Kobano – Repihan Nirwana di Selatan Timor

kolbano3

Tetiba saya tak bisa berkata-kata saat kaki berpijak pada butiran-butiran batu bulat warna-warni. Batu-batu akik yang di bentuk alam ini sungguh mengatupkan mulut saya untuk berkata “wow” dan memaku kaki untuk melangkah “terlalu sayang untuk di injak”. Sejenak tangan ini menggenggam untuk mengeruk batu-batu cantik dengan pola yang unik. Pantai berbatu akik, bisa saya mengatakan tetapi orang Timor menyebutnya dengan pantai Kolbano.

Butuh 2 jam perjalanan dari Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan untuk mencapai salah satu pantai paling cantik di Pulau Timor. Pantai Kolbano terletak di kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dengan kendaraan bermotor, mata saya bebas memandang apa yang ada di depan mata. Beberapa kali, tangan ini tanpa dikomando sudah otomatis memencet tombol rana kamera. Demikian juga otak yang terus merekam pemandangan yang ada dengan kedua mata ini yang nyaris tak berkedip.

Deretan pohon-pohon nira mendominasi tumbuan dengan tajuk tinggi, sisanya semak belukar dan padang rumput yang luas. Rumah kotak dan rumah bulat berjajar di tepian jalan. Walau nampak sederhana, tetapi rumah ini memiliki harta kekayaan yang cukup melimpah. Pagar-pagar tinggi dibuat mengelilingi pekarangan untuk menjaga puluan sapi-sapi bali agar tidak keluar kandang. Inilah harta bagi para pemilik rumah bulat, bisa ditaksir berapa ratus juta harta mereka.

2 buah sungai kering membelah jalan aspal yang menghubungkan dengan Bena, namun sayang kendaraan harus mengambil jalan memutar. Jembatan sedang di renovasi, maka sebuah kesempatan untuk melihat perkampungan yang eksotik. Senyum dan sapa ramah penduduknya seolah berada di tengah-tengah keluarga saat kata-kata “shalom” dilontarkan dari mulut merah meraka yang sedang menikmati sirih pinang.

Pulau Timor yang kering, tak sepenuhnya benar. Masih banyak kawasan yang subur dan makmur, terlihat dari hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning. Namun mata saya kadang tertahan oleh sisi kanan jalan saat deretan pohon Gewang mulau berjajar menjadi peneduh jalan. Garis horison laut sudah terlihat di mana kaki langit berada. Namun hamparan pasir putih belum juga terlihat, karena tempat ini adalah tebing pantai.

Toni, temam saya masih saja menarik gas kendaraan roda duanya. “masih 20km lagi” katanya sambil bersemangat. Jarak yang cukup jauh, sehingga memberik kesempatan pada saya untuk menikmati keelokan pulau Timor. Waktu berlalu, sesaat garis pantai sudah terlihat. Mata saya dia memandang aneh. Pantai dengan pasir putih nampak lengang, nyaris tanpa pengunjung.

“Selamat datang di kolbano, tiket parkirnya dua ribu” sapa seorang bapak yang mempersilahkan kami memakirkan kendaraan bermotor. Toni ,langsung mengajak saya naik di sebuah batu yang yang menjulang tinggi. “Dari sini semua pemandangan terlihat jelas” katanya sambil berlari menuju dinding tebing. Saya hanya bisa terdiam, kadang merasa takut juga. Bukan takut untuk memanjat, tetapi jika ada yang tidak terbiasa punya keahlian memanjat lalu ikut-ikutan dan jika terjadi kecelakaan bisa menjadi beban moral tersendiri. Setelah dilakukan pengamatan dan tanpa ada yang melihat sampai juga di atasnya. Benar saja, pemandangan dari atas benar-benar indah.

Tak lama kemudian saya diajak masuk dalam lorong-lorong batu yang sempit. Saya teringat akan canyon-canyon di Colorado seperti film 127 hours, maka bebatuan di sini kira-kira demikian. Jika di film tersebut tangan terjepit bebatuan, tetapi kali ini tubuh saya yang terjepit karena saya menggendong ransel. Alhasil terdengar ledakan dan desisan kecil dari dalam ransel saya. Kontak tubuh saya merasa dingin dan lengket, ternyata sekaleng minuman ringan pecah karena tertindih. Sebuah lensa saya terguyur larutan soda dan gula dan harus masuk ke bengkel kamera.

Dari balik batu terlihat laut selatan dengan ombak yang tidak terlalu besar. Batu-batu kecil berbentuk bulat lonjong menghiasi bibir pantai sebagai ganti pasir putihnya. Baru sadar, Toni mencarikan spot yang menarik buat saya. Sebuah tempat yang privat, tersembunyai dan langsung berhadapan dengan laut lepas dan di bawah bertebaran batu akik warna-warni.

Baru kali saya menyaksikan pantai dengan butiran batu-batuan warna-warni yang eksotis dan menawan. Ombak laut selatan yang tak terlalu besar, tak menakutkan pengunjung untuk bermain dengan ombak. Jika beruntung, batu-batuan cantik akan menampakan diri dengan warna-warna dan motif yang menarik. Bolehlah membawa satu dua batu cantik ini untuk dijadikan buat tangan dan kenangan pernah mengunjungi salah satu teras nirwana di selatan pulau Timor. Jika tidak percaya, datanglah ke sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s