Tergerusnya Anak Dusun oleh Jaman

IMG_4899

naik motor saja lebih enak dan dekat” kata seorang remaja. Sebelumnya saya bertanya bagaimana cara menuju dusun sebelah yang dibatasi oleh bukit Umbul Songo. Pertanyaan saya hanya ingin mengetes anak-anak Dusun Cuntel, apakah mereka tahu jalan pintas menuju Dusun Thekelan. Desakan teknologi ternyata semakin memudarkan mereka yang lahir dan tinggal di kampung kecil di lereng utara gunung Merbabu. Mereka sepertinya sudah lupa jalan-jalan setapak yang menghubungkan antar dusun dengan jarak yang paling dekat. Tangan mereka tak setrampil orang tua dalam mengasah sabit, tetapi lebih terampil mengelus layar ponsel pintar. Mata dan telinga mereka tak lagi peka dengan tanda-tanda alam, karena sudah dijejali dengan hiburan dan ear phone.

Cuntel, sebuah dusun yang terkenal bagi para kalangan pendaki, terutama yang ingin menjejakan kakinya di puncak Merbabu dari jalur utara. Sebelum tahun 2008, jalur pendakian bnegitu sepi bahkan tidak ada yang melirik satupun karena memilih jalur Thekelan yang jauh lebih beken. Semenjak dibuka menjadi jalur pendakian baru, lengkap dengan fasilitasnya maka dusun kecil ini bertransformasi untuk menyambut para pendaki gunung dari seluruh pelosok penjuru negeri.

1429163810729202699

Dusun dengan mayoritan penduduknya bertani, namun generasi muda sepertinya sudah enggan meneruskan (dok.pri).

Konsekuensi dari datangnya orang-orang luar/pendatang, yang walau hanya sebatas lewat. Adanya interaksi dengan penduduk sekitar, terutama dengan anak-anak mudanya ternyata mereka yang dari luar cukup memberikan pengaruh. Anak-anak muda disana yang dahulunya berpenampilan wajar, kini bak petualang dengan segala aksesorisnya. Dahulu anak-anak fasih berbahasa jawa dengan tingkatan krama, kini sudah berbahasa Indonesia yang biasanya hanya digunakan dalam beberapa pelajaran di sekolahan saja. Kedua kaki mereka juga semakin melemah, manakala pengaspalan menjadi efek ganda. Dahulu mereka bangun sepagi mungkin untuk berangkat sekolah, karena harus berjalan 2Km, tetapi sekarang tak perlu lagi karena sepeda motor siap mengantar mereka.

Perubahan demi perubahan sepertinya juga menggeser prilaku mereka. Saat ini jarang ditemui anak-anak pergi ke ladang untuk menunaikan kewajiban sebagai anak petani, atau setidaknya membantu orang tuanya. Remaja laki-laki beberapa sudah bergerombol di warung, lalu memesan rokok eceran dan menikmati bersama-sama. Remaja perempuan berkumpul dan membicarakan gosip-gosip selebritis terkini, dan tentu saja sibuk dengan gawainya masing-masing.

1429163872654657093

Walau sudah berkepala 9, nenek ini tetap menjalani rutinitasnya di ladang (dok.pri)

Mata sata tertegun pada seorang nenek yang sudah berkepala 9 usianya. Langkah kakinya yang tak sekokoh seperti pada masa mudanya tak menyurutkan semangatnya untuk menjadi penyitas dari perubahan jaman ini. Mungkin leher saya akan sangat nyeri jika beban dikepala nenek tersebut yang berupa rumput pakan ternak pindah di kepala saya. Di kota, lansia seharusnya harus menikmati hari tua, tetapi disini hari-hari dinikmati anak muda dan kaum tua sibuk bekerja.

Saya sedikit ragu, bisakah generasi ini bertahan dari gerusan jaman. Mereka terlalu dininabobokan oleh perubahan dengan segala kemudahan. Mentalitas dan semangat hidup mereka telah dikerdilkan oleh segala prasarana. Jangankan kekampung sebelah dengan jalan kaki, pergi kewarung yang tak lebih dari 100 meter, dengan mudah mereka memutar kunci sepeda motor dan menarik gasnya.

14291639432057561904

Hanya generasi tua yang sering saya temui mereka pergi ke ladang, anak mudanya entah pergi kemana (dok.pri).

Entah mengapa sejak tahun 200an saya begitu mengagumi dusun indah ini dengan penduduknya yang ramah. Saat itu begitu masuk dusun, ramai-ramai penduduk menyapa dengan bahasa jawa aras tinggi yang menandakan penghormatan untuk seorang tamu. Bukan hormat yang saya cari, tetapi budaya itu kini telah luntur dengan bahasa penuh prokem tidak jelas. Orang tua tak lagi mengajarkan anaknya dengan bahasa lokal, tetapi merampas guru bahasa Indonesia dan guru bahasa jawa dalam menjalankan tugasnya. Anak-anak kini sudah memakai bahasa Indonesia, walau terkadang terkesan lucu aksesnya.

1429164000191339143

Sejenak menikmati senja di Dusun Cuntel, lereng utara Merbabu (dok.pri).

Dusun indah ini tetaplah sebuah dusun dengan lansekap penuh pesona yang luar biasa. Budaya telah berubah, tetapi jika tak ingin pusing dengan perubahan itu sedikit menepi untuk menikmati keindahan alamnya. Mentari pagi, teriknya siang hari, hingga merah merona menjelang senja bisa ditemui di sini. Walaupun banyak yang berubah, tepi kesederhanaan lereng merbabu sesederhana alam ini memberikan pesonanya.

Video ada di SINI…

3 thoughts on “Tergerusnya Anak Dusun oleh Jaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s