Ponulele Landmark Kota Palu di Muara Talise

IMG_1323

Pesan 1 porsi saja mas, nanti kita makan sama-sama” kata Dedy teman saya sambil menikmati indanya malam di pantai Talise. Saya tetap bersikeras “dik saya pesan 3 porsi pisang gepe, rasa cokelat, keju dan susu, jangan lupa saraba 2 ya.?“. Saya hanya berpikir, pisang 1 porsi tak akan kenyang. Tak lama kemudian, pramusaji membawakan 1 porsi pisang gepe dalam wadah piring pesta yang lebar dan penuh dengan pisang. “dik tolong yang 2 porsi bungkus saja” kata saya dan Dedy pun tertawa terbahak-bahak. Jembatan Ponulele hanya diam, sepertinya mengetahui kebodohan saya, yang pasti malam ini saya terpesona dengan talise dengan 2 lengkung kuning di atasnya.

Jembatan Palu IV atau Jembatan Ponulele adalah jembatan yang membentang di teluk Talise kota Palu-Sulawesi Tengah. Jembatan yang menjadi ikon kota ini memang menjadi penciri, sebab tempat lain tak ada yang seperti ini. Lengkung jembatan 2 lengkungan ini terletak di kelurahan Besusu dan Lere, serta menghubungkan kecamatan Palu Timur dan Palu Barat. Pada bulan mei 2006, jembatan ini rampung dikerjakan dan diresmikan oleh presiden saat itu yakni Susilo Bambang Yudhoyono.

Ponulele benar-benar menjadi ikon kota palu, karena jembatan ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Perancis. Dengan panjang jembatan utama: 250 m pada titik tertinggi lengkung jembatan dan 20,2 m dari badan jembatan Lebar jembatan 7,5 m Luas permukaan besi total jembatan: 6234,40 meter persegi.

Jembatan yang membelah sungai palu saat ini menjadi landmark kota palu dan hanya satu di Indonesia. Dalam terminologi orang teknik, jembatan ini dikenal dengan model steel tied arch type nielsen. Masyarakat lokal menyebut jembatan ini dengan sebutan jembatan palu IV (4), kerena jembatan ini adalah jembatan ke-4 yang menyebrangi sungai Palu. Ada juga yang menyebut dengan jembatan Ponulele yang diambil dari nama gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele. Ada juga yang mengimajinasiakn jembatan ini mirip dengan salah satu nama rumah makan McD, karena 2 buah lengkungannya mirip dengan logonya. Sebutan lain jembatan ini adalah; jembatan kuning, jembatan busur, jembatan talise dan jembatan lengkung.

Dari pantai talise yang ada di teluk Donggala, sangat sayang jika tidak melewatkan malam di landmark kota Palu. Pantai Talise yang berada di sepanjang jalan utama dengan trotoar yang lebar membuat pengunjung banyak yang berdatangan. Warung-warung tenda tersebar di sepanjang pesisir pantai yang menyediakan beraneka ragam makanan dan hiburan. Salah satu makanan khas setempat adalah pisang gepe.

Pisang gepe adalah salah satu jenis olahan pisang dengan cara dipenyet. Pisang yang sudah dikupas kulitnya lantas di pipihkan dengan lempengan besi panas hingga matang. Lalu pisang pipih tersebut di taburi; cokelat, susu, keju, vanila, dan lain sebagainya sebagai pelengkap. Untuk satu porsi pisang gepe dihargai sekitar 20 ribu dengan 10 pisang gepenya. Karena baru pertama datang ke sana, saya mengira seperti menu di Jawa yang satu porsi pisang berisi 1-2 buah pisang dengan harga yang sama. Alangkah terkejutnya begitu melihat 3 porsi pisang gepe yang barusan saya pesan.

Malam dengan udara pantai yang dingin sembil menikmati lampu-lampu yang bertebaran di pesisir teluk Donggala tak lengkap tanpa saraba. Saraba adalah minuman yang penghangat yang isisnya jahe, gula merah dan rempah-rempah. Minuman ini sangat cocok disajikan saat udara dingin. Mungkin jika di jawa saraba, lebih familiar dengan wedang jahe atau serbat. Semilir angin dan desiran ombak laut sedamai seperti tiang-tiang penyangga rumah Tuhan. Sebuah mushola atau masjid seperti meniru konsep masjid di Makasar dengan sebutan masjid di atas laut. Jika pasang memang demikian, tetapi jika surut akan terlihat unik dengan tiang-tiang penyangga dan reflesi lampu penerangannya.

Malam ini begitu lengkap menikmati pesona teluk donggala. Semilir angin yang cukup dingin sudah saya usir dengan saraba. Pisang gepe 3 porsi tak membuat eneg karena lengkungan kuning ponulele. Tak salah jika sungai Palu dilitasi oleh jembatan ke-4nya yang tepat ada di muara talise yang kini menjadi landmark palu bahkan Indonesia karena menjadi yang ketiga di dunia. Jika tak percaya menepilah ke teluk donggala, nikmati gepe dan sarapa dan pandanglah ponulele yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s