Mengungkap Bola Batu Berumur 700.000 Tahun

Bola batu berusia sekitar 700.000 tahun ditemukan di situs Dayu. Batu ini kemungkinan digunakan manusia purba untuk berburu, menghancurkan sesuatu, tetapi butuh bukti untuk menyimpulkan itu, demikian kata Prof. François Sémah. (dok.pri).

Bola batu berusia sekitar 700.000 tahun ditemukan di situs Dayu. Batu ini kemungkinan digunakan manusia purba untuk berburu, menghancurkan sesuatu, tetapi butuh bukti untuk menyimpulkan itu, demikian kata Prof. François Sémah. (dok.pri).

Masa lalu biarlah masa lalu

Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku

Masa lalu biarlah masa lalu

Siang itu dibawah naungan teduhnya daun Tectona grandis, terdengar sayup-sayup yang dilantunkan oleh Inul Daratista. Saat itu saya melihat Widhi, anak penemu Sangiran 17 nampak manggut-manggut menikmti alunan lagu sambil memegang ponselnya yang dijadikan pemutar lagu. Saat Inul Daratista menyampaikan pesar agar tidak perlu lagi mengungkap masa lalu, tetapi kami yang ada di sini sedang mengungkap masa lalu selama ratusan ribu tahun yang lalu. Sudah hampir 1 minggu kami melakukan eskavasi/penggalian untuk mencari jejak-jejak manusia purba di Sangiran, dan dimenit-menit terakhir penggalian ditemukan bola batu. Agung, salah satu peserta field school dari Manado yang menemukan bola batu tersebut. Antara senang dan sedih, senang karena berhasil menemukan dan sedih karena penggalian harus dilanjutkan keesokan harinya, padahal nanti malam adalah penutupan.

1427250940475950775

Saban pagi untuk menuju lokasi harus berjalan kaki menyusuri sungai Dayu. Nampak di depan Prof. François Sémah, di ikuti Xavier asistennya dan Dante mahasiswa yang sedang mengambil master arkeologi asal Filipina. (dok.pri)

Field School adalah program dari Prehsea, sebuah asosiasi yang mempelajari tentang pra sejarah di asia tenggara. Program yang pertama di lakukan di goa Tabon, Palawan-Filipina, dan yang kedua di Sangiran, Sragen-Jawa Tengah. Sebuah keberuntungan bisa bergabung dengan para pakar arkeologi, geologo, paleontologi, dan kepakaran ilmu lain yang mendukung proses eskavasi situs purbakala. Kami semua di kumpulkan di mess Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, dengan peserta lain dari Filipina dan Prancis. Tujuan kami selama 7 hari kedepan adalah mempelajari salah satu situs penggalian di Desa Dayu, Kec Gondangrejo, Kab Karanganyar.

Pagi pukul 05.00 satu persatu kami sudah bangun dari mess yang mirip dengan hotel berbintang. Ritual pagi tidak mewajibkan kami untuk mandi pagi, yang pasti kami harus segera sarapan untuk mempersiapkan energi. Pukul 06.00 Prof. François Sémah seorang geolog sekaligus arkeolog sudah datang dengan hanya mengenakan kemeja, celana pendek, bertopi, dan sandal jepit. Usai sarapan dengan menu yang sederhana segera kami menuju situs Dayu yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan roda 4 lalu 20 menit berjalan kaki. Saya yang bergaya necis untuk menghormati pekerjaan hari ini, ternyata baru sadar bahwa ini adalah lapangan dan bukan sebuah ruangan. Sepatu akhirnya melingkar di leher, dan celana digulung setinggi selutut manakala kami semua turun ke sungai dan berjalan sekitar 500 menyusuri alirannya.

14272511081990740076

Begitu sampai di Situs Prof. François Sémah, sebelum bekerja, dia memberikan kuliah pagi kepada penduduk lokal berkaitan dengan kegiatan eskavasi. Dengan bahasa Indonesia yang beraksen Prancis dia mengajari banyak hal berkaitan dengan arkeologi dan geologi pada penduduk lokal (dok.pri).

Sampai juga kami di lokasi penggalian. Di sana sudah hadir beberapa penduduk lokal yang akan diperbantukan untuk proses eskavasi. Keahlian mereka bersentuhan dengan fosil dan batu tidak perlu di ragukan lagi, karena mereka telah belajar bersama para pakar-pakarnya langsung. Sebuah lokasi penggalian yang sudah di plot dengan dimensi tertentu di gali pelan-pelan dengan sekop kecil lalu dengan kuas disapukan. Tanah-tanah beserta bebatuan yang terkikis kemudian dipindahkan dalam ember kecil dan diayak. Tanah di buang, batuan dan kerikil di ambil untuk diidentifikasi dan dihitung. Batuan besar yang bernama tufa di biarkan untuk selanjutnya di gambar, dipetakan dan di ukur dimensi dan orientasinya.

1427251248852853606

Pak Jumadi, penduduk lokal yang diperbantukan dalam proses eskavasi. Dengan telaten dia menyingkap lapisan demi lapisan tanah dan memisahkan setiap temuannya (dok.pri).

Sejenak saya bingung dengan apa yang mereka lakukan. Luasan penggalian yang selebar 1x2m dalam sehari rerata hanya 5-10 cm saja. Ternyata mereka sedang melakukan penggalian lapis-demi lapis tanah dan batuan untuk kemudian dipetakan tiap bagiannya. Sungguh pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, serta kemampuan dalam mengidentifikasi setiap temuan. Lama-kelamaan saya sudah mulai terbiasa dengan ikut dalam kegiatan ini walau kadang masih terbata-bata setiap kali mendapat temuan.

14272513402029972304

Pak Andri yang sedang menyusun disertasi tentang lapisan batuan di Sangiran sedang meneliti batu-batu kerikil. Nampak disampinya beberapa peserta field school yang membatu sambil di awasi promotornya (dok.pri).

6 hari berlalu. Kami hanya menemukan beberapa serpihan fosil tulang rusa saja dan banyak sekali bebatuan. Pukul 15.45 artinya 15 menit lagi penggalian selesai. Kami sudah memikirkan pesta penutupan nanti malam dengan jamuan makan malam, dan keesokan harinya kami bisa bersantai. Rasa bosan sudah terasa di ubun-ubun manakala kami saban hari bangun pukul 05.00 lalu 1 jam kemudian sarapan dan selas itu masuk hutan hingga senja datang. Pekerjaan kami hanya mengikis tanah, mencari temuan, dan mengidentifikasinya. Di menit-menit terakhir, harapan kami sirna manakala sekop kecil punya agung membentur batu bulat. Dengan pelan dia membersihkan batu bula sebesar kepalan tangan. Xavier salah satu peneliti asal Perancis dan Jonathan asal Filipina menyimpulkan, bahwa itu adalah alat batu manusia purba. Penemuan di menit terakhir, membuat kami bersuka cita sekaligus sirna liburannya sebab esok harus dilanjutkan kembali.

14272514861386883674

Di hari terakhir dan menit-menit terakhir, Agung menemukan bola batu. Artinya pekerjaan akan ditambah satu hari lagi. Antara senang dan duka, dan kata Adit salah satu peneliti dari Arkenas “gung kalau besok mendapat temua, tolong ditelan saja ya biar kita bisa liburan” (dok.pri).

Kembali sehari sebelumnya manaka kala lantunan lagu Inul Daratista masing melantunkan tembang masa lalu. Prof. François Sémah menceritakan “bahwa usia tanah yang kita gali adalah 700.000 tahun. Artinya tahun tersebut adalah, jika ditemukan fosil, dan alat batu maka diperkirakan berusia 700.000 tahun yang lalu dan saat itu sudah ada peradaban. Walau hanya bola batu, setidaknya itulah teknologi yang paling sederhana. Di situs ini dahulunya adalah tepian sungai purba yang sudah tertutup dan kemungkinan menjadi tempat hunian manusia purba. Sudah tugas kita untuk mengungkap itu semua, dan matikan musik itu mari kita kerja dan kembali ke masa lalu” sambil berjoget dan berdendang “masa lalu biarlah masa lalu…“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s