Malaikat Pencerah Dari Raja Ampat

raja ampat1

Bulan pertama bekerja di salah satu Universitas swasta di Kota Salatiga jantung ini berdegub kencang. Baru pertama ini pula saya menghadapi mahasiswa yang seumuran dengan bapak saya. Salah satu program dari Dinas Pendidikan Tinggi adalah memberikan beasiswa pada guru-guru SMP dan SMA di kepulauan Raja Ampat untuk melanjutkan di jenjang master.

Begitu datang di Salatiga setelah sebelumnya mereka para guru berlayar dari pelabuah Sorong, lalu singgah di Makasar dan berlabuh di Tanjung Perak Surabaya. Membutuhkan waktu 5 hari, dan gepap 6 hari untuk sampai di Salatiga. Mereka adalah guru-guru yang dipilih pemda untuk menjadi wakil kabupaten Raja Ampat guna studi lanjut.

Saya salut dengan pasangan suami istri, pak Bustam dan Ibu Rostini. Mereka mengajar di Misool Selatan. Sejenak setelah menerima kabar dari radio gram lewat siaran RRI mereka menaiki long boat dari Misool Selatan menuju Sorong untuk melengkapi berkas-berkas. Pak Bustam menceritakan, perjalanan Misool hingga Sorong ditempuh lebih dari 10 jam dengan menggunakan perahu serasa hidup dan mati. Ibu Rostini sepanjang pelayaran hanya bisa memeluk putrinya sambil menangis, sedangkan pak Bustam dengan putranya. 2 motoris yang mengiringi perjalanan mereka bertugas menjalankan laju long boat dan satunya menjadi navigator. 10 jam yang mencekam di lautan, demi menjalankan amanat dari negara. “Jika boleh memilih, saya lebih enak menjadi guru biasa sambil menjadi nelayan daripada harus bertaruh nyawa seperti ini” kata pak Bustam.

Lain kisah dengan yang di alami Ibu Nur Salam Manalu yang mengajar di Kabare, salah satu distrik di utara Raja Ampat. Menjelang keberangkatan menuju Salatiga, dia dalam keadaan hamil tua. 5 hari naik kapal dari Sorong menuju Tanjung Perak bisa saja setiap saat bayi yang dikandungnya lahir. Dalam pelayaran itu, dia hanya berharap “lahirlah saat di darat nanti”. Sebuah adegan berhari-hari di lautan yang penuh ketegangan. Saat-saat sang bayi yang harusnya dinanti lahir, ternyata bayi begitu memahami kondisi ibunya.

Setiba di Salatiga tengah malam, maka menjelang fajar sang jabang bayi lahir. Jika bukan demi negara yang telah mengutusnya, dia masih menjalani masa cuti tetapi saat itu harus menjalani tugas studi. “Michael Satya” demikian namanya karena menggambarkan sesosok malaikat dan perjuangan ibunya kuliah di Satya Wacana. 2 kisah bagaimana 22 guru dari Raja Ampat ini berjuang untuk melanjutkan studinya demi mencerdaskan putra-putri Papua yang tersebar di kepulauan Raja Ampat.

Hari pertama mereka masuk kampus. Wajah-wajah sumringah sekaligus kagum terlihat begitu melihat fasilitas kampus yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Kedua tangan hanya mengepal, karena tak berani menyentuh apa yang mereka lihat. Kali ini mereka harus mendaftar kuliah secara online dan membuat akun mahasiswa. Saling pandang, saling memberi kode dengan mata ada juga yang berbisik. Pak Wihel yang dianggap sebagai ketua mereka lantas berdiri dengan sedikit gemetar. “Bapak, mohon maaf kami tidak mengerti harus bagaimana melakukan ini semua. Baru pertama ini kami melihat yang namanya komputer. Di sana kami biasa dengan mesin ketik. Jika hanya mengetik saja kami bisa, tetapi tidak dengan Komputer” katak pak Wihel. Semua hening dan menunduk, akhirnya hari pertama dilakukan perkenalan dan pelatihan komputer.

Saya tidak membayangkan bagaiamana lompatan budaya dan modernisasi ini begitu jauh dengan guru-guru di kepulauan Raja Ampat. Namun saya teringat kisah pak Bustam dan Ibu Nursalam. Rintangan alam mampu mereka lewati, dan saya yakin rintangan akademik dan budaya akan jauh lebih mudah mereka hadapi, dan itu terbukti.

2 tahun berlalu dan mereka sudah menjalani proses yang berat untuk menyelesaikan studi. Syarat lulus harus sudah membuat 4 publikasi berupa publikasi riset, review, mini riset dan ilmiah populer dan semua harus dipublikasikan dalam seminar, jurnal dan surat kabar. Proses yang sangat berat bagi mereka, tetapi berhasil mereka jalani.

September 2014, adalah puncak bagi keberhasilan guru-guru dari Raja Ampat. Mereka pulang tak hanya membawa gelar, tetapi memberikan sumbangsih ilmiah lewat penelitian mereka di tempat mereka mengajar. Hari itu pula mereka menyajikan jerih payahnya selama 2 tahun lebih dalam seminar Raja Ampat di Waisai. Seluruh pejabat di Kabupaten Raja ampat di undang untuk menjadi saksi bahwa yang mereka utus sudah pulang membawa hasil. Hari itu juga pemerintah Raja Ampat panen 22 guru terpilih sudah pulang yang tak hanya gelar tetapi juga dengan ilmu dan pengalaman baru dan siap untuk kembali mengabdi di pelosok kepulauan Raja Ampat.

Daya juang guru-guru yang luar biasa. Saya mengikuti perjalanan mereka dari awal dengan kondisi tertatih-tatih. Mereka kembali ke daearahnya untuk melakukan penelitian, lalu kembali ke Jawa untuk analisis laboratirium. Mereka bolak-balik menghadap pembimbing antar kota antar provinsi. Mereka sibuk mencari jurnal-jurnal yang relevan, seminar hingga mencari media cetak yang mau mencetak tulisan mereka. Derai air mata kadang berlinang, wajah geram kadang muncul, wajah ceria kerap timbul, yang pasti ada sebuah proses yang mereka jalani. Alhasil kini mereka sudah kembali ke Raja Ampat untuk mencetak generasi muda, seperti apa yang mereka alami selama ini. Mereka tak hanya sebatas pahlawan yang melawan saat musuh datang menghadang, tetapi mereka bak malaikat-malaikat yang memberikan pencerahan ke anak didiknya. Mereka adalah pahlawan dan juga malaikat pencerah…

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s