Secercah Harapan di Teluk Buyat

IMG_5678

Mata yang masih terkantuk-kantuk saya paksakan untuk memandang angkasa. Bulan yang tak utuh masih memantulkan cahaya matahari yang masih terlelap di kaki langit sebelah timur. Sebuah salib raksasa berdiri tegak berdampingan dengan tugu yang puncaknya ada ornamen bulan dan bintang. Langit yang masih temaran pelan-pelan tersinari sang surya yang perlahan menggeliat dari ufuk timur. Pagi ini bukit harapan terasa hangat oleh cahaya mentari pagi, dan di balik bukit ini melengkung sebuah teluk buyat yang 10 tahun lalu mengguncang dunia yang disetarakan dengan minamata.

Masih terbesit dalam ingatan saya pada pertengan 2004, Teluk Buyat menjadi perbicangan yang hangat oleh dunia, terlebih aktivis lingkungan. Sebuah LSM menggugat PT. Newmont Minahasa Raya karena menyebabkan pencemaran di teluk buyat, yakni ada paparan arsenik, merkuri pada perairan laut, biota laut dan warga lokal. 5 agustus 2005 persidangan kasus buyat dimulai dan berakhir pada 24 april 2007. Akhir persidangan lewat Mahkamah Agung memutuskan membebaskan segala tuduhan terhadap kasus buyat. Sekelumit tentang naik daunnya teluk buyat di kacamata dunia, bukan karena pesona keindahan alamnya, kekayaan lautnya, tetapi karena tuduhan cemaran bahan kimia.

Sesaat saya melupakan kisruh masa lalau antara perusahaan tambang dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Bagi buta, saya di bangunkan oleh alarm untuk segera besiap menjemput matahari. Semalan saya beruntung bisa menginap di mess karyawan PT.NMR yang ada di pantai Lakban. Dalam remang cahaya bulan saya berjalan pelan menyusuri aspal yang menghubungkan pantai Buyat dan Lakban. Kedua pantai ini dibatasi oleh sebuah bukit setinggi 40an meter dan menjorok panjang ke laut, sehingga menjadi pembatas untuk Teluk Buyat dan pantai Lakban.

14290820831909926486

Matahari terbit dari atas bukit harapan damai rakatotok (dok.pri).

Sebuah gerbang betuliskan Bukit Harapan menjadi pintu masuk. Ratusan anak tangga dari semen yang dicat warna merah menuntun langkah kaki untuk menuju puncak bukit harapan. Untuk menuju puncak bukit harapan harus melewati ratusan anak tangga dan 2 pos peristirahatan yang tak mampu mengajak saya untuk sejenak mengambil nafas. Di sisi timur nampak cahaya kekuningan mulai membuncah dan memecah kegelapan fajar.

Sebuah prasati bertulisakan “Jadikanlah bukit ini sebagai pelita yang memancarkan inspirasi kedamaian yang menyatukan persaudaraan serta harapan yang menguatkan rasa syukur kepada Tuhan sehingga membuat kita merasakan tidak adanya perbedaan di antara sesama manusia sebagai wujud keindahan panorama yang memamncarkan pesona ragam budaya dan agama”. Prasasti ini di tanda tangani; camat ratatotok, forum komunikasi masyarakat rakatotok, kapolsek rakatotok, dan PT.Newmont Minahasa Raya.

1429082142272862484

Masjid dan gereja dalam satu pagar dan satu halaman, wujud harmonisasi budaya dan agama di Sulawesi Utara (dok.pri).

Sejenak saya termenung mengartikan tulisan itu dalam benak. Sebelum ada tulisan tesebut apakah ada gesekan budaya dan agama, sehingga harus didirikan monumen di atas bukit. Entahlah, yang pasti saya menemukan sebuah bangunan yang dalam satu halaman dan satu pagar ada gereja dan masjid yang berdiri berdampingan. Masyarakat di sana paham benar apa itu perbedaan budaya dan agama, yang pasti ada ikatan kuat diantara mereka yang tinggai di utara celebes ini.

Akhirnya kaki ini menginjakkan tanah dibawah salib dan tugu bulan bintang. Inilah puncak bukit harapan damai di pantai lakban Rakatotok. Cahaya yang sedari tadi remang berubah terang dan mentari pagi menampakan wajahnya berkilauan. Dari sini terlihat pantai lakban yang berupa teluk, dan di ujung laut sada adalah laut ambon. Di samping kanan bukit nampak Teluk Buyat yang pernah menjadi pembicaraan dunia akibat tuduhan adanya cemaran arsenik dan merkuri. Sesaat menikmati keindahan bukit harapan ini, namun ada yang membuat saya tertarik yakni ada apa di teluk buyat.

14290822361775670887

Melimpahnya hasil tangkapan nelayan di teluk buyat (dok.pri)

3 orang ibu-ibu nampak tergopoh-gopoh mengambil ujung jaring untuk di tariknya ke tepi pantai. Ujung jaring satunya ditarik oleh 2 lelaki yang berbadan kekar. Terbesit hendak membantu, tapi apa daya tenaga saya tak sebanding dengan kekuatan mereka. Bukannya membantu, bisa-bisa saya malah menyusahkan mereka. Setidaknya saya mendapat ilmu bagaiaman nelayan di Teluk Buyat menangkap ikan. Hampir 30 menit para nalayan ini berjibaku dengan jaring dengan panjang ratusan meter yang harus mereka tarik menuju pantai.

Akhirnya 2 ujung jaring sudah bertemu dan setengah lingkaran jaring semakin mengecil membentuk lingkaran. Setelah bagian bawah jaring sudah di satukan, kini saatnya menangkap hasil tangkapan. Ratusan ikan berontak dalam tengah jaring dan hendak meloloskan diri. Namun, apa daya sebuah serok menerungku mereka kembali untuk masuk dalam kotak-kotak penyimpanan ikan. Hasil tangkapan yang lebih dari 40 kg sekali menangkap, dan sehari mereka bisa menebar jaring beberapa kali. Hasil tangkapan ini mereka bagi rata dengan sesama nelayan, juraga perahu, pemilik jaring, dan ongkos minyak.

1429082281655222072

Bukit harapan kasih menjadi simbol perdamaian di tempat ini, yang saya abadikan dari perairan buyat (dok.pri).

Raut wajah mereka sepertinya tidak terbesit tentang masa lalu teluk ini yang telah mendunia. Mereka sejak tahun 70an sudah tinggal dan menangkap ikan di sini. Tidak ada yang berubah dari teluk ini, kecuali beberapa sarapa prasarana yang dibangun perusahaan tambang. 9 tahun setelah tambang di tutup, rasana prasaran yang sudah dibangun nampak mangkrak dan tidak terawat yang kini menjadi keluahan. Berbeda saat tambang masih beroprasi, teluk buyat adalah pantai yang bersih dan tertata rapi dengan segala fasilitas yang ada. Waktu pun berubah, kejadian pun silih berganti, dan kini masih ada sebukit harapan untuk Teluk Buyat.

Video ada di SINI

3 thoughts on “Secercah Harapan di Teluk Buyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s