Mahluk Halus Penjaga Tambang

a3

Dahi saya mengkerut, dengan kepala agak miring ke kanan, dan mata sedikit terpicing manakala mendengarkan istilah biologi molekuler dari seorang Rektor Universitas Halmahera, Dr. Christian yang pakar lingkungan. Alumni VU-Amsterdam ini sepertinya tak paham kalau saya benar-benar kelimpungan mencerna apa yang dia katakan, gegara pertanyaan saya tentang cemaran air asam tambang. Namun yang menarik bagi saya saat dia mengatakan “di situ ada mahluk halus, tak kasat mata“.

Sebuah pertambangan, terutama yang terbuka akan memiliki potensi menjadi tampungan air, baik air hujan maupun air tanah. Bila diibaratkan sumur besar dengan dengan kerucut terbalik dan siap menjadi kolam raksasa. Fenomena yang menarik adalah akan terjadi reaksi perubahan warna dari air yang semula jernih/transparan akan menjadi berwarna. Perubahan warna ini akibat adanya reaksi air dengan mineral-mineral/logam yang ada di dalam bebatuan tambang. Warna yang muncul bermacam-macam, kuning, cokelat, kemerahan, hingga biru laut. Masing-masing warna yang muncul, tergantung jenis mineral yang bereaksi dengan air dan udara/oksigen.

Air yang terjebak atau tertampung dalam kubangan tambang raksasa inilah yang dinamakan air asam tambang. Disebut air asam tambang karena memiliki rasa yan masam, yakni dengan pH sekitar 3-4. Perubahan warna dan pH ini terjadi karena ada redoks (reduksi dan oksidasi), begitu orang-orang kimia menyebutnya. Perubahan ini bisa terjadi karena secara alami, yakni secara kimia dan fisika, namun yang menarik adalah adanya mahluk hidup yang berperan dalam perubahan warna dan pH air ini. Siapa lagi kalau bukan bakteri.

Saya baru menangkap jika “mahluk halus yang dimaksud adalah bakteri”. Beberapa literatur ilmiah menjelaskan ada banyak bakteri yang mampu hidup dan tinggal di lingkungan yang seharusnya mustahil bagi mahluk hidup. Di dalam sumber air panas, dalam bekunya es, hingga air asam tambang yang beracun, mikroorganisme ini masih bisa tetap bertahan hidup. Seleksi alamlah yang mebuat mahluk tak kasat mata ini bisa ย tetapi eksis, dan mampu melewati lorong evolusi dengan sempurna.

14252777631910790257

Saat produksi, air asam tambang akan dipompa keluar lalu ditampung dan digunakan sebagai bahan pengolah bijih mineral. Lewat proses kimia, mineral terlarut bisa dipisahkan sebalum nanti menjadi limbah/tailing. Bagaimana saat tidak berproses..?

Sebuah kesempatan berharga saya mendapat kesempatan untuk masuk dalam area pertambangan PT.NNT, di Sumbawa. Sebuah kubangan raksasa yang dinamakan pit berdiameter hampir 2 km dengan kedalaman 800-900 meter. Di tengan-tengah pit menjuntai pipa-pipa yang menyedot air berwarna biru laut untuk di alirkan dalam bak-bak penampungan. Air asam tambang yang sifat dan komposisi tidak seperti air pada umunya, maka perlu mendapat perhatian yang istimewa. Adanya kandungan mineral berupa logam-logam berat pada air asam tambang, tentu saja berbahaya jika sampai terkonsumsi oleh manusia. Jika air ini masuk dalam perairan, juga akan mengakibatkan kerusakan bagi organisme akuatik. Untuk menjaga keamananya perlu dilakukan penanganan khusus agar tidak berbahaya.

Untuk menangani air asam tambang agar tidak berbahaya ada beragama cara. PT.NNT menggunakan air asam asam tambang menjadi bagian dalam proses pengolahan bijih. Air di pompa ke dalam bak penampungan, lalu di endapkan secara bertingkat, kemudian baru di pakai dalam proses produski. Selama proses produksi inilah, logam-logam yang terlarut ikut terambil, sehingga mengurangi kandungan logam beratnya yang nantinya akan menjadi tailing. Selama pabrik ini beroprasi, makan air asam tambang akan terus di sedot untuk digunakan, bagaimana jika sudah tidak beroprasi..?

Saya tidak membayangkan bagaimana kubangan raksasa ini dikemudian hari. Namun kekawatiran saya sedikit terobati dengan kehadiran mahluk tak kasat mata. Konon bakteri ini hadir bisa menjadi juru selamat lingkungan yang tercemar, tetapi dalam hati saya sempat berkata “bakteri juga salah satu biang keladi kerusakan lingkungan, tapi kini hadir sok menjadi pahlawan” dan bakteri hanya terkekeh sambil mengunyah-ngunyah besi dalam air. Salah satunya adalah Thiobacillus ferroxidans yang dapat mereduksi logam besi.

Imajinasi saya menggambarkan bahwa bakteri juga menjadi pemicu kerusakan lingkungan terutama pembentukan air asam tambang. Dalam kondisi ada udara/oksigen atau istilahnya aerob, bakteri ini akan mengoksidasi yakni meniup-niup logam-logam dalam air hingga berubah bentuknya. Reaksi oksidasi inilah yang membuat logam-logam berat ini berubah sifat, dari diam menjadi galak alias beracun ditandai dengan perubahan warna pada air.

Tetapi bakteri bukanlah mahluk yang lempar logam sembunyi tangan atau tak bertanggung jawab. Dalam kondisi anaerob atau tidak ada udara, bakteri ini mampu mereduksi logam-logam beracun itu menjadi makanannya dan akhirnya menjadi tidak beracun. Rantai-rantai kimia yang berbahaya mampu diputuskan oleh bakteri lewat enzim-enzimnya sebagai pusaka yang ampuh. Mengapa bakteri bisa melakukan 2 hal yang saling bertolak belakang ini, karena pilihannya hanya 2.

14252779491481149605

Aliran air asam tambang yang hendak digunakan sebagai proses. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disepanjang aliran dan menjadi bukti betapa tidak bersahabatnya air ini. Namun ada mahluk yang tetap nyaman tinggl disana dan suatu saat nanti akan menjadi dewa penyelamat (dok.pri).

Pikiran saya terbawa bagaimana jika bakteri ini digunakan sebagai agen biologis untuk menyelamatkan lingkungan yang tercemar ini. Bukan perkara yang sulit, cukup dengan sedikit campur tangan manusia agar bagaimana bakteri ini bisa hidup nyaman. Bakteri hidup nyaman artinya bisa bekerja secara optimal dalam rangka mereduksi logam berat yang terlarut. Salah satunya adalah cara mengadaptasi bakteri terhadap lingkungan ekstrim tersebut. Bakteri yang sudah dilatih niscaya akan bekerja dengan baik untuk perbaikan lingkunga. Permasalahan selanjutnya lingkungan yang tepat untuk bakteri merduksi logam berat adalah dengan kondisi anaerob, yakni tak ada udara/oksigen. Lantas saya bertanya pada ahlinya dan jawabannya sederhana “pindahkan saja ke bulan”kembali saya mengkerutkan dahi, memicingkan mata dan memiringkan telinga lalu hening, bingung.

Advertisements

5 thoughts on “Mahluk Halus Penjaga Tambang

  1. ๐Ÿ™‚ nice post! sepertinyaa.. perusahaan penambang juga perlu mencermati keberlangsungan air asam tambang ini. kalo perlu bakteri anaerob yang baik itu diberi tempat, semacam drum/bungker khusus untuk mereka memperbaiki air dan mencerna logam berat yang dikandung air asam tambang. ๐Ÿ˜€
    Nggak tahu lah kalo diluar negeri gimana, sepertinya lebih baik dari pada di Indonesia ๐Ÿ™‚

    • Benar sekali, mungkin saat ini belum di jamah, tetapi alangkah baiknya harus dipersiapkan sejak dini..
      baik mana..? tergantung komitmen masing-masing perusahaan… saja Om..

  2. Saya malah nggak khawatir mslh komitmen perusahaa. saya khawatir jika suatu saay terjadi bencana dan aliran air itu mencemari ekosistem yang radiusnya luas. lalu bagaimana dengan khidupan manusia? atau jika air itu menguap secara berlebih dan kandungan logamnya ikut jadi awan, bisa jadi hujan asamkah??
    Kalo kita bicara “hal normal” yaa oke-oke aja sepertinya, tapi kalo terjadi situasi yang rumit sperti bencana tadi yaa kita harus berfikir ulang sial air asam tambang itu.
    mungkin regulasi pemerintah diperlukan dalam hal ini.
    ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s