Astana Alnusari, Cuplikan Sejarah di Kalimantan Tengah

astana alnusari

Setelah 50 menit mengudara, akhir burung besi mendarat mulut di lanud Iskandar Pangkalanbun. Dari jendela pesawat, semua serba putih begitu melongok keluar. Semula saya mengira, udara masih berkabut tetapi begitu keluar dari pintu pesawat nafas terasa sesak. Aroma sangit, dan mata berair menyambut kedatangan di bumi Kalimantan.

Kalimantan dan Sumatera sedang afeksia, karena oksigen yang tersedia dilalap si jago merah untuk menjadi bahan bakar menghanguskan lahan. Sisa nafas dari si agni hanyalah asap putih yang membuat mata pedih dan paru-paru yang merintih. Sebuah tragedi yang disebabkan oleh oknum-oknum yang sengaja membuka lahan untuk pertanian atau mungkin sebuah kekecewaan.

Borneo memang sedang bertabirkan asap, tetapi dibaliknya tetap ada cerita menarik untuk di kulik. Selepas aspal dari Pangkalanbun, sepeda motor yang saya tumpangi mengarah ke Kotawaringin Lama. Jalan berupa tanah merah yang bergelombang adalah tantangan selain jarak pandang yang pendek. Membutuhkan waktu 1 jam perjalanan untuk jarak tempuh 30Km, namun inilah tantangan untuk melihat keindahan dari Kalimantan.

Selepas menyebrangi sungai Lamandau, akhirnya menapakan kaki di salah satu kota tertua di Borneo. Kotawaringan Lama, adalah salah satu pusat pemerintahan sekaligus kerajaan di Kalimantan Tengah sebelum pindah di Pangkalan Bun. Sebuah bangunan yang menjadi saksi sejarah akan kejayaan sebuah kerajaan yang kini masih kokoh berdiri. Dari tepi jalan raya terlihat bangunan istana dengan halaman yang sangat luas,

Astana Alnusari, demikan nama bangunan ini. Memang tidak banyak yang mengenal sejarah Kalimantan Tengah, tetapi di dalam astana ini bisa diceritakan bagaimana kisah-kisah masa lalu. Astana merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan atau bangsawan. Hanya keturunan penguasa atau pejabatlah yang tinggal di astana. Kerajaan kutaringin memiliku astana yang diberi nama Alnusari.

Astana yang sebagian besar terbuat dari kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang terkenal kuat dan tahan segala perubahan cuaca. Begitu kaki menginjakan anak tangga demi anak tangga, terasa sekali aura menjadi bangsawan pada masa itu. Udara kalimantan yang panas surut menjadi sejuk karena konstruksi bangunan yang membebaskan angin masuk dari penjuru arah.

Astana Alnusari saat ini menjadi kediaman Gusti Samudra sebagai salah satu pewarisnya. Tinggal bersama istri dan kedua anaknya, saya melihat sebagai raja di jaman modern saat ini. Selain sebagai tempat tinggal Astana Alnusari juga dijadikan museum untuk memamerkan benda-benda milik kerajaan dan keluarga. Tidak salah jika pemerintah menetapkan Astana Alnusari sebagai benda cagar budaya yang harus tetap dijaga, dirawat dan dilestarikan.

Deretan gerabah dan tembikar tersusun rapi dalam sebuah almari kaca. Walau ada beberapa mangkok yang sudah tidak utuh lagi, tetapi saya bisa membayangkan betapa berharganya dan bersejarahnya benda ini. Gentong besar ditunjukan oleh Gusti Samudra, konon katanya inilah ponsel pada masa lalu. Untuk memanggil seseorang atau kerabat cukup dengan memanggil namanya di mulut gentong. “Tetapi sekarang cukup dengan HP saja, pulsanya lebih murah daripada dengan gentong” kata Gusti Samudra menjelaskan. Ada ritual khusus dan mahal untuk memanggil orang dengan menggunakan gentong ini.

Dereten pusaka juga dipamerkan, tetapi masih banyak yang dia simpan dengan alasan tertentu yakni demi keamanan. Benda-benda pusaka masih memiliki kekuatan magis yang tidak boleh sembarang diperlakukan sehingga tidak dipamerkan. Selain itu, benda-benda pusaka juga memiliki nilai yang tinggi, tak hanya sejarahnya tetapi nilai intrinsiknya karena ada yang terbuat dari emas. Di samping astana Alnusari ada sebuah bangunan yang disebut dengan Rumah Meriam Beranak. Sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan.

Astana Alnusari saat ini menjadi satu-satunya warisan sejarah yang masih kokoh berdiri. Cerita panjang tentang astana akan mengisahkan bagaimana perjalanan kerajaan Kutaringin di Kalimantan Tengah. Sebuah astana yang sangat megah pada masa lalu, karena tepat berdiri di tepi Sungai Lamandau. Saya hanya bisa terkesima di pedalaman Kalimantan sudah ada pusat pemerintahan dan tempat tinggal yang megah. Walau Kalimantan sedang jengah karena asap, tetapi ada sudat yang indah jika berkaca pada sejarah, coba saja ke Astana Alnusari.

One thought on “Astana Alnusari, Cuplikan Sejarah di Kalimantan Tengah

  1. Pingback: Astana Alnusari, Cuplikan Sejarah di Kalimantan Tengah - telusuRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s