Meneroka Jejak Nirleka di Bukit Bulan

Petak berjalan
Berjalan menyusuri padang rumput di Kaki Bukit Bulan,.

Ini mah hotel bintang 5” kata Mas Sigit sembari membentangkan kedua tangannya di dalam ceruk gua. Dia adalah peneliti dari Balai Arkeologi Sumatera Selatan, mengerti benar bagaimana wujud hunian masa lalu. Hari ini saya diajak napak tilas pada masa nirleka di Bukit Bulan Jambi.

Tengara Nirleka

Yang saya kurang sukai dari teroka ini adalah saat harus menyebrangi sungai dengan masuk ke badang sungai. Benar saja, baru beberapa langlah masuk Sungai Limun, ada mahluk yang lari terbirit-birit. Tidak bukan adalah seekor ular yang terusik dengan derap langkah kaki kami, yang tetiba kami juga terbirit-birit.

Kami tergabung dalam tim penelitian tentang ekplorasi hunian manusia prasejarah, yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tidak mudah menemukan keberadaan mereka, terlebih peninggalan mereka. Inilah tantangan yang kami hadapi saat ini di Bukit Bulan-Jambi.

petak bukit
Bukit Celau Petak.

Langkah kaki kami tak seperti manusia purba. Sebagai manusia modern otot dan tenaga kami sudah banyak tereduksi oleh modernisasi, sedangkan alam ini tidak banyak berubah. Medan yang kami hadapi tidak jauh berbeda, namun kami yang berbeda.

Setelah menyebrang sungai, lalu kami masuk dalam hutan dan menuju perbukitan. Bukit ini masuk dalam kawasan Celau Petak, dan kebetulan di sana ada gua Celau Petak, salah satu gua terpanjang di Bukit Bulan.

Tujuan kami adalah mencari ceruk-ceruk gua yang disinyalir menjadi tempat hunian manusia purba. Setiap ceruk kami periksa, kami korek-korek, kami amati dinding-dindingnya. Kami berharap menemukan satu lukisan dinding, atau goresan, tulang belulang, dan kalau beruntung dapat peninggalannya.

Tidak mudah mendapatkan keberuntungan menemukan hunian manusia purba. Kami hanya mengantongi informasi berdasarkan logika, orang jaman dahulu tinggalnya dimana. Orang pasti ingin tinggal ditempat yang aman, terlindungi, kering, dekat sumber air, mudah dijangkau. Penciri itulah yang kami pegang, guna mencari tempat seperti itu.

Hotel Bintang Lima

Kami berjalan dari gua ke gua. Kami menyambangi tiap ceruk, meskipun kadang harus memanjat di ketinggian dengan resiko terjatuh. Mungkin dahulu, mereka dengan mudahnya memanjat tanpa ketakutan, karena sudah terbiasa. Bagi kami, kami harus memikir berkali-kali bagaimana naik dan turunnya dengan segala risikonya.

Sudah setengah hari kami mencari. Di tepi sungai kami melepas lelah, dan lapar sembari membuka bekal. Mungkin ini makanan paling nikmat bagi kami saat itu, karena memang tidak ada pilihan lain. Belum rasanya nasi ini turun, kami harus segera bergegas.

petak gua
Mendaki dinding terjal, demi mencari hotel bintang lima.

Langkah kaki kami semakin berat. Tetiba kami dihadapkan pada sebuah dinding batu gamping yang terjal. Sekilas melihat ada celah kecil untuk dipanjat. Kami merayap di dinding batu kapur tersebut. Benar saja, kami menemukan sebuah ceruk raksasa.

Sebuah ceruk yang kering, dengan diamter sekitar 15 meter dan tinggi 20 meter. Di dalam ceruk tersebut terdapat ruang-ruang kecil. Ceruk ini rasanya seperti lobi hotel bintang lima, lengkap dengan kamar-kamar presiden suitnya.

Tanah yang kami injak kering, di dekat situ ada air. “Plakk” suara tepukan tangan dari Mas Sigit sembari bilang “klop“. Dengan sekop kecil dia mengorek-orek tanah, tak berselang lama dia seperti Issac Newton menemukan gravitasi “eureka“.

Batu Obsidian

Dia menemukan serpihan-serpihan batu kaca. Obsidan katanya sedikit kencang. Benar, batu obsidian menjadi indikator peninggalan masa lalu. Batu tersebut dibelah setipis mungkin dan digunakan sebagai pisau. Tajamnya seberapa? Jangan tanya. Tangan saya pernah robek kena pecahan batu tersebut. Konon tajamnya melebihi pisau bedah.

petak obsidian
Batu obsidian masa lalu.

Tidak hanya satu atau dua obsidian yang kami temukan, namun lebih dari sepuluh. “Stop jangan banyak-banyak, sisanya buat bahan penelitian. Di tempat ini bisa melahirkan sarjana arkeologi, master, doktor, bisa juga profesor” kata mas Sigit dan kami menghentikan korek-korek tanah tersebut.

Hari ini, setidaknya kami sudah menemukan satu puzzle nirleka di tempat layaknya hotel bintang lima. Menunggu waktu, para ahli akan memerdalam untuk mencari bukti-bukti pendukungnya. Kita tunggu saja, cerita dari mereka.

Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng Bukit Bulan

ketaping lorong gua 2
Chamber Gua Sungai Ketaping.

Antara takut dan geli, maka saya memutuskan untuk mencabut gigitan lintah yang sudah gendut dari pangkal kaki saya. Darah segar mengucur usai si lintah dipaksa menuntaskan hisapannya. Tidak hanya satu atau dua gigitan, sore ini setidaknya ada empat luka gigitan pacet. Inilah salah satu risiko menyusuri aliran sungai yang berhulu di gua. Hari ini kami menyurui Gua Sungai Ketaping dan Batu Nyedeng di Bukit Bulan Jambi.

Gua Sungai Ketaping

Gua Sungai Ketaping, demikian nama gua yang memiliki resurgrance atau sungai yang keluar dari gua. Nama sungai ketaping, kemungkinan secara topinimi berasal dari sungai dan pohon ketaping/ketapang (Terminalia catappa) yang banyak di sepanjang sungai. Hari ini saya bersama tim yang dipandu penduduk lokal hendak menyusuri gua yang memuntahkan air jernih yang bertemu di aliran Sungai Ketari Kecil.

Bukan hal yang susah sebenarnya untuk menemukan gua ini. Cukup menyusuri sungai Ketari Kecil sampai hulu. Namun, yang menjadi kengerian adalah sepanjang sungai tersebut adalah habitat lintah penghisap darah. Dengan mengenakan sepatu boot dan pakaian lengan panjang, berharap tidak ada celah bagi si lintah untuk menggapai kulit tubuh kami.

Perjalan menuju Gua Sungai Ketaping dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalan dari Desa Napal Melintang. Benar saja sepanjang perjalanan akan melewati sungai dan lintah tidak hanya ada di darat, namun juga di daun dan ranting-ranting pohon. Ahasil seekor lintah sudah kenyang mengisap darah saya tepat di dagu samping tali pengikat helm.

Mulut Gua Sungai Ketaping cukup sempit. Untuk masuk harus memiringkan badan dan kepala mepet di dinding gua. Di dalam gua terdapat aliran sungai kecil dengan batu-batu kerikil yang telah membulat. Sebuah lorong di sisi kiri gua dengan zona gelap total menarik untuk dijelajahi.

ketaping lorong gua
Lorong gua Sungai Ketaping.

Di dalam lorong gua tersebut, saya merasakan hawa yang sejuk, sepertinya ada aliran udah khas mikroklimat di dalam gua. Di beberapa dinding nampah burung seriti membangun sarang, ada beberapa yang mengerami, dan ada beberapa yang sedang meninggalkan sarang dan telurnya. Beberapa kelelawar juga hilir mudik melintasi tubuh kami tanpa pernah menyenggol ataupun menabrak. Chirikhas penghuni gua dalam bernavigasi.

Di dalam gua ini juga terdapat chamber atau ruangan berukuran besar dengan stalagtit dan stalagmit yang yang menghiasinnya, selebihnya sudah menjadi pilar. Di dalam gua kami hanya sesaat saja, setelah makan siang kami segera beranjak menuju Gua Batu Nyedeng.

Gua Batu Nyedeng

Gua Batu Nyedeng, demikian penduduk lokal memberi nama gua ini yang artinya gua batu miring/NyeDeng. Benar saja, sangat miring. Jangankan batunya, jalan menuju kesana juga benar-benar miring. Dari depan Gua Sungai Ketaping, harus mendaki dengan jalan terjal dengan kemiring 45 derajat, kadang ada yang lebih. Parah lagi, kadang harus memanjat batuan gamping. Benar-benar Nyedeng.

ketaping lorong gua batu nyedeng
Mulut Gua Batu Nyedeng.

Sekitar 1,5 jam kami mendaki dengan perbedaan elevasi sekitar 300 m. Kami berada di salah satu titik tertinggi di Bukit Raja. Habis tenaga kami dan kini dihadapkan pada gua vertikal. Kata Pak Irawan, gua ini dalamnya 6 meter lalu ada teras, lalu turun lagi 10 meter. Bayangan saya sudah yang tidak-tidak, dan tidak ada opsi lain kecuali harus turun.

Saya mengikuti jejak-jejak Pak Irawan yang sudah hafal betul tiap pijakan dan pegangan. “Ngeri-ngeri sedap” kata mas Andi rekan saya yang turun tepat di depan saya. Akhirnya diputuskan “naik saja mas, tanggung guanya buntu dan cuma sekitar 13 meter“. Akhirnya kami naik dengan jalan yang sama dan rasa yang berbeda.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Langkah kaki kami mulai gontai untuk kembali ke base camp di Napal Melintang. Lelah, letih, dan kaki kadang gemetar, namun harus tetap berjalan. Akhirnya kami sampai di pertemuan sungai Ketari Kecil.

ketaping lorong gua vertical
Lorong vertical Gua Batu Nyedeng.

Kami melepas lelah sembari melihat siapa tahu ada lintah yang masih nempel di tubuh kami. Benar saja, beberapa titik sudah terlihat darah yang mengering dan lintah sudah kenyang dan melepaskan diri. Ada satu yang masih tersisa, dia sudah gendut namun masih terus menghisap.

Gua Gedang, Potret Kejayaan dan Masa Kelam Bukit Bulan

Kabut pagi di Bukit Bulan.

Rinai hujan di pagi ini masih meninggalkan jejak di dedaunan yang basah kuyup. Kabut pagi di kaki Bukit Bulan masih menyelimuti hutan yang berdiri kokoh di atas bekas batu karang purba. Dari balik jendela saya memandang, “ah pagi ini harus ke Gua gedang“.

Awal Perjalanan

Sepenggal perjalanan di Bukit Bulan, Jambi. Hari ini saya berkisah tentang sebuah penelusuran gua alam yang ada di Kawasan Karst Bukit Bulan, tepatnya di Bukit Raja. Gua Gedang, menjadi tujuan kami. Bukan tanpa alasan memilih gua ini, tetapi ada kejayaan masa lalu yang membuat orang jauh-jauh datang ke situ.

Pak Irawan, yang kini sudah berkepala 6 pagi ini nampak bersemangat mendatangi base camp kami. Beliau adalah warga lokal di Napal Melintang yang dahulunya adalah pencari sarang walet di Kars Bukit Bulan. Puluhan gua, mungkin lebih dari 100 gua beliau hafal di luar kepala. Jangankan jalan menuju mulut gua, setiap jengkal pijakan dan pegangan sudah melekat kuat di ingatannya.

Sehari sebelum perjalanan di sampaikan, “mas jalan ke sana berat, harus pakai tali” katanya. Malamnya saya mengemas peralatan caving/penelusuran gua lengkap. Pagi ini kami berempat sudah bergegas menuju Gua Gedang.

Embun pagi yang belum beranjak tersapu oleh langkah sepatu boot kami. Sayang sepertinya, embun-embun cantik ini terinjak begitu saja dan meninggalkan bekas. Saya yang jalan paling belakang, beberapa saat berhenti dan menarik napas melihat jejak-jejak kaki itu.

Langkah kaki kami berhenti di Sungai Ketari Kecil, lalu segera kami merangsek di hamparan ilalang dan semak setinggi pemain basket Yao Ming. Semua bedan kami terlindungi, kecuali wajah dan leher kami. Garis-garis merah yang dibuat tepi daun Imperata cylindrica menimbulkan rasa perih terlebuh jika kena daun yang basah. Namun, inilah nikmatnya perjalanan.

Saya mengira penderitaan bakalan berakhir, namun luka-luka tersebut hanya sebagai pemanasan saja. Kali ini keluarga Hirudo alias lintah yang siap menyambut kami. Mereka seperti tentara berdiri tegak menghadang kami guna mencari pegangan untuk menempel lalu mencari celah di tubuh kami. Alhasil, kulit kami berhasil dia cumbu dan semula dia nampak kurus ceking seukuran lidi, kini sudah seukuran cabai yang gendut.

Bagitu gemasnya, kami mencabut begitu saja lintah yang sedang asyik menyedot darah. Ahasil, darah segar mengucur lalu segera ditambal dengan plester. Bagi yang sabar akan meneteskan cairan tembakau, sehingga lintah lepas dengan sendirinya. Bagi yang ekstrim akan menyundut pantat lintah dengan korek atau nyala rokok.

Lintah-lintah lapar akhirnya lelah kami hiruakan dan kaki ini ingin segera menerobos hutan. Pak Irawang mulai tengak-tengok, indikasi bahaya buat kami. Mengapa bahaha “Beliau sedang lacak-lacak, atau mengingat jalan dan jika diterjemahkan, dia lupa“. Jika belaiu sampai lupa, alamat cilaka.

Rekatakan-retakan batu gamping yang runcing menjadi jalan kami. Sisi sebelah kanan adalah dinding tebing, sisi kiri adalah jurang sedalam 50 meter. Melipir di tebing, jangan sampai salah fokus dan konsentrasi, atau nanti bisa di evakuasi.

Kejayaan dan Kekelaman

Setalah hampir 4 jam perjalanan, sampai juga kami di mulut Gua Gedang. Saya sebagai orang Jawa, nampak plonga-plongo (melihat kesana kemari dengan tatapan kosong). “Pak mana pohon gedang (pisang) tidak ada cuma paku-pakuan?” tanya saya pada pak Irawan. Toponimi Gua Gedang saya terjemahkan sebagai pisang, mungkin banyak pohon bisang. “Mas Gedang itu artinya luas” kata beliau. “Ah mirip jalan ke Manggis yang tidak ada manggisnya, ada peradun gedang artinya tempat istirahat yang luas” sergah saya dan dia hanya menggerakan hidungnya yang artinya iya.

Pak Irawan sosok pemburu sarang walet.

Sembari istirahat dan mencari sisa-sisa lintah siapa tahu masih asyik menyedot darah kami mendengarkan Pak Irawan bercerita tentang gua ini. “Dulu saya tinggal di Gua ini 3-4 tahun secara bergantian, untuk menjaga sarang walet. Di sini terkenal banyak sarangnya, bahkan dulu kalau panen bisa sampai 4 pikul atau 2 kwintal. Kami banyak uang dulu dari mencari walet, tapi kami juga bingung uang itu untuk apa, kaerna kami tinggal di sini. Akhirnya uang itu lama-lama habis untuk keperluan kami selama menjaga tempat ini”.

Pintu masuk Gua Gedang.

Tatapannya nanar melihat dinding-dinding gua dan seolah membawa dia kembali ke masa lalu, dimana waktunya dihabiskan menjadi manusia gua. Jejak-jejak masa lalu masih terlihat di sini, ada arang bekas tungku, bambu bekas gubug kecil, batu baterey untuk senter, coretan di dinding. Mulut Gua gedang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu dan kekelaman nasib penjaga gua.

Istana Bawah Tanah

Sarung tangan, helm, headlamp sudah terpakai dan saatnya kita masuk dalam gua. Sebuah ceruk kecil di sisi kiri adalah mulut guanya. Bagi mereka yang berbadan lebar mungkin harus menahan napas dan memipihkan perutnya, mulutnya sangat sempit. Beruntunglah saya, dan langsun bisa bisa masuk. Di dalam ada Mas Andi yang sudah sedia dengan buku primbon gua dan laser distonya. Dia ahlinya tukang gambar gua. Di belakang saya ada Mas Sigit dengan cetok kecil punya tukang bangunan tergenggam erat di tangganya. Dia adalah seorang arkeolog yang ahli tentang sejarah peninggalan masa lalu, tetapi bukan batu baterey dan bambu yang tadi.

Chamber Gua Gedang.

Di dalam gua, saya melihat sebuah chamber atau ruangan yang luas, bulat, dan tinggi. Lebarnya sekitar 14 – 20 meter dan tingginya 16 meter. Seperti kubah di dalam tanah. Kelewawar gua yang merasa terusik dengan kedatangan kami terbang tak beraturan namun tidak saling bertabrakan.

Di pinggir gua terdengan tetesan air, dan saya mencari dimana letaknya sebab pasti ada stalagtit dan stalagmit. Benar saja, nampak dua buah kreasi alam berusia ribuan tahun itu. Ingin rasanya membelai, tetapi itu pantangan buat kami. Kami tidak ingin merusak kreasi alam ini yang masih berproses.

Pulang Lebih Sengsara

Pemetaan gua dan pencarian benda purbakala usai. Saatnya kami berkemas pulang. Saat hendap perjalanan pulang acapkali kami dihadapkan pada pilihan, mau mencari jalan lain atau jalan semula. Tujuan kami adalah eksplorasi, dan biasanya pilihan pertama. Benar saja Pak Irawan paham akan kemauan kami. Berjalanlah beliau di depan. Kakinya nampak lincah berjalan di sela-sela tonjolan batu, sedangkan kami harus meraba.

Stop mas, kita harus hati-hati, di depan ada jurang. Bagimana mau lanjut atau balik kanan. Kalau lanjut ada jalan, tapi berbahaya?“. Kami terjebak di tengah tebing. Mau kembali tanggung, mau lanjut harus berhitung. Akhirnya kami memutuskan “oke pak lanjut, tapi istirahat dulu”.

VIDEO PERJALANAN KE GUA GEDANG

 

Kami istirahat di lereng tebing. Di samping kami menyembul kanopi pohon alias pucuk pohon. artinya di bawah ada batang pohon yang menjulang, bisa dihitung berapa tingginya. Kami membuka bekal makan siang kami. Bersandar di sebuah batang pohon dan segan melihat ke bawah daripada mutah.

Baru separo kami makan “mas saya sudah sampai bawah” teriak pak Irawan. Entah beliau lewat mana, pegangan apa, dan pijakan dimana kami tidak bisa membayangkan. Yang pasti jam terbang dan pengalaman tidak berkata bohong. Kami hanya berani mengumpat dalam hati dan terlihat dari ekspresi cara mengunyah kami.

Oke kita turun pake tali. “Kita repling mas” kata mas Andi. Pengalaman pertama bagi Mas Sigit. Jangkar pengaman kami buat, dan mas Andi turun pertama sembari membuat jalur. Saya orang terakhir yang nanti akan membersihkan peralatan untuk dibawa turun.

Harus rapeling saat harus mencari jalan turun.

Awalnya cukup merinding juga. Bagaimana tidak, ternyata tempat istirahat kami adalah hanging atau menggantung. Bayangkan kalau runtuh. Maka kami sembari makan sembil mengenakan perlengkapan safety. Akhirnya saya menjadi orang terakhir yang turun. Dan sampai bawah terlihat Cu Pe Tong demikian kami memanggil guide kami sedang makan siang dengan lahap.

Sudahlah kita istirahat dulu di sini, nanti kita pulang nyusur sungai, paling sekitar 4 jam perjalanan” katanya sembari mengunyah. Kami saling bertatapan dan sepakat berkata “cu pe tong“.

Gua Celau Petak, Lorong Penghubung 2 Desa

Ornamen Gua Celau Petak,

Saya teringat klub sepak bola Wild Boars asal Thailand. 12 pemain dan seorang pelatih terjebak selama 17 hari di dalam gua, gegara terperangkap banjir. Sesaat sebelum memasuki gua saya melihat langit nampak mendung dan membayangkan panjang lorong gua sejauh 1,67 km. Celau Petak, begitu nama gua yang akan saya masuki dan merupakan yang terpanjang di Kars Bukit Bulan-Jambi.

Menuju Celau Petak

Berjalan menyusuri jalan setapak. Di kanan dan kiri yang terlihat hamparan sawah yang menghijau. Jauh di sana beberapa bukit gamping beridiri dengan kokoh berbalutkan hutan rimba dengan kanopi yang lebat. Suara primata bersahut-sahutan menjadi perpaduan musik alam. Saya berjalan paling belakang sembari mengekor pemandu gua yang berasal dari penduduk sekitar.

Hampir 1 jam kami berjalan dari Dusun Dalam, Desa Melingtang di Sarolangun Jambi. Tujuan kami kali ini adalah menyambangi sebuah gua yang berada di Celau Petak atau bukit peta, dan nama gua juga memiliki nama yang sama. Gua Celau Petak, demikian nama gua yang terpanjang di Kars Bukit Bulan.

Gua Sebagai Jalur Tradisional

Sampai saat ini, Gua Celau Petak masih digunakan sebagai jalur tradisional untuk menuju dan dari Dusun dalam dan Desa Sungai Baduri. Jalan penghubung menuju desa tersebut sejauh hampir 3 km, dengan mengelilingi bukit. Dengan menerobos celah bukit dengan melewati lorong gua hanya sejauh 1,67 km. Sampai saat ini lorong gua masih sering dilewati untuk menjadi penghubung 2 desa.

Suasana di dalam Gua Celau Petak,.

Dengan mengenakan senter kepala saya mengikuti langkah kaki Pak Irawan yang menjadi pemandu saya. Begitu mengenalnya jalan ini, pak Irawan berjalan begitu lugasnya, sedangkan kaki saya masih tergagap-gapak, kadang kepleset kadang tersandung.

Sungai kecil melintas tepat di tengah-tengah lorong gua. Bersiap untuk membasahi sepatu, kecuali mengenakan sepatu boot. Dalam zona gelap abadi, nampak gemuruh kepak sayap kelelawar yang terusik dengan kehadiran kami, terlebih cahaya dari senter kepala. Jika kita sedang sial, makan bersiap menerima kado dari mamalia terbang ini yang sedang membuang goanonya.

30 menit kami berjalan, sampailah di sebuah lorang besar dan tinggi/chamber. Lorong tersebut terdapat sebuat lubang kecil mengarah ke luar. Di titik inilah terdapat penanda batas desa. Jauh di belakang adalah Desa Napal melintang, sedang di depan sana adalah Desa Sungai Beduri. Tidak ada aneh jika lorong penghubung kedua desa ini terdapat pal batas desa.

Sungai kecil di tengah lorong gua.

Di depan napak cahaya remang-remang menjadi pertanda pintu keluar gua sudah dekat. 1,67 jalan desa sudah saya lalui dan kini sudah sampai di mulut gua di Desa Sungai Baduri. Pintu gua yang jauh lebih bagus, kerena sudah dibuat bangunan permanen, namun tidak terawat. Timbunan seresah memenuhi permukaan lantai menjadi kesan jika tempat ini jarang dikunjungi.

Akses yang sulit dan tiada saran prasarana yang memadai menjadi alasan mengapa tempat ini tidak pernah disambangi. Potensi wisata, terlebih wisata minat kusus yang sebenarnya menjanjikan. Namun tiadanya faktor pendukung menjadikan tempat yang menarik ini nyaris tidak memiliki daya tarik, terlebih nilai ekonomis.

Pintu dari Desa Sungai Beduri.

Saya harus kembali lagi masuk gua untuk kembali ke Dusun Dalam. Dalam benak ini, sangat disayangkan potensi alam ini jika tidak dimaksimalkan. Ah yang pasti, hari ini hujan tak kunjung datang dan saya dan teman-teman tidak menjadi bahan berita.

Diyasinkan Karena Menangkap Ikan di Lubuk Larangan

Sungai Limun di Napal Melintang.

Pak Teguh rekan seperjalanan saya nampak tersenyum kecut sembari melihat sebuah tas berisi 3 buah joran pancing dan lengkap dengan pernak-perniknya. Dia berencana akan memancing di Sungai Limun yang menjadi tujuan perjalanan kami. Niat yang sudah membara tetiba padam karena dia takut di yasinkan oleh warga.

Sungai Limun

Sungai Limun, demikian nama sungai kecil yang membelah dusun Napal Melintang di Kars Bukit Bulan-Jambi. Sungai ini menjadi satu-satunya sumber air warga, sehingga sangat tergantung pada aliran sungai ini. Lantas apa istimewanya sungai ini? Tidak ada yang berani berani mengusiknya.

Tempuyung, makanan khas dari Napal Melintang yang harus dicari di Sungai lain.

Sebagai satu-satunya urat nadi kehidupan di Napal Melintang, sungai Limun benar-benar di Jaga oleh warga sekitar. Air yang tidak pernah kering ini menjadi nyawa mereka, bahkan dulu menjadi satu-satunya akses transportasi menuju Kabupaten Sarolangun.

Lubuk Larangan

Untuk menjaga sungai ini, tokoh-tokoh ada setempat menjadikan sungai Limun sebagai lubuk larangan. Warga dilarang masuk kawasan sekitar sungai tanpa ada alasan yang jelas. Warga juga dilarang merusak dan menangkap ikan di sungai. Aturan yang disepakati bersama oleh tua-tua adat dan warga.

Menangkap Ikan.

Seberapa taat warga dengan aturan yang ada? Semua warga taat. Warga tunduk pada aturan karena melihat sangsinya yang tidak main-main. Ada aturan jika barang siapa merusak atau menangkap ikan di Sungai Limun akan dikenakan denda adat.

Denda Adat

Denda adat yang diterapkan tidak main-main bagi pelanggarnya. Jika ada yang melanggar, siap-siap harus merogoh kantong untuk menyiapkan uang 2 juta, kambing 2 ekor, beras 2 karung. Mungkin secara materi, denda tersebut bisa dibayar. Namun denda terakhir ini yang membuat mereka benar-benar takut.

Warga di Napal Melintang adalah warga yang taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai umat Muslim. 100 warga disana menganut agama Islam dan memahami tentang hukum-hukumnya. Apabila ada yang melanggar hukum adat di atas maka pelakunya akan di yasinkan. Dalam ajaran Islam, di yasinkan berarti dibacakan doa-doa tertentu. Doa Yasin biasanya diperuntukan untuk orang yan sedang menghadapi sakratul maut, malam Jumat, malam Nisfu Sya’ban, tahlil, dan lain sebagainya. Inilah yang membuat warga ketakutan untuk melanggar aturan.

Hukum adat untuk menjaga alam juga banyak diterapkan di banyak tempat di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan/konservasi. Konservasi secara adat ini jauh lebih efektif dibandingkan hukum buatan pemerintah yang berujung pada pidana.

Menangkap ikan

Hukuman ada jauh lebih berat dibanding dengan pidana dari pemerintah. Hukum adat mengharuskan pelaku membayar denda secara materi, secara sosial akan dikucilkan atau dipergunjingkan, secara agama akan diperlakukan seperti orang yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa.

Inilah konservasi berbasis kearifan dan pengetahuan lokal. Ada saatnya hukum adat ini dikompromikan yakni saat Lubuk Larangan dibuka, maka warga bisa bebas mencari ikan dan menangkapnya. “Kapan itu?” tanya pak Teguh.

Gua Kedundung, Lorong Vertikal di Bukit Bulan

Dari Pemenang terus ke Jambi
Singgah menginap do Pelawan
Ada mas Dhanang dan mas Andi
Ditemani oleh Pak Irawan

Berpose dengan Pak Irawan saat di lorong gua Kedundung.

Gegara pantun di atas membuat saya menghilangkan kejengkelan hari ini. Bagaimana tidak, gegara dia kami hampir saja celaka. Badan ini bisa terhempas di atas batu gamping dari ketinggian 12 meter. Kisah yang nantinya akan kami ulangi, tentu saja dengan membawa seperangkat alat safety.

Kisah Pelakon Gua

Speology, sebuah ilmu tentang penelusuran gua. Di Indonesia sudah berbang sejak awal tahun 80-an hingga saat ini. Tidak banyak yang meminati ilmu dan aktivitas ini, karena identik dengan kegelapan abadi dan risiko yang tidak kecil.

Hari ini, saya tidak ada pilihan untuk kembali masuk gua. Pilihan pertama adalah menunggu di luar ditemani oleh lintah-lintah yang haus darah, pilihan kedua harus masuk gua vertikal. Pilihan yang serba sulit dan saya memilih untuk masuk dalam perut bumi.

pak Irawan, lelaki asal Napal Melintang menjadi pemandu kami. Kake 5 anak dan 2 cucu ini adalah macan gua. Sebutan yang disematkan karena pengalamannya meneroka gua-gua di kars Bukit Bulan. Pekerjaan awalnya adalah penjaga sarang walet dan pemanen yang dilakoni tahun 80-an. Tahun dimana ilmu tentang gua sedang bertunas, dia sudah masuk keluar gua.

Masuk Gua Kedundung

Hati-hati ya mas“, kata-kata yang membuat saya takut dan jengkel. Kata-kata tersebut artinya adalah jalan yang sulit dan berbahaya. Kita yang awam dengan gua, sedangkan dia sudah puluhan tahun mengenal seluk beluk gua.

Pintu masuk gua Kendundung terlihat dari atas.

Benar saja, lorong sempit vertikal sedalam 12 meter adalah mulut gua. Dia turun duluan hanya bermodal kedua tangan dan kaki, serta lampu kepala. Dalam hitungan detik dia sudah sampai di dasar gua yang gelap gulita dan hanya ada sinar di kepalanya.

Saya beberapa kali untuk obeservasi dimana mana batu dan pijakan yang dipakai Pak Irawan tadi. Mungkin hampir 2-3 menit saya baru sampai di bawah. Keringat mengucur deras, menandakan betapa tertekannya saya dengan medan yang hampir vertikal ini. Di bawah dia hanya terkekeh sembari mengepulkan asap dari rokok filternya. Sesekali dia juga bernyanyi lagu daerah Jambi, tanpa peduli rasa takut kami.

Pintu masuk gua dilihat dari bawah. Kami benar-benar memanjat.

Kini giliran Mas Andi. Dia lebih berpikir 2 kali, karena memutuskan mengeluarkan webbing sepanjang 4-6 m untuk dijadikan pegangan turun. Pak Irawan hanya berucap “hati-hati mas Andi” lalu kembali bernyanyi.

Sebuah lorong besar menjadi ruang tamu. Kami berpikir hanya sampai di sini lorong guanya. Senter pak Irawan mengarah pada lorong kecil “mas itu pintunya dan di dalam ada air dan banyak pintu“.

Pelan-pelan kami berjalan sembari jongkok. Sekitar 20 meter kami berjalan layaknya tentara telat upacara yang harus ditebus dengan jalan mirip kata. Ternyata benar. Di dalam terdapat lorong yang panjang dan penuh dengan ornamen gua.

Suara deburan air yang terdengar, ternyata kepak ratusan sayap kelelawar yang gusar karena kedatangan cahaya dari lampu kepala kami. Saya hanya bisa melihat kagum melihat mamalia ini terbang di atas kami dalam jumlah yang banyak. “jangan lihat ke atas, nanti ada yang berak” kata Pak Irawan.

Kami berjalan menyusuri lorong gua yang cukup panjang. Nampak stalagtit dan stalagmit yang belum menyatu dan ada juga yang sudah menjadi pilar. Gua ini masih hidup, kata Mas Andi, karena masih bisa terbentuk struktur gua baru akibat pengendapan mineral.

Penghuni gua Kedundung.

Beberapa kali tangan ini harus merayap di dinding gua dan seketika itu guano/tahi kelelawar menempel di telapak tangan. Rasa jijik sirna saat itu, mungkin hanya pantat celana yang menjadi lap. Akhirnya perjalana berakhir di sebuah lorong besar yang penuh dengan jangkrik gua. Jangkrik yang panjang antenanya luar biasa adalah organisme gua yang hidup di kegelapan abadi. Di titik ini kami berhenti sembari melihat monster kecil berkaki panjang.

Pekerjaan yang jarang orang lakukan, memetakan gua.

Di ujung gua, Mas Adni membuka buku catatannya. Dia kembali dengan hobinya memetakan lorong gua. Di akan mengukur tiap lorong berupa panjang, lebar, dan tinggi. Alat ukurnya termasuk yang modern dan canggih karena menggunakan laser. Cukup saya atau pak Irawan yang menjadi patokan pengukuran dan selebihnya biar dia yang menggambar.

Hampir 1 jam lebih kami berada di dalam lorong gua. Saatnya kami kembali ke permukaan. Penderitaan harus kami jalani kembali, yakni naik vertikal 12 meter ke mulut gua. Kali ini, memanjat jauh lebih mudah dari pada turun. Dan kami bertiga sampai dengan selamat di mulut gua. Sembari kami menikmati santap siang, dia kembali membuat kami emosi. “Saya terakhir ke gua ini 15 tahun yang lalu dan agak lupa jalan-jalannya, untung tadi kita selamat ya“.

Para Penyintas di Kegelapan Abadi

Jangkrik goa yang antenanya 4-5 kali panjang tubuhnya.

Herbert Spencer pernah mengatakan “survival of the fittest“. Siapa yang bisa menyesuikan dirilah yang bisa bertahan hidup. Matahari adalah satu-satunya sumber energi yang mampu menggerakan kehidupan. Bagaimana jika suatu tempat tanpa ketiadaan matahari, dimana tempat tersebut adalah kegelapan abadi, adakah yang mampu hidup. Ada, jawabnya.

Kars Bentang Alam Unik

Kars adalah sebuah bentang alam yang unik. Dasar lautan yang terangkat sekitar 200 juta tahun yang lalu. Terangkatnya dasar lautan ini menciptakan bentang alam baru. Oleh alam, kars ini diukir menjadi labirin-labiran yang dialiri air yang lama-lama menjadi besar dan kita menyebutnya dengan gua.

Kars Bukit bulan sebagai gugusan bukit-bukit gamping memiliki puluhan gua. Lorong-lorong goa di sana masih banyak yang belum dijamah dan dipelajari. Pada kesempatan ini saya mengikuti ekspedisi penelitian untuk melihat kehidupan di dalam goa tengah Bukit Barisan-Jambi.

Lorong kegelapan abadi di salah satu goa di Kars Bukit Bulan.

Gua adalah sebuah lorong akibat bentukan alam. Di dalam goa dibagi menjadi 3 zona. Zona pertama adalah zona terang, dimana matahari masih bisa menyinari meskipun tidak sepenuh hari. Zona ini ada di mulut goa. Zona kedua adalah remang-remang, dimana cahaya masih bisa masuk namun sangat lemah. Zona ketiga adalah zona gelap. Zona ini adalah kegelapan abadi dan tidak ada sama sekali cahaya.

Fauna Gua

Selama proses pembentukan gua, ikut serta hewan-hewan yang sengaja masuk atau tidak sengaja terperangkap. Kembali pada dogma evolusi yakni adaptasi. Siapa yang lolos dari tekanan lingkungan dialah yang hidup.

Secara definitif ada 3 jenis fauna gua. Trogloxene, adalah fauna yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal tetapi dalam waktu tertentu akan keluar mancari makan, contohnya; kelelawar, seriti, walet, dan ular. Troglophile, fauna yang menghabiskan hidupnya di dalam gua, tetapi tidak tergantung pada gua. Yang ketiga adalah troglobites yakni fauna yang seluruh hidupnya tergantung pada gua dan berada di dalam gua.

Fauna goa adalah organisme yang eksotis. Mereka telah beradaptasi dengan memodifikasi dan mereduksi tubuhnya agar mampui hidup di dalam gua. Gua dengan zona gelap total, maka mata tidak lagi memiliki fungsi sehingga direduksi dan bahkan banyak yang buta. Mereka mengandalkan indera peraba berupa antena atau memerpanjang kaki depan. Tidak adanya cahaya juga membuat tubuh mereka kehilangan pigmen sehingga meraka menjadi albino, meskipun tidak semuanya demikian.

Adaptasi yang luar biasa bagi mahluk penyintas di dalam kegelapan abadi. Tidak adanya aktivitas yang banyak mereka melambatkan diri dengan memelankan metabolismenya. Mungkin hanya kelelawar, saja yang masih gesit gerakannya karena mengandalkan sonar. Ular mengandalkan sensor panas. Seriti dan walet teradaptasi dengan zona remang.

Sedang menangkap serangga gua.

Saya mencoba melangkah di dalam zona kegelapan abadi. Lampu kepala menuntun saya berjalan di atas tumpukan goano yang lembek. Sesekali kotoran kelelawar jatuh di badan saya. Saya menjadi tamu bagi hewan-hewan yang telah lolos dari seleksi alam ini.

Kelawar yang terbang dalam kegelapan dan tidak pernah bertabrakan.

Saya mencoba ingin merasakan sensasi kegelapan abadi. Telinga saya masih bisa merasakan kepak sayap kelelawar. Tetiba tangan saya menghentak karena ada hewan yang sengaja tersentuh. Klik, senter kepala saya nyalakah. Ternyata hanya jangkrik gua (Rhapidophora sp).

Sepintas melihat jangkrik di sini sangat unik. Antenanya 4-5 kali lebih panjang dari tubuhnya. Inilah salah satu wujud evolusi, dimana hanya indera peraba yang berfungsi. Bayangkan saja, jangkrik ini hidup di luar sana. Pasti sudah nyangkut antenanya di semak-semak.

Kaki seribu gua.

Beberapa hewan gua yang saya temui adalah beragam jenis laba-laba’ Charon sp., Heteropoda beroni, Heteropoda maxima. Kaki mereka memanjang dan tidak lagi membuat jaring-jaring karena tidak ada serangga yang terbang. Ada juga kaki seribu yang berwarna putih, demikian saya menyebutnya, tetapi zoolog menyebutnya dengan Hypocambala sp.

Sampel fauna gua untuk dipelajari.

Puas sepertinya melihat alam berkreasi untuk menciptakan spesies-spesies unik yang mampu hidup di dalam kegelapan abadi. Masih ada satu lagi spesies yang belum saya ketahui dan saat ini masih saya pelajari. Spesies ini tidak kalah unik, karena hanya di temuka di sini. Nantikan tulisan berikutnya.