Repihan Nirvana di Sulawesi Utara

DCIM118GOPRO

Hari kedua, saya berada di mess PT. NMR di Ratatotok-Sulawesi Utara. Hal yang paling berat bagi saya adalah memulai hari, karena harus sarapan di mess. Sebuah piring lebar yang tidak terisi penuh dengan nasi, sayur dan lauk adalah tantangan saya untuk memindahkannya dalam lambung. Hidup dan besar di pulau Jawa-Solo dan tidak terbiasa dengan cabai, maka setiap kali makan saya selalu terharu. Air mata, keringat dan kadang ingus keluar bersamaan, hanya teh panas yang membantu mengurangi kadar pedasnya capsiasin. Semua masakan keseluruhannya pedas, tetapi sebentar lagi saya akan merasakan manisnya bibir nona Manado.

1429503687256246870

Pagi menjelang, terlihat di depan adalah pulau putus-putus yang nanti akan diselami (dok.pri).

Pak Willy, dive master dari PT.NMR meminta segera bergegas untuk segera naik perahu. Jika lewat jam-jam tertentu arus di perairan Teluk Buyat dan Laut Ambon bisa berubah dan bisa berbahaya bagi yang hendak turun ke laut. 2 mesin 250 PK sudah dinyalakan dan saatnya membelah perairan di Teluk Buyat. Batu-batu gamping yang menjulang tinggi dan warna air  laut yang hijau tosca di tepianya berubah menjadi buih-buih putih manakala speed boat yang kami tumpangi menghempasnya.

Tujuan pertama adalah menuju Pulau Racun. Pikiran saya langsung menuju sasaran bak anak panah yang melesat ke tahun 2005-an manakala merebak kasus pencemaran perairan Buyat. Pada tahun tersebut Walhi mengajukan gugatan pada PT.NMR karena terjadi paparan arsenik dan merkuri di teluk Buyat. Dugaan LSM tersebut diperkuat karena perusaan tambang membuang limbah tambang/tailing di perairan buyat. Namun, kasus tersebut akhirnya selesai di tahun 2012, dan Mahkamah Agung diputuskan menggugurkan segala gugatan karena tidak terbukti.

142950376772417375

Perairan pulau racun, tak sengeri namanya (dok.pri).

Pada tahun 1997-1998 tim dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-Unsrat melaporkan adanya kerusakan terumbu karang di Teluk buyat. Kerusakan tersebut dikarenakan elnino dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Sejak itu maka dibuatlah kerja sama untuk menyelamatkan teluk buyat dari rusakanya perairan. Bola-bola dari betin seberat 260 kg dan 600 kg ditanamkan di dasar perairan. Reef ball demikian nama perlakuan tersebut yakni untuk menciptakan terumbu karang buatan. Bola-bola raksasa tersebut akhirnya mulai perlahan dihuni oleh biota lain, dan kini setelah 16 tahun saya hendak melihat rumah baru penghuni teluk buyat.

Perlahan speed boat sudah berhenti disebuah pulau karang yang oleh pak Willy menyebutnya sebagai pulau racun. Anak panah saya ternyata melesek dari sasaran. Dia mengatakan tidak tahu mengapa disebut pulau racun, konon katanya dulu banyak terumbu karang yang rusak karena ada aktivitas yang tak ramah lingkungan. Namun, terumbu karang di pulau racun cepat sekali pulih karena adanya pergerakan nutrisi dari arus hangat dan dingin antara teluk buyat dan laut ambon. Setelah memberikan instruksi di area mana saja kami boleh masuk dalam air, maka pak Willy mejadi orang pertama yang masuk dalam air.

14295038161606654177

Jembatan bawah air adalah salah satu spot menarik Pulau Racun (dok.pri).

Saat yang lain berloncatan dari kapal, saya merambat pelan-pelan dari tangga kapal, “dasar orang solo, apa-apa serba kalem” teriak salah satu teman yang melihat gaya saya turun ke laut. Begitu mata ini melihat dasar laut, terlihat jelas beberapa tumbu karang yang warna-warni. Andai saya belajar biologi kelautan, maka bisa berlama-lama di sinu untuk berkenalan dengan biota endemiknya. Karang keras dan lunak silih berganti menempek di bebatuan, dan kada ada yang tumpang tindis satu sama lain, tak seperti yang di atas sana, lamun saya.

Pak Arie yang tiba-tiba muncul di bawah saya, sepertinya dia sudah mengambil napas panjang dan ancang-ancang. Spot menyelam yang paling terkenal di Pulau Racun adalah jembatan. Sebuah karang yang melengkung menyerupai jembatan yang dihiasai ornamen biota laut begitu menarik untuk di dekati. Di darat orang biasanya akan lewat di atas jembatan, tetapi di dalam laut kebalikannya. Dengan gesit pak Arie melewati dasar jembatan dan saya mengikutinya dari atas dengan kerakan yang kalem juga.

Setelah puas dengan terumbu karang di Pulau Racun, pak Willy mengajak kami untuk pindah ke Pulau Putus-putus. Pulau yang berupa deretan batu gamping yang berbentun memanjang dan terdapat sela-sela di antaranya, sehingga dinamakan pulau putus-putus. Kali ini saya masih dengan gaya merembat ala bekicot turun pelan menuju dasar laut. Yang menari dari tempat ini adalah banyak reef ball dan pallet ball yang ditanaman 16 tahun yang lalu. Bulatan bola-bola beton kini sudah berbentuk rumbai-rumbai yang dihiasi bunga-bunga karang yang sebenarnya dalah binatang dan alga.

1429503882477458595

Ikan nemo Pulau Putus-putus sepertinya tidak senang dengan kehadirian saya, tetapi saya foto dulu sebelum pergi (dok.pri).

Ikan-ikan di sini sepertinya juga sudah familiar dengan kedatangan para manusia yang bertandang. Ada sebuah aturan ketat bahwa di lokasi ini, nelayang dilarang menebar jaring dan membuang jangkar kapal. Karang acropora begitu mendominasi, namun disela-selanya ada anemon dan penghuninya ikan belang merah. putih,  hitam yang menggemaskan. Akhiranya air laut sudah bergejolak dan saatnya kembali ke kapal seperti gaya marinir yang sunyi senyap dan merayap.

1429503942822979886

Anemon salah satu bunga karang yang ditemui di perairan Pulau Putus-putus (dok.pri).

Sejenak saya merenung, mengapa tempat indah ini tak banyak yang mengunjungi. Di Sulawesi Utara, selalu identik dengan nama besar Bunaken. Tidak salah jika 3 B selalu melekat. Tadi pagi saya makan bubur manado, hari ini saya menyelami reef ball yang tak kalah dengan Bunaken, dan saya baru saja merasakan manisnya Bibir nona manado yakni biota laut di teluk buyat.

Video ada di SINI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s