Mama Tinggal Kuah

Kain Timor yang ditenun berminggu-minggu diberikan untuk tamu.

Kalau orang Timor, pokoknya servis tamu dulu dan orang rumah urusan belakangan. Itu yang terlihat di depan, kalau mau lihat aslinya cobalah tengok ke belakang. Kelakar Tony teman saya saat membahas keadaban orang Timor.

Sekitar 4 tahun yang lalu saya berkesempatan mengunjungi selatan Pulau Timor. Pagi itu saya diajak berburu rusa, yang konon populasinya masih banyak. Pagi buta kami berangkat dari Kota SoE dan hampir jam 12 kami baru sampai lokasi.

Sebuah padang rumbut belantara dan beberapa titik terlihat rimbunnya pohon akasia dari sungai nil dan beberapa pohon gewang/gebang yang tumbuh bergerombol. Mirip Afrika lebih tepatnya.





Terik matahari begitu terasa di kulit. Jangankan rusa, semut atau serangga tak saya temui. Akhirya kami menyerah dan numpang istirahat disebuah lopo. Tuan rumah datang dan menyambut dengan hangat di tengah cuaca panas.

Kami disuguhkan air putih yang dituang dari jeriken bakas minyak. Tak berapa lama terdengar ronta suara ayam. Saya masih menikmati sejuknya angin semilir dibawah atap yang terbuat dari daun lontar sembari menimang-nimang biji gewang.

Bapak mari makan, ucap pemilik rumah. Benar saja, ternyata ada ada seekor ayam yang baru saja dipotong. Perut yang lapar, segera saya mengambil nasi dan ayam yang direbus. Kami makan dengan lahap, dan tuan rumah berbisik “anak-anak nanti”.

Usai makan “mama tinggal kuah” kata seorang anak.

Saya tersentak ketikan tak sengaja berjalan ke belakang rumah. Badan saya lemas, kepala saya menunduk, tarikan nafas panjang. Saya sangat merasa berdosa sekali hari itu.

Dalam perjalanan pulang saya bertanya pada Om Simon yang mengajak saya berburu. Ada satu pertanyaan yang mengganjal dan harus saya katakan. “Om mengapa sampai sedemikiannya..?”.

Mas, orang Timor sangat menghormati tamu, apalagi orang jauh. Mereka akan memersembahkan apa yang mereka punya, bahkan kadang yang mereka tidak punya. Itu sebuah penghormatan dan penghargaan.

Saya tetap tidak terima. Bagaimana mungkin kita makan ayam, sedangkan anak-anak hanya makan kuahnya saja. Anjing-anjing yang kurus-kurus mungkin saja tidak dapat tulang, mungkin akan disesap-sesap ulang sama mereka. Ini gila.

Kendaraan berhenti. Mas inilah adat disini. Jangan melihat dari materinya, tetapi lihatlah dari nilai dan pesan moralnya. Orang tua sedang mengajarkan anak-anaknya tentang adab, meski anak-anak ini ditaruh paling bawah.

Ini pelajaran penting bagi anak-anak untuk menerima kenyataan hidup, ketidak adilan, bahkan perbedaan. Kita menjadi media pembelajaran mereka, agar anak-anak ini bisa ditempa. Jangan kawatir, tadi saya kasih 400 ribu buat ganti beli ayamnya dan bisa dapat 5 atau 6.

Lega saya…

One thought on “Mama Tinggal Kuah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s