Aneka Rupa Mahluk Hidup

Evolusi selama jutaan tahun yang lalu telah mengubah bumi dan seisinya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi nyatanya. Bukan yang kuat yang menang, tetapi yang bisa menyesuaikan dirilah yang bisa lestari.

5 mekanisme evolusi (Natural selection, Genetic drift, Mutation, Gene flow, Rekombinasi Seksual)  telah menghasilkan individu baru yang telah teradapatasi, terseleksi, dan kemudian menciptakan variasi. Organisme yang hidup saat ini telah melewati perjalanan panjang evolyusi selama jutaan tahun yang lalu.

Pertanyaan muncul, apakah ada organisme yang tidak berevolusi dan masih ada sampai saat ini. Jawabannya ada. Pertanyaan selanjutnya mengapa meraka tidak berevolusi? Jawabannya sederhana, hidup mereka tidak terpengaruh oleh perubahan lingkungan, karena evolusi ada saat ada perubahan lingkungan. Organisme apa yang tidak berevolusi; ada beberapa sebut saja organisme tingkat rendah seperti; makroalga, paku-pakuan, lumut, bakteri, dan lain sebagainya. Mereka sebagai organisme rendah sangat tahan akan perubahan lingkungan, sehingga dengan kemampuannya itu mereka tidak perlu susah payah mengubah dirinya agar selamat. Dengan demikian, organisme tingkat rendah ini masih ada sampai sekarang dan masih dengan mudah kita temukan.

Lantas bagaimana dengan organisme yang tidak tahan dengan perubahan lingkungan, jawabannya mereka punah. Hanya organisme yang tahan dan bisa beradaptasi dengan lingkungan yang masih eksis atau lestari. Lantas bagaimana caranya mereka bertahan hidup? “Survival of the fittest” sesederahana itu jawabannya, yakni beradaptasi.

Variasi Hewan

Adaptasi banyak sekali ragam dan caranya bagi mahluk hidup, baik yang tingkat tinggi maupun tingkat rendah. Mereka berusaha mati-matian mengubah morfologi atau bentuk tubuhnya untuk bertahan hidup, baik dari perubahan lingkungan ataupun makanan. Mari kita lihat contoh sederhananya, gambar di bawah ini.

Ini adalah contoh bagaimana Charles Darwin menjelaskan evolusi. Dari satu spesies burung finch telah menghasilkan 10 variasi bentuk paruh. Variasi bentuk paruh ini dikarenakan kondisi lingkungan yang berbeda yang berimplikasi pada ketersediaan makanan yang berbeda pula. Ada burung finch yang mamakan buah, serangga, kaktus, dan biji-bijian. Finch pemakan buah memiliki paruh yang lebar yang digunakan untuk mengiris buah. Finch dengan paruh pendek dan lancip adalah tipe pemakan serangga, dimana dia harus mematuk serangga. Finch pemakan kaktus akan memiliki paruh yang runcing dan panjang karena harus melukai pohon kaktut yang berduri dan keras. Finch pemakan bebijian akan memiliki paruh yang pendek dan lebar karena harus bisa mematuk dan mengambil biji-bijian. Inilah yang dimaksu dengan varisi, dimana sebelumnya burung-burung ini sudah melalui fase adaptasi dan seleksi.

Contoh burung finch adalah contoh kecil dari variasi spesies, bagaimana dengan variasi antar spesies? Mari kita lihat gambar di bawah ini bagaimana berbagai jenis burung juga memiliki bentuk paruh yang berbeda sebagai respon terhadap lingkungan dan sumber makanannya.

Gambar di atas adalah variasi antar spesies. Bentuk paruh burung mengacu pada apa yang mereka makan, dimana paruh adalah organ untuk makan. Dari paruh diatas bisa kita lihat ada burung pemakan daging, biji, buah, serangga, ikan, nektar, dan lain sebagainya. Nah itu baru antar spesies dari bangsa burung atau aves, bagaimana dengan mamalia, reptil, pisces, insekta, amfibia, tentu saja akan ada ribuan bahkan jutaan variasi.

Variasi Tumbuhan

Variasi-variasi tersebutlah yang nantinya menjadi keanekaragaman hayati untuk fauna atau hewan. Bagaimana dengan variasi pada tumbuhan, apakah ada? Ada dan bisa lebih banyak lagi yang aneh-aneh dan unik dari tumbuhan. Coba lihat gambar di bawah ini, bagaimana variasi pada tumbuhan itu nampak dan bisa kita lihat di sekitar kita.

Contoh sederhana dari variasi pada flora atau tumbuhan adalah bentuk perakaran. Akar bagi tumbuhan tidak jauh berbeda dengan paruh pada burung, yakni sama-sama untuk mengambil makanan yakni air dan mineral (unsur hara), namun tumbuhan lebih variatif dan unik. Akar bagi tumbuhan tak semata-mata sebagai alat untuk makan, tetapi ada fungsi lain. Contohnya kentang, akar digunakan sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan sekaligus juga sebagai reproduksi vegetatif (tanpa kawin), hal demikian mirip dengan pisang, wortel, bunga dahlia, bit dan lain sebagainya.

Akar pada stroberi atau pegagan (Centela asiatica) digukan sebagai alat perkembang biakan vegetatif juga yang dikenal dengan stolon, mekanisme ini juga terdapat pada eceng gondok. Ada yang unik lagi, yakni keluarga jahe-jahean yang memanfaatkan akar dan batang yang menyatu menjadi rimpang dan nantinya bisa menjadi individu baru. Masih banyak lagi tumbuhan yang unik-unik kalau berbicara dengan akarnya.

Ada contoh lagi, bagaimana tumbuhan memodifikasi organnya guna menyesuaikan diri dengan lingkungannya yakni pada daun. Mengapa daun?. Daun adalah alat tangkap energi guna proses fotosintesis, alat pertahanan diri, sebagai organ reproduksi aseksusal/vegetatif, dan laian sebagainya. Mari kita lihat contoh modifikasi daun di bawah ini.

Mengapa daun memiliki bentuk yang berbeda? Kembali lagi ini adalah wujud adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Mengapa daun talas itu lebar, tidak seperti daun kelor (yang katanya tak seluas dunia). Daun talas lebar kerena talas hanya memiliki beberapa helai daun, dan habitatnya di bawah, lalu pohonnya tidak tinggi. Talas berupaya bagiamana caranya mendapatkan sinar matahari sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan kelor yang memiliki pohon tinggi, cabang, dahan, dan ranting banyak. Meskipun kelor memiliki daun berukuran kecil, tidak akan menjadi masalah berebut sinar matahari karena kelor ada diketinggian dan tidak tertutup. Nah itu contoh daun berfungsi sebagai alat penangkap sinar matahari, dimana harus memaksa dirinya mengubah bentuk. Masih banyak bentuk yang lainnya dan pasti memiliki fungsintya masing-masing.

Variasi Manusia

Bagaimana dengan manusia, apakah ada variasi? Jangan membayangkan manusia itu seperti hewan atau tumbuhan di atas. Manusia adalah lingkup kecil dari keanakeragaman hayati. Manusia sangat sedikit pengaruh paparan lingkungannya, sehingga tidak terlalu banyak mengalami variasi secera morfologi. Mari kita lihat contoh sederhananya dengan bambar di bawah ini.

Wajah kalian mirip yang mana? Saya kiar wajahnya sama yang membedakan adalah warna kulit, bentuk rambut, dan warna mata. Itu ciri fisik yang berbeda, dan itulah variasi. Menjadi pertanyaan, bagaiman ceritanya ada manusia yang berkulit putih dan berkulit gelap. Pertanyaan yang sederhana, namun kita harus melihat sejarah panjang perjalanan manusia.

Seratus tahun yang lalu kita berangkat dari Afrika untuk berjalan ke seluruh penjuru dunia. Perjalanan ratusan tahun itulah yang merubah warna kulit. Tidak ada yang tahu, awalnya nenek moyang kita itu kulitnya berwarna apa, tetapi saat ini yang terlihat beragam warna kulit; gelap, kuning, putih, dan cokelat.

Perubahan warna kulit yang menjadi jawaban dari evolusi adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Warna kulit adalah akumulasi dari pigmen kulit / melatonin. Semakin banyak kandungan melatonin maka semakin gelap kulit kita. Melatonin adalah mekanisme pertahanan diri dari kondisi lingkungan yang ekstrim terutama paparan sinar matahari. Dahulu kala, manusia yang tinggal di daerah dengan paparan sinar matahari yang kuat akan beradaptasi dengan memroduksi pigmen kulit yang banyak.

Berbeda dengan manusia yang tinggal di kawasan dengan paparan matahari yang rendah atau terlindung, makan secara adaptasi dia tidak akan terlalu banyak memroduksi pigmen kulit. Sisi lain mereka sudah mengenal pakaian sebagai pelindung, sehingga lebih mengurangi produksi dari melatonin. Nah kira-kira sudah disimpulkan, kenapa berbeda warna kulit.

Sebagai pengingat, melatonin itu hanya ada dipermukaan kulit sekitar 1 – 2 mm dan sangat tipis. Artinya perbedaan warna kulit itu hanya setebal kulit ari saja dan sebagai mekanisme pertahanan diri. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Mungkin, mereka yang berkulit gelap harus bersyukur memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat terhadap paparan matahari.

Jadi bisa dikatakan keanekaragaman hayati adalah ekspresi dari variasi-variasi yang terjadi sebagai mekanisme pertahanan diri agar tetap eksis dan itu adalah evolusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s