Menyangkal Ilmu Pengetahuan antara Keraguan dan Kekecewaan

Saya memiliki teman, kebetulan dia kuliah ambil jurusan Fisika. Suatu hari dia jengkel setengah mati gara-gara timbangan. Mengapa dia marah? karena dia biasanya naik kapal barang tidak ditimbang, tapi kali ini ditimbang. Parahnya lagi, angka yang ditimbang dikonversi dalam rupiah dan dia harus mebayarnya.

Kemarahan dia kemudian dilampiaskan pada operator kapal. Jawaban singkat “itu sudah kebijakan yang di atas”. Lalu dia memindahkan pelampiasannya pada pemerintah yang membuat kebijakan dengan menimbang barang bawaan. Sejak itu dia mulai tidak percaya pada benda yang bernama timbangan, gegara benda itu semua serba dikomersialkan. Pemerintah dianggap memanfaatka  timbangan untuk mencari untung.

Dia lantas sesumbar, saya tidak lagi percaya pada alat yang bernama timbangan. Itu adalah produk kapitalis yang menyengsarakan, sebab timbangan akan menjadikan semua yang memiliki bobot menjadi uang. Saya tak lagi percaya pada timbangan, titik.

Padahal di bangku kuliah, teman saya ini paling pinter fisika. Semua rumus hukum alam ini dia pahami dan kuasai, termasuk ciptaan Issac Newton dengan hukum 1,2, dan 3. Salah satu rumusnya yang dipakai dalam timbangan yakni w=m.g atau berat adalah perkalian massa dengan gravitasi.

Dia mungkin telah mengkhianati hukum newton yang dipakai dalam timbangan, seolah dia tak lagi percaya dengan berat, masa, dan kekuatan gravitasi. Kekecewaan membuat dia membutakan ilmu alam tersebut, sampai menistakan timbangan sebagai akal-akalan kapitalis. Padahal dia disuruh naik ke atap lalu loncat kebawah, masih mikir-mikir, atau ditindis dengan karung berisi beras bertuliskan 1 kw.

Lain kisah dengan teman saya yang belajar biologi. Dia belajar mikrobiologi pula, belajar virus pula, bahkan lebih detail. Saat ini tak percaya kalau Sars Covid itu berbahaya, dan menganggap biasa saja. Walah cuma virus, kecil lah bisa kok di lawan. Ini cuma akal-akalan Pemerintah keluarin anggaran.

Sepertinya dia mengalami hal yang sama. Dia terpaksa mengkhianati keilmuwannya gegara ada kekecewaan pada penguasa. Dia sedang menyangkal apa yang dia pelajari selama ini, bahkan mungkin diajarkan. Tidak peduli lagi dengan ahli-ahli virologi, dan lebih percaya ini adalah konspirasi tingkat tinggi. Dia berani diinfeksi dan akan cari tau sendiri obatnya.

Penyangkalan keilmuwan bukan karena ketidaktahuan, tetapi pada kekecewaan. Mungkin dia sakit hati pada mantannya dan bisa mengatakan “semua lelaki sama saja”. Memang kekecewaan itu membutakan, termasuk logika.

One thought on “Menyangkal Ilmu Pengetahuan antara Keraguan dan Kekecewaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s