Impian Anak-anak Pegunungan Maratus

3d

Semua anak terlahir sama dan berhak memiliki cita-cita. Tetapi dia terlahir dan tidak bisa menolak lahir dari rahim siapa dan tinggal dimana. Jika dahulu takdir menjadi masalah, tetapi kini manusia bisa mengubah. Saya membaca Biografi Andi Noya, bagaimana kisah hidupnya yang semula tidak apa-apa hingga berubah menjadi berada. Lain kisah dengan Tetralogi Laskar Pelangi yang menceritakan kisah anak kampung yang mengelilingi Eropa. Mungkin sosok-sosok inspiratif tersebut akan lahir di pelosok Kalimantan Selatan yang saya kunjungi dalam acara Datsun Risers Expedition.

3a

CSR yang dilakukan selama perjalan kali ini adalah mengunjungi salag satu SD di tepi sengai Amandit di pegunungan Maratus. SDN Loklahung di Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Koorporasi memiliki tanggung jawab sosial, salah satunya pemberian bantuan dana pendidikan dan alat tulis bagi sekolahan. Namun yang menarik, adalah CSR tersebut melibatkan peserta dari Datsun Risers Expedition. Mereka adalah para bloger dengan bermacam-macam pendidikan dan pekerjaan. Mereka di tuntut untuk bisa berbagi inspirasi untuk memberikan semangat bari para siswa.

3e

Mas Yoga dengan kepiawaiannya memberikan hiburan sulap. Mungkin sebelumnya sulap hanya bisa mereka nimkati di layar kaca, jika ada, namun sekarang anak-anak ini bisa bermain dan berinteraksi dengan pesulapnya. Ada 5 kelompok yang akan memberikan kegiatan pada siswa SDN Loklahung. Setidaknya lewat kegiatan ini bisa memberikan kontribusi dan menambah wawasan bagi para siswa untuk mengejar cita-citanya.

DCIM131GOPRO

DCIM131GOPRO

Siapa menyangka sesosok Rahmadi anak kelas 4 SD yang bercita-cita jadi Polisi, pada hari tersebut terkabulkan. Minimal keinginan Rahmadi terkabulkan bertemu. bersalaman, mencium tangan, bahkan berfoto bersama dengan 2 orang Polisi. Dia mengaku belum tahu seperti apa Polisi itu, yang pasti ingin jadi Polisi. Bagitu kami menghadirkan sosok Polisi, dia biasa saja dan baru sadar setelah dijelaskan “ini pak Polisi”.

Sosok Polisi begitu absurd bagi anak-anak di Loksado, kecamatan terpencil di Kabupaten Hulu Sungau Utara Kalimantan Selatan. Bayangkan bagimana jika anda naik sepeda motor, tidak memakai helm, tidak membawa STNK dan SIM, lalu melihat 2 sosok polisi berseragam dan bersenjata lengkap. Saya berpikir anda akan bersendika “waduh ada Polisi, celaka”. Segala cara akan anda lakukan agar terhindar dari Polisi yang kemungkinan tidak akan menilang anda. Minimal melihat sosoknya sudah menyadarkan anda jika sudah melanggar ketentuan dan aturan berlalulintas.

3b

Lain kisah dengan apa yang dialami oleh salah seorang murid perempuan. Kakinya belum bisa menyentuh tanah saat mengendarai sepeda motor bebeknya. Orang jawa mengatakan dia belum gaduk kuping/belum mampu menjangkau telinga. Dia masih duduk di kelas 5 SD tetapi berangkat dan pulang sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Pada saat itu dia hendak melintasi jembatan, kebetulan ada 2 orang polisi yang sama-sama hendak melintasi jembatan. Wajahnya nampak biasa dan tidak ada raut ketakutan ada aparat yang bisa saja setiap saat menindak pelanggar hukum.

Cukup unik memang melihat fenomena pendidikan di daerah yang bisa dikatakan pelosok. Saya tidak memandang mereka mengalami pendidikan yang tertinggal, sebab semua sarana prasarana tidak berbeda dengan daerah yang lain begitu juga dengan pendidiknya. Bagitu saya masuk dalam satu kelas, mata saya tertunduk dengan kaki-kaki mungil mereka namun kekar. Beragam kasut membungkus kaki meraka, dari yang bagus hingga yang sudah tidak layak dipakai, namun ada juga yang memakai sandal.

DCIM131GOPRO

DCIM131GOPRO

Sekolah dengan memakai sepatu kumal dan sandal. Kepala saya langsung menghakimi, dia anak orang kurang mampu. Hipotesa saya langsung terbantahkan waktu anak-anak ini pulang sekolah. Dia yang memakai sandal jepit pulang dengan mengendarai sepeda motor yang katanya milik orang tuanya. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi dengan fenomena ini. Membekali anaknya dengan sepeda motor bisa, tetapi kenapa anaknya dibiarkan memaki sandal saat bersekolah.

Lantas saya berpikir, ini bukan masalah orang tua pelit atau tidak mampu membelikann sepatu. Ini kalimantan, ini pedalaman, mau habis sepatu berapa pasang untuk menjangkau sekolahan berangkat dan pergi. Alasan memakai sandal sangat logis, mereka menyebrang sungai, melewati tanah merah yang becek bukan main, bayangkan jika memakai sepatu, betapa ribetnya. Sandal menjadi pilihan yang tepat, mengingat kondisi alam yang demikian.

3c

Menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaiaman mewujudkan cita-cita anak-anak tersebut. Setidaknya dengan manghadirkan sosok apa yang dia cita-citakan sudah memberikan inspirasi mereka untuk mengejar impiannya. Ibu Agatha yang ikut dalam rombongan kami mengeluarkan kertas karton dan spidol. “Tulislah cita-citamu lalu letakan kertas ini ditempat yang sering kamu lihat, bisa ruang tamu, meja belajar atau kamar tidurmu, lalu bermimpilah”. Saya yang sedari tadi hanya bengong cuma berguman “akan kuwujudkan cita-citamu lewat selembar gambar, tunggu pak pos datang ya…?”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s