Mahkuk Halus Penunggu Danau Linouw

linouw4

Arloji menunjukan angka 21.00, dan hampir 4 jam kami berkendara dari utara Sulawesi Utara untuk membelah pulau menuju selatan. 3 Mobil beriringan dengan kecepatana rerata 50-60km/jam. Tetiba sebuah sepeda motor sepertinya enggan untuk didahului oleh mobil ke-2 yang saya tumpangi. Alhasil kecepatan mobil ke-2 dan 3 melambat mengikuti kecepatan sepeda motor, sedang mobil pertama sudah melesat jauh kedepan dan hanya menyisakan cahaya merah. Akhirnya setelah mendekati perkampungan, sepeda motor minggir ke kiri dan memberi kami jalan. Setiba di mess tambang, mereka yang berada di mobil ke-3 mengkonfirmasi “apakah kalian mendengar suara perempuan tertawa saat tadi di tengah hutan..?“. Saya teringat, saat itu sepertinya ada sepeda motor yang enggan di salib “kami semua mendengarnya” serempak rombongan terakhir berkata.

Cerita lengkingan tawa perempuan dirimba Sulawesi berangsur pudar manakala, empuknya kasur sudah membius badan yang hampir 12 jam menempuh perjalanan udara dan darat. Pagi yang cerah, 3 mobil kembali membawa kami menuju sebuah lansekap beraromakan vulkanologi. Deretan gunung-gunung berapi di Sulawesi menjadi bukti bahwa saat ini kaki sedang berdiri di atas ketel dengan bara apai dari intii bumi yang merembes di beberapa puncak gunung. Rembesan panas bumi bercampur dengan aliran air bawah tanah kemudian mencampur mineral-mineral dan terjebak dalam kubangan yang luas.

Danau Linouw salah satu danau vulkanik yang ada di Sulawesi Utara, tepatnya di Lahendong kota Tomohon. Permukaan danau di ketinggain 774m dpl memberikan hawa yang sejuk, padahal di sebarang danau nampak asap solfatara yang mengepul. Aliran air hangat begitu terlihat saat uap air secara perlahan tersapu angin yang bergerak kesana kemari seperti rombongan belibis yang berenang mencari makan. Pepohonan yang menghijau menghiasi perbukitan yang mengelilingi danau lengkap dengan pohon pinus yang sudah berusia tua.

Sembari menikmati teh panas di tepi danau, saya teringat akan karya Miquuel pada tahun 1978. Pada tahun tersebut dia menemukan bakteri yang mampu hidup pada suhu 72C. Sungguh aneh bakteri yang mendapat sebutan termofilik yang artinya suka akan suhu panas, sebab saat mahluk lain tak bisa hidup bakteri ini malah bersukaria. Lebih mengerikan lagi ada bakteri termofilik ekstrim yang mampu hidup di atas suhu 90C. Dadu saya lempar, keluar kalimat ada “bakteri termofil di sana”.

Angan saya langsung menuju pada sumber-sumber air panas, tetapi bukan pegunungan. Hangatnya air kamar mandi hotel, teko pemanas air di kedai pinggir jalan, poci yang tak pernah di cuci, saluran pipa air panas jangan-jangan ada mahluk halus yang disebut termofil. Beberapa genus bakteri yang tahan akan air mendidih antara lain; Baccilus, Clostridium, Thermoactinomycetes, dan Methanobacterium. Sebut saja Clostrodium yang bisa menyebabkan tetanus, Baccilus yang bisa menyebabkan antraks akan menjadi potensi berbahaya bagi manusia yang terinfeksi.

Pertanyaan sederhana muncul, bagaimana mahluk tak kasat mata ini bisa bertahana hidup dalam air panas. Tuhan sepertinya tak main dadi atau tak sengaja menciptakan mahluk ekstreem ini. Dinding sel bakteri termofilik tersusun dari asam lemak jenuh. Asam lemak ini membuat stabil lapisan dinding sel yang lebih kuat menolak air (hidrofobik), sehingga akan terhindar dari suhu panas yang tinggi. Cairan protein kusus yang disebut chaperonin membuat cairan dalam tubuh bakteri lebih tahan akan tekanan lingkungan yang tak wajar.

Sejenak lamunan saya buyar manakala melihat warna permukaan tergradasi dari hijau toska, lalu berubah hijau daun dan ada yang hijau kekuningan. Perunahan warna ini akibat perbedaan konsentrasi mineral yang terlarut dalam air akibat dari oksidasi. Oksidasi bisa terjadi secara alami karena paparan oksigen, adapula karena ulah bakteri yang hidup didalamnya. Bakteri pereduksi sulfat adalah salah satu biangnya yang mampu mengubah belerang, sehingga membuat konsentrasi di lingkungan berubah dan akibatnya warna air juga berubah.

Sebuat tanda tanya muncul, apakah peran bakteri ini untuk lingkungan dan manusia. Kontribusi bakteri termofil ini bagi lingkungan bisa dilihat dari keberadaan belibis yang hidup di danau Linouw. Keberadaan mahluk tak kasat ini mampu mengurai material yang beracun seperti belerang menjadi aman bagi linkungan, buktinya ada hewan, alga, tumbuhan yang hidup di danau Linouw. Jika di danau ini tidak ada kehidupan, maka kontribusi bakteri thermofilik layak untuk diragukan. Bakteri termofil sudah banyak digunakan di beberapa sumber air panas, salah satunya adalah untuk mereduksi atau mengurangi kandungan belerang yang berbahaya bagi lingkungan.

Danau Linouw adalah danau alami yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik. Secara alami juga mahluk-mahluk tak kasat mata ini datang dengan sendirinya lalu dan terseleksi secara alamiah dengan proses evolusinya. Kini mereka yang sudah lolos dari kejamnya hukum alam hidup di danau yang indah disaat mahluk lain tak mampu untuk hidup. Alam bawah sadar saya terhenyak mengingat kejadian malam itu, dan imajinasi saya melesat masuk dalam kubangan sulfur dan didalamnya banya suara tawa dari dari dalam sana. Sama-sama mahluk tak kasat mata.

2 thoughts on “Mahkuk Halus Penunggu Danau Linouw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s