Sepeda Saat Musim Corona

Tahun 2007, gaji kedua saya langsung untuk beli sepeda. Saya ikut keracunan Bike to Work, hingga saat ini. Sepeda menjadi kendaraan saya menuju kantor dan beraktifitas. Jika sepeda tidak bisa meng-cover baru naik kendaraan bermotor.

Tahun ini mungkin lonjakan populasi sepeda naik dratis gegara pandemi. Di Amerika serikat, sebeda dibawah US$ 1.000 hampir sulit ditemui di toko sepeda. Di Taiwan, produsen sepeda Giant juga ugal-ugalan memenuhi permintaan sepeda untuk Asia dan Eropa. Di Jakarta, pesepeda melonjak 1000% bisa dibayangkan bukan.

Dahulu sepeda tercipta kerena musim dingin berkepanjangan. Letusan tambora 200 tahun yang lalu menjadi pandemi, dan banyak kuda sebagai alat transporrtasi mati kelaparan dan sebagian mungkin disembelih. Munculah teknologi transportasi yang bernama sepeda.

Ada hal yang menarik mengapa sepeda begitu booming saat ini. Di luar negeri, sepeda dipilih sebagai transportasi yang aman untuk jaga jarak/phisical distancing. Mereka masih menghindari angkutan umum dan memilih sepeda untuk mobilitas, pilihan yang bijak. Maka mereka menyesuaikan anggaran untuk beli sepeda dibawah harga 14 juta rupiah atau seribu dolar.

Lain kisah, di kampung saya. 2 minggu di kurung gegara wilayahnya menjadi zona merah tidak bisa kemana-mana, bahasa kerennya gabut. Mereka mengalami depresi karena ruang gerak dipersempit. Mungkin jika ada kesempatan keluar, pasti akan dipakai.

Akhirnya selesai juga masa karantina, namun aktifitas sekolah, perkantoran juga masih belum aktif. Mau dolan kemana bingung, karena mall masih tutup. Akhirnya sepedaan saja, ngajak teman 1,2,3 lama-lama asyik touring keliling kampung. Yang tidak punya sepeda, mencoba pinjam, bahkan ada yang merogoh kocek beli baru atau second.

Hal senada ditiru juga tetangga kampung saya dan begitu seterusnya. Jadilah musim sepeda. Alhasil, toko sepeda ludes, dan harus menunggu 2-3 minggu lagi sampai kiriman sepeda datang. Ada yang galak “berapa pun saya beli asal ada sepeda”, ada yang kalem “kerana dia utang di layanan jasa pembayaran”.

Lain kisah dengan teman sekantor. Tumben-tumben dia mengunggah sedang bersepeda, dengan barang yang masih bau toko. Ternyata dia sedang ikut trend, bersepeda. Saya kira, dia mau hijrah dari kendaraan bermesin ke sepeda, ternyata tidak. Dia sedang memenuhi hasrat kehidupan bersosialnya.

Di sela-sela kayuhan sepeda, saya ketemu mBah Di. Dia manusia sepeda bisa dikatakan demikian. Sudah sepuh/tua, namun masih setia dengan sepeda federalnya. Saya kenal beliau saat tahu dia pulang dari Bali dengan naik sepeda. Sejak itu saya diajak long trip, yakni nggenjot berpuluh-puluh kilo sampai betis ini mati rasa.

Obrolan singkat menyimpulkan hobi baru di kala pandemi. Populasi sepeda meningkat, tetapi tidak menurunkan penggunaan kendaraan bermotor. Sepeda hanya menjadi hobi baru dan pemenuhan kebutuhan sosial, namun bukan alternatif transportasi. Memang semua tidak demikian, namun kebanyakan iya. Oke salam satu nafas…

One thought on “Sepeda Saat Musim Corona

  1. Belakangan deretan story wa banyak yang aplot foto-foto lagi bersepeda. Dan saya hapal siapa-siapa yang biasanya bersepeda. Benar memang, yang tiba-tiba bersepeda ikutan trend doang. Paling habis itu terongok nganggur. Dan saya kepikiran pengen beli sepeda juga bhuahaha. Nggak saya nggak ikutan trend. Saya pengen ganti suasana yang biasanya jogging 10km, pengen sepedaan sampai berkilo-kilometer sampai engap hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s