat.

3 minggu saya menahan diri agar tidak keluar dari barisan penggali tulang. Saya banyak belajar dari meraka arti kesabaran demi menguak masa lalu. Saya diajarkan berimajinasi liar dengan melihat setiap temuan. Saya belajar bagaimana mencari jawaban masa lalu, lewat repihan-repihan kotak hitam yang ditinggalkan nenek moyang. Mereka bisa bercerita banyak, saya hanya berkisah tentang mereka.

Gua Celau Petak, Lorong Penghubung 2 Desa

Ornamen Gua Celau Petak,

Saya teringat klub sepak bola Wild Boars asal Thailand. 12 pemain dan seorang pelatih terjebak selama 17 hari di dalam gua, gegara terperangkap banjir. Sesaat sebelum memasuki gua saya melihat langit nampak mendung dan membayangkan panjang lorong gua sejauh 1,67 km. Celau Petak, begitu nama gua yang akan saya masuki dan merupakan yang terpanjang di Kars Bukit Bulan-Jambi.

Menuju Celau Petak

Berjalan menyusuri jalan setapak. Di kanan dan kiri yang terlihat hamparan sawah yang menghijau. Jauh di sana beberapa bukit gamping beridiri dengan kokoh berbalutkan hutan rimba dengan kanopi yang lebat. Suara primata bersahut-sahutan menjadi perpaduan musik alam. Saya berjalan paling belakang sembari mengekor pemandu gua yang berasal dari penduduk sekitar.

Hampir 1 jam kami berjalan dari Dusun Dalam, Desa Melingtang di Sarolangun Jambi. Tujuan kami kali ini adalah menyambangi sebuah gua yang berada di Celau Petak atau bukit peta, dan nama gua juga memiliki nama yang sama. Gua Celau Petak, demikian nama gua yang terpanjang di Kars Bukit Bulan.

Gua Sebagai Jalur Tradisional

Sampai saat ini, Gua Celau Petak masih digunakan sebagai jalur tradisional untuk menuju dan dari Dusun dalam dan Desa Sungai Baduri. Jalan penghubung menuju desa tersebut sejauh hampir 3 km, dengan mengelilingi bukit. Dengan menerobos celah bukit dengan melewati lorong gua hanya sejauh 1,67 km. Sampai saat ini lorong gua masih sering dilewati untuk menjadi penghubung 2 desa.

Suasana di dalam Gua Celau Petak,.

Dengan mengenakan senter kepala saya mengikuti langkah kaki Pak Irawan yang menjadi pemandu saya. Begitu mengenalnya jalan ini, pak Irawan berjalan begitu lugasnya, sedangkan kaki saya masih tergagap-gapak, kadang kepleset kadang tersandung.

Sungai kecil melintas tepat di tengah-tengah lorong gua. Bersiap untuk membasahi sepatu, kecuali mengenakan sepatu boot. Dalam zona gelap abadi, nampak gemuruh kepak sayap kelelawar yang terusik dengan kehadiran kami, terlebih cahaya dari senter kepala. Jika kita sedang sial, makan bersiap menerima kado dari mamalia terbang ini yang sedang membuang goanonya.

30 menit kami berjalan, sampailah di sebuah lorang besar dan tinggi/chamber. Lorong tersebut terdapat sebuat lubang kecil mengarah ke luar. Di titik inilah terdapat penanda batas desa. Jauh di belakang adalah Desa Napal melintang, sedang di depan sana adalah Desa Sungai Beduri. Tidak ada aneh jika lorong penghubung kedua desa ini terdapat pal batas desa.

Sungai kecil di tengah lorong gua.

Di depan napak cahaya remang-remang menjadi pertanda pintu keluar gua sudah dekat. 1,67 jalan desa sudah saya lalui dan kini sudah sampai di mulut gua di Desa Sungai Baduri. Pintu gua yang jauh lebih bagus, kerena sudah dibuat bangunan permanen, namun tidak terawat. Timbunan seresah memenuhi permukaan lantai menjadi kesan jika tempat ini jarang dikunjungi.

Akses yang sulit dan tiada saran prasarana yang memadai menjadi alasan mengapa tempat ini tidak pernah disambangi. Potensi wisata, terlebih wisata minat kusus yang sebenarnya menjanjikan. Namun tiadanya faktor pendukung menjadikan tempat yang menarik ini nyaris tidak memiliki daya tarik, terlebih nilai ekonomis.

Pintu dari Desa Sungai Beduri.

Saya harus kembali lagi masuk gua untuk kembali ke Dusun Dalam. Dalam benak ini, sangat disayangkan potensi alam ini jika tidak dimaksimalkan. Ah yang pasti, hari ini hujan tak kunjung datang dan saya dan teman-teman tidak menjadi bahan berita.

Berpeluh di Gua Rana Sepuluh

Memetakan lorong gua.

Dulu gua-gua di sini jadi rebutan dan akhirnya di lelang untuk dipanen sarang waletnya. Tahun 84 saya harus rela kehilangan sodara saya yang terjatuh dan meninggak di tempat gara-gara memanjat dinding gua untuk mengambil sarang walet“. Sepenggal kisah Pak Irawan (65 tahun) mengenang masa lalunya saat masih berkutat dengan gua. Seiring tubuh yang tak muda lagi, kini dia cukup memelihara ikan di kolam sembari menikmati masa tuanya.

Gua Rana Sepuluh

Hari ini saya kembali ditemani dengan Ciu Pek Tong begitu saya menyebut nama seorang warga yang menjadi pemandu gua saya-Pak Irawan tepatnya. Kami menyebutnya dengan bocah tua nakal, bagaimana tidak di usianya saat ini yang berkepala 6 tak kalah gesit dengan kami yang masih muda. Urusan masuk gua, dia mendapat predikat sebagai macan gua, karena benar-benar menguasai seluk beluk gua.

Pertemuan singkat kami membuat kami langsung akrab dengan sosok yang selelu mengepulkan asap setiap saat. Sosok yang humoris, namun kadang membuat kami miris karena pengambilan jalur di gua yang nyaris menyerempet garih hidup dan mati. Hari itu saya merasakan garis-garis tipis dimana saat harus masuk ke Gua Rana Sepuluh.

Sabana di Celau Tengah.

Berjalan menyusuri savana di Kars Bukit Bulan saya melihat sisi kiri adalah Celau Tengah. Bukit gamping yang akan kami tuju terdapat sebuah gua yang membuat kami penasaran. Bagaimana tidak, untuk masuk ke lorongnya harus bertaruh nyawa. Harus memanjat sekitar 12-15 meter dan hanya berpegangan pada celah-celah batu.

Pintu masuk gua Rana Sepuluh.

Mendekati pintu masuk yang di atas sana saya nampak ragu. Bisa atau tidak, itu yang terbesit dalam benak saya. Bocah tua nakal hanya melirik “ayo mas, hati-hati ya” katanya sembari dia menjejakan sepatu bootnya pada celak batu dan tanganya meraba-raba tonjolan batu. Belum sempat saya melihat dan menghafal rutenya, dia sudah nangkring di atas sembari mengepulkan asap rokoknya.

Orang kedua yang memanjat adalah Mas Andi. Sepertinya dia juga masih meraba-raba untuk mencari pegangan dan pijakan. Beberapa menit dia sampai juga di atas sembari memegang lututnya. Kini giliran saya. Jika takut ketinggian “jangan lihat ke bawah” pesan pribadi buat saya.

Kaki kanan menyelip pada celat batu, tangan kiri memegang akar akar Ficus benjamina. Tangan kanan kemudian mencari tonjolan batu yang sudah penuh dengan lumut dan licin, apa daya itu satu-satunya jalan. Secara bergantian saya merayapi dinding kapur tersebut. Sesekali saya melirik ke bawah dan benar-benar tinggi.

Yang penting naik dulu, perkara turun nanti dulu. Sampai juga di lorang gua yang langsung masuk dalam lorong horisontal. Zona terang hanya di mulut gua, lalu Zona remang yang hanya beberapa meter, setalah ada tikungan zona kegelapan total.

Saya berjalan dalam kelakuan bodoh saya. Head lamp atau senter tidak terbawa. Saya hanya mengekor laju Bocah Tua Nakal, begitu kaki terantuk batu saya beru sadar “senter ponsel”.

Lorong di Gua Rana Sepulu memiliki panjang sekitar 250 m dangan lorong-lorong kecil. Di dalamnya terdapat stalagtit dan stalagmit yang sudah mati, karena kondisinya kering tidak bertumbuh lagi. Lorong yang sempit acapkali membuat kelalawar yang terbang dekat sekali dengan badan kami.

Lorong utama rana sepuluh.

Sampailah kami di lorong utama. Sebuah pilar besar berada di pinggir lalu ada ruangan selebar 20 meter dengan tinggi sekitar 15 m. Di atas ratusan kelelawar berterbangan karena kedatangan kami. Segera kami mengeluarkan alat kami untuk membuat denah gua.

Pemetaan Gua

Denah gua yang kami buat nantinya bisa menjadi acuan jika suatu saat gua ini hendak diekplorasi, baik untuk pendidikan atau wisata. Denah gua memuat bentuk dimensi bagi ukuran lorong, bentuk lorong, ornamen gua, dan stratifikasi batuannya. Bukan perkara mudah untuk memetakan gua, karen harus ditunjang dengan kemampuan menghitung dan mengintrepetasikan bentuk gua.

Untuk memetakan gua diperlukan alat bantu ukur, bisa menggunakan mistar atau yang paling modern adalah laser pengukur. Yang kedua adalah dibutuhkan patokan orang atau benda sebagai titik penjuru. Yang perlu diperhatikan selain panjang dan lebar gua adalah arah gua dan kemiringan gua. Diperlukan kompas sebagai penunjuk arah dan klinometer untuk menghitung sudut kemiringan lorong gua.

Banyak orang yang masuk dan keluar gua dan menganggap sebagai petualangan, tetapi tidak banyak yang menggambar dan memetakan gua. Banyak orang mendaki gunung, tetapi hanya beberapa saja yang memetakan jalur pendakiannya. Inilah mengapa, membuat peta itu kadang susah dan memakan waktu sekaligus membutuhkan otak yang sedikit encer.

Kembali memandangi kegelapan total sesekali harus pindah ke sudut-sudut lorong. Kepulan asap rokok Pak Irawan yang mampu mengusir serangga-serangga kecil yang berterbangan namun membuat udara cukup pengap untuk lorong yang sempit. Saya hanya mengumpat “Ciu Pek Tong rokoknya nanti di luar”.

Turun dari Gua Rana Sepuluh.

Satu dari sekian banyak yang berhasil kami petakan. Nanti lain waktu saya kisahkan saat saya harus menjelajahi gua yang panjangnya 1,6 km dengan ada sungai kecil dibawahnya. Saat itu sedang ada hujan rintik, pikiran saya pada kasus 11 anak-anak dan pelatih sepak bolanya yang terjebak dalam gua. Bagaimana kisahnya… segera.

 

Para Penyintas di Kegelapan Abadi

Jangkrik goa yang antenanya 4-5 kali panjang tubuhnya.

Herbert Spencer pernah mengatakan “survival of the fittest“. Siapa yang bisa menyesuikan dirilah yang bisa bertahan hidup. Matahari adalah satu-satunya sumber energi yang mampu menggerakan kehidupan. Bagaimana jika suatu tempat tanpa ketiadaan matahari, dimana tempat tersebut adalah kegelapan abadi, adakah yang mampu hidup. Ada, jawabnya.

Kars Bentang Alam Unik

Kars adalah sebuah bentang alam yang unik. Dasar lautan yang terangkat sekitar 200 juta tahun yang lalu. Terangkatnya dasar lautan ini menciptakan bentang alam baru. Oleh alam, kars ini diukir menjadi labirin-labiran yang dialiri air yang lama-lama menjadi besar dan kita menyebutnya dengan gua.

Kars Bukit bulan sebagai gugusan bukit-bukit gamping memiliki puluhan gua. Lorong-lorong goa di sana masih banyak yang belum dijamah dan dipelajari. Pada kesempatan ini saya mengikuti ekspedisi penelitian untuk melihat kehidupan di dalam goa tengah Bukit Barisan-Jambi.

Lorong kegelapan abadi di salah satu goa di Kars Bukit Bulan.

Gua adalah sebuah lorong akibat bentukan alam. Di dalam goa dibagi menjadi 3 zona. Zona pertama adalah zona terang, dimana matahari masih bisa menyinari meskipun tidak sepenuh hari. Zona ini ada di mulut goa. Zona kedua adalah remang-remang, dimana cahaya masih bisa masuk namun sangat lemah. Zona ketiga adalah zona gelap. Zona ini adalah kegelapan abadi dan tidak ada sama sekali cahaya.

Fauna Gua

Selama proses pembentukan gua, ikut serta hewan-hewan yang sengaja masuk atau tidak sengaja terperangkap. Kembali pada dogma evolusi yakni adaptasi. Siapa yang lolos dari tekanan lingkungan dialah yang hidup.

Secara definitif ada 3 jenis fauna gua. Trogloxene, adalah fauna yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal tetapi dalam waktu tertentu akan keluar mancari makan, contohnya; kelelawar, seriti, walet, dan ular. Troglophile, fauna yang menghabiskan hidupnya di dalam gua, tetapi tidak tergantung pada gua. Yang ketiga adalah troglobites yakni fauna yang seluruh hidupnya tergantung pada gua dan berada di dalam gua.

Fauna goa adalah organisme yang eksotis. Mereka telah beradaptasi dengan memodifikasi dan mereduksi tubuhnya agar mampui hidup di dalam gua. Gua dengan zona gelap total, maka mata tidak lagi memiliki fungsi sehingga direduksi dan bahkan banyak yang buta. Mereka mengandalkan indera peraba berupa antena atau memerpanjang kaki depan. Tidak adanya cahaya juga membuat tubuh mereka kehilangan pigmen sehingga meraka menjadi albino, meskipun tidak semuanya demikian.

Adaptasi yang luar biasa bagi mahluk penyintas di dalam kegelapan abadi. Tidak adanya aktivitas yang banyak mereka melambatkan diri dengan memelankan metabolismenya. Mungkin hanya kelelawar, saja yang masih gesit gerakannya karena mengandalkan sonar. Ular mengandalkan sensor panas. Seriti dan walet teradaptasi dengan zona remang.

Sedang menangkap serangga gua.

Saya mencoba melangkah di dalam zona kegelapan abadi. Lampu kepala menuntun saya berjalan di atas tumpukan goano yang lembek. Sesekali kotoran kelelawar jatuh di badan saya. Saya menjadi tamu bagi hewan-hewan yang telah lolos dari seleksi alam ini.

Kelawar yang terbang dalam kegelapan dan tidak pernah bertabrakan.

Saya mencoba ingin merasakan sensasi kegelapan abadi. Telinga saya masih bisa merasakan kepak sayap kelelawar. Tetiba tangan saya menghentak karena ada hewan yang sengaja tersentuh. Klik, senter kepala saya nyalakah. Ternyata hanya jangkrik gua (Rhapidophora sp).

Sepintas melihat jangkrik di sini sangat unik. Antenanya 4-5 kali lebih panjang dari tubuhnya. Inilah salah satu wujud evolusi, dimana hanya indera peraba yang berfungsi. Bayangkan saja, jangkrik ini hidup di luar sana. Pasti sudah nyangkut antenanya di semak-semak.

Kaki seribu gua.

Beberapa hewan gua yang saya temui adalah beragam jenis laba-laba’ Charon sp., Heteropoda beroni, Heteropoda maxima. Kaki mereka memanjang dan tidak lagi membuat jaring-jaring karena tidak ada serangga yang terbang. Ada juga kaki seribu yang berwarna putih, demikian saya menyebutnya, tetapi zoolog menyebutnya dengan Hypocambala sp.

Sampel fauna gua untuk dipelajari.

Puas sepertinya melihat alam berkreasi untuk menciptakan spesies-spesies unik yang mampu hidup di dalam kegelapan abadi. Masih ada satu lagi spesies yang belum saya ketahui dan saat ini masih saya pelajari. Spesies ini tidak kalah unik, karena hanya di temuka di sini. Nantikan tulisan berikutnya.

Para Pencari Tahu di Gua Mesiu

Chamber Gua Mesiu.

200 juta tahun yang lalu tempat ini adalah dasar lautan. Pada waktu itu, hewan-hewan karang berkumpul menjadi terumbu. Pada suatu waktu hantaman hebat antar lempeng bumi mengangkat ekosistem ini menjadi daratan. Tenaga tektonik yang luar biasa dan menjadikan tempat ini menjadi perbukitan, maka berdirilah tumpukan batuan gamping yang diberi nama Bukit Raja.

Kars Bukit Bulan

Masih di Bukit Bulan, Jambi. Pagi ini saat kantuk masih begitu terasa dan hawa dingin belum juga berlalu, kami harus bangun pagi. Kaki saya melangkah malas menuju tepian Sungai Limun yang menyeruakan hawa dingin. Tangan ini mencoba menggapai permukaan air, menampungnya lalu mengusap pada wajah. Segera mata ini melihat dunia. Hari ini cukup diawali dengan cuci muka.

Celana lapangan, kaos lengan panjang, kaus kaki tebal dan sepatu boot menjadi seragam lapangan kami. Hari ini, kami segerombolan peneliti hendak menuju Bukit Raja. Bukit raja adalah salah satu bukit di kawasan kars Bukit Bulan. Bukit Raja di pilih karena bukit paling tinggi dan luas untuk dijadikan obyek penelitian.

Usai sarapan pagi, penduduk Dusun Napal Melintang sudah menunggu di tepi jalan. Mereka adalah orang-orang lokal yang akan membantu penelitian kami. Mereka akan menjadi pemandu selama perjalanan kami dan menjadi orang yang menguasai daerah penelitian kami. Tanpa mereka, apalah kami yang tidak mengerti apa-apa.

Goa Mesiu

Kami berjalan beriringan melewati jalan setapak. Kebun, sahah, ladang, dan hutan adalah jalan yang harus kami tempuh. Tujuan kami pertama adalah mulut Gua Mesiu. Gua ini adalah satu dari puluhan gua di kars bukit bulan. Gua mesiu dipilih, karena menjadi salah satu sampel penilitian kami yang masih terjaga kondisinya.

Perjalanan menuju Gua Mesiu, nampak bukit gampin yang diberinama Bukit Raja.

Jarak dari Dusun Napal Melintang menuju Gua Mesiu berjarak sekitar 2,3 km dengan waktu tempuh 45 menit perjalanan. Jalan setapak yang kami lalui tidaklah mudah, karena konturnya yang naik turun. Bagi warga disini sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Bagi pendatang baru seperti kami, cukup menguras nafas dan tenaga.

Akhirnya setelah 3 tanjakan dan 4 turunan sampailah kami di tepi sungai Katari. Sungai kecil dengan air yang jernih, dan ikan-ikan yang berenang bersliweran nampak kaget dengan kedatangan kami. Sepatu boot kami segera menghujam permukaan sungai dan kami berjalan sepanjang aliran sungai.

Mulut Gua Mesiu.

Mulut Gua Mesiu masih sekitar 50-an meter di atas kami. Kami harus masuk semak belukar dan membuat jalan setapak. Kami harus ekstra hati-hati, salah memegang tumbuhan kami bisa kena batunya. Yang cukup ditakuti ditempat ini adalah tanaman jelatang dan jelatang bulan. Jika terkena bulu dari daun ini akan menimbulkan rasa gatal dan terbakar. Suatu saat dari perjalanan ini saya merasakan betapa sakitnya daun ini.

Para Peneliti

Setelah berjuang mendaki, akhirnya kami sampai. Keringat yang mengucur segera berubah menjadi air yang dingin. Di luar sana, suhu mencapai 32 derajat celcius. Begitu masuk Gua, suhu turun drasti hingga mencapai 21 derajat celcius. Tidak terbayangkan bukan, betapa nyamannya goa ini dengan pendingin alami. Entah bagaimana lorong-lorong goa ini menciptakan mikroklimatnya sendiri.

Suasana di dalam Goa Mesiu.

Setelah sesaat mengembalikan energi, saya mencoba mengikuti Mas Andi. Dia adalah pakar geologi dan menekuni dunia speologi/ilmu goa. Dengan senter kepala yang ditempelkan di ujung helm kami masuk lorong-lorong goa. Sebuah bangunan besar dengan atap tunggi/chamber ada di depan kami. Ratusan kelelawar nampak kaget dengan kedatangan kami yang membawa cahaya. Serempak mamalia bersayap ini menghamburkan diri dari dinding hinggapnya.

Saya tidak berlama-lama di dalam gua. Saya segera menunaikan tugas saya untuk memelajari vegetasi yang ada di depan mulut gua. Seluruh tanaman akan saya catat dan identifikasi. Saya dibantu oleh beberapa penduduk lokal yang memahami kayu dan tumbuhan di sini. Nama-nama lokal tumbuhan disini saya catat, begitu juga dengan ciri dan manfaatnya dan kemudian untuk dipelajari.

Jelatang bulan, momok menakutkan sepanjang perjalanan.

Di sisi lain, saya melirik teman-teman lain bekerja dengan ilmunya masing-masing. Orang geologi nampak riang dengan palu yang menghantam permukaan batuan, orang antropologi bercengkrama dengan penduduk lokal, para arkeolog memainkan kuas dan kaca pembesar untuk mencari benda dari antah berantah.

Di sini semua cabang ilmu berkolaborasi untuk menciptakan data besar. Untuk menjawab pertanyaan tentang masa lalu, yang dipelajari masa kini untuk masa depan. Di sini kami bekerja dalam keheningan, hanya deru nafas yang terdengar dan kucuran teringat yang terasa, yang pasti hati, tubuh, dan jiwa kami hadir di sini untuk ilmu pengetahuan.