Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng Bukit Bulan

ketaping lorong gua 2
Chamber Gua Sungai Ketaping.

Antara takut dan geli, maka saya memutuskan untuk mencabut gigitan lintah yang sudah gendut dari pangkal kaki saya. Darah segar mengucur usai si lintah dipaksa menuntaskan hisapannya. Tidak hanya satu atau dua gigitan, sore ini setidaknya ada empat luka gigitan pacet. Inilah salah satu risiko menyusuri aliran sungai yang berhulu di gua. Hari ini kami menyurui Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng di Bukit Bulan Jambi.

Gua Sungai Ketaping

Gua Sungai Ketaping, demikian nama gua yang memiliki resurgrance atau sungai yang keluar dari gua. Nama sungai ketaping, kemungkinan secara topinimi berasal dari sungai dan pohon ketaping/ketapang (Terminalia catappa) yang banyak di sepanjang sungai. Hari ini saya bersama tim yang dipandu penduduk lokal hendak menyusuri gua yang memuntahkan air jernih yang bertemu di aliran Sungai Ketari Kecil.

Bukan hal yang susah sebenarnya untuk menemukan gua ini. Cukup menyusuri sungai Ketari Kecil sampai hulu. Namun, yang menjadi kengerian adalah sepanjang sungai tersebut adalah habitat lintah penghisap darah. Dengan mengenakan sepatu boot dan pakaian lengan panjang, berharap tidak ada celah bagi si lintah untuk menggapai kulit tubuh kami.

Perjalan menuju Gua Sungai Ketaping dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalan dari Desa Napal Melintang. Benar saja sepanjang perjalanan akan melewati sungai dan lintah tidak hanya ada di darat, namun juga di daun dan ranting-ranting pohon. Ahasil seekor lintah sudah kenyang mengisap darah saya tepat di dagu samping tali pengikat helm.

Mulut Gua Sungai Ketaping cukup sempit. Untuk masuk harus memiringkan badan dan kepala mepet di dinding gua. Di dalam gua terdapat aliran sungai kecil dengan batu-batu kerikil yang telah membulat. Sebuah lorong di sisi kiri gua dengan zona gelap total menarik untuk dijelajahi.

ketaping lorong gua
Lorong gua Sungai Ketaping.

Di dalam lorong gua tersebut, saya merasakan hawa yang sejuk, sepertinya ada aliran udah khas mikroklimat di dalam gua. Di beberapa dinding nampah burung seriti membangun sarang, ada beberapa yang mengerami, dan ada beberapa yang sedang meninggalkan sarang dan telurnya. Beberapa kelelawar juga hilir mudik melintasi tubuh kami tanpa pernah menyenggol ataupun menabrak. Chirikhas penghuni gua dalam bernavigasi.

Di dalam gua ini juga terdapat chamber atau ruangan berukuran besar dengan stalagtit dan stalagmit yang yang menghiasinnya, selebihnya sudah menjadi pilar. Di dalam gua kami hanya sesaat saja, setelah makan siang kami segera beranjak menuju Gua Batu Nyedeng.

Gua Batu Nyedeng

Gua Batu Nyedeng, demikian penduduk lokal memberi nama gua ini yang artinya gua batu miring/NyeDeng. Benar saja, sangat miring. Jangankan batunya, jalan menuju kesana juga benar-benar miring. Dari depan Gua Sungai Ketaping, harus mendaki dengan jalan terjal dengan kemiring 45 derajat, kadang ada yang lebih. Parah lagi, kadang harus memanjat batuan gamping. Benar-benar Nyedeng.

ketaping lorong gua batu nyedeng
Mulut Gua Batu Nyedeng.

Sekitar 1,5 jam kami mendaki dengan perbedaan elevasi sekitar 300 m. Kami berada di salah satu titik tertinggi di Bukit Raja. Habis tenaga kami dan kini dihadapkan pada gua vertikal. Kata Pak Irawan, gua ini dalamnya 6 meter lalu ada teras, lalu turun lagi 10 meter. Bayangan saya sudah yang tidak-tidak, dan tidak ada opsi lain kecuali harus turun.

Saya mengikuti jejak-jejak Pak Irawan yang sudah hafal betul tiap pijakan dan pegangan. “Ngeri-ngeri sedap” kata mas Andi rekan saya yang turun tepat di depan saya. Akhirnya diputuskan “naik saja mas, tanggung guanya buntu dan cuma sekitar 13 meter“. Akhirnya kami naik dengan jalan yang sama dan rasa yang berbeda.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Langkah kaki kami mulai gontai untuk kembali ke base camp di Napal Melintang. Lelah, letih, dan kaki kadang gemetar, namun harus tetap berjalan. Akhirnya kami sampai di pertemuan sungai Ketari Kecil.

ketaping lorong gua vertical
Lorong vertical Gua Batu Nyedeng.

Kami melepas lelah sembari melihat siapa tahu ada lintah yang masih nempel di tubuh kami. Benar saja, beberapa titik sudah terlihat darah yang mengering dan lintah sudah kenyang dan melepaskan diri. Ada satu yang masih tersisa, dia sudah gendut namun masih terus menghisap.