Pesona Alam dan Sejarah Tambang di Pantai Lakban

e4

Secangkir teh panas yang ada di tangan serta merta saya letakan manakala mata menarang di balik kaca jendela melihat ufuk timur. Langit yang merekah merah seperti endofrin yang menimbulkan gairah tersendiri. Segera saya letakan minuman kesukaan saya dan menyahut 3 kamera di depan saya lalu berlari tergopoh-gopoh. Pintu gerbang mess tambang masih tertutup rapat, saya tarik rantai penutupnya untuk membuka tirai besi raksasa. Selepas aspal di sebuah jembatan merah menyadarkan saya jika saya sesaat lagi matahari segera terbit.  Pagi ini saya menikmatisunrise yang terindah selama 3 hari di camp site PT.Newmont Minahasa Raya.

143027497780387617

Buih-buih kecil yang menghapus kaki, tak akan menghapus kenangan lewat lukisan dalam genggaman tangan (dok.pri).

Pagi ini hanya saya dan beberapa teman yang sibuk lari kesana kemari seperti anak ayak kehilangan induk. Masing-masing kami berkamera foto dan video untuk merekam pesona pagi di pantai Lakban. Tepat usai berlari dari jembatan merah saya segera merangseng diantara jajaran pepohonan kelapa yang tersusun rapi membentuk garis perspektif yang hilang di ujung pantai. Semburat warna merah merona dibalik pulau Putus-putus nampak indah manakala terhala oleh sembulan karang dari dasar laut.

1430274615400861009

Jembatan pantai lakban  Minahasa Tenggara (dok.pri).

Pagi yang sentimentil walau diledek oleh burung Gagak (Corvus sp) yang berterbangan di atas famili palmae. Semilir angin pagi menghantarkan perlahan mentari yang beranjak pergi dari peraduannya. Sebuah perahu beradik yang mengapung di laut tenang memberikan kesan keindahan sekaligus menjadi pengisi komposisi untuk bidang kosong. Entah berapa kali rana ini membuka nutup untuk mengabadikan alam yang sedang memutar keindahan alamnya.

14302746841792466795

Panorama pantai Lakban yang menghadap langsung dengan selat Totok (dok.pri).

Buih-buih kecil dari sapuan ombak pantai lakban seolah menari-nari kesana kemari sambil menghapus jejak kaki yang saya tinggalkan. Akhirnya dewa surya pun datang memberikan kehangatan dengan sinar kuning emasnya. Siluet pulau putus-putus kini menjadi terang benderang dan teluk Totok terlihat jelas. Di sisi kanan berdiri mega monumen atau tugu yang diberi nama Bukit Kasih Damai yang bersimbol salib, bintang dan bulan.

14302747321516794100

Beberapa peninggalan Belanda, sebuah alat produksi tambang buatan Inggris yang hingga kini masih dipajang di pantai Lakban. Terlihat di belakang adalah bukit kasih dengan 2 menara yang menjulang tinggi  (dok.pri).

Kaki ini sepertinya terlalu sayang diam berlama-lama hanya untuk menatap keindahan, sedangkan kedua mata jelalatan mencari pesona lainnya. Akhirnya saya harus kembali menuju mess PT.NMR yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Sebuah jembatan beton menghantarkan pada sebuah onggokan mesin berwarna merah, dan saya menemukan warisan kolonial yang masih ada di sini.

Sulawesi Utara terkenal dengan kekayaan alamnya, salah satunya adalah tambang. Sejak jaman kolonial Belanda, tambang emas sudah ada di Sulawesi Utara dan salah satunya ada di sini. Mesin-mesin penggiling batuan tambang/ore yang ditinggalkan Belanda masih tersimpan di sini dan menjadi barang bersejarah. Logam-logam berukuran raksasa yang bercat merah ini menjadi saksi betapa kayanya tanah di sini, karena banyak sekali yang mengincar emas. Usai PT.NMR mengeplorasi di sini yang berakhir tahun 2004, muncul tambang-tambang besar dari Tiongkok dan tidak sedikit tambang-tambang tradisional. Yang pasti mesin peninggalan Belanda menjadi bukti, betapa kayanya tanah sulawesi.

14302748451422172191

Secangkir teh panas, mie goreng, telur ceplok, sedikit nasi, cakalang suwir dan lemper isi ikan adalah menu saat sarapan di mess PT.NMR. Biasanya menu tersebut ditambah sup ikan dan dauh gedi dan semuanya rasanya peda kecuali teh panas dan kerupuk (dok.pri).

Akhirnya telinga ini panas juga mendengar ajakan teman untuk segera kembali ke camp site untuk sarapan. Kembali segelas teh yang sudah dingin saya nikmati sembari mata ini penuh peluh dan keringat yang mengucur. Cakalang suwir, telor dadar dan daun gedy terasa membakar lidah saya yang tidak terbiasa makan pedas. Akhirnya perjuangan sarapan pagi usai, dan segera melanjutkan perjalan darat selama 4 jam menuju Manado. Hampir saja, 30 menit kami terlambat kami harus memutar atau tinggal lagi sehari di camp site “saya tidak menolak“.

6 thoughts on “Pesona Alam dan Sejarah Tambang di Pantai Lakban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s