Menempa Generasi Timor dengan Neno Boha

neno5

Langkah kaki-kaki mungil tanpa alas kaki pada ilalang, jalan berbatu dan aspal yang sudah terkoyak. Raut wajah tegas mereka tersirat, dengan alis yang tebal dan bulu mata yang lentik. Guratan otot-otot jelas terlihat di tubuh mereka yang terbentuk secara alami. Wajah-wajah ceria ini seperti tak menampakan keirian hati pada suadara mereka yang tinggak di kota. Berangkat sekolah dengan membawa jerigen kosong, pulang membawa air. Sebuah potret anak-anak di Pulau Timor sisi Indonesia paling selatan.

Saya seperti tak percaya melihat geliat anak-anak di sini. Ya, sebuah pulau yang terbentuk akibat aktifitas tektonik. Dasar laut yang terkena tumbukan lantas terangkat dan menyembul menjadi sebuah pulau. Pulau Timor, sebuah dasar lautan yang terangkat dan menjadi hunian manusia Austronesia. Anak-anak yang dilahirkan sudah mendapat tempaan alam yang kejam, berikut juga dengan cara nenek moyangnya menggembleng bayi mungil ini yang kelak menghadapi ganasnya alam.

Ada sebuah tradisi yang cukup mengerikan jika dibandingkan dengan perkembangan dunia medis modern saat ini. Neno Baha adalah salah satu budaya di suku Timor yang peruntukan pada ibu pasca melahirkan selama 40 hari. Selama masa nifas (40 hari) seorang ibu dilarang keluar dari rumah bulat, yakni rumah adat timor, begitu juga dengan bayinya.

Setiap hari ibu dan bayi harus tinggal di rumah bulat, dan hanya boleh dijenguk oleh kerabat terdekatnya saja. Ibu tidak hanya tinggal dirumah bulat saja, tetapi harus menjalani ritual yang sangat tidak lazim bagi dunia medis modern saat ini. Ibu setiap hari akan di kompres dengan air panas yang diletakkan pada kain timor. Tujuan pengompresan ini adalah untuk memperlancar peredaran darah. Proses ini disebut dengan Tatobi.

Selama habis melahirkan ibu juga harus menjalani ritual Peanggan. Ritual ini adalah mengasapi tubuh ibu dan bayi. Perapian dibuat tepat dibawah tempat tidur, lali ibu dan bayi ada di atasnya. Tujuan dari peanggan adalah agar mengeringkan luka-luka pasca melahirkan. Pengasapan ini dilakukan hampir setiap hari dan harus dijalani selama 40 hari.

Tradisi yang ketingga adalah, ibu hanya boleh mengonsumsi jagung bose. Jagung bose adalah jagung lokal yang tumbuh di pulau timor. Jagung ini menjadi satu-satunya asupan makanan bagi ibu, dan ibu kepada bayinya lewat air susu ibu. Selama mengonsumsi jagung bose, tidak boleh dicampur dengan jenis makanan lain. Alasan tidak boleh dicampur dengan makanan lain, adalah adanya ketakutan jika terjadi apa-apa pada ibu dan bayinya. Contohnya jika dia mengonsumsi ikan, maka ibu bisa gatal-gatal demikian juga dengan bayinya. Jika mengonsumsi kacang-kacangan takut kembung pada ibu dan bayinya. Sebuah ketakutan yang kadang tidak beralasan tetapi benar-benar ditaati karena sudah menjadi adat turun-temurun.

Maria, salah satu ibu yang baru saja melahirkan menceritakan kisah selama 40 hari di rumah bulat. Sudah 3 kali dia melahirkan, dan mendapat perlakuan yang sama. Acapkali dia menangis saat tinggal di rumah bulan 1 bulan 10 hari. Rasa bosan kerap melanda setiap hari. Tidak hanya bosan akan suasana, tetapi juga bosan dengan makanan yang monoton jagung saja, setiap hari dikompres yang kadang hingga melepuh, dan di asap.

Sebuah budaya yang kini sudah banyak banyak yang meninggalkan, tetapi masih ada juga yang menjalani. Pemerintah setempat lewat dinas kesehatan sudah melarang tradisi tersebut dengan alasan kesehatan ibu dan anak. Paling menarik adalah sebuah Perdes (Peratusan Desa) di Desa Binaus, Kab. Timor Tengan Selatan. Kepala Desa yang bernama Nahor Tasekeb, dengan tegas melarang budaya neno baha. Dia bahkan akan mengancam mendenda siapa saja yang melakukan ritual tersebut. Dia menyarankan agar melahirkan tidak lagi di rumah bulat, tetapi di Puskesmas atau Rumah Sakit. Selama pasca melahirkan harus tinggal di rumah kotak (rumah sehat) dan makan seperti yang dianjurkan oleh dinas kesehatan.

Aturan, kadang hanya menjadi ancaman semata, tetapi masih ada saja yang tetap menjalani tradisi neno baha. Namun, setidanyak pemerintah sudah tanggap terhadap tradisi ini mengingat dampak buruk terhadap kesehatan ibu dan bayi. Lantas saya melihat anak-anak ini yang barusan berangkat sekolah membawa jerigen dan menanyakan dimana letak rumahnya. Iseng-iseng saya menanyakan bagaimana anak-anak ini dulu saat usai kurang 40 hari. Sebagian besar anak-anak ini menurut orang tuanya yang bertutur, mereka menjalani ritual neno baha.

Saya terkesima dengan ketangguhan anak-anak ini. Dari semenjak lahir mereka sudah mendapat tempaan tradisi dan alam yang keras. Secara genetis tubuh-tubuh kecil merekan adalah mahluk yang kuat dan bisa bertahan dikerasnya batu karang yang menjadi pulau. Walau menghadapi budaya yang kini perlahan coba dikikis dan disesuiakan dengan jaman, tetapi anak-anak ini tetaplah berkembang menjadi insan-insan seteguh batuan dasar lautan. Saya teringat akan sebuah lagu “batu karang yang teguh”.

4 thoughts on “Menempa Generasi Timor dengan Neno Boha

  1. hmmm dari sejak lahir sudah ditempa ya mas dev…

    jadi kira kira seperti rumah sakit yang memberi kenyamanan pada ibu dan anak, apa kira kira malah melemahkan?

  2. Pingback: Menempa Generasi Timor dengan Neno Boha - telusuRI

  3. Pingback: Si Budi Kecil Dari Pulau Timor - telusuRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s