Perawat Sak Karepmu

WhatsApp Image 2020-05-21 at 07.09.36

Mungkin 10-12 tahun yang lalu, saya dekat dengan calon calonnya perawat alias masih kuliah. Hanya melihat pekerjaanya saja saya sudah angkat tangan. Bayangkan, sudah kuliah mbayar mahal, praktik mbayar pula, dimarahi pula, sift pagi, sore, kadang malam, pulang-pulang harus nulis laporan di buku batik sampe kriting jempole. Tega, ada yang mengatakan “manja…
10 tahun berlalu, akhirnya saya diberi kepercayaan untuk mengajar beberapa mata kuliah di keperawatan. Melihat modulnya, minta ampun tebalnya dengan bahasa khas kedokteran yang harus saya raba pelan-pelan. Tidak mudah dan sangat sulit, bagi saya terlebih bagi yang mengatkan “manja“. Kalau diberi opsi, mending saya milih S3 biologi daripada kuliah keperawatan.
Beberapa kali harus mendengar keluhan mereka. Sudah sift semalam, tidak tidur, dimarahi, berdiri terus, disuruh kesana kemari, tidak boleh ngeluh, yang lebih parah, laporan segera dikumpulkan dan tulis tangan. Singkat kata luluslah mereka setelah berdarah-darah. Langsung kerja..? TIDAK…!!! Mereka harus ambil profesi ners, 1 tahun. Tahu biayanya berapa? setara dengan kuliah S2.
Ners yang mereka ambil, mewajibkan mereka kerja bakti di rumah sakit dengan memerdalam ilmu dan nambah jam terbang. Lelah, penat, pusing, mungkin mereka lebih sakit dari pasien dan itu setiap hari selama lebih dari 6 bulan, oplosan pagi, sore, malam. Masih mau bilang “manja“.
Lulus jadi ners langsung kerja? TIDAK… Nunggu dewi fortuna itu datang dan tidak mudah, dan harus berjuang. Masih bilang “manja“. Akhirnya bekerjalah mereka menjadi perawat junior, kalau tentara mungkin balok merah satu. Masih disuruh kesana kemari buat nambah jam terbang, pokoknya pasukan berani lelah dan sengsara,.masih mau bilang “manja“.
Oke lanjut, dia cerita habis diomel-omeli keluarga pasien “perawate pekok“. Guys, perawat bekerja atas perintah dokter. Perawat tidak boleh bekerja atas inisiatif sendiri, main suntik, main tusuk. Semua ada prosedurnya. Dia berjaga setiap saat dan siap dengan laporan kepada dokter dan siap dengan tindakan. Kalau ada apa-apa siapa yang jadi pelampiasan? dokter atau perawat, pastilah tidak ada yang berani memarahi dokter.
Lanjut, dia pernah cerita bagaimana dia harus menemani pasien sampai ajal menjemput. Dia tahu persis pasien ini masuk, diajak berkomunikasi, merawat saban hari, dan sampai menghantarkan ke kamar jenazah. Tahu kan perasaannya bagaimana jika ada pasien yang wafat, campur aduk, tapi tidak boleh cengen, apalagi nangis, karena dia yang harus itu semua. Masih bilang “manja“.
Sudah, stop saya kasih tahu.. berapa gaji perawat..? Setara dengan dokter..? Mungkin sama dengan buruh, kalau ada apa-apa bisa demo. Perawat mau demo? Oke, sudah tahu kan gajinya? Sekarang risiko jadi perawat. Siapa kuat berjam-jam berdiri dan full konsentrasi, walah suruh upacara bendera saja mletat mletot. Dia berdiri disamping dokter untuk membantu menyambung nyawa manusia, bisa menit, jam, dan berjam-jam. Dokter selesai dia harus menyelesaikan sisanya. Satu lagi, ada infeksi nosokomial, jadi perawat sangat rentan terinfeksi penyakit dari pasien. Kalau panu mah gampang, lah corona…?
Eits jangan lupa, kita tanggal merah libur, mereka liburan di bangsal, IGD, ICU masih mau bilang “manja“. Siang kita bisa ngapain, mereka berkeringat dingin melihat pasien yang tdak stabil. Malam kita tidur nyenyak, mereka tetap berjaga, kalaupun tidur pastilah enakan mereka yang tidur di pos ronda, boleh pake sarung. Belum lagi jika tiba-tiba pasien membludak, mereka sibuk seperti petugas katering kawinan yang tetiba ada tamu 2 bisa dateng bersamaan.
Miris lagi ada perawat yang diusir dari kost-kostan, gara-gara tuan rumah takut ketularan. Kalian tau kost-kostan, itu rumah bedeng yang dindingnya dari tembok yang setiap saat bisa angkat kaki. Artinya apa, duit mereka cekak untuk hidup layak. Asal tahu saja, mereka banyak menyelamatkan dan menyambung nyawa, tahu berapa nilai nyawa dan tak sebanding dengan bayaran mereka, Mereka tak minta dibelas kasihani loh, mereka sadar akan pilihan mereka.
Masih ada yang tega bilang “itu kan risiko, jalani jalan dengan iklas, gak usah manja“. Guys semua pekerjaan ada risikonya, dan mereka menjalani, iklas pula. Lantas mengapa mereka demikian, karena mereka juga seperti kita-MANUSIA yang punya keterbatasan, cuma mereka diberi anugerah kelebihan yang tidak semua orang mendapat berkat itu.
Kawan mereka sangat lelah, janga tambahkan beban mereka, mereka gaji juga pas-pasan jangan semakin sakitin mereka. Mereka bekerja bukan karena tidak ada pilihan, tetapi PANGGILAN dan cita-cita mulia. Kalah mau kaya dan enak, mereka gak mau jadi perawat, percayalah… mari kuatkan mereka, mereka bukan manja, mereka tidak menyerah, mereka hanya LELAH dan meraka harus menjalankan SUMPAH. Doakan mereka… kuatkan mereka… kitalah yang manja sebenarnya… termasuk saya…
Perawat… hebat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s