Pengayuh Sepeda dan Pecintanya

DCIM117GOPRO

Awalnya hanya rintik hujan saja. Perlahan awan hitam semakin tebal, angin yang sedari tadi hanya semilir tetiba berubah tak tentu arah. Dedauan Pinus merkusii yang hanya bergoyang pelan, kemudian batangnya ikut bergerak kesana-kemari mengikuti jalannya sang bayu. Akhirnya hujan pun turun, sangat deras hingga terasa menyakitkan saat menghantam wajah yang sama sekali tak terlindungi. Tidak ada tempat berteduh, kecuali harus terus mengayuh pedal sepeda, sesekali harus menuntun hingga kadang harus terjungkal. Akhirnya 38,72 km berakhir, usai membelah Gunung Andong dan Telomoyo dengan menaiki kuda besi yang tak lagi gesit berhenti karena kampas rem yang habis dimakan jalan.

Kami berlima berangkat dari Salatiga menuju Ngablak dengan menumpang bus jurusan Magelang. Para penumpang duduk manis di kursi, sedangkan sepeda nangkring dengan cantiknya di atas badan bus. Hanya butuh waktu 30 menit untuk menembus tanjakan di lereng Gunung Merbabu dengan PO.Tunas Mulya. Dengan perlahan kami menurunkan kuda-kuda besi ini, yang sebentar lagi akan membawa kami menembus hutan, perkampungan, lereng bukit, punggung gunung, hinga semak-semak saat kami terjungkal bebas karen tak bisa mengimbangi jalan.

1429065249811955897

Sepeda-sepeda harus dinaikan di atas bus untuk diangkut menuju garis start (dok.pri).

Helm sudah terpasang di kepala, GPS sudah menyala lalu saatnya kayuhan pertama dilakukan diiringi dengan doa dan upacan syukur. Dari Pasar Ngablak kami bersepeda menuju arah Gunung Andong sejauh 4,2 km dengan kondisi jalan yang mulus, tetapi naik turun. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit kami sudah sampai tujuan dan sesaat menikmati gempita para pendaki gunung yang hilir mudik usai naik dan turun. Tujuan kami selanjutnya adalah Gunung Telomoyo. Kali ini medang cukup berat dan menantang. Tak satu pun dari kami yang pernah melewati rute ini. Dengan panduan peta topografi bakorsurtanal, GPS, dan bertanya pada penduduk sekitar kami berhasil menemukan jalur yang akan disusuri.

Kisah sedih dari perjalanan ini bukanlah medan yang berat, tetapi saat tunggangan kami mengalami masalah. Salah satu dari kami harus menuntun sepeda, karena rodannya bocor. Sekitar 2 km solidaritas kami tunjukan sambil sama-sama menuntun sepeda, selain itu juga jalannya sangat menanjak. Sebuah bengkel kecil, kami temukan dan kebetulan baru saja buka. Dengan cekatan teknisi bengkel membuka roda bagian dalam, lalu menambal dan menekannya dengan alat tekan berbentuk ulir. Tak lama berselang, roda sudah mengembang dan ongkos hanya 5 ribu rupiah, sangat murah jika dibandingkan dengan kesulitan kami andai tak ada bengkel.

14290653132118984057

GPS dan peta sangat membantu untuk mencari jalan yang benar (dok.pri).

Mulailah melewati jalan perkampungan yang masih terbuat dari susunan batuan. Penduduk setempat memberi nama jalan model ini adalah gragalan, atau mungkin familiar dengan makadam. kali ini jalan makadam begitu menyusahkan kami. Kami tak lagi mempu mengayuh di jalan yang berwujuh gumpalan batu-batu yang menonjol tak rata, ditambah kondisi jalan yang menanjak. Benar-benar penderitaan untuk pengayuh sepeda seperti kami, tetapi itulah yang sebenarnya yang dicari. Tak berselang lama, disaat tanjakan belum habis rintik hujan turun membasahi. Akhirnya kubah langit jebol juga dan hujan deras turun dengan lebatnya.

Hujan lebat di lereng gunung dengan halilintar menyambar, tak ada tempat berteduh keculi langit hitam. Pelan-pelan kami mengayuh, namun tenaga kami juga habis terkuras karena kedinginan. Batangan cokelat yang mulai lumer karena air hujan menjadi penambah tenaga sesekali mendongakan kepala kelangit sambil menikmati tetesan air hujan. Ada sebuah sensasi yang tak semua orang bisa menikmati, tetapi kami hadir di sini. Dingin, lelah, basah, kadang di orientasi karena tidak tahu harus berjalan kemana. Peta kumal dan GPS benar-benar menolong kami saat kami tidak tahu harus kemana lagi berjalan.

Hampir 3 jam kami terlunta-lunta di lereng Telomoya sambil diguyur hujan. Akhrinya kami menemukan sebuah dusun bernama Pager Gedog yang menjadi perbatasan dengan kabupaten Magelang dan Semarang. Artinya, dari sini kami sudah terbebas dari jalan menanjak dan tidak rata. Kegembiraan kami diluapkan dengan mengayuh sepeda di jalan menuru dan rata, tanpa sadar ada yang merasa kesakitan yakni rem sepeda. Kami baru sadar saat beberapa dari kami tidak bisa menghentikan sepeda dengan sempurna, ternyata rem sudah aus. Tak ada cara lagi kecuali menuntun saat turunan curam dan kembali naik saat jalan rata dan menanjak. Yang pasti sudah 5 jam berlalu, belum sampai juga kami di tujuan dan tak berselang lama kembali hujan lebat datang lagi.

Video bisa dilihat di SINI

Advertisements

8 thoughts on “Pengayuh Sepeda dan Pecintanya

  1. penuh petualangan, itu yang sepeda item jatuh keluar jalur ya mas..malah ketawa tawa, btw rambutnya temennya kayak negro lucu :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s