Renjana Rindu di Lembah Napu

napu lore5

Cokelat warna rumput yang terbakar sinar matahari. Udara dingin dibawah teriknya sang surya. Kulit yang bersisik karena udara yang kering. Berdiri di atas ketinggian 1200 mdpl bak kuali raksasa berdiri megah di Sulawesi Tengah. Lembah Napu, demikian nama yang diberikan pada lansekap indah yang saya kunjungi dari perjalanan Palu menuju Poso.

Sungai Lariang yang konon terpanjang di bumi celebes mengalir deras tak terbendung. Berhulu di Tawaelia dan berhilir di Sela Makasar. Lembah napu sebagian besar terdiri dari dari padang rumput dan sekeliling lembah berupa hutan yang lebat khas dataran tinggi. Jika di Jawa ada Lembah Bromo, di NTT ada padang Rumput Gunung Mutis, di Papua ada Lembah Baliem, maka Sulawesi punya banyak lembah yang indah.

Setelah melewati jembatan lengkung berwarna kuning di Kota Palu, arah kendaraan bertolak menuju kabupaten Sigi. Butuh waktu 2 jam perjalanan untuk bisa menyentuh lembah Napu. Perjalanan yang sangat indah, karena mata aka dimanjakan dengan pesona hutan lebat di Taman Nasional Lore Lindu. Jalan aspal yang mulus, namun dibeberapa sisi ada yang harus berjingkat karena sudah terkelupas mengarahkan kemudi mobil menuju tengah hutan yang lebat.

Sepintas mata saya meyakinkan logika saya jika sudah tidak ada peradaban lagi dibalik Taman Nasional Lore Lindu. Hutan semakin lebat, namun tiang-tiang listrik di tepi jalan masih saja berjajar. Sebuah indikator di sana ada kehidupan. Hampir 1,5 jam melintasi lebatnya hutan dan tak bertemu dengan para pelintas. Rasa sepi kadang tak tertahan lagi, tetapi ditemani 4 sisir pisang seharga Rp 10.000,00. “satu sisir 3ribu, jika 4 sisir 10 ribu” kata penjual pisang di tepi jalan.

Jalanan tiba-tiba berubah menjadi bebatuan dan menurun tajam. Sejenak saya meminta supir untuk menginjak rem dan berhenti. Mata saya yang sudah terkantuk karena kemarin lebih dari 6 jam berkendara membuat badan ini mata rasa dan kantuk tak terkira. Sekarang saya benar-benar terbelalak, di depan saya sebuah peradaban. Seolah tak percaya usai melintasi hampir 2 jam di Hutan Lore Lindu, kini menjumpai perkampungan.

Mobil putih ini berdiri di ujung mangkok raksasa di tengah Sulawesi. Saatnya menuruni bibir mangkok menuju tengah telaga raksasa yang berwarna kuning kecokelatan. Sebuah keajaiban bentang alam saya temukan, dan sebuah keberuntungan bisa menginjakkan kaki di sini. Lembah Napu yang sebelumnya hanya sebuah fiksi, kini menjadi realita jika ini bukan mimpi.

Saya berlari seperti anak kecil yang ingin memeluk ibunya yang dari jauh melambaikan tangan. Bukit-bukit mungil bermunculan dan berkarpetkan rerumputan yang menguning. Semilir angin menggoyangkan bunga-bunga graminae bak tarian masal. Saya berdiri sendiri di tengah savana, emosi yang membuncah tak terkira melihat imaji nyata di depan mata.

Dahulu kala tempat ini adalah danau raksasa karena gejala geologi. Kini menjadi tanah yang subur. Sayur mayur untuk Pulau Sulawesi sebagian besar dipasok dari sini. Tanaman produksi seperti kopi dan cokelat melimpah ruah dan menjadi andalan warga Napu yang sebagian besar adalah petani. 3.000-4.000 SM peradaban sudah terbentuk di Napu. Peradaban ini dibuktikan dengan ditemukannya situs-situs megalitikum yang tersebar di penjuru sabana.

Hawa dingin menyeruak, karena sudah diatas 1600 mdpl saat mendaki bibir mangkuk. Dari atas kembali saya melihat Napu dari sisi utara yang ternyata jauh lebih indah. Di sinilah sudut yang tempat utuk melihat lembah secara menyeluruh. Pinus merkusii dan rerumputan berdaun jarum mendominasi sungguh perpaduan yang harmoni. Ingin rasanya berlama-lama di sini, sambil bersenandika “lembah penuh romansa di belantara Sulawesi, suatu saat pasti kembali”, itulah rejana.

3 thoughts on “Renjana Rindu di Lembah Napu

  1. Pingback: Renjana Rindu di Lembah Napu - telusuRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s