Senja di Indonor

Dari ufuk barat terlihat cahaya temaram yang merona menandakan senja. Perahu-perahu nelayan ada yang kembali ada pula yang berangkat. Burung camar melayang-layang menuju peraduan sebelum malam datang. Desiran ombak lembut, pelan yang menandakan laut yang tenang. Dalam remang senja, ada kedamaian di barat sana. Sesok bangkai yang lebih dari setengah abad terendam di dasar lautan. Indonor berjuang 3 hari sebelum hilang ditelan lautan, dan kini menjadi istana karangn dan ikan. Senja itu di Indonor.

Usai semalam menikmati romansa bumi kartini, saatnya subuh harus bersiap untuk menuju dermaga. KM Siginjay pagi itu akan membawa kaki-kaki katak ini menyebrang ke Karimunjawa. Selama 5 jam akan mengarungi laut jawa yang konon hari itu baru saja cuaca membaik usai hampir 1 minggu tidak ada pelayaran. Wajah-wajah sumringah penuh harapan mengiringi langkah menuju mulut kapal berdesakan dengan becak-becak yang menghantarkan barang dagangan.

Geladak di lantai 2 sudah penuh sesak dengan penumpang. Saat jajaran kursi tak lagi bisa menampung badan, maka lantai kapal menjadi pilihan ntuk sekedar bersandar atau merebahkan badan. Kadang harus berjingkat, kadang harus melompat pada jajaran penumpang yang mirip ikan pindang tidur terhampar. Rasa-rasanya sudah tak ada lagi tempat untuk berpijak, maka lantai 3 kapal menjadi pilihan.

Perkiraan tak berbeda jauh, karena lantai 3 juga sudah penuh dengan penumpang yang ingin menikmati angin dan pemandangan lautan. Kapal berjalan pelan, sepertihnya hanya bergerak dengan kecepatan 10 Knot saja untuk menumpuh jarak sekitar 60 mile laut. Kapal cepat seperti Bahari Ekpress atau Kartini cukup 2 jam pelayaran, namun ada kisah lain dari Siginjay yang merambat pelan menyisir ombak lautan. Akhirnya sekitar pukul 12 siang kapal sudah merapat di dermaga Karimunjawa.

Badan yang rasanya masih sakit, antara kelelahan atau mabuk laut. Pagi-pagi buta harus bangun dan segera mengisi perut. Hari ini adalah hari ke-3 di Karimunjawa. Penyelaman ke-3 dan 4 hari ini akan melihat sesosok kapal barang Indonor yang sudah setengah abad bersemayam di sisi selatan Pulau Kemujan. Sebuah titik penyelaman yang menjadi idaman bagi pecinta kedalaman dan surga lautan.

3 Februari 1960 saat bulan laut masih bergejolak. Mungkin hari itu hari naas bagi sang kapten kapal dan anak buah kapal. Sebuah kapal kargo yang berencana berlayar dari Palembang menuju Surabaya terserang badai. Di muka terlihat sebuah daratan yang dikira daratan pulau Jawa, ternyata hanyalah sebuah pulau di kepulauan Karimunjawa.

7 Februari kapal yang diberi nama Indonor akhirnya menyerah pada alam usai 4 hari yang lalu mengalami kebocoran dan merapat di selatan Pulau Kemujan. Hari minggu terakhir untuk Indonor, perlahan kapal bermesin uap buatan Norwegia akhirnya tertelan lautan dalam keheningan samudra. Waktu berlalu, kapal ini sudah abadi didalam dasar luatan yang tak lagi menunjukan kemegahan masa lalunya. Alam telah menaklukkannya.

Hari ini, lautan yang agak sedikit bergejolak mengombang-ambingkan kapal bermesin 40 PK. Kadang kapal yang sudah buang jangkar bergoyang ke kanan ke kiri kadang ke depan atau belakang. Tabung-tabung selam yang sudah berisi dengan udara sudah berjajar rapi. BCD dengan lincah disematkan pada sisi tabung bak paus dengan remoranya.

Topeng selam sudah dikenakan. Baju selam sudah dibasahi untuk adaptasi. Pemberat badan 6 pund sudah melingkar di pinggang. Kaki katak sudah dipasang dan saatnya melipir ke dinding lambung kapal. Byurr… badan sudah tercebur saatnya menggendong tabung yang sudah sedari tadi terapung-apung. Semua sudah terpasang. Sepasang penyelam saling menggerayang untuk memastikan semua terpasang dengan benar dan aman. Mata tengadah ke langit. Lantunan doa dipanjatkan untuk menyertai penyelaman.

Dive master mengisyaratkan tanda jempol menghadap ke bawah. Sejak tanda itu diberikan selebihnya akan menjadi manusia bisu dan hanya dengan tanda tangan untuk komunikasi. Satu persatu turun menuju dalam lautan. Buddy saling menjaga pasangannya untuk saling mengawasi. Gelembung-gelembung udara mulai bertebaran dan nampak tangan kanan memegang hidung untuk equalizing. Tak terasa kaki hampir menyentuh dasar lautan di kedalaman 14 meter.

Di depan berdiri megah buritan Indonor yang tak lagi utuh. Saat masih dipermukaan Indonor memiliki panjang 99,94 m dan lebar 14,17 m. Kini indinor sudah termutilasi oleh irisan gelombang laut menjadi 3 bagian. Rangka-rangka kapal kini tak lagi terlihat sebagaimana bayangan saya. Wreck Indonor memerlukan daya imajinasi yang luar biasa untuk merekonstruksi kapal pecah ini menjadi bagian yang utuh. Sepertinya otak ini berat berimajinasi saat oksigen yang minim harus berbagi dengan tubuh.

Entah ada berapa banyak spesies karang yang mendekorasi besi-besi yang sudah korosi. Karang lunak dan keras saling tumpang tindih untuk mengkoloni. Ikan-ikan bersliweran kesana-kemari dan seolah tak peduli dengan kedatangan anak-anak adam. Karang kipas yang melambai terkibas arus dari kaki katak meliuk indah dan saya tersadar ada fauna seperti itu.

Melayang di lorong laut melambai, menari, berputar, dan tubuh ini seperti tanpa bobot. Jengkal demi jengkal indonor terlewati untuk menyusun repihan-repihan yang sudah 55 tahun tertanam di dasar lautan. Hampir 60 menit hampir terlewati saat tekanan pada tabung menunjukan angka 30 bar. Pertanda jempol ini sudah mendongak keatas. Di kedalaman 10 m berhenti sesaat untuk menyamakan tekanan dan mengeluarkan sisa-sisa nitrogen, begitu juga di kedalam 5m. Usai safety stop tubuh ini melesat kepermukaan dan mengapung saat BCD menggembung.

Langit semakin temaram. Ternyata senja telah datang. Sang surya sudah menuju peraduan. Tabung-tabung selam sudah kembali berjajar, kaki katak sudah menempati rak-rak, begitu juga dengan topeng dan pemberat. Perlahan sauh sudah di angkat dan mesin kapal sudah meraung. Saatnya kembali menuju karimunjawa dengan menyisir selatan perairan kemujan. Hampir satu jam berlalu, saat sang surya tenggelam, ujung tiang indonor perlahan hilang. Entah kapam waktu itu datang untuk menikmati sisi lain Indonor yang sudah tertidur tenang di dasar lautan.

2 thoughts on “Senja di Indonor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s