Rawa Pening dan Kehidupannya

perahu
Perahu yang bersandar di Rawa Pening.

Rawa Pening, danau alam seluas lebih dari 2000 hektar. Danau ini menjadi sumber air bagi warga Kabupaten Semarang dan daerah lain di sepanjang alirannya. Danau ini juga menghidupi banyak orang, terlebih dimasa pandemi Covid 19, dan kata mereka yang mendapatkan berkah dari Rawa Pening “di sini tidak ada PHK“.

sepeda
Bersepeda menyusuri tepian rawa.

Pagi itu sengaja saya bersepeda menyusuri jalan-jalan desa yang menjadi ikat pinggang Rawa Pening. Sudah lama rasanya tidak melewati jalur ini, meskipun terakhir ke sini hanya beberapa minggu yang lalu. Kali ini saya ingin melihat lebih dekat kehidupan di Danau ini.

sungau kesongo
Sungai yang semakin tertata dan menambah pesona.

Saya menyusuri salah satu muara sungai yang menuju danau. Melalui Dana Desa, maka dibuatlah jalan beton untuk memudahkan petani ke sawah dan nelayan ke danau. Akhirnya sepeda saya berhenti di ujung jalan, dan di depan sana sudah hamparan perairan.

Saya bertemu kakek yang sedang merapikan tangkai daun eceng godong. Ijinkan saya menyebut demikian, disaat yang lain menyebut batang eceng gondong. Tangkai daun Eichornia crasipes ini diambil lalu dikeringkan dan nantinya akan dijual.

Petanu eceng gondolk
Petani eceng gondok yang memanen tangkai daunnya.

Saya mendapat cerita, bahwa harga tangkai eceng gondok turun seribu rupiah. Semula per kg dihargai Rp 5.500,00 dan kali ini hanya Rp 4.500,00. Namun dia menampik permasalahan harga tersebut. “Tidak apa-apa mas harga turun, disyukuri saja masih ada yang mau beli. Saya tidak masalah, karena ini berkah Gusti Allah. Saya tidak menaman, tidak merawat, dan hanya mengambil langsung dari rawa. Buat apa saya mengeluh gara-gara harga turun“.

Makna yang mendalam bagaimana beberapa petani disini menganggap turunnya salah satu komoditi di Rawa Pening ini dengan bijak. Saya pun pamit, untuk segera melanjutkan kayuhan sepeda saya.

Kali ini saya memilih jalur tanah favorit saya. Pemandangan di sana, jangan tanya. Jika anda hobi fotografi, anda akan berhenti dalam waktu yang cukup lama untuk memindahkan pemandangan ini ke memori kamera anda.

Bertemulah saya dengan ibu-ibu pencari keong sawah (Pila ampullacea). Dengan tongkat yang ujungnya ada raket kecil dengan jaringnya digunakan untuk mengambil keong yang menempel dibatu, padi, atau tenggelam di air. Dia berjalan dari pematang sawah, bahkan kadang menggunakan perahu untuk menuju ke tengah saat pasang.

penari keong
Pencari keong di sawah tepian Rawa Pening.

Saya mengganggu sebentar akktifitasnya. Dia berkisah jika sahari bisa mendapat hingga beberapa bakul keong. Keong-keong tersebut kemudian akan direbus dan dikupas. Daging keong akan dijual pada tengkulak dengan harga Rp 10.000,00 per kilonya. Mungkin dalam satu bakul hanya 0,5 – 1 kg daging keong jika dikupas. Dan rata-rata sehari bisa mendapat uang Rp 15.000,00 – Rp 30.000,00.

Kadang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan dan terlalu murah. Saat saya bertanya demikian dia menjawab, “tidak apa-apa mas yang penting halal, cukup, dan disini tidak ada PHK seperti dikota-kota“. Diam saya mendengar jawaban itu dan dengan senyumnya dia melanjutkan mencari keong.

Dalam perjalanan pulang saya merenung. Di waktu-waktu demikian masih ada yang demikian, seolah paham alam akan selalu memelihara mereka, apapun kondisinya. Mereka bersinergi alam, dan kadang tidak peduli dengan apa yang ada di luar sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s