Meneroka Jejak Nirleka di Bukit Bulan

Petak berjalan
Berjalan menyusuri padang rumput di Kaki Bukit Bulan,.

Ini mah hotel bintang 5” kata Mas Sigit sembari membentangkan kedua tangannya di dalam ceruk gua. Dia adalah peneliti dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan, mengerti benar bagaimana wujud hunian masa lalu. Hari ini saya diajak napak tilas pada masa nirleka di Bukit Bulan Jambi.

Tengara Nirleka

Yang saya kurang sukai dari teroka ini adalah saat harus menyebrangi sungai dengan masuk ke badang sungai. Benar saja, baru beberapa langlah masuk Sungai Limun, ada mahluk yang lari terbirit-birit. Tidak bukan adalah seekor ular yang terusik dengan derap langkah kaki kami, yang tetiba kami juga terbirit-birit.

Kami tergabung dalam tim penelitian tentang ekplorasi hunian manusia prasejarah, yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak mudah menemukan keberadaan mereka, terlebih peninggalan mereka. Inilah tantangan yang kami hadapi saat ini di Bukit Bulan-Jambi.

petak bukit
Bukit Celau Petak.

Langkah kaki kami tak seperti manusia purba. Sebagai manusia modern otot dan tenaga kami sudah banyak tereduksi oleh modernisasi, sedangkan alam ini tidak banyak berubah. Medan yang kami hadapi tidak jauh berbeda, namun kami yang berbeda.

Setelah menyebrang sungai, lalu kami masuk dalam hutan dan menuju perbukitan. Bukit ini masuk dalam kawasan Celau Petak, dan kebetulan di sana ada gua Celau Petak, salah satu gua terpanjang di Bukit Bulan.

Tujuan kami adalah mencari ceruk-ceruk gua yang disinyalir menjadi tempat hunian manusia purba. Setiap ceruk kami periksa, kami korek-korek, kami amati dinding-dindingnya. Kami berharap menemukan satu lukisan dinding, atau goresan, tulang belulang, dan kalau beruntung dapat peninggalannya.

Tidak mudah mendapatkan keberuntungan menemukan hunian manusia purba. Kami hanya mengantongi informasi berdasarkan logika, orang jaman dahulu tinggalnya dimana. Orang pasti ingin tinggal ditempat yang aman, terlindungi, kering, dekat sumber air, mudah dijangkau. Penciri itulah yang kami pegang, guna mencari tempat seperti itu.

Hotel Bintang Lima

Kami berjalan dari gua ke gua. Kami menyambangi tiap ceruk, meskipun kadang harus memanjat di ketinggian dengan resiko terjatuh. Mungkin dahulu, mereka dengan mudahnya memanjat tanpa ketakutan, karena sudah terbiasa. Bagi kami, kami harus memikir berkali-kali bagaimana naik dan turunnya dengan segala risikonya.

Sudah setengah hari kami mencari. Di tepi sungai kami melepas lelah, dan lapar sembari membuka bekal. Mungkin ini makanan paling nikmat bagi kami saat itu, karena memang tidak ada pilihan lain. Belum rasanya nasi ini turun, kami harus segera bergegas.

petak gua
Mendaki dinding terjal, demi mencari hotel bintang lima.

Langkah kaki kami semakin berat. Tetiba kami dihadapkan pada sebuah dinding batu gamping yang terjal. Sekilas melihat ada celah kecil untuk dipanjat. Kami merayap di dinding batu kapur tersebut. Benar saja, kami menemukan sebuah ceruk raksasa.

Sebuah ceruk yang kering, dengan diamter sekitar 15 meter dan tinggi 20 meter. Di dalam ceruk tersebut terdapat ruang-ruang kecil. Ceruk ini rasanya seperti lobi hotel bintang lima, lengkap dengan kamar-kamar presiden suitnya.

Tanah yang kami injak kering, di dekat situ ada air. “Plakk” suara tepukan tangan dari Mas Sigit sembari bilang “klop“. Dengan sekop kecil dia mengorek-orek tanah, tak berselang lama dia seperti Issac Newton menemukan gravitasi “eureka“.

Batu Obsidian

Dia menemukan serpihan-serpihan batu kaca. Obsidan katanya sedikit kencang. Benar, batu obsidian menjadi indikator peninggalan masa lalu. Batu tersebut dibelah setipis mungkin dan digunakan sebagai pisau. Tajamnya seberapa? Jangan tanya. Tangan saya pernah robek kena pecahan batu tersebut. Konon tajamnya melebihi pisau bedah.

petak obsidian
Batu obsidian masa lalu.

Tidak hanya satu atau dua obsidian yang kami temukan, namun lebih dari sepuluh. “Stop jangan banyak-banyak, sisanya buat bahan penelitian. Di tempat ini bisa melahirkan sarjana arkeologi, master, doktor, bisa juga profesor” kata mas Sigit dan kami menghentikan korek-korek tanah tersebut.

Hari ini, setidaknya kami sudah menemukan satu puzzle nirleka di tempat layaknya hotel bintang lima. Menunggu waktu, para ahli akan memerdalam untuk mencari bukti-bukti pendukungnya. Kita tunggu saja, cerita dari mereka.

Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng Bukit Bulan

ketaping lorong gua 2
Chamber Gua Sungai Ketaping.

Antara takut dan geli, maka saya memutuskan untuk mencabut gigitan lintah yang sudah gendut dari pangkal kaki saya. Darah segar mengucur usai si lintah dipaksa menuntaskan hisapannya. Tidak hanya satu atau dua gigitan, sore ini setidaknya ada empat luka gigitan pacet. Inilah salah satu risiko menyusuri aliran sungai yang berhulu di gua. Hari ini kami menyurui Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng di Bukit Bulan Jambi.

Gua Sungai Ketaping

Gua Sungai Ketaping, demikian nama gua yang memiliki resurgrance atau sungai yang keluar dari gua. Nama sungai ketaping, kemungkinan secara topinimi berasal dari sungai dan pohon ketaping/ketapang (Terminalia catappa) yang banyak di sepanjang sungai. Hari ini saya bersama tim yang dipandu penduduk lokal hendak menyusuri gua yang memuntahkan air jernih yang bertemu di aliran Sungai Ketari Kecil.

Bukan hal yang susah sebenarnya untuk menemukan gua ini. Cukup menyusuri sungai Ketari Kecil sampai hulu. Namun, yang menjadi kengerian adalah sepanjang sungai tersebut adalah habitat lintah penghisap darah. Dengan mengenakan sepatu boot dan pakaian lengan panjang, berharap tidak ada celah bagi si lintah untuk menggapai kulit tubuh kami.

Perjalan menuju Gua Sungai Ketaping dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalan dari Desa Napal Melintang. Benar saja sepanjang perjalanan akan melewati sungai dan lintah tidak hanya ada di darat, namun juga di daun dan ranting-ranting pohon. Ahasil seekor lintah sudah kenyang mengisap darah saya tepat di dagu samping tali pengikat helm.

Mulut Gua Sungai Ketaping cukup sempit. Untuk masuk harus memiringkan badan dan kepala mepet di dinding gua. Di dalam gua terdapat aliran sungai kecil dengan batu-batu kerikil yang telah membulat. Sebuah lorong di sisi kiri gua dengan zona gelap total menarik untuk dijelajahi.

ketaping lorong gua
Lorong gua Sungai Ketaping.

Di dalam lorong gua tersebut, saya merasakan hawa yang sejuk, sepertinya ada aliran udah khas mikroklimat di dalam gua. Di beberapa dinding nampah burung seriti membangun sarang, ada beberapa yang mengerami, dan ada beberapa yang sedang meninggalkan sarang dan telurnya. Beberapa kelelawar juga hilir mudik melintasi tubuh kami tanpa pernah menyenggol ataupun menabrak. Chirikhas penghuni gua dalam bernavigasi.

Di dalam gua ini juga terdapat chamber atau ruangan berukuran besar dengan stalagtit dan stalagmit yang yang menghiasinnya, selebihnya sudah menjadi pilar. Di dalam gua kami hanya sesaat saja, setelah makan siang kami segera beranjak menuju Gua Batu Nyedeng.

Gua Batu Nyedeng

Gua Batu Nyedeng, demikian penduduk lokal memberi nama gua ini yang artinya gua batu miring/NyeDeng. Benar saja, sangat miring. Jangankan batunya, jalan menuju kesana juga benar-benar miring. Dari depan Gua Sungai Ketaping, harus mendaki dengan jalan terjal dengan kemiring 45 derajat, kadang ada yang lebih. Parah lagi, kadang harus memanjat batuan gamping. Benar-benar Nyedeng.

ketaping lorong gua batu nyedeng
Mulut Gua Batu Nyedeng.

Sekitar 1,5 jam kami mendaki dengan perbedaan elevasi sekitar 300 m. Kami berada di salah satu titik tertinggi di Bukit Raja. Habis tenaga kami dan kini dihadapkan pada gua vertikal. Kata Pak Irawan, gua ini dalamnya 6 meter lalu ada teras, lalu turun lagi 10 meter. Bayangan saya sudah yang tidak-tidak, dan tidak ada opsi lain kecuali harus turun.

Saya mengikuti jejak-jejak Pak Irawan yang sudah hafal betul tiap pijakan dan pegangan. “Ngeri-ngeri sedap” kata mas Andi rekan saya yang turun tepat di depan saya. Akhirnya diputuskan “naik saja mas, tanggung guanya buntu dan cuma sekitar 13 meter“. Akhirnya kami naik dengan jalan yang sama dan rasa yang berbeda.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Langkah kaki kami mulai gontai untuk kembali ke base camp di Napal Melintang. Lelah, letih, dan kaki kadang gemetar, namun harus tetap berjalan. Akhirnya kami sampai di pertemuan sungai Ketari Kecil.

ketaping lorong gua vertical
Lorong vertical Gua Batu Nyedeng.

Kami melepas lelah sembari melihat siapa tahu ada lintah yang masih nempel di tubuh kami. Benar saja, beberapa titik sudah terlihat darah yang mengering dan lintah sudah kenyang dan melepaskan diri. Ada satu yang masih tersisa, dia sudah gendut namun masih terus menghisap.

Gua Gedang, Potret Kejayaan dan Masa Kelam Bukit Bulan

Kabut pagi di Bukit Bulan.

Rinai hujan di pagi ini masih meninggalkan jejak di dedaunan yang basah kuyup. Kabut pagi di kaki Bukit Bulan masih menyelimuti hutan yang berdiri kokoh di atas bekas batu karang purba. Dari balik jendela saya memandang, “ah pagi ini harus ke Gua gedang“.

Awal Perjalanan

Sepenggal perjalanan di Bukit Bulan, Jambi. Hari ini saya berkisah tentang sebuah penelusuran gua alam yang ada di Kawasan Karst Bukit Bulan, tepatnya di Bukit Raja. Gua Gedang, menjadi tujuan kami. Bukan tanpa alasan memilih gua ini, tetapi ada kejayaan masa lalu yang membuat orang jauh-jauh datang ke situ.

Pak Irawan, yang kini sudah berkepala 6 pagi ini nampak bersemangat mendatangi base camp kami. Beliau adalah warga lokal di Napal Melintang yang dahulunya adalah pencari sarang walet di Kars Bukit Bulan. Puluhan gua, mungkin lebih dari 100 gua beliau hafal di luar kepala. Jangankan jalan menuju mulut gua, setiap jengkal pijakan dan pegangan sudah melekat kuat di ingatannya.

Sehari sebelum perjalanan di sampaikan, “mas jalan ke sana berat, harus pakai tali” katanya. Malamnya saya mengemas peralatan caving/penelusuran gua lengkap. Pagi ini kami berempat sudah bergegas menuju Gua Gedang.

Embun pagi yang belum beranjak tersapu oleh langkah sepatu boot kami. Sayang sepertinya, embun-embun cantik ini terinjak begitu saja dan meninggalkan bekas. Saya yang jalan paling belakang, beberapa saat berhenti dan menarik napas melihat jejak-jejak kaki itu.

Langkah kaki kami berhenti di Sungai Ketari Kecil, lalu segera kami merangsek di hamparan ilalang dan semak setinggi pemain basket Yao Ming. Semua bedan kami terlindungi, kecuali wajah dan leher kami. Garis-garis merah yang dibuat tepi daun Imperata cylindrica menimbulkan rasa perih terlebuh jika kena daun yang basah. Namun, inilah nikmatnya perjalanan.

Saya mengira penderitaan bakalan berakhir, namun luka-luka tersebut hanya sebagai pemanasan saja. Kali ini keluarga Hirudo alias lintah yang siap menyambut kami. Mereka seperti tentara berdiri tegak menghadang kami guna mencari pegangan untuk menempel lalu mencari celah di tubuh kami. Alhasil, kulit kami berhasil dia cumbu dan semula dia nampak kurus ceking seukuran lidi, kini sudah seukuran cabai yang gendut.

Bagitu gemasnya, kami mencabut begitu saja lintah yang sedang asyik menyedot darah. Ahasil, darah segar mengucur lalu segera ditambal dengan plester. Bagi yang sabar akan meneteskan cairan tembakau, sehingga lintah lepas dengan sendirinya. Bagi yang ekstrim akan menyundut pantat lintah dengan korek atau nyala rokok.

Lintah-lintah lapar akhirnya lelah kami hiruakan dan kaki ini ingin segera menerobos hutan. Pak Irawang mulai tengak-tengok, indikasi bahaya buat kami. Mengapa bahaha “Beliau sedang lacak-lacak, atau mengingat jalan dan jika diterjemahkan, dia lupa“. Jika belaiu sampai lupa, alamat cilaka.

Rekatakan-retakan batu gamping yang runcing menjadi jalan kami. Sisi sebelah kanan adalah dinding tebing, sisi kiri adalah jurang sedalam 50 meter. Melipir di tebing, jangan sampai salah fokus dan konsentrasi, atau nanti bisa di evakuasi.

Kejayaan dan Kekelaman

Setalah hampir 4 jam perjalanan, sampai juga kami di mulut Gua Gedang. Saya sebagai orang Jawa, nampak plonga-plongo (melihat kesana kemari dengan tatapan kosong). “Pak mana pohon gedang (pisang) tidak ada cuma paku-pakuan?” tanya saya pada pak Irawan. Toponimi Gua Gedang saya terjemahkan sebagai pisang, mungkin banyak pohon bisang. “Mas Gedang itu artinya luas” kata beliau. “Ah mirip jalan ke Manggis yang tidak ada manggisnya, ada peradun gedang artinya tempat istirahat yang luas” sergah saya dan dia hanya menggerakan hidungnya yang artinya iya.

Pak Irawan sosok pemburu sarang walet.

Sembari istirahat dan mencari sisa-sisa lintah siapa tahu masih asyik menyedot darah kami mendengarkan Pak Irawan bercerita tentang gua ini. “Dulu saya tinggal di Gua ini 3-4 tahun secara bergantian, untuk menjaga sarang walet. Di sini terkenal banyak sarangnya, bahkan dulu kalau panen bisa sampai 4 pikul atau 2 kwintal. Kami banyak uang dulu dari mencari walet, tapi kami juga bingung uang itu untuk apa, kaerna kami tinggal di sini. Akhirnya uang itu lama-lama habis untuk keperluan kami selama menjaga tempat ini”.

Pintu masuk Gua Gedang.

Tatapannya nanar melihat dinding-dinding gua dan seolah membawa dia kembali ke masa lalu, dimana waktunya dihabiskan menjadi manusia gua. Jejak-jejak masa lalu masih terlihat di sini, ada arang bekas tungku, bambu bekas gubug kecil, batu baterey untuk senter, coretan di dinding. Mulut Gua gedang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan kekelaman nasib penjaga gua.

Istana Bawah Tanah

Sarung tangan, helm, headlamp sudah terpakai dan saatnya kita masuk dalam gua. Sebuah ceruk kecil di sisi kiri adalah mulut guanya. Bagi mereka yang berbadan lebar mungkin harus menahan napas dan memipihkan perutnya, mulutnya sangat sempit. Beruntunglah saya, dan langsun bisa bisa masuk. Di dalam ada Mas Andi yang sudah sedia dengan buku primbon gua dan laser distonya. Dia ahlinya tukang gambar gua. Di belakang saya ada Mas Sigit dengan cetok kecil punya tukang bangunan tergenggam erat di tangganya. Dia adalah seorang arkeolog yang ahli tentang sejarah peninggalan masa lalu, tetapi bukan batu baterey dan bambu yang tadi.

Chamber Gua Gedang.

Di dalam gua, saya melihat sebuah chamber atau ruangan yang luas, bulat, dan tinggi. Lebarnya sekitar 14 – 20 meter dan tingginya 16 meter. Seperti kubah di dalam tanah. Kelewawar gua yang merasa terusik dengan kedatangan kami terbang tak beraturan namun tidak saling bertabrakan.

Di pinggir gua terdengan tetesan air, dan saya mencari dimana letaknya sebab pasti ada stalagtit dan stalagmit. Benar saja, nampak dua buah kreasi alam berusia ribuan tahun itu. Ingin rasanya membelai, tetapi itu pantangan buat kami. Kami tidak ingin merusak kreasi alam ini yang masih berproses.

Pulang Lebih Sengsara

Pemetaan gua dan pencarian benda purbakala usai. Saatnya kami berkemas pulang. Saat hendap perjalanan pulang acapkali kami dihadapkan pada pilihan, mau mencari jalan lain atau jalan semula. Tujuan kami adalah eksplorasi, dan biasanya pilihan pertama. Benar saja Pak Irawan paham akan kemauan kami. Berjalanlah beliau di depan. Kakinya nampak lincah berjalan di sela-sela tonjolan batu, sedangkan kami harus meraba.

Stop mas, kita harus hati-hati, di depan ada jurang. Bagimana mau lanjut atau balik kanan. Kalau lanjut ada jalan, tapi berbahaya?“. Kami terjebak di tengah tebing. Mau kembali tanggung, mau lanjut harus berhitung. Akhirnya kami memutuskan “oke pak lanjut, tapi istirahat dulu”.

VIDEO PERJALANAN KE GUA GEDANG

 

Kami istirahat di lereng tebing. Di samping kami menyembul kanopi pohon alias pucuk pohon. artinya di bawah ada batang pohon yang menjulang, bisa dihitung berapa tingginya. Kami membuka bekal makan siang kami. Bersandar di sebuah batang pohon dan segan melihat ke bawah daripada mutah.

Baru separo kami makan “mas saya sudah sampai bawah” teriak pak Irawan. Entah beliau lewat mana, pegangan apa, dan pijakan dimana kami tidak bisa membayangkan. Yang pasti jam terbang dan pengalaman tidak berkata bohong. Kami hanya berani mengumpat dalam hati dan terlihat dari ekspresi cara mengunyah kami.

Oke kita turun pake tali. “Kita repling mas” kata mas Andi. Pengalaman pertama bagi Mas Sigit. Jangkar pengaman kami buat, dan mas Andi turun pertama sembari membuat jalur. Saya orang terakhir yang nanti akan membersihkan peralatan untuk dibawa turun.

Harus rapeling saat harus mencari jalan turun.

Awalnya cukup merinding juga. Bagaimana tidak, ternyata tempat istirahat kami adalah hanging atau menggantung. Bayangkan kalau runtuh. Maka kami sembari makan sembil mengenakan perlengkapan safety. Akhirnya saya menjadi orang terakhir yang turun. Dan sampai bawah terlihat Cu Pe Tong demikian kami memanggil guide kami sedang makan siang dengan lahap.

Sudahlah kita istirahat dulu di sini, nanti kita pulang nyusur sungai, paling sekitar 4 jam perjalanan” katanya sembari mengunyah. Kami saling bertatapan dan sepakat berkata “cu pe tong“.

Gua Terpanjang Pulau Enggano

Berfoto bersama di depan rumah pak Kadun Aji.

Gubraaak… tolong… tolong….
Suasana hening, saya membalik badan dan langsung lari menuju sumber suara. Suara sepatu boot saya “brak bruk brak bruk” menghujam batuan gua. Sesosok tubuh tergeletak, separo badan tercelup di aliran sungai bawah tanah. “Pak mas Andi pingsan” itu yang terlontar. Akhir dari penelusuran gua yang hampir menjadi tragedi kami petang itu, namun Enggano tetaplah memukau.

Dusun Jangkar

Pagi itu pukul 08.00 saya bersama Mas Andi berangkat dari Malakoni. Dengan mengendarai sepeda motor kami berangkat ke Dusun Jangkar yang berjarak sekitar 6 km dari Malakoni. 6 Km bukanlah jarak yang jauh, namun akses jalan yang tidak bagus kadang membuat saya berpikir “enak jalan kaki dari pada naik motor“.

Benar saja, usai jalan beraspal habis saatnya kami masuk jalan tanah dan berbatu. Jalan menanjak hampir 45 derajat dengan batuan kerikil. Saya memutuskan jalan kaki saya demi keamanan. Cukup lumayan menguras tenaga menghabiskan tanjakan tersebut. Tiba di atas tanjakan saya kembali membonceng sepeda motor.

Kali ini jalan tanah berlumpur yang kami lewati. Jalan ini kami sebut sebagai jalur tamiya, bagaimana tidak kami harus menyusuri lubang bekas roda yang memanjang. Kami memikuti alur dan beberapa kali harus selop karena lumpur tebal. Sesekali sepeda motor menyangkut karena blok mesin kandas dan roda tidak menapak. Alhasil kami harus mengangkat sepeda motor dan mendorongnya.

Entah berapa kali sepeda motor mogok dan celakanya susah sekali menyalakan kembali mesinnya. Pikiran kami sudah hendak membuang dan meninggalkan sepeda motor ini dan lebih baik jalan kaki saja. Setelah mesin sedikit turun suhunya, kami kembali menarik tuas gas dan menjelajan jalanan jahaman ini.

Pondok warga Dusun Jangkar.

Beberapa pondok kecil berdiri di sudut-sudut ladang milik para transmigran. Panel surya mencuat di atap dari seng yang menjadi penyimpan energi yang akan digunakan saat malam tiba atau sekedar mencatu telepon selular.

Hampir 45 menit kami berjibaku dengan jalur tamiya dan akhirnya kami sampai dirumah pak kadun (kepala dusun) Aji. Dia menyambut kedatangan kami dan sepertinya dia sudah siap, karena sehari sebelumnya kami sudah ke rumahnya untuk merencanakan perjalanan hari ini.

Perlengkapan Caving

Kami hari ini hendak menyusuri salah satu gua terpanjang di Pulau Enggano. Ada yang mengatakan ini adalah gua Dopaam ada yang mengatakan gua Ceem. Nama gua ini didasarkan pada pintu masuknya, padalah begitu sampai di dalam gua banyak sekali lorong-lorong gua yang saling terhubung dan memiliki pintu masuk dan keluarnya sendiri-sendiri. Ada banyak gua di sekitar dusun Jangkar dan guat tersebut yang akan kami telusuri/caving.

Misi kami adalah ingin mengeplorasi gua sekaligus memetakan gua. Ekplorasi bertujuan untuk mencatat semuan informasi yang ada di dalam gua, sedangkan peta berfungsi bagi penelusur gua sebagai pemandunya. Selain itu kami ingin mengenalkan gua ini sebagai lokasi yang harus dijaga, karena dari gua ini kebutuhan air warga Enggano terpenuhi.

Kami segera bersiap. Perlengkapan yang kami kenakan adalah wear pack, helm, senter kepala, sepatu boat. Bekal yang kami bawa adalah makanan, minuman, senter dan batu baterey cadangan, obat-obatan. Untuk survey dan pemetaan kami menggunakan laser disto untuk mengukur jarak, kompas dan klini untuk mengukur sudut dan kemiring. Kamera dan buku catatan sebagai alat dokumentasi.

Menuju Mulut Gua

Pukul 09.00 kami berjalan dari rumah pak Kadun Aji dan ditemai ponakannya- Joki Iskandar. Dalam perjalanan anjing-anjing Pak Kadun menghantar kami sambil berlari di sela-sela pohon kopi yang sudah merekah merah buahnya. Joki bercerita jika dia pernah beberapa kali ikut masuk gua, namun belum tembus sampai pintu keluar. Saya hanya membayangkan, berapa jauh gua ini panjang lorongnya.

Sebuah sungai kecil yang belum ada namanya kami susuri untuk menuju mulut gua. Sebuah pintu gerbang besar menjulang dan air masuk ke dalamnya, dan inilah mulut guanya. Sunyi, hanya gemericik air yang mengalir dan suara kepak kelelawar dan hanya itu. Arloji saya menunjuk pukul 10.00 dan pak Aji berkata “mari sebelum masuk kita berdoa terlebih dahulu”.

Mulut Gua.

Mulut gua menjadi pintu masuk/entri dan kami mengukur sebagai titik nolnya. Memetakan gua sebenarnya tidak sudah. Cuku mengukur lebar lorong, mencatat apa saja di sekitarnta lalu membuat sketsanya. Panjang lorong diukur dengan menembakan laser disto pada obyek yang mudah dilihat dan kami menggunakan orang, sebab pancaran lampu kepala memudahkan kami dalam membidik.

Memetakan Gua

Mengukur dan memetakan gua adalah tugas mas Andi, sedangkan saya mencatat dan mendokumentasikan fauna di dalam gua serta memotret bentuk-bentuk lorong gua. Tidak mudah mendokumentasikan fauna gua karena harus mencari hewan-hewan gua ini bergerak dan bersembunyai dan kalau perlu harus menangkapnya. Setelah ditangkap, lalu diidentifikasi dan jika perlu diukur, atau jika tidak mengetahui bisa diambil sampel untuk dianalisis di laboratorium.

Amplipigi salah satu fauna gua.

Memotret di dalam gua juga bukan perkara yang mudah. Gua yang gelap total maka untuk memotretnya harus membutuhkan pencahayaan yang baik dan kuat. Senter dengan kekuatan diatas 1000 lumen sangat menolong dalam memotret di dalam gua. Selain cahaya, kekuatan kamera terutama di dalam ISO juga bisa dimanfaatkan yakni dengan menseting iso di atas 800 atau 1.600. Diafragma adalah kekuatan lensa, maka dibutuhkan diafragma yang paling lebar, namun akan mengurangi sisi ruang tajam. Siasat perlu dilakukan dengan pemotretan low speed atau kecepatan rendah dalam membuka rana kamera. Saya biasa menghajar kamera dalam 10 – 30 detik bahkan hitungan menit dengan menggunakan mode bulb. Tidak lupa, selalu gunakan penyangga kaki tiga atau letakkan di atas batu agar stabil.

Memetakan denganmengukur panjang lorong gua.

Saya berjalan semakin masuk di dalam gua. Semakin hening dan sepi, sesekali saya mematikan senter kepala untuk menikmati kegelapan abadi. “Amplipigi mas” seru mas Andi dan saya segera mengejarnya. Amplipigi adalah serangga penghuni gua yang sudah beradaptasi dengan kegelapan abadi, begitu juga dengan jangkrik. Jangkrik di dalam gua memiliki antena yang panjangnya 8 kali dari panjang tubuhnya. Antena digunakan sebagai indera peraba, untuk menggantikan organ mata. Beberapa fauna gua yang saya temukan adalah; kepiting air tawar, udang air tawar, ular piton, dan kelelawar.

Lorong Panjang Gua

Gua Dopaam di dalamnya memiliki lorong yang panjang dan bercabang-cabang. Cabang-cabang lorong inilah yang harus ditelusuri dan di ukur. Tercatat ada 3 lorong besar dan salah satunya buntu. Lorong-lorang tersebut ada yang lebar, ada yang menyempit, bahkan ada yang rendah dan kita harus merayap untuk memasukinya. Lumpur sedalam lutut harus kita terobos guna bisa melewatinya.

Lorong gua yang memanjang.

Ornamen-ornamen gua sangat cantik. Stalagtit yang menggantung, stalagmit yang runcing ke atas dan bila bertemu menjadi pilar. Ada juga stalagtit yang berbentuk pipet, ada juga yang berbentuk pipih yang jika diketuk bersuara merdu. Gua penuh kristal, dan hanya orang berdedikasi saya kira yang diijikankan masuk ke sini. Gua yang rapuh menurut saya, sehingga kadang saya hanya berani memandang dari jauh. Saya takut jika saya berlebihan bisa menimbulkan kerusakan. Biarlah saya nikmati sudut-sudut istana kristal ini sambil berharap agar tetap abadi.

Ornamen Gua.

Pukul 12.00 lewat dan kita baru menyelesaikan 2 lorong. Sejenak kami beristirahat untuk menghela nafas. Suhu air 2,3C membuat kami kedinginan harus mencari tempat yang kering. Sesaat memejamkan mata.namun pak Aji meminta kita bergerak agar tidak terlalu lama istirahatnya.

Bentuk ornamen gua.

Kembali kami berjalan, namun kali ini langkah kaki kami semakin pelan. 2 jam kemudian kami menyerah dan kali ini harus melepaskan sepatu. Kaki sudah keriput, konsentrasi berjalan sudah mulai buyar. Senter kepala juga meredup dan harus segera diganti batu batereynya. Sebatang cokelat coba saya jejalkan di mulut sembari menahan aroma goano yang semerbak.

Berenang di Dalam Gua

Ayo mas, sebentar lagi sampai, tapi ada 3 tantangan yang harus dilewati” teriak Pak Aji. Perasaan saya tidak begitu enak mendengar kalimat akhir. Benar saja, sebuah jeram ada di depan mata kami. Pilihannya 3, yakni; balik kanan, melipir memanjat dinding gua, atau berenang. Opsi pertama dan kedua saya tidak sanggup, karena badan sudah gemetar. Akhirnya saya memilih basah kuyup saja. Berenang dengan menggunakan wearpak, mengenakan helm dan sepatu boot, bayangkan sendiri bagaimana sengsaranya.

Berenang di dalam gua.

“Itu baru renang 7 meter mas, sekarang tantangan kedua, kali ini renang 40-50 meter mas..!“. Kali ini saya sudah kepalang tanggung dan saling tatap dengan Mas Andi, dan Joki. Pak Aji sudah menyebrang terlebih dahulu, sepertinya sudah sampai di tepi dan terlihat lampu kepala yang sudah digoyang-goyang. Joki menyusuk kemudian dan lalu saya. “Mas tunggu saya mas” teriak mas Andi, sepertinya dia juga mulai keder juga berenang di posisi orang terakhir. Mungkin jika tanpa sepatu boot akan terasa lebih ringan, namun membawa saat berenang juga sama susahnya.

Slow speed langkah kami di dalam gua.

Akhirnya setelah sekian lama dan hampir kehabisan nafas, kami sampai ditepi. Badan basah kuyup dan sedikit menggigil. Arloji saya menunjuk pukl 15.00 dan artinya kami sudah 6 jam di dalam gua. “Ayo mas jalan, 500 meter lagi kita sampai di mulut guanya sergah pak Aji”.

Kembali kami berjalan dan tetap melakukan pengukuran. Kali ini gua semakin curan dan kami menemukan air terjun setinggi 2-3 meter. Kami harus memanjat dan kadang turun dibatu-batuan untuk menghindari jeram dan sungai agar kami tidak basah kembali.

Untuk mempercepat pengukuran kami mengukur dengan jarak panjang, karena lorongnya lurus. Antar kami berjarak sekitar 30-50 meter. Saya menjadi penjuru untuk acuan pengukuran, Joki survey jalur dan Pak Aji mencari titik pengukuran yang baru di depan saya.

Pingsan di Gua

Saat saya hendak menuju titik dimana Pak Ajir berdiri saya mendengar batu runtuh dan suara orang terjatuh. Pikiran saya langsung mengarah pada mas Andi, benar saja dia minta tolong dan sunyi. Saya memastikan posisi dia dan segera berlari menyusul sembari memanggil Pak Aji.

Usai pingsan.

Benar saja, Mas Andi terjatuh. Sepertinya dia salah menginjak batu yang labil lalu tergelincir. Separi badanya tercelup di air dan dia tidak bergerak. “Pak mas Andi Pingsan, mari kita angkat. Kita tarik pakaiannya saja pak dan bawa ke tepi. Jangan tarik tangannya pak“. Spontans kami menarik wear pak-nya meskipun membuat sobek bagian punggungnya. Kami tidak berani menarik anggota badan kawatir jika ada yang trauma bisa menambah parah keadaan.

Dalam keadaan pingsan kami membawa ke tepi. Saya melepaskan helm dan buff penutup kepala lalu membersihkan muka yang terkena lumpur, memastikan dia masih bernafas. Hampir 1 menit berlalu dia masih pingsan, lalu saya menepuk pipinya sesaat kemudian dia merespon. “Berapa lama saya pingsan” katanya. Setelah memastikan tidak ada cidera kami menyimpulkan “kamu lapar mas…“.

Kami berjalan, dan kali ini kami semakin senang saat bertemu dengan seekor ular piton. Keberadaan ular menandakan, pintu gua tidak jauh lagi. 17.45 arloji saya menunjukan waktu saat itu. Di depan samar-samar terlihat caya pintu gua.

Ayo mas ini tantangan terakhir” kata Pak Aji. Sebuh kolam dengan diameter sekitar 10 meter dan air terjun yang deras. “Pilih sendiri, mau melipir atau berenang ?” tanya pak Aji. Kami memutuskan untuk melipir dan kali ini saya menjadi orang terakhir. Saat Joki sudah sampi di seberang, pak Aji hampir sampai, dan Mas Andi baru sampai tengah. Pelan-pelan saya mengikuti jejak mas Andi. Saat di posisi yang sulit mas Andi macet namun dapat pijakan dan pegangan yang enak. Saya berpijak hanya pada ujung sepatu dan jari hanya ibu jari, telunjuk dan jari tengah yang bisa mencengkeram. Tepat di depan saya ada kotoran binatang dan saya tanta pada mas Andi, “itu kotoran ular piton mas” jawab mas Andi.

Arghhh… byurrr… saya terhempas di air terjun. Reflek kaki dan tangan saya segera bergerak untul naik ke permukaan dan dengan gaya katak saya mencoba meraih tepian kolam. Saat yang lain kering badanya, saya kembali basah kuyup. Sampailah pada pintu keluar.

Pintu keluar gua.

Pukul 18.00 kami kembali melihat langit dan selama 8 jam kami hanya melihat dinding dan kegelapan abadi. Nasi bungkus yang kami bawa, sudah jadi nasi penyet dan sangat terasa nikmat petang itu. Namun perjalanan kami belum berakhir. Dinding mendekati vertikal yang dihuni lintah harus kami panjat setinggi 100 m untuk kembali ke Dusun Jangkar.

Malam ini kami menginap di rumah Pak Kadun. Pondok yang di tengah ladang beratapkan milky way dan bernyanyikan binatang nokturnal sembari lampu yang mulai meredup. Malam itu kami menikmati zona remang-remang di pondok yang sederhana namun hangat, dan dijamu udang goreng dan tumis daun pepaya. hari yang akan kami kenang, menjadi awal penjelajahan kami di Pulau Enggano, pulau terdepan Indonesia.

Para Penyintas di Kegelapan Abadi

Jangkrik goa yang antenanya 4-5 kali panjang tubuhnya.

Herbert Spencer pernah mengatakan “survival of the fittest“. Siapa yang bisa menyesuikan dirilah yang bisa bertahan hidup. Matahari adalah satu-satunya sumber energi yang mampu menggerakan kehidupan. Bagaimana jika suatu tempat tanpa ketiadaan matahari, dimana tempat tersebut adalah kegelapan abadi, adakah yang mampu hidup. Ada, jawabnya.

Kars Bentang Alam Unik

Kars adalah sebuah bentang alam yang unik. Dasar lautan yang terangkat sekitar 200 juta tahun yang lalu. Terangkatnya dasar lautan ini menciptakan bentang alam baru. Oleh alam, kars ini diukir menjadi labirin-labiran yang dialiri air yang lama-lama menjadi besar dan kita menyebutnya dengan gua.

Kars Bukit bulan sebagai gugusan bukit-bukit gamping memiliki puluhan gua. Lorong-lorong goa di sana masih banyak yang belum dijamah dan dipelajari. Pada kesempatan ini saya mengikuti ekspedisi penelitian untuk melihat kehidupan di dalam goa tengah Bukit Barisan-Jambi.

Lorong kegelapan abadi di salah satu goa di Kars Bukit Bulan.

Gua adalah sebuah lorong akibat bentukan alam. Di dalam goa dibagi menjadi 3 zona. Zona pertama adalah zona terang, dimana matahari masih bisa menyinari meskipun tidak sepenuh hari. Zona ini ada di mulut goa. Zona kedua adalah remang-remang, dimana cahaya masih bisa masuk namun sangat lemah. Zona ketiga adalah zona gelap. Zona ini adalah kegelapan abadi dan tidak ada sama sekali cahaya.

Fauna Gua

Selama proses pembentukan gua, ikut serta hewan-hewan yang sengaja masuk atau tidak sengaja terperangkap. Kembali pada dogma evolusi yakni adaptasi. Siapa yang lolos dari tekanan lingkungan dialah yang hidup.

Secara definitif ada 3 jenis fauna gua. Trogloxene, adalah fauna yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal tetapi dalam waktu tertentu akan keluar mancari makan, contohnya; kelelawar, seriti, walet, dan ular. Troglophile, fauna yang menghabiskan hidupnya di dalam gua, tetapi tidak tergantung pada gua. Yang ketiga adalah troglobites yakni fauna yang seluruh hidupnya tergantung pada gua dan berada di dalam gua.

Fauna goa adalah organisme yang eksotis. Mereka telah beradaptasi dengan memodifikasi dan mereduksi tubuhnya agar mampui hidup di dalam gua. Gua dengan zona gelap total, maka mata tidak lagi memiliki fungsi sehingga direduksi dan bahkan banyak yang buta. Mereka mengandalkan indera peraba berupa antena atau memerpanjang kaki depan. Tidak adanya cahaya juga membuat tubuh mereka kehilangan pigmen sehingga meraka menjadi albino, meskipun tidak semuanya demikian.

Adaptasi yang luar biasa bagi mahluk penyintas di dalam kegelapan abadi. Tidak adanya aktivitas yang banyak mereka melambatkan diri dengan memelankan metabolismenya. Mungkin hanya kelelawar, saja yang masih gesit gerakannya karena mengandalkan sonar. Ular mengandalkan sensor panas. Seriti dan walet teradaptasi dengan zona remang.

Sedang menangkap serangga gua.

Saya mencoba melangkah di dalam zona kegelapan abadi. Lampu kepala menuntun saya berjalan di atas tumpukan goano yang lembek. Sesekali kotoran kelelawar jatuh di badan saya. Saya menjadi tamu bagi hewan-hewan yang telah lolos dari seleksi alam ini.

Kelawar yang terbang dalam kegelapan dan tidak pernah bertabrakan.

Saya mencoba ingin merasakan sensasi kegelapan abadi. Telinga saya masih bisa merasakan kepak sayap kelelawar. Tetiba tangan saya menghentak karena ada hewan yang sengaja tersentuh. Klik, senter kepala saya nyalakah. Ternyata hanya jangkrik gua (Rhapidophora sp).

Sepintas melihat jangkrik di sini sangat unik. Antenanya 4-5 kali lebih panjang dari tubuhnya. Inilah salah satu wujud evolusi, dimana hanya indera peraba yang berfungsi. Bayangkan saja, jangkrik ini hidup di luar sana. Pasti sudah nyangkut antenanya di semak-semak.

Kaki seribu gua.

Beberapa hewan gua yang saya temui adalah beragam jenis laba-laba’ Charon sp., Heteropoda beroni, Heteropoda maxima. Kaki mereka memanjang dan tidak lagi membuat jaring-jaring karena tidak ada serangga yang terbang. Ada juga kaki seribu yang berwarna putih, demikian saya menyebutnya, tetapi zoolog menyebutnya dengan Hypocambala sp.

Sampel fauna gua untuk dipelajari.

Puas sepertinya melihat alam berkreasi untuk menciptakan spesies-spesies unik yang mampu hidup di dalam kegelapan abadi. Masih ada satu lagi spesies yang belum saya ketahui dan saat ini masih saya pelajari. Spesies ini tidak kalah unik, karena hanya di temuka di sini. Nantikan tulisan berikutnya.

Hutan Purba di Perut Bumi Goa Jomblang

IMG_2211

Tiba-tiba langit yang setadi cerah berubah menjadi kelabu, ketika saya bergelantungan di seutas tali. Suara rintik hujan mulai sedikit terasa ketika kaki menginjak dasar goa sedalam 40an meter. Peluh keringat membasahi badan, namun semua terbayar lunas dengan rimbunnya hutan purba dan hawa dingin dari dalam goa. Saat ini saya mencoba meraba-raba ada apa di hutan purba goa jomblang.

Goa Jomblang-Grubug demikian nama yang untuk goa vertikal ini. Berada di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul-DIY, goa sangat terkenal sebagai tujuan para speolog dan mahasiswa penggiat alam bebas. Mulut goa mirip lubang sumur raksasa dengan diamater lebih dari 100 m dan kedalaman dari 40 – 110 m. Untuk akses masuk ke dalam goa harus turun dengan bantuan tali dan alat descender.

13964050621053658974
Mulut Goa Jomblang dilihat dari permukaan. Untuk masuk dalam goanya harus turun dulu secara vertikal dengan kedalam yang bervariasi (dok.pri).

Sebelumnya saya dan tim meminta ijin kepada pak dukuh atau kepala dusun yang secara administratif memiliki kawasan goa jombloang. Beberapa wejangan dari pak kepala dukuh, seperti; jangan etika, peralatan harus standar, keharmonisan tim dan tetap menjaga lingkungan sekitar dari kerusakan. Tidak ada tarif yang harus kami bayar, kecuali jika lewat operator.

3 buah tali carmantle yang masing-masing memiliki panjang 50m sudah kami siapkan di tepi goa, begitu juga dengan peralatan panjat tebing dan dokumentasi. Keselamatan adalah hal yang paling utama, sehingga beberapa kali kami harus memeriksa ulang perlengkapan keselamatan kami hingga tidak ada yang luput.

Usai pengaman utama di pasang, kami memasang beberapa pengaman tambahan yang kami ikat lewat batang pohon yang memebelit batuan gamping. Setelah semua siap satu persatu kamu turun menuju perut bumi untuk menelusuri nadi-nadinya. Tetesan keringat jatuh bebas ke dasar goa saat tubuh ini pelan-pelan turun lewat seutas tali yang sesekali memutarkan tubuh kami.

1396405276415657041
Hutan purba di dasar gua dengan mikroklimatnya. Banyak tumbuhan yang sudah mengalami adaptasi karena perubahan lingkungan yang ekstrim (dok.pri).

Sungguh luar biasa pemandangan di dasar goa yang penuh dengan pepohonan, semak, gulma, rerumputan paku-pakuan dan lumut. Inilah yang dimaksud dengan hutan purba, karena menjadi koleksi vegetasi pada masa lalu yang terawetkan dan masih hidup di dasar goa. ratusan atau ribuan tahun yang lalu sebuah tanah dengan diameter 100 meter tiba-tiba runtuh. Kemungkinan adalah aktifitas tektonik/gempa hingga rongga dalam tanah berupa sungai runtuh dan menghempaskan kehidupan di permukaan jatuh dalam dasar lorong.

Tumbuhan, hewan dan mikroorganisme berlomba-lomba menyesuaikan diri dengan kondisi yang ekstrim. Jika semula organise yang ada dipermukaan dihadapkan oleh cuaca yang panas, kering dan minim air, maka setelah runtuh berubah drastis. Di dasar goa terbentuk ekosistem sendiri dengan mikroklimat yang unik. Cahaya sangat minim, karena sekitar pukul 10-14 dasar goa akan terkena sinar matahari, setelahnya hanya cayaha remang-remang saja. Air yang melimpah di dasar goa memberikan suhu yang sejuk dan kelembapan yang tinggi.

Mata saya terpaku pada sebuah pohon dengan diameter sekitar 30 cm namun menjulang tinggi menuju permukaan goa. Saya membayangkan, jika pohon ini tumbuh dipermukaan setinggi itu makan pasti roboh. Tidak adanya hempasan angin, membuat pohon ini tetap tega berdiri. Alasan pohon ini terus saja tumbuh tanpa memikirkan proporsi besarnya batang adalah dalam rangka adaptasi yakni berebut sinar matahari.

13964055042120828188
Tumbuhan penghuni lantai dan dinding goa memiliki caranya masing-masing agar tetap bertahan hidup. Ada yang memiliki daun lebar, memiliki batang pembelit atau menempati tempat-tempat yang sudah dijangkau tumbuhan lain (dok.pri).

Tumbuhan sebagai organisme autotrof  berlomba-lomba menangkap cahaya matahari yang sangat minim. Pohon dengan batang yang besar dan tinggi maka akan memiliki daun yang banyak dengan ukuran kecil, agar efektif dalam menangkap sinar matahari. Tumbuhan yang berada di dasar goa biasanya memiliki morfologi daun yang lebar untuk menangkap sisa-sisa cahaya. Tumbuhan yang oportunis lain adalah tipe pembelit, karena harus bertahan hidupa maka dia membelit batang-batang tumbuhan lain agar dapat cahaya matahari. Lumut dan paku-pakuan sepertinya tumbuhan yang pasrah, karena berada di dasar sebagai karpet dan pelapis batuan dinding goa.

1396405675958166663
Untuk masuk menuju goa Grubug harus melewati lorong sepanjang 200an meter. kabut tipis di mulut lorong memberikan suasana yang sedikit berbeda, namun kata teman saya “show must go on” (dok.pri).

Suara gemuruh air terjun dan sungai bawah tanah dari dalam goa terdengar sayup-sayup. Kaki ini mencoba melangkah dalam lorong goa yang sudah dibuat jalur untuk berjalan. Dari dasar goa jomblang bisa menembus lorong yang menuju goa grubug dengan jarak sekitaw 200an meter. Zona terang, remang-remang dan gelap gulita terdapat di lorong ini. Dari mulut goa terlihat kabut tipis yang membuat suasana menyeramkan, dan dibawah sana gelap gulita.

Saat mata ini benar-benar menyaksikan zona gelap total makan akan tertebus dengan pemangdan yang luar biasa indah. Di atas sana di ketinggian 110m terdapat lobang dan cahaya dari luar menembus ke dasar goa. Inilah ray of light yang di cari mereka yang menelusuri goa ini. Stalagtit dan stalagmit menghiasi beberapa sudut goa yang selalu diguyur tetesan air dari atap goa.

13964058041626064594
Dari zona gelap total muncul cahaya remang-remang. Gambar ini diambil dengan bantuan lampu kilat (dok.pri).

Di tempat ini, masih saja ada kehidupan ekstrim. Lumut masih ada yang bertahan hidup dengan kondisi yang minim cahaya. Kelembapan yang tinggi adalah habitat yang disukai lumut yang menempel pada bebatuan yang mulai lapuk. Sedikit saya termenung sambil dihujani air dari atap goa dengan sinar yang remang-remang dari mulut grubug. “Ini baru tumbuhan, bagaimana dengan hewan-hewan dan mikroorganisme di sini”,lamunan saya buyar ketikan saya melihat jam tangan yang menunjuk angka 16.00.

1396405878667874663
Akhir dari sebuah perjalanan dan saatnya kembali. Cahaya dari mulut goa Grubug dan hiasan stalagtit stalagmit membayar sudah semuanya. (dok.pri).

Suara dari handy talkie terdengar saat teman dari atas meminta kami untuk segera naik. Waktu yang sudah mulai gelap dan cuaca yang kurang bersahabat mengharuskan kami segera naik dengan memanjat seutas tali. Inilah perjuangan terakhir menuju permukaan goa.