Sangginora Pesona Eropa

Sangginora sebuah nama yang sangat tidak familiar ditelinga saya. Sejenak saya berpikir apa nama arti nama tersebut, namun dibalik namanya yang aneh ada banyak cerita yang menarik yang bisa dikisahkan. Tahun 2000-an saat terjadi kerusuhan, maka Sangginora menjadi tempat pengungsian yang aman. Letaknya yang jauh dan terpencil, menghindarkan dari kerusuhan SARA yang terjadi pada saat itu. Berbicara soal keindahan alam, Sangginora mirip desa-desa kecil di Eropa. Entah mengapa saya langsung jatuh hati pada desa ini.

Pagi buta, kepala Puskesmas Tangkura sudah bersiap-siap, karena hari itu akan kunjungan ke Pustu Sangginora. Pagi-pagi benar harus bersiap untuk mengangkut peralatan medis berikut dengan obat-obatan. Saya tidak membayangkan mengapa seribet ini hanya untuk pergi ke kesebuah Puskesmas pembantu. Akhirnya pukul 07.00 kendaraan roda empat melaju sambil sesekali menghampiri pegawai puskesmas dari rumah yang kebetulan satu jalur.

Di ujung desa, kendaraan berhenti di sebuah ujung bukit. Bukit Sinyal, begitu pera pelintas menyebut tempat ini. Dinamakan demikian karena di bukit ini terakhir kali sinyal di dapat, sebelum nanti akan menempuh 1-1,5 jam perjalanan menuju Sangginora. Lagi enak-enaknya menikmati keindahan dan rimbunnya bukit sinyal dibawah kanopi raksasa Ficus sp, tangan Dedy sopir Puskesmas mencolek pundak saya. “Mas di tikungan sana beberapa waktu lalu, 2 mobil baracuda milik Brimob diberondong teroris dari atas bukit. Semua penumpangnya lompat ke jurang. Usai teroris dipukul mundur, tinggal 2 baracuda yang di derek karena dihajar peluru”. Dahi saya berkenyit sambil mata melotot dan saya tersadar di sinilah lokasi Teroris tinggal, di Poso Pesisir.

Bentang alam yang luar biasa indah karena untuk menuju Sangginora, dari Kecamatan Poso Pesisir Selatan berjarak sekitar 35Km dengan melewati jalan Trans Poso-Napu. Bukit berbukit ditelusuri dengan jalan yang cukup untuk satu kendaraan, jika berpapasan harus cari tempat untuk menepi. Konon jalan ini sudah dibuat saat jaman kolonial yakni pada tahun 1940-an. Pada tahun 1982 dibangun jalan yang lebih lebar, sebab sebelumnya hanya jalan setapak saja. Kontur bukit-bukit yang curam adalah hambatan yang luar biasa. “Jika nanti jurang di sebelah kanan, berarti kita sudah separo jalan” kata Dedy sambil menyetir melewati jalan yang meliuk-liuk membuat perut mual.

Setelah lebih dari 1 jam perjalanan akhirnya sampai juga di Sangginora. Saya terkesima dengan desa ini. Imaji saya seperti desa khayalan Andrea Hirata dalam novelnya Edensor. Andrea menceritakan sebuah desa kecil dengan rumah-rumah mungil dan padang rumput yang luar, kira-kira seperti itulah Sangginora. Gereja yang berdiri megah di ujung lapangan sepakbola semakin menegaskan, saya tidak di Sulawesi Tengah, tetapi ini Eropa.

Siang itu, kami singgah di Puskesmas Sangginora untuk segera menggelar alat kesehatan dan obat-obatan. Para lansia dan pasien yang menjadi pasien langganan sudah hadir di teras Puskesmas. Sementara para petugas medis siap ditempatnya masing-masing saya menghilang diantara kerumunan pasien. Saatnya mengelilingi Edensor, desa mungil di Sulawesi.

Sebuah lapangan sepak bola dengan rumput yang hijau dan saya kira sudah standar yang bagus untuk lapangan klub-klub besar di Indonesia. Berdiri ditengah-tengah lapangan, mata ini seluas mamandang rumah-rumah kecil dan bukit-bukit yang menguning. Teriknya matahari tak menghalangi mata ini untuk terus mengagumi, walau salak anjing-anjing kampung tak henti-hentinya menggonggong karena ada tamu asing. Gereja GKST yang megah berdiri dengan menaranya yang menjulang tinggi. Khas gereja bangunan-bangunan Eropa yang megah, besar dan nampak kontras dengan rumah-rumah kecil dibawahnya.

Dengan 230 kepala keluarga, maka Sangginora menjadi desa yang multi kultur. Sedikitnya ada 4 etnis yang ada di desa ini, yakni; Pamona, Tiongkok, Bali, dan Jawa. Agama juga demikian, islam dan kristen. Desa ini dulu menjadi salah satu tempat pengungsian saat kerusuhan Poso. Tragedi ini diceritakan oleh Kepala Puskesmas yang pada saat itu mengungsi dengan kedua anaknya dengan berbekal 1 kardus mie instant untuk menghindari amuk massa. Kisah masa lalu kini sudah selesai dan sudah kembali seperti sedia kala. Kisah memilukan itu hanya sebatas cerita dan sangginora menjadi kisah nyatanya.

jauh di tepi lapangan Dedy melambaikan tangan dengan menunggangi sepeda motor yang dipinjam dari kepala Puskesmas. Ajakan untuk berkeliling desa tak saya tolak. Jalanan kecil di tepin desa, kami sisir pelan-pelan. Nampak di sisi kanan bukit kecil yang menguning. Sepintas mirip dengan ilalang di musim kemarai, ternyata bukan. Ladang padi lahan keringlah yang menutupi bukit-bukit di Sangginora. Masyarakat di sini sudah swasembada pangan, dan harus sebab karena jauh dari mana-mana. Desa terdekat saja sekitar 28Km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Seorang nenek dengan ani-ani di tangan menyambut kedatangan kami. Dia menunjukan hasil kebunnya berupa padi yang sudah menguning, yang sementara sedang dipetiknya. Segenggam tangkai padi dikumpulkan menjadi satu ikat padi yang siap dijemur dan digiling. Di samping kebun padinya dia menunjukan sebuah tempat penyulingan minyak Nilam (Pogostemon cablin). Sangginora saat ini terkenal sebagai penghasil minyak asiri dari tumbuhan Nilam. Satu kilo nilam dihargai 5.000 rupiah, dan hasil dari penyulingan akan dihargai sekitar 500ribu untuk 1 lt minyak asiri. Nilam sebagian besar tumbuh liar di kebun-kebun penduduk dan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi maka banyak dicari.

Anak-anak SD nampak riang saat jam istirahat. Untuk ukuran desa yang sangat jauh dari mana-mana, Sangginora sudah cukup untuk fasilitas pendidikannya. Ada TK, SD, dan SMP, sedangkan SMA/SMK harus keluar dari Desa. Fasilitas untuk komunikasi masih terbatas namun tetap bisa di atasi. Sinyal ponsel bisa ditemukan dibeberapa titik walau untuk berkirim pesan singkat atau menelepon. Di kantor kelurahan ada fasilitas internet masuk desa, namun mangkrak karena tidak ada yang memakai.

Sesaat usai berkeliling kampung, pak Nelson sebagai kepala Pustu meminta untuk masuk ke rumah dinasnya. Di dalam rumah sudah disediakan penganan dan segelas teh panas manis. Tak berapa lama kemudian istri pak Nelsom mempersilahkan kami untuk makan siang. Sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak. Mata saya seolah tidak percaya dengan menu makan siangnya yang mengingatkan saya saat di Pulau Jefman-Raja Ampat.

Di Jefman sebagai pulau terpencil jarang ditemukan beras. Masyarakatnya mengonsumsi pisang dan singkong sebagai pengganti nasi walau lauknya adalah ikan laut. Di sini makan siangnya dengan pisang goreng, singkong rebus, ikan asin, dan sambal. Menu yang istimewa untuk makan siang dan tak lama Dedy kembai meminta untuk masuk kendaraan dan saatnya pulang. Sembari pulang mata saya masih menerang saat jembatan sungai Puna ini sudah dilewati, sebab barusan di kampung Eropa padahal Sulawesi.

VIDEO ADADI SINI https://www.youtube.com/watch?v=ZGWHvDm7z2U

Advertisements

2 thoughts on “Sangginora Pesona Eropa

  1. Pingback: Sangginora Pesona Eropa - telusuRI

  2. Pingback: Sangginora, Desa Berpesona Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s