Watervang Lubuklinggau Bendungan Peninggalan Belanda

Bendung watervang

Rintik hujan membasahi kaca jendela hotel tempat saya menginap. Pagi itu usai adzan subuh dikumandanglan, saya segera mengemasi kamera. Pagi ini adalah kesempatan terakhir saya, sebab pukul 09.00 harus meninggalkan Lubuklinggau menuju Jakarta. Saya berlalir kecil di bawah rinai hujan untuk menuju Watervang.

Saya berjalan menyusuri lorong jalan yang diberi nama Jalan Watervang. Masih sepi dan senyap, dan matahari juga masih terlelap. Akhirnya sampai juga dipelataran Watervang yang masih lengang.

Sudut lain watervang,.

Watervang berasal dari Bahasa Belanda yang berarti perangkap air, kalau kita bisa menyebutnya dengan Bendungan. Watervang adalah bukti sejarah peninggalan Kolonial Belanda yang masih ada terjaga sampai saat ini.

Pada tahun 1940, Kota Lubuk Linggau masih sepi dan didatangkan beberapa orang dari Jawa sebagai transmigran untuk bercocok tanam. Maka tahun 1941 dibangunlah bendungan sebagai upaya Politik Etis atau balas budi.

Dalam pembangunan saya teringat akan rekan seperjalanan saya yakni Pak Teguh yang dilahirkan di Watervang. Ayahnya dahulu yang mengerjakan proyek bendungan, karena bekerja di Dinas Pekerjaan Umum saat itu. Dia memboyong seluruh keluarganya yang berasal dari Ponorogo, kalau saya tidak salah ingat. Akhirnya menetap di sana dan rumahnya persih di dekat bendung Watervang.

Watervang yang dibangun di era Kolonial Belanda masih kokoh berdiri hingga saat ini. Bendungan yang mencegat air dari sungai Kelingi ini menjadi area perangkap air untuk irigasi di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas.

Sungai Kelingi yang dibendung.

Akhirnya matahari menapak dari ufuk timur dan saya berjalan di jembatan gantung tepat di atas bendungan. Sungai Kelingi nampak mengalir pelan dan berwarna hijau toska. Saya menikmati besi-besi yang menjadi pilar penompang bangunan dan bendungan. Entah bagaimana dulu orang Belanda membawa dan memasangnya di sini.

Saya memerhatikan sudut-sudut bendungan yang masih terawat dengan baik. Batu-batu pondasi yang masih kokoh berdiri, besi-besi yang berkarat sudah dicat kembali. Pantas saja Pak Teguh begitu membagakan karya bapaknya ini.

Saya duduk di tepi sungai Kelingi dan melihat satu potensi wisata air di sini. Di dalam bendungan bisa dipakai untuk padling, kano, kayak, wah banyak sekali kalau hanya untuk mengapung di air. Tatapan saya buyar sesaat matahari mulau memberikan cahayanya di ujung sungai.

Di kota kecil ini saya sudah 3 hari dan belum menemukan tempat wisata alam, dan kalau ada jaraknya lumayan jauh. Waterwang, ini yang terdekat dan persih di tengah kota. Berandai-andai kalau ini dikelola akan menjadi landmark kota kecil ini. Terimakasih Lubuklinggau dan saya harus melanjutkan perjalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s