Internet-lah yang Menyelamatkan Nyawanya

Penyelam di dasar kolam

Terimakasih Bu, saya berhutang nyawa pada Bu” kata Om Ash usai kondisinya stabil setelah sekitar 5 menit pingsan. Dia adalah penghobi free diving atau selam bebas. Sekali tarikan nafas, dia mampu menyelam bermenit-menit dan berpuluh-puluh meter jarak tempuhnya. Mungkin hari itu, dia sedang tidak fit dan kecelakaan itu terjadi, dan berkat internetlah yang mengembalikan hidupnya.

Setiap akhir pekan saya bersama klub selam saya, bisa melakukan latihan bersama. Hari itu kami sedang latihan free diving dan kebetulan ada kenalan yang ikut bergabung. Om Ash namanya, usia sekitar 60 tahun asal dari Maluku dan jago dalam berenang. Sampai saat itu, sulit menandinginya jika adu nafas dan menyelan di kolom air. Mungkin baru setengah jarak, nafas kita sudah habis dan Om Ash masih lanjut hinggu ujung kolam.

Hari itu saya diajak “Ayo Bu, kita molo (ayo mas kita menyelam)” kata Om Ash. “Oke Om, saya di atas, Om di bawah” lalu kita menarik nafas dan menyelamlah. Saya di kedalaman sekitar 1,5 meter dan Om Ash di dasar kolam di 3 meter. Penyelaman pertama berhasil sampai ujung. Sejenak saya mengatur nafas saya yang hampir putus, tak berselang “Ayo Bu, pi molo lagi?“, “duluan Om, saya di belalang saja” sahut saya. Menyelamlah dia dan berjarak 5 meter saya mengikutinya dan semuanya baik-baik saja.

Tiba-tiba terdengar suara keras dari permukaan air “arhhh…!” lalu menghilang dan terlihat Om Ash tenggelam. Saya mendekat, terlihat Om Ash sudah tergeletak di dasar kolam dengan mata dan mulut terbuka. Dia black out, istilah dalam free diving yang artinya hilangnya kesadaran, karena otak kekurangan oksigen. Black out lazim terjadi pada free diver akibat memaksakan dirinya untuk melampaui batasan kemampuannya.

Saya berenang persis di atas dia. Saya melihat dasar kolam dan dia sudah tidak bergerak. Saya kumpulkan tenaga, ambil nafas dalam-dalam dan dengan duck dive yakni teknik untuk turun ke dasar secara vertikal. Sampai dasar kolam, saya angkat melalui bagian belakang badannya dan kepala di atas. Begitu sampai permukaan saya pinggirkan dan saya minta bantuan orang untuk mengangkatnya ke belakang.

Pelatihan kegawat daruratan penyemalan dalam bentuk simulasi.

no cam… jangan foto… jangan rekam..” teriak saya pada orang-orang yang ingin mengabadikan dengan smart phone. Saya tidurkan di lantai kolam, saya chek nadi dan masih berdenyut, tetapi nafas berhenti. Untuk kejadian ini saya membutuhkan bantuan tenaga medis dan sangat terlambat jika harus menunggunya. “Ada dokter atau perawat di sini” teriak saya dan saya menatap wajah yang geleng-gelang. Meskipun saya sudah mengikuti pelatihan kegawat daruratan penyelaman, tetapi baru sebatas simulasi, sehingga saya masih harus mendapatkan panduan dari yang berkompeten.

Saya ambil ponsel saya dan saya video call teman saya yang seorang perawat dan penyelam. Sangat beruntung saya hari itu koneksi internet yang lancar, sehingga teman saya dan saya bisa menerima gambar dan suara dengan jelas. Dengan internet bawaan provider di ponsel saya biasanya sangat susah karena jaringan sinyal yang lemah, tapi beruntung saya memanfaatkan wifi IndiHome dari Telkom Indonesia fasilitas dari pengelola kolam renang dan ini baru Internetnya Indonesia yang lancar jaya. Dengan panggilan video akan memudahkan saya mendeskripsikan kondisi korban dan bagaimana penangannya, sebab jika salah penanganan bisa saja memerburuk keadaaan korban.

Melalui video call saya diperintahkan “miringkan badan, buka mulutnya dan bersihkan saluran nafasnya, cek apakah ada air atau lidahnya tertelan“, “ok sudah, dan air sudah keluar, lidah tidak terlipat” jawab saya. “tepuk punggungnya dengan telapak tangan” katanya, plak.. plak.. plak… saya tepuk pundaknya. Tiba-tiba terdengar, Om Ash terbatuk-batuk dan kembali bernafas. “tepuk terus dan suruh batuk yang keras, lalu atur nafasnya hirup, tahan, lepaskan, sampai normal“. Akhirnya dia sadar, wajahnya kembali berbinar, dan bisa berbicara meskipun dengan suara terengah-engah. “Bawa ke IGD sekarang..!” teriak teman saya.

Usai Om Ash sadar, saya juga baru tersadar. Berkat internet, nyawa seseorang bisa tertolong dan dengan penanganan yang baik dan benar dari ahlinya. Saya tidak membayangkan jika saat itu tidak ada internet dan, katakanlah dengan telepon bisa saja bisa salah menafsirkan perintah suara. Dengan panggilan video, bisa melihat langsung kejadian dan bagaimana harus menanganinya.

Jika selama ini internet saya gunakan hanya sebatas untuk mencari hiburan atau sekedar berselancar ria, ternyata ada satu nyawa yang berhasil saya selamatkan. Internet-lah yang membantu dalam kondisi kegawat daruratan menghubungkan dengan tenaga medis. Ah mungkin saja jika dulu saya tidak melarang orang untuk merekam, bisa saja sudah viral dan saya jadi jagoan hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s