Satria Berdebu dari Pulau Timor

Deru laju kendaraan roda empat yang kami tumpang seperti langkah kecil Thomas yang lincah membelah hamparan Bakau Api. Roda menggilas aspal panas yang membelah Pulau Timor, sandal Thomas melibas semua yang menghadang termasuk semak berduri. Sebuah pengalaman tak terlupakan manakala mengunjungi Oemoro, yakni muara sungai Oelmina di Pulau Timor bagian utara.

Berempat kami berangkat dari Soe, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan. Matahari nampak sudah menantang mereka yang belum pagi, sebab arloji sudah menunjuk pukul 05:30 wita. Pulau Timor memang sedikit kurang diuntungkan, karena memiliki waktu yang begitu cepat. Berada di garis bujur paling timur di untuk waktu Indonesia tengah sehingga waktunya sedikit lebih cepat. Tak ayal, pukul setengah enam matahari sudah keluar dari peraduannya.

Berjalan melintasi jalan berliku untuk menuju sebuat tempat yang bernama Batu Putih. Tempat tersebut adalah sebuah pertigaan yang mengarah ke Kupang, Dili dan Bena. Sebuah tempat yang strategis di tengah pulau Timor. Dari sini perjalanan di awali. Usai mengisi bahan bakar sekaligus bekal, saatnya aspal yang sudah mulai mendidih oleh fatamorgana kami lintas. Jalan naik, turun, berluku, dan kadang berlobang membuat pengemudi tidak boleh terlena atau masuk lembah yang dalam pilihannya.

Rumah-rumah khas Timor berdiri di tepian jalan. Rumah Kotak ada di depan, sedangkan di belakang ada rumah bulat. Hari ini adalah hari minggu, nampak beberapa orang sudah mengenakan kain timor seperti memakai kebaya dan sarung. Kain timor melilit tubub mereka dari perut hingga tulang kering. Alkitab ada di tangan kanang, tangan kiri memegan tas kecil berisi sirih pinang. Sebuah budaya khas Timor yang hingga kini masih teguh kuat dipegang.

1 jam perjalanan, mobil serong menuju gang bertanah putih. Rumah kotak dan bulat masih mendominasi, walau ada beberapa yang sudah tembok. Akhirnya mobil berhenti disebuah padang tandus yang kata Om Simon Radja Pono adalah Nevada. Lantas saya mengingat sebuah daerah di Amerika yang tandus yang bernama Nevada. Ini hanyalah sebuah penyebutan, tanpa harus mengerti asal usul penamaan.

Kecamatan Amanuban Selatan adalah tujuan kami yang pertama, dan Nevada salah satunya. Bukit batu benar-benar menarik saya untuk masuk dan menjejankan kaki di puncaknya. Mobil terparkir, dan segera saya berjalan mendaki ke puncak bukit. Tanjakan terjal, kadang rapuh dan jika tidak berhati-hati maka terpeleset dan jatuh kebawah. Yang pasti sakit, celaka dan Puskesmas sangat jauh dari sini dan jika beruntung ada dokter yang berjaga.

Pohon-pohon kering yang masih berdiri, membawa saya pada pemandangan khas gurun Afrika. Saya hanya bersenandika “kurang jerapah, singa, dubuk, dan ular derik saja maka lengkaplah Afrika, tetapi ini Timor yang lebih dekat dengan Australia daripada Ibukota Indonesia“. Lamunan saya buyar sesaat mencapai puncak bukit. Seluas mata memandang yang terlihat adalah padang yang gersang dan titik-titik rumah bulat yang bertebaran.

Sepertinya mustahil tinggal seperti dipermukaan bulan yang nyaris tidak ada tanaman. Matahari begitu terik bersinar dan tak ada tempat untuk berteduh, kecuali tudang jaket dan kaca mata hitam yang saya kenakan. Entah berapa puluh kambar sudah saya abadikan, yang pasti harus segera turun daripada dehidrasi ditempat yang panas ini.

Sungai Noelmina menghadang. Jangan berharap saat musim hujan tiba, maka sering terjadi banjir bandang. Jika musim kemarau, sungai ini adalah oase terpanjang di Timor sisi utara dan menjadi satu-satunya sumber kehidupan. Setelah melihat bebatuan yang cukup kompak, maka roda empat ini dilajukan untuk menyebrangi sungai. Aliran sungai ini mirip selokan raksasa, namun akan jahat saat musim hujan tiba.

Hamparan pohon Kabesak (Acacia leucophloea) begitu mendominasi sepanjang aliran sungai. Pohon-pohon yang mungkin hanya layak dimakan oleh Jerapah ini begitu mendominasi, karena memiliki sifat yang infasif. Kabesak mampu tumbuh di lahan-pahan kering, dan mendesak tumbuhan lain seperti layaknya mencari daerah jajahan baru.

Tujuan kami selanjutnya adalah muara sungai Noelmina yang bernama Oemoro yang artinya air kuning dalam bahasa setempat. Usai menembus hutan kabesak kami masuk dusun-dusun kecil. Penduduknya begit hidup dengan sangat sederhana dan apa adanya. Yang terlihat hanya tanah gersang dan debu yang tebal. Sangat memilukan dan naif jika harus membandingkan mereka yang tinggal ditempat lain, tetapi inilah cara Tuhan menebarkan umatNya ke seluruh penjuru dunia dan tetap memberikan sumber kehidupan.

Sebuah gerbang kayu dibuka om Simon. Sapi-sapi ras Bali berlarian kesana-kemari begitu mendengar deru laju kendaraan. Sangat kontras dengan ekspektasi saya. Sapi-sapi di sini gemuk dan badanya tambun. Sapi di sini tak kalah dengan yang ada dipeternakan. Banyaknya sapi-sapi tak segaris dengan profil pemilinya. Sang pemilik tetaplah manusia yang tinggal ditempat yang sederhana, walau memiliku puluhan ekor sapi yang ranum dan montok.

Babi-babi sepertinya juga tidak tahan akan suhu panas yang melanda. Mereka bergantian berkubang disebuah cekungan yang diisi air oleh pemiliknya. Babi besar, kecil berebutan untuk mandi lumpur guna mendinginkan tubuh mereka. Usai berendam kemudan mereka mengusik kambing dan anjing yang sedang menikmati angin semilir dibawah pohon Tamarindus indica/asam yang rimbun.

Sejenak beristirahat di sebuah lopo, yakni rumah kecil mirip joglo yang beratapkan daun Gewang. Kopi panas di saat cuaca panas begitu pas jika dinikmati di dalam lopo yang begitu sejuk. Kopi panas mampu mengalihkan kepenatan usai 3 jam melintasi padang debu. Tuan rumah lantas mempersilahkan kami untuk mengambil piring dan makan siang. Jika menu makan siang ini saya foto, pasti saya akan dirundung oleh banyak pencinta satwa. Di Timor banyak hewan di lindungi dan tidak boleh diburu. Bagaimana jika dalam keadaan terdesak, hukum apa yang mampu melindungi manusia yang kelaparan dan ingin tetap hidup. Tidak ada pilihan lagi selain berburu. Menu makan siang ini kadang membuat saya untuk susah menelah, tatapi apaboleh buat daripada sengsara kelaparan dan saat tidak ada pilihan. Ayam hutan (Gallus gallus) menjadi teman nasi yang ditanak walau belum begitu matang.

Perut kenyang kini saatnya menuju Oemoro dengan melewati jalan setapak. Hutan bakau yang di dominasi oleh bakau api (Avicennia sp) sambil ditemani anak-anak dusun setempat. Tomas yang baru kelas 1 SD nampak lincah menebas semak-semak dengan parang di tangan kanannya. Sedangkan 2 temannya yang sudah kelas 4 SD dapat dengan mudah melewati semak belukar, namun saya tetap saja harus berjingkat-jingkat menghindari semak berduri.

Sekitar 40 menit berjalan, akhirnya sampai juga di muara sungai yang disebut Oemara. Kembali pak Simon mengingatkan saya agar tidak mendekati muara sungai, karena banyak Buaya muara (Crocodylus porosus) yang sedang kelaparan pada saat musim kering. Jarak paling aman saya ambil untuk mengabadikan keindahan sungan Noelmina yang bersentuhan langsung dengan Samudra Hindia. Dari sini terlihat tumbuan bakau nampak menghijau dan subur, sangat kontras dengan daratan di dalam yang begitu nampak kering.

Perjalanan usai, setelah pintu kendaraan tertutup secara tidak sadar. Awalnya kendaraan terjebak hamparan debu dan mengalami selip. Kami bertiga berinisiatif hendak mendorong, tetapi tanpa sadar sopir ikut keluar memeriksa keadaan. “blaakkk” pintu ditutup, padahal mobil masih menyala dan secara otomatis pintu terkunci, kebetulan jendela juga tertutup. Segala daya dan upaya dikerahkan untuk membuka pintu mobil.

Akhirnya, parang dari Sabu lah yang mengorek karet jendela dan mencungkil kacanya. Pintu berhasil terbuta namun kendaraan tidak mampu keluar dari kubangan debu yang menjebak. Beruntung ada truk yang lewat dan mau menarik mobil kami. Truk kembali ke kampung terdekat untuk mengambil tali dan tak lama kemudian mobil sudah berhasil ditarik. Entah apa yang terjadi jika tidak ada siapa-siapa. Saya menyebut teman-teman yang membantu mengevakuasi mobil kami dengan julukan satria berdebu. Ketulusan dan semangat mereka menolong memang layak mendapat acungan jempol. Akhirnya malam pun tiba dan kami harus segera kembali ke Timor Tengah Selatan.

8 thoughts on “Satria Berdebu dari Pulau Timor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s