Reef Ball Teluk Benete-Sumbawa

DCIM132GOPRO

Saya di balik kipas laut

Tanpa aba-aba, tetiba pak Dayat, dive master PT. Newmont Nusa Tenggara mendorong saya dari kapal. Bbyuur.. blub.. blubb.. hanya itu yang saya rasakan selama beberapa detik. Saya hanya sempat menyalakan kamera kedap air saja, sedangkan masker dan 2nd stage regulator belum terpasang di mulut sebelum badan yang terikat BCD /alat pengatur daya apung dan tabung ukuran 100 cuff ini terhempas di permukaan laut. “Ayo kamu bisa mengatasi masalahmu”, katanya dari atas kapal. Beruntung sekali saya mendapat pelajaran menyelam pagi ini, namun saya beruntung bisa melihat. mendekat, bahkan memegang bola-bola karang di teluk Benete.

peta

LOkasi penyelaman di teluk Benete-Sumbawa

Indonesia sebagai negara bahari dengan gari pantai sepanjang 81.000 km dan merangkul 17.508 pulau sangat potensial sekali dengan kekayaan sumber daya lautnya. Salah satu perairan laut yang saya kunjungi kali ini adalah di daerah pulau Sumbawa – Nusa Tenggara Barat. Dahulu Pulau ini adalah dasar lautan, yang oleh pergerakan vulkanik gunung berapi Tambora perlahan mengangkat dasar laut menjadi daratan. Sumbawa adalah salah satu pulau vulkanik, selain saudara kembarnya yakni Lombok.

Setahun yang lalu saya berkesempatan melihat perairan di Teluk Buyat di Minahasa Tenggara – Sulawesi Utara. Keadaan Teluk Buyat tidak jauh berbeda dengan Teluk Benete yang saya singgahi, yakni telah rusak oleh bom ikan. Prilaku nelayan yang tidak ramah lingkungan memanfaatkan gelombang getar dari ledakan bom di dalam air untuk melumpuhkan fauna laut. Tidak tanggung-tanggung, hampir semua ikan yang terkena efek getaran akan mengambang dipermukaan dan terumbu karang akan remuk. inilah keadaan beberapa dekade yang lalu saat terjadi kerusakan ekosistem laut.

DCIM132GOPRO

Reef Ball/bola-bola karang yang hampir tertutupi oleh coral.

Waktu berlalu dan semenjana yang terlihat nyalah kerusakan perairan dan tanpa ikan yang terlihat. Munculah ide untuk reboisasi terumbu karang yakni dengan metode reef ball. Bola-bola ukuran raksasa dibuat dari cor semen dan pasir yang kemudian ditenggelamkan di dasar lautan. Acapkali muncul pertanyaan, dari mana datangnya bibit terumbu karang. Ada 2 metode agar reef ball ini ditumbuhi karang, yakni dengan dibiarkan alami begitu saja dan dilakukan transplantasi terumbu karang.

acropora_life_cycle

Siiklus perkembang biakan acropora/karang laut

Untuk transplantasi terumbu karang, yakni dengan mengambil karang hidup lalu menamnya di reef ball mirip kita menanam dengan cara stek. Cara yang kedua yakni dengan cara membiarkan secara alami karang-karang itu tumbuh dengan sendirinya. Filum Cnidaria adalah organise yang unik dan ajaib yang kita kenal dengan terumbu karang. Hewan laut ini mampu berkembang biak secara seksual ataupun dengan aseksual. Secara seksual yakni bertemunya gamet jantan dan betina menjadi planula. Planula inilah yang akan melayang-layang di laut menjadi larva bersilia. Jika planula ini mendapat substrat yang cocok salah satunya reef ball maka dia akan bertumbuh menjadi polip atau terumbu karang. Selanjutnya terumbu karang akar berkembang biak secara akseksual yakni dengan fragmentasi dan memenuhi reef ball tempat dimana dia tumbuh. Sehingga acapkali terlihat jenis-jenis terumbu karan begitu mendominasi sudut-sudut dasar laut.

DCIM132GOPRO

Kerusakan terumbu karang akibat pengeboman

Pemanfaatan reef ball ternyata berhasil mengembalikan kondisi teluk buyat yang saat ini tidak kalah dengan hutan raya dasar laut seperti di Bunaken – Manado. Teluk Benete yang menjadi pelabuhan PT.NNT juga dilakukan reboisasi dengan menenggelamkan bola-bola semen ini dari kedalaman 5 – 12 m untuk menyediakan tempat bagi planula-planula yang bergentayangan untuk hingga dan tumbuh menjadi polip.

Dengan menumpang KM. Tenggara 2 kami angkat sauh dari pelabuhan benete menuju 2 lokasi penyelaman yakni Reef Ball Point dan Monkey Beach. Reef Ball Point terletak tidak begitu jauh dari dermaga benete, persinya berdekatan dengan inlet dan outlet pipa dari PLTU. Pak Muklis dan Pak Markus menjadi buudy saya dalam penyelaman yang pertama ini. Dari atas kapal bola-bola raksasa yang saya bayangkan tidak lagi terlihat, yang ada hanya terumbu karang yang berserakan dibeberapa titik. Baru saja turun di kedalaman 5 m, kami langsung di sambut dengan satu-satuntya tumbuhan yang mampu hidup di dasar laut yakni padang lamun. Warna-warna daun yang kuning kecoklatan dengan gerak melambai searah arus dasar laut nampak serasi dan membuat kami semakin bergairah masuk lebih dalam.

DCIM132GOPRO

Menyelami melintasi hamparan coral.

Reef ball seperti sebuah kaki meja, sedangkan atasnya sudah membentang lebar hard coral berdiameter 3 m. Ikan-ikan kecil berwarna biru berlarian kesana-kemari entah panik atau riang dengan gelembung-gelembung udara kami. Sea fan atau kipas laut yang berwarna merah melambai-lambai seolah memberikan kesejukan bagi kami di dasar lautan. Kami terus bergerak untuk melihat satu persatu bola-bola karang yang ditanam. Jika disimpulkan saya bisa mengatakan, semua bola sudah tertutup oleh polip-polip yang terfragmentasi. Tetiba pak Muklis memberi sinyal tangan kepada saya menayakan, pak Markus menghilang dari rombongan. Saya yangs sejak awal mengekor pak Muklis memberi koden jika saya tidak tahu, maka pak Muklis memberikan sinyal jempol tangan yang artinya kami harus naik.

DCIM132GOPRO

Tridacna sp, tingal di atas reef ball.

Sesampai di permukaan ternyata pak Markus sudah mengapung sekitar 100 m dari kami dan tergabung dengan grup satunya alhasil speed boat menjemput kami untuk pindah ke Monkey Beach Point. Penyelaman kedua, kali ini berbeda karena akan melihat terumbu karang yang masih alami. Penyelaman kedua ini akan masuk hingga ke kedalaman 12 m selama 30 menit saja sesuai dengan rencana selamnya. waktu yang hanya sebentar harus dimanfaatkan dengan efektif. Usai waktu interval permukaan, yakni waktu jeda dipermukaan antara penyelaman pertama dan kedua sudah cukup kami kembali turun ke permukaan.

Baru saja udara BCD di buang, mata melongok ke dalam, maka taman laut sudah terlihat menggoda. Buddy saya memberi sinyal tangan dengan 2 telunjuk tangan di atas dahi mirip simbol tanduk, ternyata dia ingin menunjukan kawanan lobster. Dari balik Acropora saya melihar 2 ekor lobster sedang bersembunyi, mungkin terengah-engah ketakutan melihat kami. Dalam hati saya bersenandikan “kamu aman di tangan kami, tak akan kami apa-apakan”, berbeda jika saya tidak alergi seafood. Tepat di kedalam 12 m saya masih melihat sisa-sisa pengeboman oleh nelayan waktu itu. terumbu karang yang berserakan seperti rumah tua yang barusan dilanda gempa bumi. namun sisi luarnya nampak semak belukar beraneka macap polip tumbuh dengan liarnya dan ikan-ikan karang baku kejar satu dengan liannya, dia merasa aman karena kami tak akan mengusiknya. Baru saja hendak menikmati narkosis, yakni gejala halusinasi akibat keracunan nitrogen, buddy saya sudah memberi tanda jempol dan mengharuskan naik.

DCIM133GOPRO

Lobster mudah ditemukan di teluk benete.

Sungguh beruntung saya bisa menyelam di lakasi yang menjadi ring obyek vital nasional saat tidak sembarang orang bisa melintasi perairan ini. Lebih beruntung lagi bagi penghuni dasar laut, kerana tidak ada mahluk dari spesies Homo sapiens yang memburu dan mengusik mereka. Dalam perjalanan pulang, saya terpaku sambil duduk di ujung perahu saat melihat hmapran terumbu karang di dasar perairan. Bola-bola raksasa ini ibarat biji, dengan istilah menanam karang berbuah ikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s