Gantinadi, Kampung Bali di Tengah Sulawesi

bali4

Sang Surya belum juga merekah di ufuk timur, namun mada dari molo masjid sudah terdengar. Takbir kumandang kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa usai sudah dan saatnya lebaran tiba. Sesaat matahari menampakan wajahnya, umat muslim berjalan di sela-sela penjor yang berjajar di sepanjang jalan. Kuningan dan lebaran tiba saatnya bersamaan. Bukan sebuah kebetulan, tetapi sudah menjadi hitungan 2 umat yang berbeda ini bertemu dalam hari besar. Sungguh istimewa hari ini, suasana Bali di hari yang fitri di tengah Sulawesi.

Nyoman Purji lelaki berusia 60 tahuan asal Denpasar Bali berkisah. Pada tahun 1978 dia bersama-sama warga Bali dari Tabanan, Badung, dan Singaraja bertransmigrasi di Sulawesi Tengah. Mereka mengikuti program pemerintah untuk mengisi jengkal-jengkal tanah air yang masih lowong. Lahan-lahan pertanian disedikan oleh pemerintahan Presiden Soeharto untuk transmigran dalam bercocok tanam. Rumah-rumah trans didirikan ala kadarnya untuk menampung para penduduk baru. Selama dalam jangka waktu tertentu mereka masih mengandalkan bantuan pemerintah terutama untuk logistik dan alat bahan pertanian.

Saat ini mereka sudah mandiri. Kebun cokelat dan kelapa menjadi penopang hidup mereka, selain ternak sapi dan pekerjaan lain. Sepintas saya saat memasuki kampung Bali di Dusun Ganti Nadi, Desa Tangkura, Kec. Poso Pesisir Selatan, Kab Poso – Sulawesi Tengan nampak terheran. Nama Nyoman, Gede, Ketut, Putu dan nama-nama khas Bali ada disetiap gapura di depan rumah. Begitu bertegur sapa, logat bali sedikit masih terasa namun bahasa berubah menjadi bahasa lokal Poso.

Sebelum tahun 1980 di Desa Ganti Nadi ada 112 KK, namun saat ini tersisa ada 46 KK saja. Gagalnya bercocok tanam karena musim menjadi faktor utama mengapa mereka kembali ke Pulau Dewata. Faktor keamanan juga memberikan kontribusi buat ketidakkerasanan mereka di Pulau Sulawesi. Pantas saja poster besar di pasang di tengah desa yang menampilkan wajah-wajah teroris kelompok Santoso. Namun, di balik gangguan alam dan manusia tetap saja masih ada yang kerasan dan sukses hidupnya.

Kembali saya berbincang dengan Nenek I Ketut Kembal yang kini berusia 69 tahun dan mempunyai 12 cucu. Dia nampak berdamai sekali dengan bumi Poso yang katanya orang di luar sana tak aman. Kisah-kisah memilukan seputar keamanan sudah membuat mentalnya jadi lantaran kata pasrah. Usia yang sudah senja bukan halangan dia tetap bahagia, bagaimana tidak karena menjadi tertua di tengah-tengah keluarga selain suaminya.

Orang lokal menyebut Dusun Ganti Nadi sebagai kampung bali. Nuansa khas Bali begitu terasa di tengah pulau Sulawesi. Setiap rumah memiliki pura-pura kecil hingga yang megah untuk bersembahyang. Sesaji-sesaji terpasang dan selalu diganti. Anjing-anjing piaraan berkeliaran mencari makanan yang disajikan dan konon katanya jika anjing memakan sesaji maka artinya persembahannya diterima.

Logat dan bahasa boleh berubah, tetapi tradisi tetap dipegang teguh. Hampir setiap berkala upacara keagamaan masih berlangsung seperti layaknya di daerah asalnya. Galungan, kuningan, bahkan hingga upacara kematian dengan pembakaran mayat atau ngaben masih saja dilestarikan. Sebuah kalender yang ditumpuk dan tertempel di dinding sejak tahun 2000 nampak berbeda dengan kelander kebanyakan. Kalender almanak yang berisikan waktu-waktu umat Hindu beribadah berikut dengan bahasa bali menjadi pedoman mereka dalam kesehariannya. Gaya berpakaian mereka tak beda jauh saat orang berkunjung ke Bali, bahkan tubuh pemuda ada yang dirajah mirip bli-bli di Bali, namanya saja orang Bali.

Di bawab rimbunya tajuk pohon Theobroma cacao aparat TNI dan Polri nampak duduk santai dengan senapan tetap di tangan. Mereka adalah penjaga NKRI ini untuk melindungi warga dari ancaman teror dari sekelompok orang yang tinggal di gunung. Para teroris terpampang jelas wajahnya disebuah baliho besar yang di belakangnya adalah markas aparat keamanan. Dahulu menjelang malam, warga Gantinadi tak berani keluar rumah, walau kadang harus terpaksa buang air di dalam. Kini situasinya sudah membaik dan kondusif dan warga bisa mekakukan aktifitas seperti layaknya dalam kondisi aman.

Akhirnya kembali pada bumi Celebes. Perbedaan keyakinan masing-masing umat beragama tak lagi menjadi halangan buat mereka. Saat umat muslim tak makan daging babi karena haram, umat hindu tak makan daging sapi kerena binatang suci. Begitu juga dengan umat kristiani, walau mereka bisa makan keduanya tetapi rasa toleransi dan saling menghormati tetap dijunjung tinggi. Kerusahan poso menjelang akhir tahun 2000-an bukanlah perang antar agama, tetapi ada kepentingan besar sekelompok orang dengan mengadu domba kekuatan keyakinan. Bumi poso sejatinya bukanlah semengerikan yang banyak orang sangka, tetapi ada sisi lain yang jauh lebih indah dan penuh makna. Kampung Bali di tengah Pulau Sulawesi sudah menjadi contoh dan bukti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s