Tambang Tinggal Gelanggang

d4

Mobil yang kami tumpangi berguncang hebat, kadang oleng ke kanan lalu terbanting ke kiri. “Saat ini tahun 2015 berbeda dengan 10-15 tahun yang lalu. Dulu jalan di sini sangat bagus dan mulus, semenjak tambang ditutup, sudah rusak parah, bahkan ada wacana jalan ini difungsikan menjadi hutan” kata Pak Jerry yang begitu terampil mengendalikan mobil dobel gardan. Hari ini saya mendapat kesempatan untuk menengok sisa-sisa kemegahan tambang emas PT.NMR, di Ratatotok-Sulawesi Utara.

Semalam sebelum saya mengunjungi area tambang ada di diskusi dengan direktur PT.NMR pak David Sompie. Mata yang sudah terkantuk-kantuk karena usai seharian naik turun pesawat kemudian lanjut 4 jam perjalanan darat, sekarang harus memasang telinga baik-baik mendengar paparan dari orang nomer satu di tambang emas ini. Dari paparannya, sebenarnya sudah bisa memberikan penjelasan namun akhirnya “besok kalian buktikan di lapangan” katanya sambil menutup slide terakhir.

1430189644273715686

Saat PT.NMR masih beroprasi dan kini nyaris tidak terlihat lagi jejak-jekanya (dok.pri).

Dengan kendaraan khas tambang, siang itu kami mulai menjelajahi jalanan Buyat yang sunyi. Hanya ada beberapa bentor dan gerobak sapi pengangkut kopra yang berpapasan. Pohon-pohon kelapa berjajar seperti tentara sedang upacara menjadi penanda komoditi Buyat, selain tambang emasnya yang terkenal. Jalanan aspal pun habis, kini berubah jalan dengan tanah merah dan kerikil. Mata saya seolah tak percaya, penutupan tambang ternyata tak semerta menutup tambang emas tradisional.

14301897411278143392

Hutan berusia sekitar 10 tahun. Dahulunya tempat ini adalah tambang dan kini berubah menjadi hutan (dok.pri).

Kanan kiri jalan terlihat bangunan-bangunan yang digunakan untuk menolah bijih emas. Glundung-glundung atau tromol berputar-putar untuk mengaduk-aduk batuan emas menjadi lumpur agar mempermudah pemanenan bijih emas. Namun saat ini, saya dan rekan-rekan hanya akan melewatkan saja, karena tujuan kami adalah tambang emas terbesar di Sulawesi Utara 10-15 tahun yang lalu.

Jalan berlubang memaksa kendaraan harus mengubah setingan menjadi 4 percepatan, yakni keempat roda bergerak semua. Jajaran pohon-pohon besar menghiasi sisi kanan dan kiri jalan menuju pusat tambang yakni pit. Pit adalah lobang tambang yang digali dengan diameter dan kedalaman ratusan meter. Pit di PT.NMR dikenal dengan messel pit yang terletak di atas sebuah bukit.

14301898141002462175

Pemandangan ratatotok dari gardu pandang area eks tambang (dok.pri).

Dalan perjalanan menuju messel pit, pak Jerry mengulas kilas balik tempat ini. “Sisi kanan kiri jalan dulunya adalah mess-mess pekerja tambang dan kantor” katanya sambil menunjuk lorong jalan yang mulus. Tidak terbayangkan bagaimana hutan saat ini sebelumnya adalah hutan lebat, kemudian menjadi area tambang, tempat hunian dan kini kembali menjadi hutan lebat selama rentang 1996 hingga 2001. Pada tahun 2004 produksi tambang benar-benar sudah selesai dan tahun 2006 dimulai reklamasi.

Kendaraan kami berhenti di ujung jalan dan kami harus berjalan melewati jalur setapak yang rimbun dengan rerumputan. Sambil berjalan menuju messel pit saya teringat presentasi tadi malam. Dalam kawasan tambang ini sudah berhasil direklamasi seluas 95% atau sekitar 200Ha dari area yang dialih fungsikan. Terdapat 145 spesies tanaman keras yang dikembang kan di area bekas tambang, dan kini sudah ada 109 spesies fauna yang menghuninya.

Tidak terasa akhirnya kami sampai disebuah gardu pandang. Di depan mata terlihat sebuat danau dengan warna air kehijaun. Danau sedalam 40m ini adalah messel pit yang dulunya adalah bukit yang dikeruk untuk diekplorasi kandungan emasnya. danau yang sudah berusia lebih dari 10 tahun sepertinya sudah mendekati titik homeostatisnya, karena sudah ada beberapa flora dan fauna yang berhasil hidup di sana. Katanya, ikan-ikan mujahir yang ditebar sudah berhasil hidup di sana, namun harus diteliti lebih lanjut kondisinya.

Mata saya sekarang percaya, namun sekarang saya berganti seolah tidak percaya jikan di titik kaki saya berdiri dulunya adalah bekas area tambang. Nyaris saya tidak lagi bisa mengenali jika melihat komparasi foto 20 tahun lalu hingga saat ini. Semua telah berubah, dan sesuai dengan tujuan reklamasi area tambang yakni untuk; memulihkan kondisi tanah, mengganti sumber alam tak terbarukan (tambang) menjadi terbarukan (hutan), dan menghasilkan hutan yang produktif.

14301898721441427497

Salah satu CRS PT.NMR lewat yayasan rakyat yakni pembangunan spbu untuk nelayan di teluk totok (dok.pri).

Tak berselang lama, kami harus segera kembali karena ada sesuatu yang hendak ditunjukan kepada kami. Lewat jalan yang sama kami menyusuri jalan yang tak semulus dahulu kala mana kala tambang masih berjaya. Akhirnya kami berhenti disebuah pusat pengisian bahan bakar khusus nelayan. Nelayan bisa membeli bahan bakar di sini dengan harga subsidi atau normal, dibalik harga minyak yang fluktuatif dan ketersediaannya langka. Pusat pengisina bahan bakar bagi nelayan ini adalah salah satu dari peran PT.NMR paska penutupan tambang dengan yayasan rakyat-nya.

14301899571665628633

Bangkai kapal yang tergeletak di samping dermaga di Rakatotok (dok.pri).

Namun, kembali mata saya tertarik dengan para pemuda sekitar yang sedang memancing di dermaga. Konon dermaga ini dibuat dari besi-besi dari area tambang yang telah ditutup. Kondisi dermaga kini sedikit memprihatinkan karena dibeberapa sisi ada yang rusak dan tidak diperbaiki. Entah siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab untuk meneruskan tongkat estafet pembangunan ini. Kunjungan saya berlanjut di satu-satunya Rumah Sakit Pusat Ratatotok. Bisa dibayangkan, sebuah kecamatan memiliki rumah sakit sekelas itu untuk daerah yang jauh dari mana-mana.

1430190010236237168

Sejenak perjalanan diakhiri dengan makan jagung rebus, pisang goreng, semangkuk sambal dan kopi panas untuk menyambut malam (dok.pri).

Hari ini perjalanan untuk melihat tambang yang sudah ditutup belum menutup kegiatan hari ini. Sebuah nampan besar berisi pisang goreng dan jagung rebus disajikan dari dapur PT.NMR kami nikmati bersama sambil mencocolkan dengan sambal khas minahasa yang super pedas. Segelas kopi panas turut serta menemani kami sambil duduk-duduk di bawah pohon kersen, sementara salah satu dari teman kami di daulat di ruang siar radio Amira FM yang berpangkal di PT.NMR. Sayup terdengar suara penyiar dan teman yang sedang berbincang sambil diselingi lagu minahasa yang menceritakan betapa mahalnya ongkos menikah. Tahun 2004 tambang sudah meninggalkan gelanggang, namun tidak lari tunggang langgang.

Video ada di SINI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s