Kendil Memanggil

Pagi di Gunung Kendil.

Gegara korona, hampir 6 bulan aktivitas alam bebas benar-benar tidak bebas. Hendak berenang, tak satu pun kolam renang yang dibuka. Hendak berkemah, tak satu pun bumi perkemahan yang dibuka. Hendak naik gunung, gerbang pendakian ditutup rapat-rapat. Lantas bagaimana, mungkin bisa berkemah dan sembari mendaki gunung.

Dari sekian banyak destinasi kegiatan alam bebas yang masih digembok, pasti ada yang sama sekali masih dibiarkan terbuka. Benar saja, ada salah satu tempat yang eksotik dan masih dibiarkan terbuka. Gunung Kendil, gunung sepertinya kurang tepat karena bentuknya hanya mirip bukit dan ketinggiannya hanya 1275 m dpl.

Pendakian ke gunung kendil melewati puncak lembah.

Baiklah sepakat saja kita menyebutnya dengan gunung untuk bukit yang lancip ini. Bagi saya gunung Kendil adalah tempat yang eksotis, bagaimana tidak. Dari puncaknya saya bisa melihat eloknya matahari terbit tanpa ada yang menghalangi dari ufuk timur. Geser ke kanan sedikit apa puncak gunung lawut. Ke selatan bisa melihat deretan gunung Gajah Mungkur yang bersanding dengan Telomoyo, dan di belakang kokoh Merbabu berdiri. Kalau sedang beruntung di sisi barat bisa melihat sikembar Sumbing dan Sindoro dan di sisi utara adalah Gunung Ungarna dengan gunung Kendali Sodo di bawahnya berdiri mungil. Tepat di timur laut rawa pening mengampar merefleksikan pantulan cahaya matahari.

Bagi yang tidak pernah naik gunung, pergilah kemari. Kaki saya hanya butuh waktu 30 menit untuk melangkah hingga sampai di puncak-itu pun lewat jalur semak belukar. Sekarang jalan sudah bagus, mungkin 30 menit kurang kalau lewat jalur itu.

Puncak Kendil yang terbuka.

Di puncak gunung, kondisinya terbuka. Tidak ada pepohonan, yang ada hanyalah semak belukar dan batu patok penanda ketinggian. Yang asyik adalah bagian sisi timur dari puncak, banyak terasiring dan pohon akasia. Inolah lokasi yang nyaman untuk mendirikan tenda dan memasang hamok.

Lokasi yang nyaman untuk mendirikan tenda, memasakan, bercengkrama dan bertutur kisah masa-masa pendakian kemarin. Malam datang, seribu bintang menghiasi langit dan hujan kenangan akan romansa Ranu Kumbolo hingga pesona Dewi Anjani dari segara anak. Cerita lucuk dan konyol memecah keheningan malam dengan tertawa lepas, kadang hening saat ada cerita romantis, atau mulut terkatup saat cerita mistis menyerempet. Akhirnya malam makin larut, nyala senter gantung makin redup, dan datanglah kantuk, saatnya memeluk kehangatan di atas matras.

Sang surya belum juga beranjak, namun kompor buatan swedia ini sudah menyala, meski hanya menjerang air. Tak berapa lama mendidihlah, lalu pelan dituang teh tubruk, sedikit gula, dan batang serai liar yang kemarin sore dipetik dari puncak. Secangkir teh serai hangat akan menemani saat indah dalam pendakian, menantikan sang mentari.

Menanti terbitnya sang surya.

Dari ufuk timur langit sudah merona seperti pipi nona manis yang tersipu. Perlahan warna blue hour mulau memudar, berganti warna jingga. Bulatan kecil bersinar terang perlahan merangkak naik, pelan namun pasti. Tidak ada suara, dan nyaris hening. Yang berisik hanyalan tombol rana yang terus ditekan seperti mesin jahit dan di sisi lain lampu led berwarna merah berkedip setiap 15 detik.

Kue lapisa dari atas Gunung Kendil.

Kaki ini sepertinya belum enggan untuk beranjak. Di depan sama, alam ini masih memanjakan mata. Bukit-bukit kecil yang berdiri seolah berlapis-lapis dengan selimut halimun tipis. Rawa pening dengan pantulan warna kuning emasnya terlihat begitu elok memesona. Entahlah inikah yang namanya renjana.

Video dokumentasi pendakian.

Ah… terlalu indah untuk terus berkisah. Kawan-kawanku sudah kembali ke teras tenda guna bergotong royong untuk menyiapkan sarapan, dan lagi-lagi kita kembali berkisah. Kawan kapan kita kemana…?

Terimakasih Kendil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s