Menemukan Harta Karun Hidup di Lokasi Tambang

n1

Di Batu Hijau, tepatnya di sebuah longsoran tebing saya bertemu dengan beberapa orang lengkap dengan rompi oranye terang, sepatu boot, helm dan kacamata, tak ketinggalan dengan palu di tangan. Dalam benak saya mereka adalah geolog yang sedang mencari mineral berharga untuk di tambang. Dugaan saya ada benarnya ada tidaknya, mereka tak mencari tembaga, emas atau perak di Batu Hijau, tetapi mencari batu Bacan Sumbawa untuk dijadikan akik. Akik yang sedang naik daun membuat para pekerja tambang sepertinya bosan dengan dengan tembaga dan emas di Batu Hijau, “ini harta karun mas, lantas mas di sini mau cari apa..?” tanya seorang penambang sambil menunjungkan sebuah batu, “saya juga cari harta karun hidup” jawab saya.

Awal perjalanan yang unik saat logam mulia di depan mata, mereka masih getol-getolnya mencari batu mulia. Di saat yang lain berlomba mencari harta karun dalam perut bumi, sama juga ikut-ikutan mencari peruntungan mencari harta karun yang tersembunyi. Sebuah aliran air, dengan bebatuan yang berwarna kekuningan dan merah kecoklatan menarik perhatian saya. Saya duduk dan mengamati, sepertinya rumput liarpun enggan minum di sini, terlebih bintang atau ikan untuk tinggal di sini. Di atas aliran sungai tertimbun galian batuan tambang/ore yang belum diolah dan dijadikan tampungan sementara.

Air hujan yang akhir-akhir ini turun, melarutkan beberapa material dalam batuan tambang dan terjadilah reaksi kimia, sehingga air berubah mejadi berwarna kekuningan  dan menimbulan endapan. Komposisi air pun berubah, jika konsentrasi mineral logam ini terlarut melebihi ambang batas maka bisa disebut dengan air asam tambang. Alhasil air asam tambang ini tak bisa menjadi habitat yang baik untuk mahluk hidup. Perkiraan saya tak sepenuhnya benar, sebab saya melihat juntaian-juntaian alga berwarna hijau. Spirogyra begitu nama genus satu-satunya yang hidup dan bertahan di dalam air tersebut.

14253686071128112659

Saya tersenyum lebar manakala menemuka kehidupan ditempat yang nyaris tak ada kehidupan. Lumut biasa orang menyebut, tetapi sebenarnya ini adalah alga yang mampu bertahan hidup di air yang terkontaminasi mineral tambang (dok.pri).

“saya menemukan harta karun” dalam benak saya begitu melihat alga ini, yang orang awan biasa menyebut dengan lumut air. Disaat mahluk lain enggan berada di tempat ini, bahkan mati, mengapa Spirogyra ada di sini ? Pertanyaan yang hanya ada 2 jawabannya, yakni sudah teradaptasi, atau memang benar-benar resisten, mengingat tidak ada pilihan untuk hidup ditempat lain. Spirogyra hidup dengan cara menyerap nutrisi dari air, lalu mengolahnya dengan cara fotosintesis. Mahluk ini adalah salah satu yang tertua di muka bumi ini dan resisten terhadap berbagai macam kondisi lingkungan. Zat hijau daun yang masih primitif dibanding tumbuhan tingkat tinggi, membuat alga ini menjadi perintis kehidupan dalam penyediaan sumber makanan dan oksigen. Lantas apa dampaknya bagi lingkungan, tak banyak karena dia hanya numpang hidup saja.

Sembari memegang Spirogyra saya mencoba membayangkan, pasti ada mahluk lain di sini. Siapa yang akan menguaraikan jasad Spirogyra saat sudah mati. Yang pasti kehadiran Spirogyra bisa menjadi indikator adanya mahluk hidup lain yang lebih kecil dan resisten. Di sini intuisi kadang harus diuji untuk membuktikan mahluk apa yang tinggal di sini dan apa yang dia lakukan sehingga bisa bertahan hidup.

Sepulang dari area tambang, saatnya kembali dalam rutinitas keseharian. Angan-angan saya masih tertambat pada air asam tambang, Spirogyra dan mahluk yang lebih kecil. Beberapa kajian literatur menuntun saya pada mikroorgisme pereduksi logam berat, dan disitulah saya menemukan titik terangnya. Bakteri pemakan logam, begitu kira-kira awal dari kisah pencarian ini.

Kebetulan saat itu saya sedang bertemu dengan seorang mahasiswa pasca sarjana biologi yang sedang meneliti bakteri pereduksi sulfat di sumber air panas alami. Dia menceritakan bagaimana bakteri ini hidup dalam suhu air lebih dari 70C, dan bertahan dalam air yang mengandung belerang dan mineral lain yang pekat. Saya hanya berpikir, dalam air hampir mendidih dan penuh dengan logam berat saja bisa hidup, lantas bagaimana dengan air asam tambang.

Diskusi mulai menghangat manakala ada pakar biologi molekuker yang nimbrung, lengkap dengan whiteboarddan spidol 3 warnanya. Saya harap-harap cemas manakala dia mulai dengan kotbahnya, karana dari meja seberang dia ternyata memperhatikan diskusi kami. “Hampir semua tempat terdapat mikroorganisme, namun kadang kita tidak tahu siapa dia, karakternya seperti apa dan apa yang dia dilakukan di tempat hidupnya. Nah jika di mata air panas, karakter dia jelas, yakni mampu hidup di air panas dan tahan terhadap sulfat/belerang, peran dia sebatas hidup saja. Di air tambang, jelas berbeda, mahluk ini tahan terhadap paparan logam berat, peran dia ya hidup saja“.

1425368811374541462

Dalam aliran air yang sudah tercemar logam berat, sepertinya susah bagi organisme tingkat atas untuk hidup. Tidak mustahil bagi mikroorganisme yang mau tidak mau dan tidak ada pilihan lain untuk hidup disitu dengan cara adaptasi. Evolusi menciptakan mereka lewat seleksi alam sebagai mahluk yang mampu tinggal di lingkungan ekstrim (dok.pri).

Baru saja saya hendak memotong dia melanjutkan kotbahnya “peran dia hidup saja, dari kaca matanya, sedangkan dari kaca mata kita dia memiliki peran yang luar biasa. Bayangkan ada bakteri yang makan belerang, logam berat, itu artinya mampu mengurangi konsentrasi bahan-bahan pencemar di lingkungan. Sudut pandang kitalah yang membuat bakteri tersebut sebagai sesuatu yang istimewa, tetapi bagi bakteri itu hal yang biasa saja, lantas kisah selanjutnya bagaimana memanfaatkan mereka untuk kehidupan“. Pertanyaan yang sudah untuk dijamah, terlebih menemukan jawabannya.

Sebagai pakar molekuler yang lama tinggal di London, Dr. Ferry hanya memberi petunjuk “lakukan dengan genomic atau metagenomic” lalu dia pergi begitu saja. Otak saya lantas berputar dan teman saya yang sedang pusing dengan tesisnya sepertinya semakin pusing. Secara sederhana, pendekatan genomic adalah mengambil bakteri dari tempat asli lalu dibiakan di laboratorium dan diuji. Untuk metagenomic langsung mengambil materi genetik berupa DNA dari bakteri-bakteri di tempat asli lalu di kloningkan dengan bakteri lain. Apabila bakteri yang sudah diinginkan didapat, tinggal dilatih dengan cara dipaksa agar dia teradaptasi dengan lingkungannya untuk aklimatisasi.

14253689841771845327

Mekanisme pendekatan metagenimik yang berbasis molekuler dengan gen sebagai intinya (dok.pri, Prof. Ocky ).

Sebatas itu saja pemikiran saya, padahal jika dilakukan secara teknis ajan sangat panjang dan melelahkan. Namun jika bakteri tersebut diperoleh, lingkungan seekstrim apapun akan dengan mudah dijinakan dengan adanya mikroorganisme. Harta karun yang saya cari akhirnya menemukan titik terang. Bukan emas, tembaga, perak atau akik, tetapi sesosok mahluk mengerikan namun ramah bagi lingkungan, itulah salah satu harta karun kehidupan. Kata penutup surel saya pada PT.NNT. “Mungkin bagi perusahaan tidak memberikan banyak sumbangan, tetapi bisa memberi sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan lingkungan

3 thoughts on “Menemukan Harta Karun Hidup di Lokasi Tambang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s